I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 59



"Anak saya ada di lantai tiga, kenapa saya tidak boleh masuk?" tanya Diana berapi-api, saat seorang petinggi rumah sakit menahan dirinya di lift, dan tak memperbolehkannya menginjak lantai tiga. Si kembar sampai ketakutan, dan terus mencengkram baju belakangnya.


"Maaf, Bu, sudah saya katakan, ada pemeriksaan menyeluruh yang diadakan dokter. Selain pasien, tidak boleh ada yang masuk saat ini. Ruangan lantai tiga harus disterilkan sebentar," kata sang petinggi rumah sakit yang berhadapan dengan Diana.


"Tapi bagaimana jika anakku bangun dan mencariku? Aku takut dia akan panik, karena semalam mengalami serangan dari orang yang tidak dikenal! Biarkan aku masuk, biarkan aku menemani putriku!" raung Diana dengan histeris, hampir menangis.


Pagi ini, dia dan si kembar memutuskan untuk turun sebentar mencari sarapan di kantin. Diana meninggalkan Ara sendirian, yang kebetulan memang belum sadar sejak semalam. 


Tetapi, dia tak menduga jika saat dirinya akan kembali, lift dijaga oleh seorang petinggi rumah sakit yang mengatakan jika mereka tidak bisa berhenti di lantai tiga. Bahkan, tangga darurat pun yang menuju pintu lantai tiga, juga dijaga dengan ketat. Lantai tiga benar-benar tak bisa dimasuki orang satu pun, karena prosedur rumah sakit yang mengatakan akan disterilkan sebentar.


Diana tampak gelisah, dia takut Ara akan terbangun lebih dulu sebelum dirinya bisa menyusul. Dia benar-benar tidak senang, karena bukan hanya dirinya yang tidak bisa masuk ke lantai tiga. Beberapa orang yang menjaga keluarga mereka yang dirawat di lantai tiga pun sama, harus terhalang dan tak bisa masuk.


Namun, bukan itu yang sebenarnya terjadi. Di lantai tiga tidak ada pemeriksaan dokter, maupun ruangan yang disterilkan. Itu semua karena ulah Al, yang menyogok pertinggi rumah sakit, agar dirinya bisa leluasa masuk tanpa dilihat oleh orang-orang. Untungnya, rumah sakit ini milik swasta, sehingga dia bisa mudah hanya dengan mengandalkan uang.


Lelaki itu dengan cepat menyusul Ara ketika mendengar wanitanya itu masuk ke rumah sakit. Seseorang yang dia minta menjadi mata-mata dan pengawal Ara itu, mengabarinya di saat hari mulai beranjak fajar.


Untungnya, Al belum pergi sama sekali. Dia masih berada di apartemen, dan menenangkan diri setelah berdebat tentang status hubungan dengan Ara beberapa hari yang lalu. Dia benar-benar tak menyangka akan mendapat kabar kurang enak ini.


'Ruangan paling ujung, kamar nomor 309.'


Al ingat kata-kata anak buahnya yang mengatakan tentang kamar rawat Ara. Dia yang memang sudah berada di lantai tiga, dengan segera melangkah mendekati ruangan tersebut dan langsung masuk begitu saja.


Dia mengira jika Ara masih tertidur. Nyatanya, dia salah. Wanita itu sudah bangun, membuka matanya dengan wajah yang begitu pucat dan tampak lemas.


"Al, kamu, kah itu?" tanya Ara lirih menyambut kedatangan kekasih gelapnya itu.


"Hai," sapa Al tersenyum tipis. "Bagaimana keadaanmu?" tanyanya yang langsung mendekati Ara. Al menggenggam tangan Ara, sambil menerbitkan kecupan lembut di kening.


Tarikan napas berat terkuat dari wajah Ara, wanita itu menggeleng lemah saat menjawab, "Sakit. Aku merasa tubuhku sangat sulit digerakkan karena perutku terasa begitu nyeri."


"Apa kamu masih ingat apa yang terjadi padamu?" tanya Al to the point.


Ara memejamkan mata, terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya berbicara, "Seseorang masuk, dia memakai topeng wajah dan tiba-tiba langsung menusukku. Aku tidak tahu itu siapa, dan bagaimana kelanjutannya karena aku lebih dulu pingsan." 


Wanita itu menjawab dengan suara yang lirih, tapi untungnya Al masih mendengar dan memahaminya.


"Aku akan mencari orang itu dan membalas semuanya, Ara, aku janji," tutur Al meyakinkan.


"Aku sudah cukup tenang karena melihatmu baik-baik saja. Tapi maafkan aku, sekarang aku harus pergi, ungkap Al kemudian, setelah beberapa saat keadaan dalam suasana hening.


"Pergi ke mana?" tanya Ara dengan wajah bingungnya.


"Pulang ke apartemen. Aku tidak bisa berlama-lama di sini. Para petinggi rumah sakit hanya memberikan waktu lima belas menit untuk menutup lantai tiga ini," jelas Al menatap Ara lekat.


"Jadi kamu masih sembunyi-sembunyi untuk menemuiku, Al?" tanya Ara, yang entah kenapa suaranya terdengar tercekat. Dada wanita itu spontan merasakan sesak akibat rasa sakit hatinya yang datang tiba-tiba. Dia menatap nanar sosok Al dengan mata berkaca-kaca.


"Ya, aku tidak mau siapapun melihatku bersamamu," jawab Al dengan wajah yang datar.


Hal ini membuat Ara terkekeh sinis. Dia menarik napasnya dalam-dalam saat berkata, "Bisakah kita akhiri saja permainan ini?"


Dia sudah tidak sanggup berada dalam hubungan yang tidak pasti. Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat. Ara menghabiskan seluruh masa mudanya untuk Al. Awalnya, dia memang melakukan semua ini demi uang. Tapi dia baru sadar, jika hatinya sudah terpatri lama pada lelaki bule itu. Dia tak lagi menginginkan lebih, selain diri Al saja. Bahkan jika dia tak lagi mendapatkan kemewahan dan harta berlimpah, dia tak peduli lagi. Toh selama ini Al sudah memberikannya cukup banyak uang padanya.


"Aku tidak ingin lagi menjadi partner ****-mu, Al," imbuh Ara kemudian.


Napas Al memburu, matanya melotot tajam menatap Ara. "Apa yang kamu katakan, hah? Apa yang kuberikan selama ini kurang untukmu sehingga kamu ingin putus begitu saja dariku? Kamu sedang berpura-pura agar aku memberikanmu upah yang semakin tinggi?"


Hati Ara berdenyut merasakan sakit. Dia tak menyangka jika Al akan menuduhnya seperti wanita murahan. Entah kenapa, Ara merasa muak. Dia mencintai seseorang, tapi dia sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan orang itu. Ara ingin seperti orang lain yang mempunyai kekasih pada umumnya. Yang bisa jalan bersama, atau paling tidak memberikan kabar setiap waktu. Bukannya malah terkurung di menara dan harus menunggu jika harus berkomunikasi. Sungguh, Ara lama-lama Ara merasa lelah menjalani hal ini.


"Aku tidak menginginkan apapun darimu, Al. Aku hanya ingin kamu, kamu, dan kamu!" jawab Ara sambil menggigit kecil bibir bawahnya untuk menahan tangis.


"Tch! Beraninya kamu melunjak, Ara?    Apa kamu lupa siapa statusmu? Kamu lupa dengan perjanjian kontrak kita?" bentak Al mengeraskan suaranya. Dia ikut emosi dengan keputusan yang dibuat oleh Ara.


"Aku tidak lupa, Al. Aku selalu mengingatnya, bahkan setiap detik saat memikirkanmu sekalipun. Tapi aku lelah, aku ingin berhenti. Aku tidak sanggup lagi menjalani hubungan seperti ini. Kamu ada di dekatku, tapi aku tidak bisa memilikimu." Ara menjawab dengan suara sedikit gemetar." Aku memang melunjak, Al. Aku memang tidak tahu diri karena menginginkanmu."


Al mendengkus, lelaki itu membuang pandangan dan tak ingin menatap Ara. Dia tampak marah, terlihat jelas dengan rahangnya yang saat ini mengeras. Lelaki itu sepertinya tidak bisa menerima permintaan Ara yang sangat-sangat merugikan baginya. Dia hanya butuh wanita itu sebagai pelampiasan. Jika Ara sudah main perasaan padanya, entah kenapa hal ini malah membuatnya tidak nyaman lagi bersama wanita itu.


Tidak tahu harus menjawab apa, akhirnya Al memutuskan untuk pergi dari sana. Toh waktunya sudah habis, dan dia tidak bisa lama-lama lagi di sini atau orang lain akan melihat sosoknya nanti.


"Al...."


Dia masih bisa mendengar suara lirih Ara yang memanggilnya. Tetapi entah kenapa, rasanya hati Al membeku dalam kebimbangan. Dia terus berjalan, meninggalkan wanita yang bertahun-tahun ini menjadi partner ranjangnya.