
Malam semakin larut, orang-orang penghuni rumah mewah itu mungkin sudah tenggelam dengan mimpinya masing-masing.
Tapi tidak dengan Rion. Matanya tidak bisa diajak kompromi. Apalagi mengingat kata-kata pelayan itu, yang terus terngiang di telinga nya.
Ada rasa yang begitu sulit dia pahami. Banyak pertanyaan-pertanyaan bersarang di benak nya.
"Bagaimana dia bisa jadi wanita penggoda diumurnya yang masih kecil. Apa dia bekerjasama dengan Idan untuk menggodaku dan menguras hartaku? atau mungkin Idan sedang memanfaatkan nya, dasar licik, dari awal aku sudah curiga pada mereka berdua, bisa saja pelayan itu bukan keponakan nya, apa mungkin selingkuhannya, cih,, menjijikkan." Rion terus berbicara seorang diri.
Entah sudah berapa lama dia memikirkan nya.
Menjelang pagi baru dia bisa tidur.
Pagi itu para pelayan tengah menyiapkan sarapan. Zaza turut membantu menyajikannya diatas meja.
Sejauh ini Zaza sudah dekat dengan pelayan lainnya. Bi Minah kepala pelayan sangat menyukai sifat Zaza, begitu juga dengan Kikan, pelayan yang usianya sama dengan Zaza.
Setelah menyiapkan semuanya, Zaza memilih keluar.
Rion dan Mira memulai sarapannya, ditemani beberapa pelayan yang berdiri tidak jauh dari mereka.
"Rion, hari ini mama akan berlatih dengan Zaza."
"Itu bagus, tapi tidak perlu lama-lama, yang penting mama melakukan nya dengan rutin." jawab Rion.
"Ya,,tadi malam kau begadang?"
"Tidak, ada apa."
"Matamu berkantung."
"Mungkin hanya lelah."
"Jaga kesehatan mu, mama tidak mau kamu sakit."
"Baiklah, aku berangkat dulu. Ada meeting pagi ini." ucap Rion yang sudah menyelesaikan sarapannya dan langsung bergegas keluar.
Baru saja keluar, dia melihat Zaza yang juga sedang melihat kearahnya, gadis itu melemparkan senyuman yang secerah mentari pagi.
"Dasar perempuan gila." gumam Rion memalingkan wajahnya. Tapi pada
saat Leo membuka pintu mobil untuknya, dia menyempatkan diri melihat gadis itu. Gadis itu malah melambaikan tangan padanya."
Buru-buru dia naik dan membanting pintu mobil. Leo yang tidak tau apa-apa kebingungan melihat wajah bosnya yang merah padam menahan marah.
"Apa yang harus kulakukan dengan gadis itu."
"Ya Tuan??"
"Kau sudah melaksanakan tugas yang kuberikan?"
"Belum Tuan."
"Lakukan secepatnya, aku yakin Idan dan gadis itu kerja sama."
"Maksud Tuan?"
"Kau banyak tanya." jawab Rion sambil menendang kursi supir yang Leo duduki.
Leo diam tidak berani untuk bertanya lebih lanjut.
***********
"Nyonya ayo sekali lagi." bujuk Zaza.
Melihat tangan kanan Mira yang sudah mulai memberi reaksi membuatnya senang. Mira pun demikian, dia mencobanya berulang-ulang sampai Zaza menyuruhnya berhenti.
"Sudah, besok kita lanjut lagi Nyonya."
"Sebentar lagi, aku masih ingin mencobanya."
"Tidak, dokter Andi bilang kita tidak boleh terlalu lama Nyonya."
"Ya, ya, ya, Rion juga mengatakannya." ucap Mira.
Zaza sangat penasaran seperti apa Rion, diapun memancing Mira untuk menceritakan nya.
"Rion itu anak yang patuh, dia bisa memberikan semua yang aku inginkan. Kau tau, dia bilang tujuan hidupnya hanya ingin membahagiakan ku. Aku bangga bisa mendidiknya dengan sangat baik, bukankah menurut mu jg begitu?" terang Mira dengan sangat bangga.
"Iya, Tuan Rion sangat hebat, apa yang dia lakukan untuk mendapatkan kesuksesan seperti ini nyonya. Aku ingin menjadi sepertinya."
"Hahahaha, belajar saja padanya. Aku tidak ingin tau apa yang dia lakukan. Selama hidupku terjamin, dari mana asalnya itu tidaklah penting."
"Termasuk jika dia membunuh?"
"Kalau itu diperlukan kenapa tidak."
"Aku juga akan melakukan nya."
"Kau akan membunuh?"
"Seperti kata Nyonya, jika diperlukan kenapa tidak." jawab Zaza.
"Hehehehe lakukanlah, setelah itu mereka akan menghantuimu."
"Akan aku lakukan."
Pembicaraan itu mungkin hanya sebatas candaan bagi Mira, tapi tidak untuk Zaza, hatinya terasa mendidih.
Bagaimana seorang Ibu bisa tidak peduli dengan apapun yang dilakukan anaknya. Apa hanya hidupnya yang berharga, bagaimana dengan hidup orang lain.
Bahkan anaknya mungkin sudah merenggut kehidupan banyak orang. Termasuk dirinya. raganya memang hidup, tapi hatinya seolah mati. Dia bagaikan cangkang kosong.
*******
Malam itu setelah memastikan Mira tidur,
Zaza duduk ditaman memikirkan rencana yang sudah dia susun. Sebelum Rion, mungkin Mira akan ia singkirkan terlebih dahulu.
Bangku yang Zaza duduki agak jauh dari pancaran cahaya lampu, sehingga terlihat remang-remang.
Lagi asik dengan pikirannya, sebuah benda menempel tepat dikepala bagian belakangnya. Zaza yang merasa itu adalah sebuah senjata, ia segera berdiri dan meletakkan kedua tangannya di atas kepala.
"Siapa kau." ucap sipemilik suara berat itu.
Zaza mengenal suara itu. Siapa lagi kalau bukan Rion. Perlahan dia berbalik menghadapng pria itu.
"Tuan."
"Apa yang kau lakukan disini." tanya Rion memindahkan pistol nya ke dahi Zaza.
"Aku tidak melakukan apapun Tuan. Tuan aku mohon turunkan senjatanya." pinta Zaza, ucapannya terkesan manja. layaknya anak kecil yang sedang merengek.
Rion hanya diam memandangi wajah gadis itu. Perlahan dia menurunkan kan pistolnya.
"Tuan baru pulang?"
(tidak ada Jawaban)
"Tuan."
(tetap tidak ada jawaban)
Zaza menjentikkan jarinya didepan wajah Rion.
"Tuan."
"Kau tidak pantas berbicara dengan ku." balas Rion berjalan meninggalkan Zaza.
"Kenapa begitu? Tuan,,,, tuan,,tuaaaaaan, apa tuan tuli?" tanya Zaza yang berlari kecil mengikuti langkah Rion.
Siapa yang tidak marah dibilang tuli. Apalagi ini, seorang Abrion anugraha dikatai tuli oleh gadis 19 tahun. Bukankah
keberanian gadis itu patut diacungi jempol?.
Tangan Rion mengepal, dia berhenti tiba-tiba.
tatapannya pada Zaza seperti seekor singa yang siap menerkam mangsanya. Dengan senyum yang mengerikan dia mendekat pada gadis kecil itu.
"Kau tidak takut denganku?"
"Tidak Tuan."
Rion semakin mendekat sampai tidak ada jarak diantara mereka. Jari-jarinya mengelus leher Zaza.
"Tuan ingin membunuhku?"
"Kau cukup pintar mengetahui nya."
Tidak ada ketakutan diwajah Zaza, yang ada hanya senyuman jahil.
Cup ,,,, dia mencium pipi Rion sembari mendorong nya. Dan kemudian berlari sekuat tenaga menuju kamarnya.
Sang singa terdiam memegang pipinya.
Emosinya makin menjadi-jadi.
Dengan tergesa-gesa dia berlari menyusul gadis kecil itu.
Menggedor seluruh kamar para pelayan. Sampai dia menemukan apa yang dia cari.
Menarik paksa tangan Zaza, dia membawa gadis itu keluar dan menyerahkan nya pada satpam.
"Usir perempuan ini, aku akan membunuhmu jika masih melihatnya berkeliaran disini." ucap Rion.
"Tuan aku tidak mau, ini sudah malam. Aku ini perempuan, aku akan pergi besok, aku janji." tolak Zaza meronta-ronta.
Pak satpam hanya bisa menuruti perintah Rion. Membawa Zaza keluar dari gerbang dan menguncinya diluar.
*J**angan lupa tinggalkan jejak 😘😘😘😘😘*