
Kesungguhan dari setiap kata yang terucap dari bibirnya, semata hanya untuk meyakinkan Ara. Bahwa Al benar-benar serius dengan perasaannya, akan tetapi sulit bagi Ara menerima semuanya, meskipun dia juga merasakan hal demikian. Seperti apa yang baru saja Al ungkapkan di hadapan kedua orang tuanya Ara.
Meskipun kedua orang tuanya setuju dan menyerahkan semua keputusan pada Ara, keraguan masih ada dihati Ara. Bukan karena tidak percaya dengan pernyataan Al tentang keseriusannya untuk menjadikan Ara sebagai istrinya, tapi ketakutan itu berasal dari pihak kelurah Al. Secara status ekonomi tentu saja jelas sekali berbedanya, maka dari itulah Ara sedang berusaha untuk meyakinkan dirinya bahwa Al pasti akan mengurus semuanya.
"Berjanjilah untuk selalu bersamaku, apapun yang terjadi. Sebab akan sulit bagiku menjalani semuanya, hidup dengan seorang pria dari kalangan atas seperti kamu, tentu saja itu akan menjadi sebuah tantangan terbesar nantinya, terlebih dengan restu dari keluarga besarmu,' lirih Ara dengan berurai air mata.
Ara takut, itu hal wajar. Tapi hatinya mengatakan jika dirinya pun menerima lamaran Al. Kata-kata Al, begitu meyakinkan serta Ara tidak melihat kebohongan yang tersimpan dari setiap ucapannya. Sehingga, Ara menerima dan meminta pada Al agar keluarganya juga datang untuk melamarnya di hadapan orang tua Ara.
"Saya juga berharap kalau kamu bisa memberi keamanan kenyamanan untuk Ara, sebagai orang tuanya. Dengan siapapun Ara akan berumah tangga, selama dia bahagia maka saya pasti akan merestui dan ridho. Yakinkan dia, agar dia juga semakin yakin dan semua ketakutannya sirna." Sambung Diana, dia bisa melihat kecemasan dari mata Ara. Karena Diana juga tahu mengenai status sosial Al. Sehingga wajar jika Ara masih meragukan mengenai semuanya.
Al mendekat, dia meraih tangan Ara. Meremasnya, memberi kekuatan. Al juga paham jika hal ini pasti akan sulit sekali bagi Ara. Tapi Al tetap harus lebih meyakinkan lagi, bukan hanya dengan ucapan semata.
Al juga tahu seperti apa keluarganya, termasuk mereka yang membenci juga tidak menyukainya. Tapi Al yakin bisa membuat hati Ekrem Zeeshan luluh, sehingga Al tak akan memperdulikan selain itu. Sebab yang paling penting bagi Al adalah. Persetujuan dari kakeknya, dan Al sudah tahu cara apa yang sekiranya akan membuat seorang Ekrem Zeeshan menyetujui permintaan Al.
"Aku akan membuktikan jika aku bisa seperti yang kamu inginkan, dan aku tidak akan mengecewakan kamu dan semua yang ada disini. " Al mengelus rambut Ara, bahagia? Tentu saja, karena Al menginginkan untuk hidup bersama dengan Ara bukan sekedar simpanan saja, melainkan bisa menjalani sebuah hubungan sakral yang terikat dengan janji suci pernikahan.
Diana tersenyum, dia percaya jika Al adalah lelaki baik yang akan memberi kebahagiaan untuk putrinya, merasakan kasih sayang serta cinta dari sosok pria yang selama ini tidak Ara dapatkan dari ayahnya. Cinta pertama bagi anak perempuan adalah ayahnya, tapi Ara justru tak merasakannya. Dia harus menerima kenyataan tentang sebuah harapan yang tidak berpihak padanya. Jadi saat Diana melihat kesungguhan Al pada Ara, hanya restu yang bisa Diana berikan.
Begitu juga dengan Arya, rasa bersalahnya amatlah besar terhadap ketiga anaknya. Bahkan dari sorot mata Ara, terlihat jelas betapa dia membencinya. Ara harus hidup dengan tuntutan dewasa sebelum waktunya, dia menjadi tulang punggung keluarga, dan Arya mengabaikan masa remaja Ara karena keegoisannya sendiri.
"Ayah juga ridho, Nak. Sebab Al adalah lelaki baik yang mampu memberi kebahagiaan untuk kamu, yang tidak bisa kamu dapatkan dari ayahmu ini." Arya membatin.
"Kamu percaya kan padaku? Aku sungguh-sungguh mencintaimu, Ara, dan akan secepatnya meresmikan hubungan kita," bisik Al, masih dengan menggenggam tangan Ara.
"Tetaplah menjadi pria yang angkuh tapi menyenangkan, aku suka dengan caramu bersikap. Tapi hal tersebut hanya saat berhadapan dengan orang lain saja, tapi kamu akan berbeda saat bersamaku." Ara tak lagi menangis, dia bahagia. Meski sedikit ketakutan masih ada, tapi Ara sudah percaya sepenuhnya pada Al.
Al tersenyum, dia memang selalu bersikap demikian. Semata untuk menjaga imagenya sebagai pimpinan, meski ketegasan dan sikap angkuhnya bukan yang sebenarnya, tapi karakter itu seolah sudah melekat dalam diri dan kepribadian Al. Maka dia butuh seorang wanita seperti Ara, untuk menyeimbangkannya.
"Tegurlah disaat aku salah, katakan apapun yang kamu sukai dan tidak kamj sukai dariku, jangan pernah merasa ragu untuk bercerita padaku, apapun yang akan terjadi nanti. Jadilah wanitanya Zeeshan Alashraf, yang tidak akan mudah ditindas dan mampu melawan apapun." Al tersenyum lebih meyakinkan Ara lagi.
"Udah kak, terima saja. Aku akan sangat bahagia mempunyai kakak ipar seperti dia. Jangan sampai kakak menyesal dikemudian hari, karena aku melihat kalau kakak juga begitu memujanya. Astaga, ini seperti adegan romantis drama Korea, meskipun pemerannya adalah wanita Indonesia dan pria Turki." Keizha memberi semangat pada Ara, dia malah terlihat sangat antusias sekali.
"Aku juga sama, tunggu apa lagi. Katakan sama pangeran Turki ini, kalau kakak menerima lamarannya dan bersedia menjadi putri dikerjakannya. Kenapa lama sekali kakak menjawabnya? Aku kan jadi gemas melihatnya." Kansha ikut menimpali dengan wajah gemas karena kedua orang dihadapannya justru menunjukkan keromantisan, seolah tak ada orang disekitarnya.
"Keizha, Kansha. Diamlah, biarkan kakakmu yang menjawabnya. Karena dia yang akan menjalani, kita hanya perlu memberi restu dan mendukungnya. Apapun yang akan dia pilih." Diana menegur si kembar, meskipun sebenarnya Diana juga menginginkan jika Ara menerima lamaran Al.
Keizha dan Kansha langsung membekap mulut mereka, khawatir akan merusak suasana dengan celotehannya yang akan mengacaukan semuanya.
Ara tertawa melihat tingkah laku kedua adiknya, lalu Ara menatap Diana yang mengangguk. Seolah meyakinkan Ara jika dia harus segera memutuskan saat ini juga, dan Ara tahu jika keluarganya juga setuju. Tapi balik lagi, keputusan tetap ada ditangannya.
"Baiklah, kalau begitu aku akan memberi keputusan sekarang juga, setelah aku pikir-pikir dengan matang mempertimbangkan semuanya. Maka, iya. Aku menerima lamaran, Al." Ara tersenyum ke arah Al, dan lelaki itu bernafas lega. Wajah Al terlihat sumringah, jelas sekali.
"Terima kasih banyak, aku yakin kalau kamu pasti akan menerima lamaranku, ya meskipun secara mendadak. Tapi aku bersyukur, sebab keluargamu juga setuju. Terlebih Ayah dan Bunda, yang sudah memberi restu. Terima kasih banyak, restu dan doa kalian akan memudahkan niat baik kami." Al menjabat tangan Arya dan juga Diana. Sekarang Al tenang, tinggal mengurus tentang keluarganya saja.