I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 36



Tok... Tok... Tok...


Suara ketukan di pintu membuat Maya yang sejak tadi terdiam di depan meja rias segera menoleh. Dia segera beranjak, untuk membukakan pintu kamar yang terkunci itu. Melihat anaknya berdiri di depannya, membuat dahi Maya berkerut dalam. "Sherly, ada apa?" tanyanya heran.


Wajah Sherly tampak cemberut. Wanita muda itu menerobos masuk ke dalam lalu duduk begitu saja di sofa.


Maya yang melihat itu segera menyusul, duduk di sebelah anaknya dan mengusap kepalanya lembut. "Ada apa lagi, kenapa cemberut?" tanya Maya penuh perhatian.


"Ma, apa Mama sudah ada kabar tentang apa yang aku bicarakan  minggu lalu?" tanya Sherly menatap ibunya lekat.


"Maksudmu, tentang saudara tirimu itu?" tanya Maya memastikan.


Sherly mengangguk, dia terlihat kesal setiap membicarakan Ara. Kenangan saat pertama kalinya dia bertemu di mall kala itu masih membayangi benaknya. Ya, dia menceritakan hal ini pada ibunya dan meminta tolong untuk mencarikan informasi tentang Ara pada ibunya.


"Mama masih belum menemukannya, Sherly. Lagi pula untuk apa berurusan dengan mereka lagi. Mama tidak mau," keluh Mata menjawab dengan malas.


Hal ini membuat Sherly langsung memelas. "Ayolah, Ma. Setidaknya bantu Sherly untuk kali ini saja," pintanya memohon.


"Memangnya kamu mau ngapain, sih? Cuma penasaran kok sampai segitunya. Udah gak usah nyari-nyari mereka lagi. Hidup keluarga kita sudah damai, Mama tidak mau mereka masuk lagi dalam hidup kita," ketus Maya, mulai beranjak kembali ke meja rias.


Bibir Sherly langsung mengerucut kesal, dia tak menyangka ibunya tidak akan membantunya. Wanita muda itu berdecak, mulai beranjak dan pergi dari sana dengan kaki yang menghentak.


Sherly kembali ke kamar, terbengong dan memikirkan soal Ara lagi. Dia benar-benar sangat penasaran kehidupan saudara tirinya itu sekarang. Melihat Ara tampak baik-baik saja entah kenapa membuat Sherly merasa iri. Dia benci, melihat Ara melebihi dirinya.


"Tidak bisa dibiarkan, aku harus mencari cara," gumamnya penuh ambisi.


Wanita itu akhirnya mengambil telepon, menghubungi temannya untuk bertemu di sebuah restoran. Setelahnya, dia segera bersiap-siap dan tak lupa membawa sedikit uang tabungan yang selama ini dia simpan.


Sherly tak membuang waktu lagi, setelah siap dia segera keluar dari kamar. Di tangga, dia bertemu dengan ibunya. Masih merasa kesal karena kata-kata ibunya tadi, membuat Sherly malas untuk menjawab ketika ibunya itu bertanya padanya.


Hanya membutuhkan waktu tak kurang dari setengah jam, Ara sampai di tempat. Dia tersenyum saat temannya itu sudah menunggu.


"Hai, Ren!" sapa Sherly begitu dia sampai pada temannya.


"Sherly, ada apa? Apa ada masalah? Suaramu terdengar cemas saat menelpon tadi," tutur Rendy bertanya, menatap wanita di depannya itu dengan cemas.


"Aku membutuhkan bantuanmu, Ren!" kata Sherly to the point, bahkan belum sempat dia memesan minuman, dia sudah membicarakan tentang masalahnya.


Rendy adalah salah satu temannya di kampus. Sherly mengenalnya, karena Rendy adalah lelaki yang bisa menyediakan jasa apapun. Teman-temannya selalu memakai jasa Rendy, untuk keperluan pribadi maupun bersama. Lelaki itu bisa melakukan banyak hal, dari menyelinap, mata-mata, dan pencari informasi. Tak jarang dia bahkan bekerja sebagai hacker.


"Kamu tahu, Sherly, aku selalu siap!" tutur Rendy dengan percaya diri. 


Hal ini membuat Sherly tersenyum. "Aku ingin kamu mencari seseorang untukku. Aku ingin tahu di mana alamatnya, dan aktivitas hariannya," pintanya, sambil mengangkat sebelah alisnya. 


"Boleh, tunjukkan padaku siapa namanya dan bagaimana rupanya. Kamu memiliki gambarnya?" tanya Rendy kembali. 


Mendadak Sherly cemberut. "Aku tak mempunyai fotonya, kami sudah tak bertemu sangat lama," jawabnya mendesah kasar. 


"Bagaimana dengan nama lengkapnya? Tanggal lahirnya?" Rendy lagi-lagi bertanya. 


Kali ini, Sherly tampak meringis, tersenyum seperti orang bodoh. "Aku tidak tahu semuanya, Rendy. Yang aku ingat, dia dipanggil Ara." Dia menarik napasnya dalam-dalam. "Aku akan mengabarimu tentang hal ini, untuk sementara tunggulah informasi dariku," imbuhnya sambil mengeluarkan sebuah amplop coklat berukuran sedang. 


Rendy dengan cepat meraihnya. Dia tersenyum puas, saat mengintip isinya. "Kabari aku kapanpun itu, Sayang. Aku akan bekerja padamu." 


Sherly mengangguk, lalu segera beranjak pergi dari sana. Dia tampak mendesah kasar berkali-kali, dan merutuki dirinya yang bodoh. Dia menyuruh Rendy mencari orang, tapi dia sendiri tidak tahu nama lengkap bahkan fotonya sekalipun. 


"Sepertinya aku harus mencari petunjuk ini pada papa. Dia pasti tahu semuanya," gumam Sherly penuh tekad saat keluar dari restoran itu.