
Situasi menjadi tegang, apalagi tatapan mata Ekrem Zeeshan sudah mewakili jika pria itu tengah marah. Dia siap untuk meluapkan kemarahannya pada Al. Video yang sempat viral sudah membuat Ekrem Zeeshan murka, ditambah lagi dengan laporan dari orang-orang suruhannya. Jika Al berani mendatangi salon Ara dan mengatakan tentang perasaannya, hingga menyatakan di hadapan orang tua Ara.
Tak ada sedikitpun ketakutan dari wajah Al, meski awalnya dia tidak menyangka jika kakeknya akan datang menemuinya di apartemennya. Daniel hanya diam, berdiri di tempatnya tanpa berani mengatakan apapun. Hanya menyimak dan mendengarkan kemarahan Ekrem Zeeshan pada cucunya.
"Apa yang sudah kau lakukan, Al? Mengejar seorang wanita yang hanya berasal dari kalangan biasa. Dia sama sekali tidak sepadan dengan keluarga kita, kau sudah dibutakan oleh cinta. Sampai-sampai mengabaikan yang lainnya," seru kakek Al.
Lelaki itu lekat menatap sang cucu, Ekrem Zeeshan begitu geram menerima semua laporan tentang apa saja yang sudah dilakukan oleh Al. Pria tua itu juga tahu kalau wanita yang dikejar-kejar oleh cucunya, berasal dari keluarga bawah. Tentu saja Ekrem Zeeshan akan keberatan, sebuah kesalahan besar yang sudah Al lakukan.
"Kakek tidak setuju kau menjalani hubungan dengan wanita itu, masih banyak wanita dari kalangan pengusaha yang pantas untuk menjadi kekasihmu." Ekrem Zeeshan masih meluapkan kemarahannya pada Al.
Ekrem Zeeshan tentu saja murka dengan kelakuan cucunya, bagaimana bisa seorang Zeeshan Al Ashraf melakukan hal bodoh dengan mengejar seorang wanita sampai ke negara lain, tanpa memperdulikan lagi tentang statusnya yang merupakan seorang bangsawan dari negara Turki. Ekrem Zeeshan tidak menyangka jika Al akan senekat itu, bahkan menjalin hubungan dengan diam-diam. Padahal selama ini yang Ekrem Zeeshan ketahui, jika Al seorang pria yang anti menjalin keseriusan dengan wanita, tapi demi wanita itu. Al sampai sejauh ini pergi menemui Ara.
Sementara Al, berusaha tenang menghadapi kemarahan kakeknya. Dia tahu jika ini semua akan terjadi, sebab Al juga tahu kalau selama dia ada di Indonesia, ada orang-orang suruhan kakeknya yang ditugaskan untuk memata-matai kemanapun dia pergi, hanya saja Al membiarkan orang-orang itu tetap mengikutinya.
"Kau harus memilih, Al. Apakah kau akan tetap mengejar wanita itu atau kembali ke Turki? dan lupakan semuanya. Anggap kalau ini tidak pernah terjadi." Pria tua itu sudah mengatakan semuanya pada Al.
Al tetap diam, membiarkan kakeknya mengeluarkan semua kemarahannya sampai selesai, Ekrem Zeeshan kembali duduk. Karena dia merasa jika tujuannya datang ke Indonesia yaitu dengan menemui cucunya, yang tinggal di apartemen.
"Apa kakek sudah selesai? Kalau belum, katakan apa yang ingin kakek sampaikan. Setelah itu, baru aku akan menjawabnya." Al ikut duduk setelah kakeknya yang duduk duluan.
Ekrem tak menjawab, dia masih kesal dan marah. Tapi diamnya Ekrem Zeeshan, membuat Al tahu jika kakeknya sudah selesai bicara. Maka sekarang giliran Al yang akan menyampaikan pendapatnya, tentu tidak sama seperti apa yang baru saja kakeknya katakan.
"Sebelumnya aku minta maaf, kalau semua yang sudah aku lakukan sudah membuat kakek kecewa. Tapi satu hal yang harus kakek ketahui, bukan aku yang harus memilih, melainkan kakek." Al bicara dengan tenang, menyampaikan apa yang memang ingin dia katakan pada Ekrem Zeeshan.
Ekrem Zeeshan mendongak, dia mendongak. Melihat ekspresi wajah Al yang nampak serius, itu artinya ada hal yang akan Al sampaikan, dan itu sudah pasti berbeda dengan yang tadi Ekrem sampaikan.
Al menarik nafasnya dalam-dalam, dia sudah menebak jika jawaban ini yang akan dikatakan oleh kakeknya, tapi Al masih punya satu cara untuk membungkam kakeknya dan pasti pria tua itu akan menuruti permintaan Al.
"Sudah aku katakan, jika bukan aku yang harus memilih. Tapi kakek, jika kakek masih menginginkan aku sebagai penerus kakek, maka restui hubunganku dengan Ara. Tapi jika tidak, maka aku akan melepaskan nama Zeeshan. Aku hanya ingin menjalani kehidupan bersama orang yang aku cintai, bukan dengan orang yang hanya terpaksa menjalaninya. Karena hal itu akan membuatku tersiksa." Penjelasan Al mengenai maksud pilihan yang dia sampaikan pada kakeknya.
"Apa? Jangan main-main dengan keputusanmu itu, Al. Apa kamu sudah gila?" Ekrem menggeram murka, bahkan dia sampai memukul meja karena tidak terima dengan yang dikatakan oleh cucunya.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin menyampaikan ini kepada kakek. Sekarang pilihan dan jawabannya ada ditangan kakek." Al mempertegas keinginannya.
Sementara Ekrem Zeeshan mengepalkan kedua tangannya, dia tidak menyangka jika Al akan membuat pilihan dan itu bukan untuk Al, Melainkan untuk kakeknya sendiri. Bagaimana mungkin Ekrem Zeeshan membuat pilihan, dia sendiri tidak menginginkan Ara untuk menjadi bagian dari keluarga besarnya. Sedangkan sekarang, Ekrem Zeeshan tak punya keluarga lain untuk menjadi penerus perusahaan, juga sebagai pewaris semua kekayaan yang Ekrem miliki. Karena Al satu-satunya keturunannya.
"Aku tidak akan memaksa, kakek. Aku hanya ingin menyampaikan satu permintaan yang sebelumnya tidak pernah aku minta kepada Kakek." Al kembali bersuara, kali ini dengan suara lemah.
Dan Ekrem Zeeshan merasakan jika keinginan Al memanglah bersungguh sungguh, hatinya sangat berat menerima dan menyetujui permintaan Al. Hatinya terus berperang, antara menerima atau menolak, ada resiko yang harus Ekrem Zeeshan terima saat dirinya memutuskan. Dan resiko terbesarnya adalah jika dia menolak keinginan Al, maka anak dari adik tirinya yang akan menguasai hartanya, sebab itu memang yang sekarang sedang mereka incar.
"Kakek sangat menyayangimu, Al. Kamu adalah satu-satunya keturunan yang kakek miliki, tapi bisakah jangan memberikan pilihan sulit seperti ini? Rasanya berat sekali, Al. Mengertilah." Ekrem Zeeshan menundukkan kepalanya, merasa jika sedang berada di antara pilihan yang dua-duanya tidak dia inginkan. Sebuah pilihan sulit untuknya saat ini.
"Justru hal itulah yang bisa membuat aku bahagia, kakek. Kehadiran Ara dalam hidupku sudah membawa kedamaian serta kebahagiaan yang sudah lama tidak aku rasakan, tepatnya semenjak orang tuaku meninggal." Al mengatakan sesuatu yang membuat kakeknya luruh seketika.
Ekrem Zeeshan tak punya pilihan lain, karena rasa sayangnya pada Al. Ekrem Zeeshan mengerti mengenai perasaan Al yang kehilangan kasih sayang orang tuanya dalam waktu yang cukup lama.
"Baiklah, Kakek akan merestui hubungan kalian. Jika hal itu yang bisa membuatmu bahagia." Pada akhirnya, hanya jawaban dan pilihan itu yang bisa Ekrem Zeeshan berikan pada cucunya.