I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 23



Persis seperti yang Ara pikirkan. Para pegawainya itu langsung memekik kesal, dan memberondong Ara dengan berbagai pertanyaan saat mereka datang di pagi hari ingin membuka salon.


Ara hanya bisa menjawab seadanya, dan berkata Saka akan menjadi satpam sementara menggantikan pak Tomo. Para pegawainya itu berdecak, karena masih jengkel dengan kelakuan Saka kemarin. Dan Ara tak bisa berbuat apa-apa selain membiarkan hal itu terjadi.


"Tapi, Kak–"


"Sudah. Biarkan dia bertanggung jawab atas apa yang dia lakukan, dia akan menggantikan pak Tomo selagi pak Tomo tidak bisa bekerja. Dia pria muda yang sehat dan kuat, kalian bisa memanfaatkan tenaganya. Oh ya, namanya Saka," ucap Ara dengan senyum licik menatap pegawainya yang mengerti arti senyum Ara.


Mendengar ucapan Ara, semua pegawai Ara hanya bisa mengangguk mengerti.


Karena pagi ini masih sepi pelanggan, Ara berpamitan pada pegawai salonnya untuk pulang ke rumah. Ara merutuki kesalahannya yang sudah ketiduran semalaman di salon, padahal rencana Ara akan segera pulang ke rumah setelah mengecek keadaan salon kemarin. Ara akan pulang dan membawakan beberapa hadiah yang sempat dia belikan kemarin saat shoping di mall.


Sepanjang perjalanan, Ara terlihat gelisah memikirkan jawaban apa yang akan Ara berikan pada Bundanya saat Bunda bertanya, ke mana saja dia beberapa hari belakangan. Setengah jam kemudian Ara tiba di rumah.


Ara berusaha untuk bersikap tenang dan bersiap menghadapi ibunya yang sedang menyiram bunga di halaman kecil rumahnya.


"Bunda," sapa Ara dengan senyum yang riang.


"Ara, ke mana saja kamu seminggu ini? Kenapa juga tidak memberikan Bunda kabar?" tanya Diana menatap anaknya cemas. Dia meletakkan selang begitu saja dan menyusul anak sulungnya yang berdiri di depan pintu sambil membawa banyak barang.


"Teleponku rusak, Bun. Lagian seminggu ini salon ramai, makanya aku tak sempat pulang. Aku tidur di salon," kata Ara beralasan. Dia tak mungkin mengatakan pada ibunya, jika dia telah menghabiskan waktu bersama dengan lelaki.


"Dua hari yang lalu saat Bunda ke salon, kamu tidak ada," ucap Diana membuat Ara gelagapan.


"Kamu bohong?" tuding Diana.


"Bunda, kemarin itu aku ada panggilan ke salah satu perusahaan besar tempat Alea bekerja, ada acara di sana dan aku diminta untuk mendandani mereka. Bunda ingat sebelum pergi aku bilang sudah ada janji dengan Alea? Nah, beberapa hari belakangan aku banyak menghabiskan waktu bersamanya," ucap Ara berusaha meyakinkan Diana dengan semua kebohongannya. Untungnya Diana tampak percaya, dan tak lagi bertanya. Dia membantu Ara membawa tas-tas belanjaan tersebut, dan mengajaknya masuk ke rumah.


Maafkan, Ara, Bunda. Maaf... Batin Ara.


"Di mana si kembar?" tanya Ara mengawasi sekelilingnya tapi tak menemukan adik-adiknya.


"Apa kamu pikun? Ini 'kan hari sabtu. Tentu saja mereka masih sekolah," kata Diana sambil menyentil dahi Ara dengan gemas.


Ara yang diperlakukan seperti itu langsung mengerucutkan bibir. Tapi hanya sesaat, sebelum akhirnya dia terkekeh dengan malu. Dia segera duduk bergabung dengan ibunya, lalu memilih-milih tas di hadapannya.


Alea-Alea, kamu resmi menjadi teman haluku. Batin Ara merasa bersalah karena berbohong dan merasa lucu sendiri karena sudah menyebut nama orang yang bahkan tidak ada wujudnya.


"Ara, kenapa kamu boros sekali. Bunda, kan masih punya banyak baju yang bisa dipakai. Seharusnya tak usah membelikan, kamu perlu menabung uang untuk masa depanku," kata Diana menerima dengan sungkan.


Dalam hati Ara terkekeh, dia tak merasa boros karena semua uang yang dia gunakan bersenang-senang adalah pemberian dari Al. Sedangkan penghasilannya sendiri dari salon selalu dia sisihkan untuk tabungan pribadi.


"Sudahlah, Bun. Ara sengaja membeli ini semua agar Bunda berganti gaya tak selalu memakai pakaian yang lusuh. Ara juga ingin Bunda berdandan, agar kembali cantik seperti dulu. Rawat diri Bunda juga, jangan terlalu stres untuk memikirkan hal lain yang membuat Bunda sakit. Bukankah Ara sudah berjanji untuk selalu membahagiakan kalian?" kata Ara beruntun penuh keluhan. "Percuma Ara bekerja dan punya banyak uang jika kalian tidak menikmatinya," sambung Ara terkekeh.


"Tapi Bunda tidak ingin merepotkanmu, Nak," tutur Diana merasa bersalah.


"Bunda dan si kembar tidak pernah menyusahkanku, kok. Jangan seperti ini, ya. Jika Bunda tidak mau menerima pemberianku, aku akan sedih nantinya," sahut Ara berpura-pura memasang wajah memelas.


Hal ini membuat Diana haru, dia tersenyum lalu meraih Ara ke dalam pelukannya.


Ara terlihat menikmati pelukan hangat ibunya itu, sampai tiba-tiba teleponnya berdering. Dia melepaskan pelukan itu, lalu meraih teleponnya yang berada di tas. Melihat nama Al terpampang di layar, membuat senyumnya merekah.


"Halo, Al?" sapa Ara dengan riang.


"Datang ke apartemen sekarang, Ara. Aku ingin bertemu."


Jawaban Al membuat Ara terkejut, dia ingin bertanya lagi tentang maksud Al, tapi panggilan itu keburu terputus. Entah kenapa, mendengar suara Al yang terkesan ketus membuat Ara sedikit khawatir. Apa yang sebenarnya terjadi dengan lelaki itu? Lagipula bukankah Al baru saja pergi kemarin, kenapa sekarang sudah ada di apartemen lagi?


"Lho, Ara, mau ke mana?" tanya Diana ketika melihat Ara begitu tergesa mengambil tasnya.


Saking paniknya Ara, dia sampai lupa dengan keberadaan sang ibu. Dengan cepat dia menghampiri ibunya, memeluknya sekilas dan memberikan kecupan selamat tinggal.


"Ara ada urusan sebentar, Bun. Alea minta Ara datang, nanti Ara kabari Bunda jika Ara tidak pulang. Oh ya, sekalian berikan dua tas itu untuk si kembar, ya. Katakan Ara menyayangi mereka."


Mengabaikan sang ibu yang tampak kebingungan dan terus memanggilnya, Ara terus berjalan sampai ke halaman depan. Dia segera memesan taksi online untuk mengantarkannya ke apartemen sekarang juga, sebab saat ini Ara merasa lelah menyetir mobil sendiri.


Sepanjang jalan, hati Ara selalu gelisah. Dia seperti bisa merasakan jika ada hal buruk yang akan terjadi. "Ada apa dengan, Al?" gumamnya.