I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 48



"Sher ... apa yang dikatakan papamu?" tanya Maya lagi, yang kini mengguncang bahu sang anak, karena Sherly terlihat diam melamun.


Entah kenapa, Maya sedikit khawatir apalagi melihat wajah syok sang anak. Terlebih, anaknya itu tiba-tiba lemas dan jatuh terduduk di ranjang begitu saja. Dengan cepat, Maya meraih tangannya dan menepuk-nepuknya pelan.


"Kamu ini, ditanya kok gak dijawab! Apa yang terjadi?" tanya Maya kembali mendesak, menatap anaknya lekat penuh tuntutan untuk segera berbicara.


Hal ini mau tak mau membuat Sherly segera menoleh, dia menatap ibunya dengan mata melebar dan bibir yang setengah terbuka. Selang beberapa detik, barulah dia mengembuskan napas kasar begitu frustasi.


"Argh, apa yang kulakukan sekarang, Mama?" tanyanya bingung mengacak-acak rambutnya kasar.


"Kalau ngomong yang jelas, dong, biar Mama tahu!" ketus Maya, menepuk pundak anaknya.


Sherly cemberut, dia mengaduh saat merasakan sakit karena pukulan sang ibu. Wanita itu mengeluhkan pandang saat mulai berkata, "Papa memberiku peringatan untuk tidak melakukannya lagi. Dia tahu apa yang terjadi, Ma," jawabnya penuh keluhan.


Hal ini membuat Maya ikut merasa syok, dia sampai menutup mulutnya hanya hanya bisa terbuka tanpa suara.


"Bagaimana ini, Ma?" tanya Sherly bingung.


"Dari mana papamu tahu hal ini?" tanya Maya penasaran, dan bukannya menanggapi keluhan sang anak.


"Mana aku tahu, Ma! Tidak mungkin juga, kan aku yang mengatakan. Kejadiannya juga baru saja kemarin! Apa jangan-jangan...." Sherly tak meneruskan ucapannya dan menatap ibunya dengan wajah terkejut.


"Papamu tahu karena diberitahu oleh Ara atau ibunya!" gumam Maya menggeram. "Apa selama ini papamu berhubungan diam-diam dengan mereka? Pasti mereka mengadukan perbuatanmu padanya!"


"Tapi 'kan yang kemarin bukan aku yang bertindak, Ma?" tanya Sherly bingung.


"Bagaimana jika orang suruhanmu itu tertangkap polisi dan langsung membocorkan informasi tentangmu?" ketus Maya menatap Sherly tajam. Sedetik kemudian, wanita paruh baya itu berdecak dengan kesal. "Sial, bagaimana bisa aku kecolongan seperti ini?" gumamnya mengumpat.


Dua wanita berbeda usia itu tampak terdiam syok dengan pemikirannya masing-masing. Sherly berpikir apa yang akan dilakukan ayahnya untuk menghukumnya. Sedangkan Maya berpikir, jika selama ini suaminya telah menemui mantan istri diam-diam di belakangnya.


"Besok sepulang kuliah, antar Mama ke rumah saudara tirimu itu!" pinta Maya dengan tegas.


"Buat apa, Ma? Apa Mama tidak melihat jika aku baru saja diancam Papa diam-diam?" keluh Sherly tidak senang.


"Justru kamu harus membalasnya, gara-gara mereka kamu menjadi buruk di mata papamu!" Maya tampak mengompori sang anak, karena tak ingin anaknya itu menyerah dan takut karena diperingatkan sekali oleh sang suami.


Dan sepertinya itu berhasil. Wajah Sherly kembali menampakkan raut marah. Wanita muda itu mengangguk penuh ambisi, menatap sang ibu dengan serius.


***


Ara baru saja di perjalanan untuk pergi ke salon ketika dia mendapatkan panggilan dari nomor tak dikenal. Merasa penasaran, dia pun segera mengangkatnya.


"Halo, siapa ini?" tanya Ara to the point.


"Ya, itu saya!" jawab Ara mengangguk, dengan dahi yang berkerut dalam.


"Bisakah Anda datang ke kantor polisi sekarang? Kami ingin menyampaikan beberapa hal," pinta seseorang, yang kini diyakini Ara sebagai polisi.


Wanita itu langsung berwajah serius seketika saat menjawab, "Baik, Pak. Saya akan datang sekarang juga."


Tepat setelah itu, Ara meminta sang sopir taksi yang mengantarkannya ke salon, untuk putar balik menuju kantor polisi. Wanita itu tampak harap-harap cemas, berdoa dalam hati agar urusannya cepat kelar. Dia masih dendam pada pelanggannya kemarin yang mengacak-acak salonnya, dan berharap orang itu akan mendekam di penjara. Sungguh, Ara tak bisa bersikap lain-lain sekarang.


Sayangnya, ketika dia tiba di kantor polisi, dia harus mendengar kabar yang tidak enak.


"Kami menemukan tiket kereta atas nama tersangka dengan tujuan Surabaya. Tim kami masih berusaha untuk menangkapnya dengan meminta bantuan dengan tim luar kota. Jadi untuk sementara, Anda masih belum bisa mengajukan gugatan."


Ara menghela napas kasar mendengar jawaban tersebut dari seorang polisi yang dia temui hari ini.  Dia mengira dia akan mendapat kabar baik hari ini juga, ternyata itu hanyalah laporan tentang penangkapan yang terulur karena pelakunya kabur.


"Lalu bagaimana dengan para preman itu, Pak?" tanya Ara kemudian. Dia tak hanya ingin memenjarakan Naura, melainkan semua antek-anteknya juga. Meskipun dia tahu para preman hanyalah seorang yang dibayar, tetap saja dia tidak terima karena seluruh barang di salonnya kini rusak tak bersisa.


"Untuk itu, tim di lapangan masih mengejarnya. Mereka sepertinya berpencar, yang membuat pencarian kita sedikit lebih lama. Tentang saja, Nona Ara, jika kamu mendapatkannya, kami akan langsung melaporkannya pada Anda," tutur polisi yang berhadapan dengan Ara itu.


Mau tak mau Ara memaksakan senyum tipis, dia mengangguk lalu berpamitan untuk pergi dari sana. Dia terlihat sedikit lesu kali ini. Bukannya langsung pergi, Ara malah duduk di bawah pohon beringin yang ada di halaman kantor polisi. Entah apa yang dipikirkannya sekarang, wanita itu tampak diam dengan pandangan kosong.


Telepon berdering, membuat Ara tersentak kaget dari lamunannya. Dengan cepat dia mengambil teleponnya di saku, dahinya berkerut dalam melihat pesan dari Al.


[Kamu di mana?]


Perlahan senyum Ara terbit meskipun tipis. Dia dengan cepat membalasnya. [Ada di kantor polisi. Kapan kamu datang?]


[Apa kamu sudah siap dihukum?]


Kini Ara terkekeh, dia tak menyangka jika Al masih saja mempermasalahkan hal yang terjadi terakhir kali di antara mereka. [Siap, asalkan hukumannya di atas ranjang.] Dia membalasnya, sambil menyempilkan emot tertawa.


[Kalau begitu, besok malam bersiaplah. Beli lingerie baru, aku mau yang merah.]


"Astaga! Apa-apan dia?" gumam Ara terkejut, dan tertawa pelan sambil menggelengkan kepala. Dia tak menyangka jika Al akan datang besok malam juga.


Memikirkan hal ini membuat Ara merasa heran. Dia terlihat berpikir, sambil menghela napas panjang. "Sebenarnya di mana kamu tinggal, Al? Kenapa selalu datang dan pergi semaumu dengan cepat?"


Penasaran Ara semakin membuncah, tapi dia mengabaikannya dengan kedua bahu terangkat acuh. Dia merasa tak pantas memikirkan hal ini, karena pastinya Al akan marah jika dia nekat untuk bertanya.


Wanita itu akhirnya mengabaikan pemikirannya, mulai berdiri dan pergi dari sana. Senyum Ara merekah, dan kali ini dia akan pergi ke mall untuk membeli apa yang diinginkan Al darinya.


"Tunggu aku, Al," tuturnya lirih dengan senyum yang tak pernah luntur dari bibirnya.