I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
BULE 72



Sepanjang perjalanan menuju ke salon, pikiran Ara sungguh tidak tenang. Dia harus mencari cara agar Al berhenti mengejarnya dan Ara bisa menjalani hidupnya dengan tenang tanpa ada lagi orang yang akan mengganggunya, meskipun sebenarnya Ara memiliki perasaan terhadap lelaki itu. tapi arah sadar Jika dia tidak boleh berharap banyak pada lelaki yang tidak akan pernah mungkin bisa dimilikinya.


Ara memarkirkan mobilnya, Dia segera keluar lalu mengunci mobil dan setelah itu Ara berjalan masuk ke dalam salon. Pegawainya segera menghampiri Ara saat dia melihat perempuan itu keluar dari dalam mobil dan berjalan tergesa menghampiri dia yang memang tengah menunggu Ara.


"Lelaki itu ada dimana sekarang?" Tanya Ara pada pegawai yang tadi menelponnya.


"Dia ada didalam, kita nggak berani untuk mengusirnya. Sebelumnya kami sudah mengusir dia satu kali dan menolak kedatangannya, tapi kemudian dia mengatakan kalau mbak Ara adalah kekasihnya. Jadi kami membiarkan saja dia masuk dan mencari ruangan Mbak Ara dan menunggunya di sana. " pegawai salon menceritakan semuanya kepada Ara.


Ara menganggukkan kepalanya setelah dia mendengar semua cerita dari pegawai salonnya, Ara berusaha bersikap tenang menghadapi Al yang dia tahu adalah seorang lelaki arogan dan juga egois. Apapun yang Al inginkan harus bisa didapatkan apapun rintangannya, sehingga arah harus bisa tenang menghadapi dan mencari cara supaya lelaki itu enyah dari kehidupannya.


Ara masuk ke dalam ruangannya, dia melihat Al yang sedang duduk di sofa menunggu kedatangannya. Al segera bangkit saat melihat pintu ruangan itu terbuka dan ternyata Ara, orang yang sejak tadi sudah tunggu. Tanpa bisa lagi membendung betapa Al merindukan Ara karena perempuan itu selalu saja menghindar ketika bertemu dengannya.


"Ya ampun, Ara. Aku rindu sekali padamu, Tolong jangan menghindar lagi. Aku ingin kita bisa memulai dari awal lagi, jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku karena aku tidak bisa hidup tanpamu, Ara." Al langsung memeluk tubuh Ara dengan begitu erat, meluapkan segala rindu yang sudah lama Al memendamnya.


Ara hanya diam saja, menikmati debaran jantung Al yang berirama di telinganya. Tentu saja Ara juga merasakan hal serupa, dia senang saat Al mengatakan itu semua. Tapi detik berikutnya Ara sadar kalau yang sudah dilakukan olehnya sama sekali tidak benar, dia salah sudah membiarkan Al memeluk tubuhnya. Dan kenapa Ara begitu lemah, dia tak berdaya menolak lelaki tampan itu.


"Tidak, Al. Ini salah, bukankah sudah aku katakan, jika kita tak mungkin bisa bersama. Kau harus tahu siapa aku dan latar belakang keluargaku, jangan memaksakan kehendak jika akhirnya hanya akan menyakiti kita berdua." Ara mundur beberapa langkah, menjauh darimu Al. Ara sadar diri tentang status keluarga Al yang berasal dari keluarga pengusaha kaya di Turki, sementara Ara hanya berasal dari keluarga miskin yang tidak akan pantas jika harus bersanding dengan Al yang begitu sempurna, bagai seorang keturunan kerajaan Timur Tengah.


Awalnya Ara senang ketika Al sudah berani mengatakan pada orang lain dan mengakui dirinya sebagai kekasih Al, tapi Ara seolah tertampar oleh sebuah kenyataan yang tentu saja akan menjadi penghalang besar bagi hubungan keduanya. Sehingga Ara tak ingin tersakiti oleh sebuah hubungan yang pasti akan mendapatkan tentangan dari keluarga besar Al.


"Aku mohon, Ara. Jangan seperti ini, aku sangat mencintaimu. Aku sadar jika selama ini sudah bersikap tidak baik, mengabaikan perasaanmu, tak memperdulikan seperti apa tertekannya berada di posisi mu, sehingga cinta itu tumbuh secara pelan dan pada akhirnya aku menyadari jika kau bukan hanya sekedar teman tidur saja, tapi seseorang yang akan menemani aku mengarungi kehidupan di dunia ini." Al berusaha untuk meyakinkan Ara, dia juga memaksa agar Ara bersedia kembali lagi padanya. Dan jangan mengabaikan nya.


Ara jadi punya ide untuk menguji tentang keseriusan dari setiap ucapan Al hari ini, Ara ingin tahu apakah lelaki dihadapannya benar-benar mencintainya atau hanya sekedar ingin dipuaskan saja birahinya, maka dengan sangat yakin sekali Ara mengungkapkan keinginannya dan Ara yakin jika Al past akan menolak permintaannya.


"Jika kau memang serius dengan cintamu itu, maka aku menantangmu untuk mempublikasikan tentang hubungan kita. Apakah kau bersedia?" Ara menatap dalam mata Al, lelaki itu sempat terkejut atas permintaan Ara. Tapi Al segera menguasai dirinya dan tersenyum menanggapi permintaan Ara.


"Apapun yang kau inginkan akan aku turuti, sekalipun aku harus kehilangan nyawa. Permintaan mu hanyalah sebuah hal yang sangat sederhana, jadi aku akan mempublikasikan hubungan kita pada semua orang, karena aku benar-benar serius mencintaimu, dan tak lagi peduli akan yang lainnya." Dengan tegas Al bersedia menuruti permintaan Ara, dia setuju akan mempublikasikan hubungan keduanya.


Diluar dugaan, Ara terkejut tidak percaya kalau Al setuju dengan permintaannya, padahal Ara berpikir kalau Al akan menolaknya, tapi sekarang lelaki itu justru terlihat sama sekali tak ada keraguan dari setiap kata-katanya.


Ara senang karena akhirnya apa yang selama ini dia inginkan, akan segera terwujud. Yaitu tentang statusnya sebagai kekasih dari lelaki tampan keturunan Turki, yang sudah berhasil meluluhkan hatinya.


Tapi disisi lain, Ara sedih. Sebab dia pasti akan melewati dan menjalani berbagai macam tantangan serta rintangan, mengingat status Al yang merupakan seorang pewaris tunggal pengusaha bernama Ekrem Zeeshan.


"Apa kau benar-benar yakin dengan pernyataanmu barusan? Maksudku, apa kau tak akan menyesal dengan mengakui dan mempublikasikan mengenai hubungan kita, maka akan banyak media yang pasti mempertanyakan kebenarannya, jangan bertindak bodoh yang akan membawamu pada sebuah penyesalan besar, aku ini bukan perempuan baik. Aku hanyalah seorang perempuan simpanan yang bisa kamu bayar sebagai pemuas nafsu, dan teman tidur yang akan kau datangi ketika sedang butuh." Ara mengatakan itu.


"Tentu saja aku yakin, aku akan menuruti semua permintaanmu, Ara, asal kau kembali bersamaku, aku tidak akan pernah menyesal. Akan lebih menyesal jika aku kehilanganmu," kata Al dengan tegas.


Hati Ara langsung menghangat, ini yang dia inginkan dari dulu tapi entah kenapa saat ini perasaannya Abu-abu bukan karena perasaannya terhadap Al, tapi posisinya dan posisi Al yang sangat berbeda.


Ara tengah menguatkan diri dan juga hatinya, meskipun dia sangat senang atas ketersediaan Al yang menuruti permintaannya dengan mempublikasikan tentang hubungan keduanya, tapi Ara tidak bisa berbahagia untuk sementara karena dia sadar siapa AL dan juga siapa dirinya.