
Wanita itu menghentikan mobilnya dengan penuh senyuman, dia segera keluar setelah mengirimkan pesan dari seseorang. Meskipun suasana jalanan kumuh di sekitarnya terlihat sangat sepi, tapi dia sama sekali tak merasa takut.
Sherly tidak sabar menunggu kabar baik yang akan dia terima malam ini. Dia terus saja terkekeh senang, sambil sesekali mengetuk sepatunya pada jalanan aspal. Tubuhnya menyandar, dengan kepala yang menoleh ke sana kemari.
Sampai seseorang yang muncul dari lorong di sebelah kanannya, membuat Sherly langsung berdiri dengan tegak. Dia terlihat antusias saat bertanya, "Bagaimana, semuanya lancar, kan?"
Sayangnya, wanita yang usianya lebih tua dari Sherly itu memasang wajah cemberut sambil menggeleng. "Tidak," jawabnya lirih.
"Apa maksudmu tidak? Kamu gagal membuat keributan di salonnya!" bentak Sherly yang langsung marah, mendengar kabar yang tak diinginkan.
Wanita yang bersama Sherly itu ternyata Naura, dia yang membuat kegaduhan siang tadi di salon. Wanita itu tampak berantakan, bahkan terlihat begitu kurung dan frustasi.
"Kamu sepertinya salah memilih lawan, Nona," kata Naura kemudian.
"Jelaskan cepat jangan bertele-tele!" pinta Sherly ketus, sambil melipat tangan di dada dan berlagak sombong.
Naura mendesah napas kasar, dia mengalihkan pandang sebentar sambil menyugar rambutnya dengan kasar. "Kamu tahu? Dia bukan wanita lemah seperti yang kamu bilang. Dia wanita yang kasar dan juga menyebalkan. Aku sudah melakukan apapun yang kamu inginkan dan berniat untuk mengancamnya. Tapi apa kamu tahu apa yang dia lakukan padaku? Dia mengolok-oloklu dan terus bersikap sombong!" jelas Naura panjang lebar dengan amarah yang terlihat menggebu.
"Bukankah itu bagus? Bagaimana hasilnya? Apa dia akan memberimu kompensasi? Jika tidak, kita bisa melanjutkannya di pengadilan. Tuntutlah dia, aku akan membiayai semua keperluanmu untuk itu," cetus Sherly tersenyum sinis, menatap Naura dengan kedua alis terangkat.
"Tapi semuanya tidak berjalan lancar!" keluh Naura mendesah.
"Kenapa sejak tadi kamu bertele-tele? Tidak bisakah langsung katakan saja to the point? Jangan membuat kesabaranku habis!" bentak Naura dengan marah.
Pertama kali dia menemukan Naura dari bantuan Rendy. Lelaki itu benar-benar bisa diandalkan, Sherly merasa tak rugi bahkan jika dia harus membayar Rendy mahal.
Dari yang Naura katakan, wanita itu sering ke salon itu. Tapi karena dia tak mempunyai banyak uang, dia jarang melakukan perawatan. Terlebih salon itu memasang tarif besar dan benar-benar berkualitas.
Sherly membayar Naura mahal. Bahkan dengan uang itu, dia yakin Naura bisa perawatan sampai setahun. Permintaan Sherly tak muluk-muluk. Hanya sebatas Naura merusak rambutnya lalu meminta pertanggung jawaban di salon Ara. Wanita itu sudah bersiap dengan segala kemungkinan bahkan jika dia harus menuntut Ara sekalipun. Dia rela keluar banyak uang, hanya untuk melihat salon Ara bangkrut dan hidup wanita itu menderita.
Tatapan Naura membuat Sherly tersadar dari lamunannya tentang wanita itu. Dia mengembuskan napas panjang, saat melihat bagaimana Naura menatapnya ketakutan.
"Cepat katakan!" pinta Sherly lagi dengan penuh desakan.
Naura yang terjadi tadi terdiam, kini mulai membuka mulut meskipun dengan wait wajah yang begitu frustasi. "Aku membuat kesalahan. Seharusnya aku mendengarkan semua rencana yang telah kamu siapkan. Sayangnya, aku benar-benar kelewat marah pada pemilik salon itu. Dia berbicara kasar, dan mengejekku. Aku tidak terima, dan akhirnya kembali datang membawa banyak preman untuk menghancurkan tempatnya."
"Apa?" Sherly syok mendengarnya, matanya melotot dengan mulut terbuka lebar. Dia merasa tenggorokannya tercekat, yang membuatnya tak bisa bernapas dengan normal.
Wanita itu tertawa miris, tak tahu harus senang atau malah merasa sedih. Dia membayar Naura mahal hanya agar dia bisa bermain lembut. Tapi kerana kebodohan wanita itu, kini dia harus merasa khawatir karena takut rencananya ini diketahui.
"Maafkan aku, maafkan aku karena aku sangat marah tadi sehingga tak bisa berpikir dengan normal," tutur Naura, memohon sambil menarik tangan Sherly dalam genggaman.
Sherly mendesah kasar, dadanya naik turun penuh emosi. Dia menghempaskan tangan Naura begitu saja, lalu membuka pintu mobil dan berusaha untuk masuk.
"Dasar tidak berguna!" decak Sherly dengan marah.
"Kamu mau ke mana? Kamu tak boleh pergi sekarang. Kamu harus membantuku!" pinta Naura lagi mendesak, penuh permohonan.
"Bantuan apa? Kamu sudah mengacaukan segalanya!" tolak Sherly kasar.
"Aku ingin kamu memberikanku uang lagi. Aku tidak mau tahu, kamu harus menambahnya!" protes Naura.
"Bukankah uang kemarin sudah lebih dari cukup? Aku bahkan menberimu bayaran full meskipun pekerjaanmu tidak benar!" decak Sherly kesal.
"Tapi aku harus membayar para preman itu, aku tidak mungkin mengabaikan mereka begitu saja atau mereka akan marah," kata Naura menjelaskan tentang uang yang dimintanya lagi.
"Bukankah ku tidak pernah menyuruhmu untuk menyewa para preman? Itu urusanmu sendiri, kenapa malah meminta uang dariku?" sindir Sherly terkekeh geli. Dia memutar bola mata malas, menyingkirkan tangan Naura lalu masuk ke dalam mobil.
Sayangnya, Naura menahan pintunya ketika hampir ditutup. Wanita itu menatap Sherly tajam dengan berani. "Berikan aku uang, jika tidak aku akan mengatakan yang sebenarnya pada polisi jika ini semua adalah rencanamu untuk membuat masalah di salin itu. Setidaknya, beri para preman itu pesangon agar mereka bisa minggat dari sini dan tutup mulut. Begitu pula denganku!" Naura bahkan dengan berani mengancam Sherly.
Mendengar hal tersebut, tentu saja membuat Sherly merasa geram. Napasnya memburu penuh amarah. "Aku tidak bawa uang cash, kirimkan saja nomor rekeningmu agar bisa kukirim nanti!" jawabnya kemudian dengan terpaksa.
Melihat bagaimana Naura tersenyum menyeringai, membuat hati Sherly semakin panas. Wanita itu merasa tak bisa berpikir normal, dan sangat-sangat ingin menjambak orang sekarang.
Tepat setelah Naura pergi meninggalkannya sendiri, dia berteriak-teriak meluapkan kekesalannya seperti orang yang stres.
"Dasar sialan, beraninya dia mengancamku. Awas saja, akan kubuat perhitungan!"
Kini, bukan hanya Ara yang membuat hidupnya tidak tenang. Melainkan Naura juga yang bersikap bodoh yang membuatnya harus terseret.
Memikirkan hal ini membuat kepala Sherly begitu pusing, rasanya seperti hampir pecah. Wanita itu tak sanggup lagi berada di sana, segera memutar mobilnya dan menekan pedal gasnya kuat. Melajukan mobilnya ugal-ugalan di jalan dengan kecepatan kencang.
Dia yang tak merasa usahanya kali ini gagal, mau tak mau harus meminta bantuan sang ibu untuk menyusun rencana kembali. Sherly benar-benar belum bisa tenang, jika belum melihat hidup Ara menderita.
"Awas saja kamu, Ara. Aku tak akan berhenti bertindak sebelum membuatmu menangis darah!" gumam Sherly dalam hati penuh ambisi. Berkali-kali dia memukul setirnya kasar, sambil memandang jalanan dengan tatapan yang begitu tajam.