I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 69



Pagi ini, berita pagi sedang membahas video yang sedang viral di kalangan netizen. Video itu memperlihatkan seorang laki-laki yang sedang berlarian mengejar seorang wanita di salah satu mall kota.


Diana yang baru saja menyelesaikan tugas masaknya, kini sedang fokus menghadap televisi. Dia merasa tidak asing dengan seseorang yang saat ini menjadi bahan perbincangan di tv, apalagi si wanita, sepertinya Diana sering melihatnya. Video itu tidak terlalu jelas memperlihatkan si wanita, hanya terlihat punggung wanita itu yang berlari menjauhi si pria yang terus mengejarnya.


"Bunda fokus banget, lagi lihat apa, sih?" tanya Keizha yang baru saja keluar dari kamar.


Diana menoleh, kemudian menjawab, "Ini lho, ada berita viral seorang pria bangsawan sedang mengejar-ngejar seorang wanita di mall."


Keizha yang akan menuju dapur langsung mengurungkan niatnya, dia penasaran dengan apa yang Bundanya katakan. Gadis itu langsung mendekat ke Diana yang berada di ruang tengah.


"Pria bangsawa?" tanya Keizha sambil mengerutkan alisnya. Dia menatap layang televisi yang masih membahas tentang hal itu. "Eh, itu 'kan Zeeshan Alashraf," celetuk gadis itu.


"Siapa itu?" tanya Diana.


"Salah satu keturunan bangsawan Turki, Bund. Dia memang sedang berada di Indonesia, tapi apa yang dilakukan wanita itu sampai Al mengejarnya?" heran Keizha. 


"Oh, keturunan bangsawan. Pantas saja wajahnya sangat tampan," ucap Diana mengerti sekarang. Itulah sebabnya video itu sampai viral. "Omong-omong, bunda lebih penasaran dengan wanita yang pria itu kejar."


"Keizha juga penasaran, Bund."


"Kak Keizha. Lihat, nih, Alashfar lagi viral!" teriak Khasna dari dalam kamar, kembaran dari Keizha itu berlari kecil dengan menenteng ponsel di tangannya.


"Aku udah lihat barusan di tv," jawab Keizha.


"Yah, telat dong aku ngasih infonya." Khansa memanyunkan bibirnya. "Kok bisa ya, seorang Al ngejar-ngejar wanita di tempat umum seperti mall. Ya, jelas jadi viral dong."


"Ya pas--,"


"Udah, ah. Jangan bahas ini lagi, itu hak dia mau ngejar siapa pun," sela Diana cepat. Sampai Keizha belum sempat menyelesaikan ucapannya. "Lebih baik kita sarapan, bunda sudah masak banyak buat kalian." Setelah mengatakan hal itu, Ibu dari tiga putri itu langsung mematikan televisi dan melenggang menuju meja makan.


Keizha dan Khasna langsung saling tatap dan terkekeh pelan. Mereka pun mengikuti bundanya menuju meja makan.


"Tapi aku kok sedikit nggak asing ya sama wanita yang dikejar sama Al? Meskipun dalam video hanya memperlihatkan punggungnya saja, tapi entah kayak kenal aja tapi nggak tau siapa," celetuk Khansa yang baru saja mendaratkan bokongnya di kursi.


"Iya, aku juga penasaran. Apa jangan-jangan mereka itu pacaran dan pas itu lagi berantem. Hehe," tebak Keizha dengan asal.


"Hust! Ngawur kamu, mana mungkin kayak gitu, tapi ... hal itu mungkin saja bisa terjadi, sih," jawab Khasna pada akhirnya. Dia sedikit setuju dengan apa yang dikatakan oleh kembarannya.


Diana hanya mendengarkan percakapan kedua anak kembarnya, mereka memang sangat ekspresif jika mengomentari tentang kehidupan selebritis. 


"Sudah jangan bahas lagi, ayo kita makan," ajak Diana sambil meletakkan piring yang baru saja ia ambil dari dapur.


Keizha dan Khasna melihat menu makanan yang sudah tersaji di atas meja. Terlihat sangat menggiurkan, mereka pun langsung mengambil nasi dan lauk pauk yang ada, kemudian mulai makan.


"Itu dia baru keluar kamar," jawab Diana yang melihat Ara keluar dari kamar. "Cepetan, Ra. Kita sarapan bareng."


Ara langsung mengarahkan pandangannya ke arah meja makan, lalu menjawab, "Iya, Bund."


Dengan langkah gontai, akhirnya dia sudah sampai di sana. Tidak banyak bicara, Ara langsung mengambil piring dan mengisinya dengan nasi beserta lauknya. Wajah wanita itu terlihat sangat sendu, kantung matanya juga terlihat sangat mengganggu, tadi malam memang Ara kesulitan untuk tidur.


"Kak Ara tau kan tentang berita viral pagi ini?" tanya Keizha membuka pembicaraan.


Ara langsung menatap adiknya itu, menelan ludahnya pelan. Sebenarnya Ara sudah mengetahui apa yang dimaksud oleh Keizha, tapi dia memutuskan untuk berpura-pura tidak tahu. "Belum. Apa memang," jawab Ara pada akhirnya.


"Kakak kenal sama salah satu ketirunan bagsawan Turki yang bernama Zeeshan Alashraf, kan? Pagi ini ada video viral dirinya sedang mengejar seorang wanita di mall," tutut Keizha penuh semangat.


"Iya tau." Hanya itu reaksi yang bisa diberikan oleh Ara. Hal yang ia takutkan akhirnya terjadi juga, inilah sebabnya Ara tidak suka berurusan dengan keluarga bangsawan, apa pun akan menjadi viral. Dalam hati Ara sedikit merasa lega karena video itu hanya memperlihatkan punggungnya, jadi hanya membuat asumsi publik tentang siapa sebenarnya wanita yang dikejar oleh Al. Jika saja wajahnya terpampang, mungkin saat ini akun instagramnya sudah dipenuhi oleh hujatan para penggemar Al.


"Kok biasa banget reaksinya?" tanya Khasna heran.


"Ya, terus harus bagaimana? Apa kakak harus jingkrak-jingkrak?" Ara mencoba untuk merubah ekspresi wajahnya menjadi ceria.


"Nggak juga, sih, tapi agak aneh aja."


Ara tidak menjawab lagi, wanita itu lebih fokus untuk menghabiskan makanannya. Diam-diam, Diana melihat wajah Ara. Dia merasa ada yang sedang disembunyikan oleh putri sulungnya. Padahal biasanya kalau adik kembarnya sedang menceritakan sesuatu, Ara akan menanggapinya sesuai dengan apa yang ia ketahui. Tapi sekarang Ara seakan tidak tertarik sama sekali untuk menanggapi, bahkan wanita itu seperti tidak mau untuk membahas hal itu.


Keizha dan Khasna masih terus membahas tentang video viral itu disela-sela makan mereka, dua gadis itu memang tidak bisa tidak membahas hal yang sedang viral. Mereka terus menerka-nerka siapa sebenarnya wanita yang dikejar oleh Al, mereka rasanya ingin mencari keberadaan wanita itu dan menanyakan kenapa dia sampai di kejar oleh Al.


Setelah menyelesaikan sarapan, kali ini Ara sedang membersihkan piring di atas meja makan dan akan membawanya ke tempat cuci piring. Tak lupa Diana  juga membantu putrinya itu.


"Kamu baik-baik saja, kan?" tanya Diana saat berada di depan wastafel.


Ara langsung menoleh pada sang bunda. "Aku baik, bund. Kenapa memang?"


"Bunda lihat ada sesuatu yang sedang kamu sembunyikan," ucap Diana, dia menatap dalam mata anak perempuannya.


"Sembunyikan? Ara sedang tidak menyembunyikan apapun, kok." Ara mencoba untuk menstabilkan ekspresi wajahnya.


"Tidak biasanya kamu diam saja seperti ini. Saat adik-adik kamu tadi bahas masalah Al kamu tidak menanggapi apa pun, biasanya kamu juga ikut bahas sama mereka."


"Ya, karena Ara memang tidak terlalu mengenal Al. Jadi ikut bahas pun mungkin Ara tidak tau apa-apa."


Diana hanya mengangguk-angguk. "Ya sudah, kalau kamu memang ada sesuatu cerita saja sama bunda. Jangan dipendam sendiri."


"Iya, bund."