I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 20



Lelaki bernama Saka itu tersenyum manis, menatap Ara dari pantulan cermin di hadapannya. Sambil menyentuh rambut dengan kedua tangannya, dia menjawab, "Aku ingin potong rambut, sekalian memberikannya warna."


Ara berdecak, memasangkan kain penutup tubuh di pelanggan rese-nya itu sambil bertanya, "Aku tidak pernah memotong rambut pria, hal itu akan menjadi sangat amburadul. Kamu yakin dingin dipotong olehku?"


"Tch, bukankah ini salon? Kenapa tidak bisa?" pekik Saka menyahut dengan kesal juga.


"Iya ini salon, tapi 'kan salon khusus wanita. Mana pernah kami kedatangan pelanggan pria sepertimu!" kata Ara sambil mengerucutkan bibir kesal. Dia bahkan sengaja meremas kepala pria itu sebagai pelampiasan.


Saka mencebik, mencoba menyingkirkan tangan Ara dari kepalanya. "Kalau begitu beri warna saja. Jika aku memaksa untuk potong, aku yakin kamu pasti akan menggunduli kepalaku," decaknya.


Ara tersenyum mendengar itu, merasa senang jika pelanggan rese-nya itu paham dengan apa yang dipikirkan. Setelahnya, dia berbalik, memberikan buku yang berisikan sampel rambut yang telah diberikan warna.


Menyerahkannya pada pria itu, Ara bertanya, "Ingin warna apa?"


Saka membolak-balik buku dengan cepat, dahinya berkerut dalam ketika merasa tak ada warna yang cocok baginya. "Monoton sekali? Tak adakah warna yang sedikit fresh?" tanyanya sambil melemparkan bukunya begitu saja.


"Memangnya warna apa yang kamu inginkan?" tanya Ara menyipitkan mata, mencoba menahan kekesalannya sambil meremas kuat sisir di tangan.


"Hem..." Saka terlihat berpikir, sambil memangku dagunya dengan sebelah tangan. Sampai beberapa saat, barulah dia memekik, "Aku ingin warna merah yang diselingi biru. Merah di ujung, sedangkan biru di pangkal rambut."


Ara mengerutkan dahi, seolah sedang memahami maksud dari pelanggannya tersebut. Lalu, dia meraih buku tadi dan menunjukkan sebuah gambar. "Seperti ini maksudmu?" tanyanya menunjuk rambut yang diwarna dalam dua bagian.


"Tepat sekali!" sahut Saka sambil menjentikkan tangan. Dia tersenyum, lalu memposisikan duduknya dengan nyaman.


Ara berdecak kesal, meskipun malas dia tetap berusaha melayani pelanggan tersebut. Semua pegawainya hanya diam dan tak ada yang membantu, karena pria itu meminta hanya Ara yang melayani. Bahkan, semua pelanggan yang ingin menyalon harus Ara tolak karena pria itu memberinya segepok uang untuk membooking tempatnya.


Hampir satu setengah jam, akhirnya pewarnaan rambut itu selesai. Ara terlihat bangga dengan hasil karyanya.


Tapi sepertinya tidak dengan Saka. Lelaki itu bercermin di kaca dengan sangat dekat, melihat rambutnya dengan wajah berkerut tidak senang. "Kenapa jadi seperti badut begini?" keluhnya tidak puas dengan pewarnaan rambutnya.


"Bukankah ini yang kamu minta sejak awal, memang beginilah jadinya," sahut Ara menjawab, mulai merasa kesal karena pria itu terang-terangan menunjukkan ketidaksukaannya.


"Ini jelek, aku tidak suka. Ganti saja!" perintah Saka kembali duduk dengan angkuh.


Saka terlihat tak peduli, dan kembali berkata, "Warnai lagi rambutku, kali ini ganti dengan warna ungu."


"Tuan...," panggil Ara kembali dengan dada naik turun menahan emosi.


"Suruh pegawaimu pulang saja, bukankah mereka tak melakukan apa-apa? Lagipula di sini kamu yang bekerja, aku sudah sudah menyewa tempat ini full, jadi kamu harus memberikan pelayanan yang baik!" ketus Saka tak memperdulikan sekitar.


Hal ini membuat Ara berdecak. Dia sampai mengacak-acak rambutnya dengan kasar. 'Apakah ini hari sial untukku? Pagi tadi Al pergi tiba-tiba, lalu siang tadi aku tak sengaja bertemu saudara tiriku sialan dan kini aku harus melayani pelanggan rese? Oh, Tuhan, apa yang sebenarnya terjadi?' gumam Ara dalam hati begitu frustasi.


Karena kecerewetan pria itu, mau tak mau Ara kembali mengulangi pekerjanya. Dia harus mem-bleaching dari awal dan kembali memberikan warna ungu yang diinginkan pria itu. Hal ini memakan waktu lebih lama, dan aktivitas itu mulai berakhir ketika senja mulai berubah menjadi malam.


"Aku tak suka, ganti lagi!"


Tetapi, respon pria itu kembali membuat Ara jengkel. Pria itu lagi-lagi meminta ganti, Ara yang sudah lelah menolak. Tetapi pria itu malah kembali mengancamnya dengan pasal penganiayaan yang dilakukan oleh satpam salonnya. Hal ini membuat Ara mau tak mau harus pasrah kembali mengganti warna lagi.


Andai saja hukum tak berlaku, maka aku akan membunuh lria ini. Tutur Ara dalam hati mengumpat.


Kali ini, dia mengerjakan semuanya dengan sedikit terburu-buru. Ara bahkan tak peduli respon pelanggannya itu karena tindakannya sedikit kasar. Yang dia pedulikan saat ini adalah istirahat, karena dia sangat-sangat lelah.


Hampir dua jam, akhirnya proses pewarnaaan rambut itu selesai. Ara sengaja memberikan warna coklat pada rambut pria itu, dan mengabaikan keinginannya yang ingin kembali memasang warna merah. Awalnya pelanggan itu protes, tapi lama-lama malah senang dan terlihat puas dengan hasil warna yang natural tersebut.


"Jadi, bisakah kamu pergi sekarang?" tanya Ara mengusir setelah semua kegiatannya telah selesai.


"Tentu saja, terima kasih!" kata Saka tersenyum puas, lalu berpamitan untuk pergi.


Ara mendesah lega, dia terlihat senang akhirnya pelanggan rese itu pergi juga. Dia baru saja akan menutup pintu salonnya, ketika pelanggan rese itu kembali dan masuk dengan panik ke dalam salon.


"Tutup pintunya cepat, jangan biarkan mereka menemukanku!"


Pria itu memekik panik, tapi Ara malah melongo kebingungan karena belum paham maksudnya. Saat dia ingin mengusir pelanggan rese itu, sekelompok pria dengan tubuh sangar tiba-tiba datang mengetuk pintu salonnya.