
"Tidak bisakah kamu lebih lama lagi kali ini, Al? Aku sungguh masih merindukanmu dan tidak rela melepaskanmu," keluh Ara dengan manja, bergelayut di lengan Al saat lelaki itu sedang merapikan kancing kemejanya.
Dia terlihat cemberut, memasang wajah sedih untuk membujuk Al agar tinggal lagi bersamanya beberapa hari.
"Maafkan aku, Sayang, tapi ada pekerjaan mendesak yang harus aku tangani." Rayuan Ara sepertinya tidak berhasil. Lelaki itu tetap kekeh dengan pendiriannya yang mengutamakan pekerjaan.
"Ini bahkan belum seminggu sejak kamu datang," rengek Ara lagi dengan bibir mengerucut. Dia melepaskan Al begitu saja, lalu berbalik pergi dengan langkah yang menghentak.
Al yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala seraya tersenyum tipis. Dia menyusul Ara, yang kini tengah berada di balkon. Pria bule itu menghampiri dan memeluk wanita yang selalu memuaskan ranjangnya itu.
"Lain kali ... aku janji lain kali akan tinggal lebih lama lagi. Bagaimana jika berlibur? Aku ingin membawamu ke pantai setelah ini," tutur Al membujuk untuk membuat Ara tenang.
"Kamu janji?" tanya Ara kemudian, yang kini tak menampilkan wajah kesalnya.
"Tentu saja, kamu bisa memegang ucapanku. Aku akan memberikanmu kabar jika pekerjaanku sudah selesai." Al tersenyum, mengulurkan jari kelingkingnya di hadapan Ara.
Hal ini membuat Ara langsung menyambutnya. "Awas jika bohong, aku akan membuatmu berada di bawah kendaliku saat bermain!" ancamnya main-main.
Al terkekeh, lalu menangkup kedua pipi Ara. Dia memberikan wanita itu kecupan, yang malah disambut Ara dengan ganas. Ciuman yang awalnya sebagai salam perpisahan itu, malah menjadi permainan penuh gairah yang membuat kepergian Al terlambat.
Ara hanya bisa tertawa, saat permainan itu selesai dan Al terus menggerutu dengan sikapnya. Kini, wanita itu dengan senang melepaskan kepergian Al tanpa beban.
Apartemen kembali sepi, setelah pria bule itu pergi. Setelah Ara membereskan semuanya, dia pun berniat untuk kembali. Sudah beberapa hari dia tidak kembali ke rumah, dan dia takut jika ibunya akan menanyakan tentang keberadaannya yang tak terlihat.
Namun, sebelum pulang, Ara memutuskan untuk berkeliling mall. Dia ingin membelikan sesuatu untuk ibunya. Wanita itu tampak riang saat menjelajah satu tempat ke tempat lain, sampai akhirnya kini tangannya hampir penuh dengan tas-tas belanjaan.
"Ehem ... ehem...."
"Aku tidak menyangka akan bertemu denganmu di sini!" sapa orang tersebut, dengan suara manja tetapi penuh sindiran.
"Aku juga tidak menyangka akan melihatmu!" decak Ara membalas dengan ketus. Wanita itu menghela napas kasar, lalu kembali berkata, "Pasti hariku akan sial setelah ini."
"Tch! Dari dulu kau memang sudah sial!" kata seorang yang datang tanpa diundang tersebut.
Ara hanya diam, terlalu malas meladeni wanita yang baru saja datang yang ternyata adalah saudara tirinya sendiri. Moodnya berubah menjadi buruk, dan hatinya panas saat kenangan-kenangan buruk kembali menghantui benaknya.
Dia baru saja beranjak untuk pergi, ketika tangannya ditahan oleh Sherly. Melihat itu, Ara langsung menatap tajam anak ayahnya dari wanita lain itu, lalu menghempaskan genggaman dengan kasar.
"Jangan coba-coba menyentuhku, sialan. Aku alergi kulitku disentuh oleh makhluk sepertimu!" geram Ara membentak.
Sherly terlihat tidak senang, wajahnya berkerut dengan mata yang menyipit. Tetapi hanya sesaat, karena setelahnya dia kembali memasang wajah penuh senyuman. "Aku sudah tidak kaget dengan sikapmu ini," katanya malas, lalu kembali melanjutkan, "omong-omong, apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sedang mencuri?"
"Apa?" Ara tak bisa melanjutkan kata-katanya, hanya tersenyum sinis sambil menggelengkan kepala. Dia mencoba menahan diri, agar tak marah dan lepas kendali pada Sherly. Mau bagaimanapun, dia ingin menunjukkan harga dirinya yang tinggi dan tidak mudah ditindas oleh saudara tirinya itu.
"Hem ... belanjaanmu cukup banyak. Kamu pasti harus bekerja keras untuk mendapatkan semua itu. Apa kamu tidak ingin meminta saja dari ayahmu agar bisa leluasa untuk shopping?" Sherly kembali bersuara untuk menyindir. Wanita itu memasang wajah penuh senyuman. Tepat ketika melihat Ara memelototinya, dia segera berpura-pura kaget dan menutup mulutnya manja dengan sebelah tangan. "Oops, maafkan aku karena salah bicara. Kamu, kan sekarang sudah tidak mempunyai ayah."
Tangan Ara mengepal kuat, dan tanpa sadar giginya bergemeletuk. Dia tak senang melihat bagaimana saudara tirinya itu seolah menunjukkan jika bahagia hidup bersama ayahnya. Sedangkan dirinya tidak.
Tidak mau semakin sakit hati, Ara mencoba mengabaikan. Dia hanya berdecak, tersenyum miring pada Sherly sebelum pergi dari sana.
"Dasar sombong! Kamu hanya anak tak diinginkan, sialan!" maki Sherly dengan marah karena diabaikan.
Ara tak memperdulikan hal tersebut, semakin menjauh sambil menarik napasnya dalam-dalam agar tetap menjadi pribadi yang tenang ... meskipun begitu, tetap saja dalam hatinya dia mengumpat kasar.