I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
BULE 76



Suasana terasa begitu mencekam ketika Arabella selesai mengutarakan jawabannya. Tidak ada yang menduga sebelumnya bahwa Ara akan menolak dengan tegas seperti tadi.


Padahal mereka bisa melihat bahwa pria bernama Al itu bukanlah sosok yang biasa saja. Sehingga siapa saja yang melihat pria itu akan yakin bahwa Al tidak bisa dianggap remeh begitu saja.


Tidak akan ada pria baik dan mapan yang akan datang melamar untuk kedua kalinya. Jika kali ini Ara menolak, maka mereka juga tidak bisa memastikan bahwa pria itu akan kembali melamar lagi nantinya.


Bahkan penolakan itu tidak hanya membuat keluarga Ara kaget dan terdiam. Karena Al juga sama kagetnya dengan mereka semua.


“Apa ada yang kurang dari diriku?” pikir Al.


Dia tidak menyangka bahwa Ara akan menolak dengan cepat. Padahal wanita itu yang telah mengatakan agar Al datang ke rumahnya dan langsung melamar.


Tetapi meski begitu, Al tidak akan menyerah dengan mudah. Dia sudah terlanjur jatuh cinta pada sosok Ara, dan dia tidak akan mundur begitu saja. Hanya lelaki lemah yang akan mundur ketika dia menerima penolakan, dan Al tidak ingin menjadi salah satunya.


“Apa maksudmu?” tanya Al.


Dia sudah mendengar dengan jelas bahwa Ara menolak dirinya. Tetapi Al yakin bahwa dalam hati Ara, wanita itu masih menaruh perasaan yang sama untuk Al sejak dulu.


Seharusnya Al datang lebih awal, sehingga dia tidak perlu membuat Ara berpikir bahwa dia tidak serius untuk melamar dirinya.


Untuk pertama kali dalam hidup Al, dia menerima penolakan. Pria itu tidak pernah melamar seorang wanita sebelumnya. Bahkan tidak ada yang pernah menolak dirinya meskipun itu hanya sebuah hal kecil. Al selalu menjadi pusat perhatian sejak dulu, dan tidak akan ada yang pernah melewatkan kesempatan untuk dekat dengan dirinya.


Tetapi kini ketika dia serius untuk melamar seorang wanita, wanita itu malah menolaknya di hadapan keluarga lengkapnya.


Meksi penolakan itu adalah hal paling buruk yang pernah Al alami, dia bersikap seolah dia tidak ditolak saat ini.


Untuk orang yang sejak awal tidak pernah memiliki niatan untuk menikah, jangankan untuk  dan kini malah berubah pikiran, Al termasuk salah satu orang yang patut diberikan tepuk tangan atas keberaniannya.


“Apa kamu serius?” tanya Bunda Ara.


Ara hanya menunduk dan tidak berani menatap ke arah Al. Pria itu terlalu sulit untuk dia gapai. Bahkan rasanya mustahil untuk hidup bersama.


Mungkin pria itu hanya sedang berpikir ceroboh sesaat. Jika hari ini Ara menolak, maka Al pasti akan kembali pada tujuan awalnya.


Ara selalu ingat dengan jelas bahwa Al tidak pernah ingin menikah. Selama menjalin hubungan selama tiga tahun lamanya, Al tidak pernah menunjukkan keseriusan dalam hubungan mereka berdua. Jadi jika kali ini pria itu datang dan melamarnya di hadapan keluarga, dia tidak bisa menerima semua itu dengan mudah.


“Bagaimana jika Al hanya datang karena dia merasa tertantang?” pikir Ara.


Tidak ada yang salah dengan pemikiran itu. Ara selalu mendengar bahwa setiap orang akan merasa tertantang pada hal yang mereka pikir menarik. Bisa saja Al sedang melakukan hal itu saat ini.


Sepertinya Ara terlalu memikirkan tentang banyak hal. Tetapi semakin dia memikirkan tentang hal itu, dia semakin yakin untuk menolak.


Bagaimana bisa Ara hanya mengutamakan perasaannya sendiri dan sama sekali tidak memikirkan tentang pendapat keluarga Al.


“Seandainya saja dia adalah pria biasa seperti pria yang lainnya,” batin Ara.


Andai saja Al memang tidak sesempurna itu dalam hidup. Tetapi satu hal tentang Al saja tidak bisa dibandingkan dengan segala hal yang Ara miliki.


Mereka berdua berbeda jauh sekali. Entah dari sisi keluarga, harta, pemikiran dan lain sebagainya. Mungkin saja Al tidak akan peduli. Tetapi Ara tidak akan mampu hidup dengan perbedaan sejauh itu.


Perbedaan mereka sudah sangat jelas dan tidak lagi abu-abu. Dia akan sangat egois pada dirinya sendiri jika dia setuju untuk menikah dengan Al.


Adik kembar Ara yang masih berada di sana juga ikut terkejut. Mereka hanya bisa menatap satu sama lain dan berbagi pemikiran mereka.


Pria yang baru pertama kali mereka temui itu tampak sangat hebat. Pria itu pasti tidak berasal dari kalangan biasa, dan dia pasti adalah sosok yang diidamkan oleh banyak wanita.


Apa ini mimpi? tetapi bahkan dalam mimpi sekalipun, mereka tidak pernah bisa membayangkan wajah tampan milik pria itu.


Bohong jika Ara tidak menginginkan sosok sempurna seperti Al. Hanya dengan melihat sosoknya yang kini berdiri di hadapan dirinya saja sudah bisa membuat Ara tidak mampu berkata-kata.


Al hanya berharap agar Ara mau menerima lamarannya barusan. Al akan terus mencoba sebanyak apapun selama Ara masih ingin hidup bersama dengannya.


Tidak ada yang bisa membuat Al menjadi goyah dengan tujuannya. Jika biasanya dia ingin mendapatkan segala hal yang dia inginkan karena merasa tertantang dan setelah bosan dia akan membuang semuanya, kali ini berbeda dengan yang dia rasakan pada Ara.


Pria dengan wajah tampan itu tidak berniat bermain-main dengan Ara. Dia merasa bahwa jika dia tidak mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Ara sekarang, maka dia tidak akan memiliki kesempatan lagi lain kali.


Arya yang sejak tadi ikut terdiam, kini mulai berbicara. Dia akan bersikap sebagai Ayah yang bertanggung jawab akan hidup putrinya. Pria paruh baya itu kini seakan mengerti apa yang sedang Ara takutkan. 


“Bagaimana dengan keluargamu?” tanya Arya ketika dia menyadari Al hanya datang sendiri ke rumah mereka.


“Apa mereka juga setuju?” lanjut Arya lagi.


Mendengar hal itu, Al mulai terdiam sekali lagi. Dia baru menyadari bahwa dia sudah melupakan tentang keluarganya. Al sama sekali tidak memberitahu satupun anggota keluarganya. Bahkan untuk keputusan paling penting dalam hidupnya itu, dia tidak melibatkan siapapun di dalamnya.


Al melupakan tentang Kakeknya. Seharusnya Al bisa memberitahu sosok yang berpengaruh dalam hidupnya itu, sebelum dia datang untuk melamar Ara. Bagaimana jika Kakeknya lantas menyadari kepergian Al, dan mengetahui bahwa dia kini hendak melamar seorang wanita itu. Dia tidak bisa menduga apa yang akan Kakeknya itu lakukan nanti. Apalagi kakeknya tidak tahu alasan Al pergi ke Indonesia untuk mengejar seorang wanita 


Tetapi bukan hal itu yang Al takutkan sekarang. Pria itu hanya khawatir bahwa Ara dan keluarganya akan menolak lamaran Al, karena pria itu datang sendirian untuk melakukan lamaran. Dia tidak ingin melakukan kesalahan. Meski begitu, tidak ada yang mampu membuat dirinya goyah. Ternyata sudah sekuat itu tekadnya.