I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 31



Sinar matahari itu mengusik tidur Ara. Wanita melenguh, dan menggeliat untuk mengubah posisi tidurnya. Tapi tepat ketika dia berbalik, dia menemukan Al yang sedang menatapnya.


"Selamat pagi menjelang siang, Sayang."


Ara tersenyum mendengarnya, tangannya terulur untuk mengusap pipi pria bule itu. Matanya masih mengerjap beberapa kali, seolah rasa kantuk masih melekat di pelupuk mata.


"Apa kamu masih ingin tidur?" tanya Al melihat Ara kembali menutup mata.


"Aku masih mengantuk, Al," jawab Ara penuh keluhan dengan suaranya yang serak.


"Ya sudah, aku akan meninggalkanmu kalau begitu. Aku ingin bermain di pantai."


Mendengar kata pantai, reflek membuat mata Ara langsung terbuka lebar meskipun masih sedikit sembab. "Aku ikut!" ucapnya memekik, lalu bangun dari untuk duduk.


Al yang melihat itu terkekeh, sikap Ara terlihat lucu baginya yang membuatnya semakin gemas. Bukannya ikut bangun, Al malah menarik Ara untuk tidur kembali di sebelahnya.


"Al, ayo!" rengek Ara.


"Nanti sore saja, sekarang sudah panas. Aku tidak mau kulitmu terbakar dan menjadi gelap," kata Al menjawab.


"Ish kamu ini, jika tidak jadi kenapa tidak membiarkanku tidur lagi tadi? Sekarang rasa kantukku jadi hilang, kan!" Ara mengeluh, disertai pukulan kecil di dada bidang Al yang sedang telanjang.


"Aku memang berniat mengganggumu, Ara. Karena aku merindukanmu," sahut Al menatap Ara dengan senyum anehnya. Tangannya sudah menempel pada tempat favoritnya di kedua bukit kembar wanita itu.


Menyadari apa yang dimaksud Al, Ara memutar bola matanya malas. Dia dengan cepat menjauh, dan bangun dari ranjang. Tak membiarkan Al untuk menyeretnya kembali ke ranjang.


"Tidak mau, aku belum mandi!" tolak Ara tegas.


Dahi Al langsung berkerut dalam. "Justru itu yang membuat aromamu menjadi candu. Kemarilah, Ara!" pinta Al, menepuk bagian kosong di sebelahnya.


Ara menggeleng dengan senyum lebar. "Tangkap aku kalau bisa!" tuturnya memberi tantangan.


Tepat ketika Al beranjak bangun, Ara langsung tertawa dan berlari untuk menghindar. Wanita itu cekikikan, saat Al ternyata bisa menangkapnya. Dia berusaha berontak, tapi Al malah langsung menggendongnya di panggul.


"Awh!" teriak Ara ketika Al memukul bokongnya.


"Dasar gadis nakal!" keluh Al, yang kini membawa Ara ke ranjang.


Al menurut, dia menjatuhkan tubuh Ara di ranjang lalu segera menindihnya. Lelaki itu tersenyum puas saat Ara berada dalam genggamannya. Tangannya terulur mengusap pipi Ara, menyingkirkan sebagian rambut yang menutupi wajah wanita itu.


Keduanya saling pandang dengan lekat, sebelum akhirnya saling menyatukan bibir mereka masing-masing.


Tangan Ara langsung memeluk leher, Al. Membalas ciuman Al dengan penuh kelembutan dan mata yang terpejam. Tak diam saja, satu tangannya yang lain dia gunakan untuk menyelinap ke bawah. Di bagian tubuh Al yang selama ini menjadikan favoritnya. Saat mendapatkannya, Ara langsung meremas benda tumpul panjang itu dengan gemas.


Ciuman mereka sedikit terlepas. Bisa Ara dengar jika Al mendesah. Hal ini membuatnya terkekeh senang, karena bisa membuat Al jatuh padanya.


Merasa Ara semakin nakal, membuat Al tak menahan lagi dirinya. Lelaki itu mulai memberikan ciuman ganas pada Ara, dengan jari-jemari yang tak berhenti memberikan sentuhan.


Keduanya saling terlena, membuka pakaian masing-masing untuk bersiap ke adegan yang paling intim. Seolah sudah terbiasa, hal ini berjalan begitu lancar. Ara dan Al sama-sama menikmati permainan luar biasa mereka di pagi hari yang menjelang siang ini. Bahkan tak cukup satu ronde, mereka kembali melanjutkannya di kamar mandi.


"Al, aku lapar!" keluh Ara berwajah cemberut, sambil mengusap perutnya. Hari sudah beranjak siang ketika mereka menyelesaikan permainan panas mereka. Dalam waktu belum ada enam jam itu, Ara sudah mandi untuk kedua kalinya.


"Ayo, turun!" ajak Al yang ternyata sudah siap berpakaian. Dia langsung menggandeng Ara untuk keluar dari kamar menuju dapur.


Tetapi, sesampainya di sana meja makan kosong. Tak ada apapun selain teko kaca yang berisi air putih beserta gelasnya sebagai pelengkap.


Hal ini membuat Ara kecewa. "Apa kamu menginginkanku untuk memasak juga di waktu liburan kita, Al? Astaga, apa bedanya dengan di apartemen kalau begitu."


"Lalu kamu mau apa, Ara? Kan sudah kukatakan jika hanya ada kita di sini," kata Al menyahut santai, membuka lemari pendingin untuk mengecek persediaan bahan makanan.


"Bagaimana dengan penjaga villa yang kamu katakan semalam, apa dia juga tak bisa masak?" tanya Ara mendesah, mengambil air minum dan menenggaknya sedikit kasar.


"Penjaga villa itu hanya akan ada di sini saat kamu tertidur, aku menyuruhnya untuk pergi agar tak mengganggu kita," kata Al.


Lelaki itu menemukan telur dan juga roti. Dia berinisiatif memasaknya kali ini untuk Ara dan juga dirinya.


Lagi-lagi, Ara hanya mendesah. Dia tak percaya, bahkan di pulau terpencil pun Al tak membiarkan satu orang pun mendekat ke arah mereka.


Wanita itu merasa jenuh untuk duduk, membuatnya akhirnya meninggalkan Al yang sedang memasak untuk berjalan-jalan di villa tersebut. Menemukan pintu kaca di dekat ruang santai, membuatnya segera membukanya dengan cepat. Dia keluar, dan mulai tersenyum saat merasakan embusan angin menerpa wajahnya.


Ara menyusuri jalan setapak yang ada di sana. Terus berjalan sampai akhirnya dia tiba di halaman rumah. Dari tempatnya berdiri, dia bisa melihat bangunan megah villa yang dihuninya itu.


'Siapa sosok Al sebenarnya? Kenapa selama ini dia seperti orang yang berkuasa?' Dalam hati Ara mulai bertanya-tanya tentang Al. Selama ini dia sangat penasaran dengan lelaki itu, tapi dia sama sekali tak bisa menemukan petunjuk sedikit pun.