
*S**elamat *membaca, jangan lupa di like ya.
Kali ini Idan benar benar marah dengan kelakuan Eva yang tidak bisa di kasih tau.
Segelas air ia siramkan kewajah istrinya.
"Bangun!" ucap Idan.
Eva perlahan mengerjapkan matanya.
"Pa." lirih Eva.
"Kau lihat? kau tidak bisa bermain main dengan Rion. Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak buru buru, tapi kau tidak mendengarkan ku."
"Pa."
"Aku dalam bahaya karena ulah mu. Ingat, jika sampai Zaza tidak mempercayai ku, aku akan menceraikan mu. Kau tau? aku bisa mendapatkan keinginan ku melalui Zaza. Dan itu lebih penting dari pada wanita ceroboh seperti mu."
"Tolong Pa,, tanganku sakit."
"Aku tidak perduli." ucap Idan, Meninggalkan Eva yang masih terbaring di lantai. Bukan hanya tangannya yang sakit, tapi seluruh badannya terasa remuk akibat tendangan Rion.
Bi Rosi yang dari tadi hanya berani mengintip, memutuskan keluar untuk membantu majikannya.
Zaza berdiri di balkon kamar Rion.
Menatap ke ujung jalan, berharap yang ditunggunya segera muncul. Pandangan nya tiba tiba berhenti saat melihat seseorang laki laki yang berjalan di halaman menuju gerbang.
"Leo?" gumam Zaza.
"Apa yang dia lakukan di sini?" Batin Zaza.
Kreeeeeeett, suara pintu tiba tiba terbuka, membuat Zaza mengalihkan pandangannya.
"Ho---, Tati?"
"Iya, ini aku. Maaf, aku mendengar mu berteriak dan menggedor gedor pintu. Aku kira kamu kenapa napa." ucap Tati.
Zaza menatap aneh pada Tati.
Selain bahasa Tati yang begitu lembut padanya, wajah bengkak Tati juga membuatnya heran.
"Apa Nyonya Mira memukul mu?" tanya Zaza menyentuh bekas pukulan di wajah Tati.
Tati menepis tangan Zaza.
"Tidak, Nyonya tidak pernah memukul ku. Kamu mau keluar atau tidak, jika tida----."
"Ayo." jawab Zaza.
Zaza segera meninggalkan kamar Rion, dan mengunci pintunya seperti semula.
"Pintu kamarmu rusak, tidurlah dikamar ku." ucap Tati.
"Aku melihat Leo yang baru saja pulang, sepertinya pintu kamar ku sudah di perbaiki olehnya."
"Aku lihat masih belum diperbaiki."
"Oh ya? lalu apa yang dia lakukan disini. Tidak biasanya dia sampai larut malam, apalagi Rion tidak disini."
"Aku tidak tau."
"Dimana kamar mu? kenapa kita ke sini?" tanya Zaza, menyadari Lorong yang ia lewati itu menuju ke kamar Mira.
"Aku di suruh pindah ke samping kamar Nyonya."
"Ooo. Aku pikir kalian merencanakan sesuatu untuk mencelakai ku." ucap Zaza.
Tati menghentikan langkahnya, dan berbalik menghadap ke arah Zaza.
"Aku tau posisimu di rumah ini, jadi aku akan tau diri mulai sekarang, dan jika kau tidak ingin tidur di kamar ku, carilah kamar lain untuk kau tempati malam ini." ucap Tati sambil memasuki kamarnya. Pintu ia biarkan terbuka, agar Zaza segera masuk.
Zaza memutuskan untuk masuk, karena ucapan Tati terlihat meyakinkan.
Sebelum masuk, ia mengirimkan pesan kepada Rion.
Me :Hon, aku tidur di kamar Tati, Jangan mencari ku, aku baik baik saja.
Sayang : Aku sudah di kamar, kemari lah.
Me : Tidak, disini saja.
Sayang : Jadi kamu tidak merindukan ku?.
Me : Sangat.
Sayang : Kalau begitu keluarlah, aku akan mencium mu.
Me : Besok saja, aku capek.
Rion : Ok, tapi double ya.
Me : Bagaimana keadaan paman?.
Sayang : Masih hidup.
Sayang : Sayang,
Sayang : Sudah tidur?.
🌷
Rion membaringkan tubuhnya setelah membalas pesan Zaza.
Matanya sudah tidak mengantuk lagi. Rion memilih mendarat kan tubuhnya di kursi kerja dikamarnya.
Iseng membuka laci meja, tampak sebuah map yang sudah lama Leo berikan padanya, namun belum pernah ia buka sekalipun.
Senyum di wajahnya mengembang, berharap mendapat foto atau info yang bisa membuat kekasihnya malu. Lembar pertama yang Rion baca masih tentang diri Zaza. Begitu membuka yang kedua dan seterusnya, senyumnya mulai menghilang. Apa lagi saat melihat semua foto keluarga Zaza, matanya terbelalak, kertas di tangannya berserakan di lantai.
Seolah di hantam batu besar, Rion merasa sesak, rasa menyakitkan dan ketakutan datang secara bersamaan.
Sadar telah merenggut semua kebahagiaan Zaza. Pikiran Rion mulai dipenuhi banyak pertanyaan.
"Apakah ini alasannya mendekati ku. Ini kah tujuannya datang ke rumah ini, dia ingin balas dendam padaku?" batin Rion.
Rion menghubungi Leo. Leo pun menjelaskan semuanya. Bahwa kedatangan Zaza kesana bukan kemauannya, melainkan atas perintah Idan.
Leo juga mengatakan, Zaza tidak tau tentang kematian keluarganya yang sebenarnya. Yang ia tau keluarga nya meninggal karena kebakaran.
Meski Leo mengatakan seperti itu, Rion tidak langsung mempercayai nya. Dia memilih waspada terhadap Zaza. Karena ia tidak tau harus bagaimana ia akan menghakimi gadis yang ia cintai itu. Cintanya terhadap Zaza sudah tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata, bahkan ia berniat melawan Ibunya demi Zaza.
Lama terdiam, Rion menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 6.
Ia bergegas mandi. Rion berencana akan menghindari Zaza untuk sementara. Sampai dia bisa membuktikan bahwa Zaza tidak tau apa-apa tentang kematian keluarga nya.
Rion melewati meja makan yang sudah mulai di isi makanan diatasnya.
"Rion, kamu akan berangkat?" sapa Mira yang baru saja masuk. Sepertinya Mira dan Tati habis berkeliling di taman.
"Iya ma, Aku ada meeting pagi ini."
"Sarapan lah dulu, Mama sudah lama tidak sarapan denganmu." ucap Mira.
Rion terlihat berpikir, tidak lama ia mengangguk dan duduk di kursi yang biasa ia duduki saat makan.
Zaza keluar dari dapur membawa makanan. Senyuman manis merekah di wajahnya saat tatapannya beradu dengan Rion.
Seketika Rion mengalihkan pandangannya ke arah Mira.
"Selamat pagi." sapa Zaza.
Tidak ada balasan baik dari Rion maupun Mira.
Saat Zaza membuka mulutnya ingin berbicara, Rion memotongnya dengan cepat.
"h----."
"Mama, mau yang ini." tunjuk Rion.
"Boleh, ambilkan untukku."
Tati berniat mengambilkan, namun Rion menghentikan nya dan menyuruh nya pergi.
Mira sangat senang, Rion menyuapinya seperti dulu. Apalagi melihat Rion yang mengabaikan Zaza, Mira merasa Rion benar benar hanya mempermainkan Zaza selama ini.
Zaza yang merasa di abaikan tidak jadi duduk. Sikap Rion yang mendadak berubah membuat hatinya sakit.
"Apa yang terjadi padanya? kenapa dia tiba tiba ia berubah? Tapi bukankah aku hanya pura Pura menyukainya, kenapa sekarang sakit" batin Zaza.
Perlahan Zaza meninggalkan meja makan dan berdiri di samping Kikan, menunggu Mira dan Rion menyelesaikan sarapannya.
Sakit dihatinya bertambah saat Rion seolah tidak mengenalnya.
Sepatah katapun tidak keluar dari mulut Rion untuknya. Mira tersenyum sumringah sembari mengelus kepala Rion dengan tangan kirinya.
"Bagaimana pembangunan hotel mu, apa sudah siap?" tanya Mira.
"Tidak lama lagi siap."
"Kapan kita kesana?"
"Begitu selesai, kita akan kesana."
"Mama senang kamu seperti ini lagi."
Rion hanya diam tidak membalas ucapan Mira.
Zaza kebelakang, kemungkinan terburuk muncul di benaknya.
"Apa dia sudah mencurigaiku, apa Paman memberitahunya?" Gumam Zaza. Tapi mengingat pesan pesan dari Rion, "bukankah ia mengirimnya saat pulang dari sana?"
"Argggg,,,,Kenapa dia berubah begitu cepat, apa yang membuatnya seperti itu, apa karena tadi malam aku tidak menemuinya?" gumam Zaza, ia berbicara dengan dirinya sendiri.
Karena penasaran, Zaza nekat keluar dari pintu samping rumah dan berjalan menuju mobil Rion.
"Apa yang anda lakukan,,,Nona Zaza?" tanya Leo ketika Zaza masuk ke mobil.
"Bisa kah kau turun sekarang, ada yang ingin aku bicarakan dengan Rion."
"Maaf, jangan membuatku dalam masalah Nona."
"Sebentar saja, tolong."
"Tidak bisa."
"Kalau begitu, kau pura pura saja tidak tau jika aku ada disini ucap Zaza."
"Tuan akan melihat anda, saat dia masuk."
"Apa kau tidak mau membantu ku sekali ini saja."
"Tidak."
"Sialan." ucap Zaza. Zaza keluar dan membanting pintu mobil.
"Ada apa ini?"
Di like aja udah semangat, apalagi vote and rate 5,🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗. Yang penting tinggalkan jejak yang bikin semangat. Kasih saran yang membangun ya.