I LOVE YOU, BULE

I LOVE YOU, BULE
Bule 14



Pertemuan pertama setelah beberapa hari berpisah begitu menggairahkan. Bukannya berbincang saling melepas rindu, Ara dan Al melampiaskannya dengan cara yang berbeda yaitu menghabiskan waktu di atas ranjang dan beberapa tempat yang diperlukan.


Keduanya begitu memabukkan, saling bergelora penuh dengan hasrat. Tempat tidur yang amburadul, menjadi bukti saksi permainan panas mereka berdua. Kini, sepasang insan itu masih terbaring saling memeluk dengan tubuh yang polos.


"Terima kasih, kamu membuatku sangat puas malam ini," puji Al, menatap Ara dengan napasnya yang masih terengah.


Ara tersenyum, dia mengangguk dan semakin mengeratkan pelukannya pada Al. Kehadiran pria itu membuat semua beban pikirannya lenyap seketika, dan entah kenapa dia merasa nyaman meskipun statusnya dan pria bule itu masih belum jelas.


"Kamu membuatku membakar kalori banyak malam ini, dan sekarang aku jadi lapar. Aku belum sempat makan," keluh Ara dengan wajah yang dibuat manja.


Al terkekeh, pria itu langsung mengecup wajah Ara dengan beringas. "Aku juga lapar, tapi aku lebih suka memakan mu," balasnya terkekeh mengecup seluruh bagian wajah Ara.


"Oh, Al, hentikan ... kamu membuat wajahku basah," sahut Ara tampak meringis, tetapi malah membuat pria bule itu semakin bergairah untuk menggoda.


Candaan itu berhenti setelah Ara menang, dan membuat Al tak berkutik karena Ara memegangi benda pusaka milik Al. Al memohon dan menyerah, yang kini gantian membuat Ara tertawa puas.


"Kamu mau ke mana, Sayang? Apa kamu tak ingin bertanggung jawab dengan apa yang telah kamu mulai?" Al mengeluh, berwajah cemberut saat menunjuk bagian miliknya kembali tegak seolah siap untuk memulai pertarungan lagi.


Sayangnya, Ara mengabaikan hal tersebut. "Kita bisa menundanya nanti, Al. Perutku sangat lapar, kamu mau aku pingsan di tengah permainan?" ketusnya dengan sebelah alis terangkat.


Al hanya bisa mendesah kasar, lalu berdiri bangun dengan kasar. "Kamu membuatku melampiaskannya di kamar mandi. Awas saja nanti kamu!" ancamnya menggeram.


Bukannya takut, Ara malah terkekeh geli dengan sikap Al. Melihat pria bule itu menghilang di balik pintu, membuat Ara segera menautkan tali piyamanya. Setelahnya, dia segera turun ke lantai bawah.


Wanita itu menuju dapur, memeriksa lemari pendingin untuk menemukan bahan-bahan yang tadi dipesannya yang dapat diolah menjadi bahan masakan. Dia tersenyum, sampai matanya menangkap sebuah spaghetti instan. Ara memilih makanan tersebut untuk menemaninya malam ini.


Sambil menyiapkan semua barang, Ara bersenandung lirih. Dia bahkan tak segan menggoyangkan pinggulnya untuk menikmati momennya bernyanyi.


Plak...!


Sampai sebuah tepukan keras membuat gerakannya terhenti. Dahinya berkerut saat bokongnya terasa panas. Ketika menoleh, dia mendapati Al sudah berada di belakangnya.


"Hentikan tangan nakalmu itu, Al!" protes Ara, melirik kesal pria bule itu.


"Tch, hanha itu yang kau tahu, dasar pria mesum!" decak Ara mengerucutkan bibir. 


"Aaa!" Ara berteriak. Dia baru saja akan protes, ketika tiba-tiba Al mengangkatnya di meja dapur. Pria itu sudah mengurungnya, dan membuatnya tak bisa lepas.


"Sebut lagi aku pria mesum, aku akan membungkam bibirmu saat itu juga!" ancam Al, menatap Ara lekat seolah tak main-main dengan ucapannya.


Tapi bagaimana Ara akan takut, jika tatapan Al saja begitu menggoda. Dia tertawa saat kembali mengatakan, "Kamu pria mesum, Al."


"Kamu gadis nakal!" Tepat setelah Al berkata seperti itu, Al menangkup kedua pipi Ara. Mendekatkan bibirnya untuk mencium wanita yang selalu membuatnya bergairah itu. 


Ara terbuai, yang malah membalas ciuman itu dengan penuh hasrat. Membuka mulutnya dan bersiap beradu lidah dengan gerakan menggoda. Ara menyesap bibir Al yang membuatnya candu, mulai melingkarkan tangan di leher pria itu. Bahkan kakinya juga ikut memeluk pinggul, Al. 


Saat ciuman itu menjadi panas, dan tangan Al mulai menyusup di balik bajunya. Ara memekik, dia yang terkejut langsung melepaskan ciuman, mendorong Al begitu saja dan lompat dari meja untuk menghampiri masakannya. Cepat-cepat dia mematikan api pada kompornya. 


"Astaga ... kamu membuat masakanku hampir gosong, Al!" pekik Ara dengan kesal. 


"Maafkan aku," kekeh Al, tanpa merasa bersalah sama sekali. Dia segera membantu Ara untuk menyiapkan makanan. 


Mereka segera duduk setelah makanan siap dihidangkan. Ara yang sudah sangat kelaparan, langsung menyantap makanannya dengan sedikit rakus. Dia tak peduli pandangan Al pada dirinya, yang dia pentingkan saat ini hanyalah cacing-cacing di perutnya yang sudah berisik. 


"Kamu tak pernah gagal dalam hal memuaskanku, Sayang. Bukan hanya di ranjang, kamu bahkan selalu membuat perutku kenyang dengan masakanmu," puji Al, tersenyum saat menatap ke arah Ara. Di depannya, piring makannya sudah kosong tak bersisa sama sekali. 


Hal ini membuat Ara merasa senang. Dia bahagia dengan pujian yang diberikan Al. Entah kenapa, rasanya seperti hatinya dipenuhi padang bunga. Begitu sesak, tapi sangat menggembirakan. Membuat senyumnya tak pernah luntur sedikit pun. 


Setelah selesai acara makan malam, Ara membereskan meja makan. Dia baru saja mencuci piring, ketika tiba-tiba Al mendekat, memutar tubuhnya dan langsung berlutut di depannya. 


Ara terkejut, bibirnya terbuka tanpa berkata-kata. Dia melihat Al begitu romantis, sambil memegangi sebuah kotak kecil, yang membuat jantung Ara berhenti berdetak selama beberapa saat. 


"Al..."