I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 47



"Tetangga sebelah tadi datang ke rumah, dia menunjukkan video di sosmed tentang salonmu yang dihancurkan para preman. Bunda kemarin mau langsung menyusul kamu, tapi ditahan sama tetangga karena takut Bunda akan syok kalau ada di sana. Makanya Bunda nungguin kamu datang. Semalam kamu ke mana, kenapa gak pulang ke rumah?" Diana berkata panjang lebar penuh kepanikan. Sorot matanya terpancar kan kecemasan yang begitu dalam saat menatap anak sulungnya itu.


"Ara ... Ara semalam membersihkan salon dan ketiduran di sana, Bun," jawabnya berbohong. Dia segera merangkul sang ibu, dan membawanya duduk di sofa ruang tamu. Ara mengusap punggung ibunya lembut untuk menenangkan wanita paruh baya itu. "Jangan khawatir, Ara sudah mengatasi semuanya, Bun. Polisi akan bertindak agar mereka menjadi jera," imbuhnya menjelaskan.


"Aduh, Ara, tetap saja Bunda khawatir. Dari mana datangnya para preman itu? Apa kamu pernah berurusan dengan mereka?" tanya Diana lagi, masih belum puas untuk ingin tahu.


"Sebenarnya, itu salah satu pelanggan salon Ara. Awalnya dia membuat gaduh, selang beberapa saat para preman datang. Untung ada beberapa warga yang datang untuk menolong dan mengusir para preman itu." Ara memplesetkan ucapannya sedikit, karena dia tidak tahu siapa yang telah menolongnya kemarin. Dia tak ingin ibunya curiga dan terus bertanya.


"Awas saja jika aku bertemu pelanggan itu, akan kucabik-cabik wajahnya!" geram Diana, sambil mengepalkan tangan erat.


Ara yang melihat itu terkekeh, dia memeluk ibunya singkat. "Tak usah menunggu Bunda, karena Ara pasti sudah menerkamnya lebih dulu," balasnya bercanda.


"Kalau itu, sih, Bunda percaya!" Diana menyahut dengan tawa. "Apa kamu sudah makan?" tanyanya kemudian.


"Belum, Bun. Tapi Ara ingin istirahat sebentar, Ara masih ngantuk," kata Ara beralasan.


"Baiklah, kalau begitu sana ke kamar. Tidurlah, nanti Bunda bangunkan kalau sudah jam makan siang." Diana tersenyum, mengusap pipi anaknya penuh sayang.


"Oke, Bunda. Terima kasih, Ara mencintaimu!" Ara mengecup singkat wajah sang ibu, sebelum akhirnya beranjak dan sedikit berlari untuk meninggalkan sang ibu.


Diana hanya menggelengkan kepala dengan kekehan pelan melihat tingkah anaknya itu. Meskipun Ara sudah dewasa, tapi selalu saja bersikap bocah jika di depannya. Meskipun begitu, Diana tetap senang dan malah bahagia dengan sikap anak sulungnya itu.


Di sisi lain, Sherly tampak melamun di kamar. Dia berbaring di ranjang, sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.


"Sial!" gumamnya lirih penuh frustasi.


Suara ketukan di pintu membuatnya terpaksa bangun dengan malas, melihat jika itu ibunya yang masuk, membuat Sherly mengembuskan napas panjang dengan lelah.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Maya mendekati anaknya, mengusap kepalanya dengan lembut.


"Tidak, Ma. Aku merasa kesal karena usahaku sia-sia." Sherly menjawab dengan lesu. Lalu kembali merebahkan diri terlentang di ranjang.


"Jangan putus asa begitu dong, kamu 'kan bisa melakukannya lagi." Meskipun awalnya Maya tak senang anaknya kembali berurusan dengan masa lalu, tapi melihat anaknya bertekad penuh ambisi dan merasa sedih saat gagal, membuatnya menjadi tidak tega dan berniat untuk membantu. Toh, dirinya juga masih merasa kesal dengan Diana dulunya yang telah merebut Arya darinya.


"Tapi aku sudah membayarnya mahal, Ma!" keluh Sherly cemberut.


"Uang bukan masalah, Sayang. Kamu bisa mendapatkan banyak dari Mama. Katakan saja apa yang kamu butuhkan, Mama akan selalu membantumu," tutur Maya tersenyum sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ma ... Mama tidak bercanda, kan?" tanya Sherly menatap sang ibu lekat.


"Tentu saja tidak." Maya menggeleng cepat. "Kamu bisa percaya pada Mama sekarang. Mama akan membantumu sebisa Mama," imbuhnya menyahut.


Senyum Sherly merekah, dia bangun dan memeluk ibunya erat. "Terima kasih, Ma," ucapnya begitu tulus, "kalau begitu, bolehkah aku meminta uangnya sekarang?"


"Apa yang ingin kamu lakukan, Sherly? Ceritakan pada Mama lebih dulu rencanamu agar Mama juga bersiap untuk menghadapi hal terburuk sekalipun jika kamu gagal," pungkas Maya bertanya.


Sherly baru saja akan mengatakan rencananya pada sang ibu, ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka dengan lebar. Ayahnya itu masuk dengan wajah yang kaku, menatapnya dengan tajam.


Arya masih menatap anaknya, tanpa mengalihkan pandangan pada sang istri sekalipun. "Keluarlah, Maya. Aku ingin berbicara sebentar dengan Sherly."


Maya merasa tidak senang, jika suaminya itu sudah menyebut namanya tanpa panggilan sayang, sudah dipastikan jika ada masalah yang terjadi. Entah kenapa dia merasa penasaran dan ingin bersikeras untuk diam di sini. Tapi, melihat tatapan serius suaminya yang seolah tak ingin diganggu itu, akhirnya membuat Maya mau tak mau mengangguk pasrah.


"Baiklah." Wanita paruh baya itu akhirnya keluar dari sana, sambil sesekali menoleh ke arah Sherly dengan wajah kebingungan.


Tepat ketika pintu di belakangnya tertutup, Arya mendekati sang anak sambil menghela napas panjang. Raut wajahnya terlihat begitu lelah, dan menyimpan banyak beban.


Sherly yang melihat itu menatap ayahnya dengan bingung. Ingin sekali dia segera bertanya karena rasa penasarannya begitu menggebu. Tetapi dia sedikit takut, karena tak biasanya ayahnya itu menatap tajam dirinya penuh keseriusan.


"Sherly," panggil Arya tiba-tiba, duduk di tepi ranjang di sebelah anaknya. Meraih tangan anaknya, lalu digenggam dan diusapnya dengan lembut.


"Papa kenapa?" tanya Sherly yang entah kenapa merasa gugup sekarang.


"Apa kamu baik-baik saja selama ini?"


Pertanyaan ayahnya itu membuat Sherly bingung. Meskipun begitu dia tetap menjawab meskipun hanya dengan anggukan kecil.


Arya tersenyum melihatnya, kini tatapannya terlihat begitu teduh. Salah satu tangannya terulur untuk mengusap kepala anaknya pelan.  "Waktu berlalu sangat cepat, dan kamu tumbuh begitu dewasa. Kamu bukan lagi anak kecil yang dulunya selalu aku gendong. Kini kamu sudah besar, dan semakin cantik setiap harinya."


Jantung Sherly berdegup kencang, dia sudah lama tak berbicara dekat dengan ayahnya seperti ini. Ada rasa bingung dan heran menjadi satu, tapi rasa takut lebih mendominasi. Padahal dia tahu ayahnya hanya bersikap lembut, tapi dia bisa merasakan jika ada maksud lain dari ucapan sang ayah.


"Pa," panggil Sherly kemudian, menatap ayahnya dengan mata tak berkedip. "Apa Papa baik-baik saja? Kenapa Papa terlihat aneh malam ini?" Dia memberanikan diri untuk bertanya.


Lagi-lagi, Arya tersenyum. Bukan sebuah senyum tipis dan tulus, tapi lebih masuk ke senyum yang memancarkan peringatan.


"Papa tidak akan baik-baik saja, jika kamu melakukannya lagi." Arya berkata dengan penuh misteri.


Hal ini membuat Sherly semakin merasa bingung. Dia terlihat diam, memikirkan dan mencerna ucapan sang ayah. Sampai akhirnya dia sedikit memekik penuh keterkejutan saat mendapatkan apa yang ada di benaknya.


"Papa ... Papa ta--"


"Ya!" pungkas Arya memotong ucapan sang anak. Dia masih tersenyum. "Jangan lupa, Papa selalu mengawasimu."


"Pa, maafkan aku. Aku hanya--"


"Ssttt." Lagi-lagi Arya menyela, bahkan kini menempelkan jari telunjuknya pada bibir Sherly. "Papa tidak ingin mendengar apapun lagi. Hanya satu yang Papa minta, hentikan, dan lanjutkan kehidupanmu yang istimewa ini."


Bahkan belum sempat Sherly berkata-kata, Arya langsung pergi begitu saja setelah mengusap kepala anaknya dengan lembut. Lelaki paruh baya itu benar-benar bersikap misterius saat ini, yang entah kenapa membuat Sherly merasa ketakutan.


"Sherly, apa yang terjadi?"


Tepat setelah ayahnya keluar, kini gantian ibunya yang masuk dengan sorot mata yang cemas. Sherly hanya bisa menggeleng tanpa berucap apapun karena masih bingung dihadapkan situasi seperti ini.