I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 66



Meski tahu jika pria tampan yang menjadi pusat perhatian itu adalah Al, sosok yang dikenalnya, sedang memanggil namanya dengan sekuat tenaga, Ara tetap memilih diam. Lebih tepatnya, saat ini tubuhnya membeku seketika, keraguan menyelimuti dirinya untuk hanya sekadar berbalik dan melihat wajah Al. Saat ini, Ara tidak akan menyangkal jika begitu besar keinginannya untuk menatap Al langsung, berhambur dalam pelukan eratnya, menyuarakan kerinduannya. Namun, Ara ingat peraturan Al. Mereka tidak boleh, sampai kapan pun, bertemu di luar ruangan dan menunjukkan mereka saling mengenal. Entah apa yang akan Al lakukan jika Ara melanggar peraturan tersebut. Memikirkannya saja Ara tidak sanggup. 


Jika saat ini Ara dapat menahan diri untuk tidak bertemu Al, setidaknya ia masih memiliki kesempatan untuk bertemu pria itu di tempat tersembunyi. Dengan kemungkinan itulah Ara berusaha mengabaikan teriakan Al barusan. 


Tanpa Ara sadari, diamnya dirinya membuat salah satu pegawainya yang melihat dari kejauhan langsung mendekati sang perempuan. Wajahnya menampakkan kekhawatiran, menyebabkan Ara langsung mengerjap, tidak menduga jika dirinya akan disadari secepat. 


“Ternyata di sini Mbak Ara rupanya. Kalau begitu, Mbak pasti dengar jika pria tampan yang menjadi pusat perhatian itu meneriakkan nama Mbak, kan? Apa mungkin Mbak dan pria tampan itu saling mengenal sebelumnya?”


Pertanyaan tersebut membuat Ara melebarkan kedua matanya, terkejut. Selang beberapa detik, Ara menanggapi dengan gelengan kepala pelan.


“Itu tidak mungkin. Bagaimana mungkin seseorang yang terkenal sepertinya tahu orang biasa sepertiku? Dia pasti salah orang,” jawab Ara dengan senyum sendu di wajah, dan ditanggapi oleh lawan bicaranya dengan anggukan pelan.


“Benar juga, ya ....”


Balasan pegawainya membuat senyum Ara semakin kecut, sadar jika dirinya memang tidak seharusnya mengenal Al yang seperti berasal dari dunia lain. Bagaikan langit dan bumi yang tidak akan bersatu, demikianlah ungkapan yang tepat dalam menggambarkan Ara dengan Al.


“Ya sudah. Kita sudah selesai menonton. Kalian bisa pulang duluan, aku ada urusan penting yang harus aku selesaikan.”


Mengerti jika rasa sakit di hatinya tidak akan terobati dengan cepat, Ara memutuskan untuk menjauh dari para pegawainya. Ia tidak ingin sisi lemah nan menyedihkannya itu diketahui.


Tanpa menunggu balasan pegawai di hadapannya, Ara segera berjalan melewatinya, melenggang pergi. Saat ini, tujuan Ara adalah segera pergi ke mobilnya, mengendarai kendaraan roda empat itu ke rumahnya secepat mungkin.


***


Sesampainya di mobil, tanpa membuang waktu Ara segera mengendarai mobilnya dengan cepat agar sampai ke rumah sesegera mungkin. Dan sepanjang perjalanan, air mata Ara tidak berhenti mengalir. Hatinya terasa sesak—bahkan terasa ada sesuatu yang hancur berkeping-keping. Di dalam kesedihan itu, Ara berusaha keras untuk meyakinkan dirinya sendiri jika keputusannya untuk tidak menanggapi panggilan Al tadi adalah tepat. Meski ia harus mengorbankan perasaannya sendiri.


“Tidak apa-apa, Ara. Kau pasti kuat menghadapi ini. Semuanya ... akan berlalu jika kau mampu menjalaninya,” ucap Ara pada dirinya sendiri guna menguatkan keyakinannya.


Sesampainya di rumah, Ara yang berniat langsung ke kamar langsung berhenti karena terhalangi seorang wanita paruh baya. Sosok itu menatap Ara dari ujung kaki hingga ujung kepala, dan akhirnya langsung melebarkan kedua mata karena terkejut. Wanita itu menyadari ada yang salah dari anaknya.


“Ada apa, Ara? Kenapa matamu terlihat sembab dan memerah begitu? Apa ... kau habis menangis?”


Terkejut dengan pertanyaan sang bunda, Ara langsung terkesiap. Ia ingat jika sebelum masuk ke rumah dirinya sudah mengusap sisa air matanya. Namun ia tidak menduga jika masih ada bekasnya yang menunjukkan Ara habis menangis.


“Aku ... tidak apa-apa kok, Bunda. Tadi mataku hanya kemasukan debu, jadi aku tidak sengaja mengusapnya terlalu keras,” kilah Ara sembari memasang senyum nanar, berharap jika sang bunda mau menerima alasannya. Bagaimanapun juga Ara tidak ingin keadaan menyedihkannya itu diketahui oleh sang Bunda. Terlebih apa yang terjadi seluruhnya karena kesalahan Ara sendiri.


“Ya sudah, Bunda percaya padamu. Tapi, jika memang ada yang mengganggu, ceritakan pada Bunda. Bunda tidak ingin kau berlarut dalam kesedihanmu sendiri,” ucap Diana sembari mengusap lembut kepala Ara, dan langsung dibalas dengan anggukan pelan. Saat itu, Ara ingin kembali meneteskan air mata karena terharu. Namun, ia tidak ingin mengkhawatirkan Bundanya, sehingga Ara akan menahannya hingga sampai di kamar.


“Terima kasih, Bunda. Kalau begitu, aku mau langsung ke kamarku, ya. Aku lelah, mau istirahat.”


Tanpa menunggu tanggapan lawan bicaranya, Ara langsung melewati wanita paruh baya itu dan melesat langsung ke kamar. Dan ketika sampai di kamar, Ara langsung mengunci pintu di belakangnya, lalu segera berhambur ke kasur yang empuk. Kemudian Ara mengeluarkan ponselnya, mencari sesuatu yang menarik perhatiannya sejak di mall.


Zeeshan Alashraf, itulah nama yang dicari Ara di internet.


Tidak butuh waktu lama bagi Ara untuk menemukan jawabannya. Dan detik itu pula senyum sendu terpasang di wajahnya.


“Ternyata begitu, ya ... Al yang kukenal adalah seseorang yang berasal dari keluarga bangsawan Turki,” gumam Ara dengan suara pelan. Kedua matanya kembali berkaca-kaca ketika membaca informasi tentang sosok pria yang dicintainya itu.


“Pantas saja dia membuat peraturan agar kita tidak saling mengenal ketika di luar. Ternyata ... dia tidak hanya ingin mencemari statusnya sebagai anggota bangsawan.”


Kini Ara meletakkan ponselnya di kasur, lalu melentangkan tubuhnya. Air mata kembali menetes menuruni pipi Ara, hatinya kembali terasa hancur berkeping-keping. Meski ia sudah menumpahkan seluruh kesedihan dalam perjalanan pulang tadi, Ara tidak dapat menahan luapan perasaannya saat itu. Terlebih ketika mengetahui kenyataan bahwa dirinya tidak akan dapat bersatu dengan Al, seorang bangsawan yang tidak mungkin dimiliki oleh orang biasa seperti Ara.


“Menyedihkan sekali. Bagaimana mungkin aku cinta setengah mati dengan seseorang yang tidak dapat kumiliki. Kenapa ... kenapa takdir mempertemukan kami jika kami tidak mungkin dapat bersama.”


Monolog yang Ara ucapkan menyebabkan aliran air matanya semakin deras. Rasanya sakit, sangat sakit. Rasanya Ara ingin segera membuang seluruh perasaan cintanya kepada Al saat itu juga. Tapi, bagaimana mungkin? Benih cinta telah tertanam dalam di hati Ara, dan juga bertumbuh subur. Siapa yang dapat mencabutnya?


Mengerti jika hatinya yang sekarang tidak dapat melupakan sosok Al, Ara hanya dapat menangis keras. Menangisi cintanya yang tidak akan berhasil. Menangisi Al yang menganggap Ara tidak lebih dari wanita simpanan. Saat ini, Ara mulai menyesali keputusannya untuk menaruh perasaan cinta pada Al.


“Seharusnya ... seharusnya aku tidak terlalu dekat dengannya. Seharusnya ... semua itu tidak terjadi.”


Dalam tangisannya, Ara menyalahkan takdir karena telah membangun subur cintanya kepada Al yang tidak akan tergapai.




Si Al, keluarga Bangsawan Guys.... Sekarang siapa Al udah benar-benar perlahan terungkap. Itu artinya udah mau tamat nih. Semoga kalian masih mengikuti kisah si Bule. Mohon dukungannya selalu, ya. Terima kasih.