I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 46



"Tuan, ada kiriman amplop untuk Anda," kata sang sekretaris saat menghadap pada Arya di ruang kerja.


Arya yang tadi sibuk dengan laptopnya segera mendongak, terlihat heran. "Dari siapa?" tanyanya penasaran.


"Tidak ada nama pengirim, amplop ini dititipkan pada satpam pagi tadi. Di depan hanya tertulis angka A dalam lingkaran," jelas sang sekretaris.


Mendengar hal tersebut, wajah Arya langsung serius. Dia segera melambai pada sekretarisnya itu untuk meminta amplop tersebut. "Keluarlah ... dan satu lagi, jika ada yang mau bertemu denganku hari ini, katakan aku sibuk dan sedang keluar bersama klien," pintanya, menatap sang sekretaris lekat seolah memberikan kode peringatan.


"Baik, Tuan." Untungnya sekretaris Arya itu paham. Dia tahu, jika bosnya sudah berbicara seperti itu, bosnya tidak ingin diganggu siapapun. Bahkan istrinya sekalipun jika itu yang dayang.


Arya menghela napas panjang, tepat setelah sang sekretaris keluar dari ruangannya, dia segera membuka amplop tersebut.


Napasnya sedikit tercekat, saat melihat sebuah tulisan berupa alamat di dalam amplop tersebut. Tetapi senyum tipis mulai terpancar dari bibirnya. Setelahnya, dia kembali membuka seluruh isinya.


Arya terlihat senang, saat melihat beberapa foto di dalam amplop tersebut. Ada foto, Ara, ada foto Diana, bahkan anak-anak kembarnya yang lain.


Tatapan Arya terlihat sendu memandangnya. Dia mengusap lembar foto tersebut, lalu memejamkan mata dengan embusan napas yang begitu lelah.


"Apa kabar kalian sekarang?"


Ternyata, amplop tersebut adalah bukti yang dikirimkan dari seorang detektif yang dia sewa untuk mencari keberadaan Ara dan keluarganya yang dulu. Arya ingin tahu, bagaimana kehidupan anak-anaknya dan mantan istrinya. Entah kenapa, dia sangat penasaran sekarang. Melihat mereka terlihat baik-baik saja, membuat Arya tampak tenang.


"Oh, dia mempunyai salon!" gumamnya memekik senang, saat mendapati foto Ara yang masuk ke sebuah salon. Ternyata, di balik foto itu, detektif uang disewa Arya menuliskan keterangan untuk menjelaskan foto-foto tersebut.


Perasaan Arya benar-benar terasa hangat melihat itu, dan terus membuka satu-persatu lembar diri sampai dirinya menemukan satu-satunya lembar yang menunjukkan foto tentang Diana. Entah kenapa, Arya merasa jantungnya berdenyut dengan lembut. Ada perasaan rindu yang begitu menggebu yang tiba-tiba mencuat dari hatinya.


"Syukurlah," gumam Arya kemudian, menghela napas panjang sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya.


Lelaki paruh baya itu tersenyum tipis saat mulai mengambil teleponnya dan menghubungi seseorang.


"Halo."


Sapaan dari seberang membuat Arya tampak antusias. "Halo, Marwan, terima kasih. Kamu membawakan banyak hadiah untukku," ucapnya dengan bangga.


"Sama-sama, Tuan. Itu sudah pekerjaan saya, saya senang Anda puas." Marwan, detektif yang disewa Arya menjawab dengan rendah diri.


Arya tersenyum mendengarnya. "Tapi kamu tahu, kan tugasmu masih belum selesai? Aku masih ingin mengetahui tentang kehidupan mereka secara rinci. Tolong teruskan pekerjaanmu, Marwan," ucapnya meminta dengan tulus.


"Tentu saja, saya akan melakukan yang terbaik apapun yang Anda mau." Terdengar suara embusan napas yang berat dari seberang, sebelum Marwan kembali bersuara. "Tapi, Tuan, entah ini harus dilaporkan sekarang atau nanti, saya merasa gelisah setelah memata-matainya."


"Apa itu, katakan saja?" pinta Arya mendesak.


"Sudah dua hari, rumah yang Anda cari diintai oleh seseorang juga. Dia terus mengikuti wanita yang bernama Ara bahkan sampai masuk salon sekalipun. Selang sehari, salon Ara didatangi preman. Para preman itu membuat keributan," jawab Marwan menjelaskan.


"Apa?" Arya sendiri tampak syok mendengarnya, dia tak menyangka jika putrinya itu akan mempunyai sering musuh juga. "Apa kamu mempunyai fotonya sebagai bukti, Marwan?" tanya Arya cemas.


"Tidak, tidak. Jangan lakukan itu. Kirim sekarang saja lewat pesan, aku ingin segera melihatnya. Aku tidak sabar jika harus menunggu esok hati," pinta Arya mendesak.


"Baiklah, Tuan."


Setelah itu, Arya segera mematikan panggilan tersebut. Dia menatap teleponnya dan meremas ya dengan cemas. Detik berlalu begitu lama bagi Arya saat menunggu pesan dari Marwan.


Hingga akhirnya teleponnya berdering bunyi pesan masuk. Arya segera membukanya dengan tergesa, untuk melihat bagaimana hasil pantauan yang dilaporkan Marwan padanya tadi.


Napas Arya sedikit memburu, melihat bagaimana keadaan salon Ara tampak berantakan. Rupanya Marwan berhasil mengambil foto dari dekat, bahkan bisa memperlihatkan bagaimana isinya. Meskipun tidak jelas, tapi Arya tahu jika barang-barang itu berserakan di bawah.


"Beraninya ... siapa yang telah memalukan ini pada putriku!" geram Arya merasa marah. Dia langsung menggulir teleponnya untuk membuka foto berikutnya.


Namun, betapa terkejutnya dia saat mengenali salah satu gambar yang dikirim oleh Marwan. Napas Arya sedikit tercekat, saat membaca pesan Marwan yang berkata jika foto mobil yang baru saja dia kirim itu adalah penguntit Ara beberapa hari ini dan tersangka pembuat keributan di salon.


"Sial, mataku tidak rabun. Ini sangat jelas mobilnya. Apa yang dilakukan anak itu selama ini?" gumam Arya kesal, membanting teleponnya kasar di meja.


Dia kembali menyandarkan tubuh. Kini kedua tangannya dia gunakan untuk menopang belakang kepalanya yang mendongak. Mata Arya menatap langit-langit ruangannya dengan pandangan kosong.


"Apa ini juga alasannya dia bertanya tentang Ara malam itu? Sherly ingin menyelidiki Ara?" Ingatan Arya terbang ketika anaknya Sherly, yang membuatkan kopi malam itu dan bertanya tentang Ara lalu diseret oleh Maya untuk masuk.


Embusan napas panjang keluar dari bibir Arya, dia mengusap-usap wajahnya dengan kasar. "Ah sial, apa yang akan dilakukan Sherly pada Ara? Benarkah dia dalang dibalik para preman yang menghancurkan salon Ara?"


Lelaki itu terlihat frustasi menyadari anak-anaknya saling bertikai. Yang lebih mengejutkan lagi, karena Sherly bertindak langsung pada Ara. Arya benar-benar tak bisa menebak pikiran anaknya bersama Maya itu.


Cepat-cepat, Arya kembali menghubungi Marwan. Dia menginginkan Marwan agar mengawasi Sherly lagi jika didekat Ara. Arya memberi tahu, jika foto wanita yang mempunyai mobil yang membuntuti Ara beberapa hari ini adalah anaknya sendiri. Dia ingin Marwan mengabarinya segala hal jika itu bersangkutan dengan Ara.


Di sisi lain, setelah semalaman berada di apartemen sendirian, kini Ara berniat untuk datang ke salon. Dia ingin menyelesaikan urusannya kemarin dengan polisi.


Namun, sayang sekali saat tiba-tiba ibunya menelpon. Hal ini membuat Ara mau tak mau harus pulang pagi ini juga.


Ara meninggalkan apartemen dengan perasaan sendu, merasa sedih karena dia tak bisa bersama Al kemarin padahal lelaki itu datang menemuinya. Sepanjang jalan, wajah Ara terlihat muram dan gelisah.


"Ara!"


Dia baru saja sampai rumah, ketika ibunya sudah menyambutnya di depan pintu. Wanita paruh baya itu terlihat khawatir saat menatap ke arahnya.


"Bunda, ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Ara khawatir.


"Oh, Ara, apa kamu baik-baik saja? Para berandalan itu tidak menyentuhmu, kan? Bagaimana dengan keadaan salonmu sekarang? Apa itu baik-baik saja?" tanya Diana beruntun, menatap anaknya panik sambil menggenggam tangan Ara dengan sedikit cengkraman kencang. "Dasar para preman sialan, berani-beraninya mereka main keroyokan!"


Ara yang tadinya heran, kini malah terlihat terkejut. Dia menatap ibunya panik saat wanita paruh baya itu menatapnya lekat tanpa berkedip. "Bun, Bunda tahu dari mana kalau salon Ara habis kedatangan preman?"