
Seminggu setelah kejadian itu, Zaza mencoba bangkit dari keterpurukannya. Dia akan memulai semuanya dari awal.
Untuk mencapai tujuan nya dia harus kuat,
Pagi ini Zaza bangun lebih awal dan langsung menuju dapur. Disana sudah ada bi Rosi yang sedang menyiapkan sarapan.
"Bi Rosi, Zaza bantu ya." ucap Zaza.
"Iya Non, terimakasih." balas Rosi, dia senang ada yang membantu pekerjaan nya.
Setelah menyelesaikan semuanya dan menyiapkan nya dimeja makan. Zaza kembali ke kamar untuk membersihkan diri, begitu terlihat rapi Zaza kembali bergabung bersama paman dan bibinya di meja makan.
"Pagi Paman, Bibi." sapa Zaza
"Pagi Za." balas Idan. Hanya Idan yang membalas sapaan Zaza, sementara Eva hanya cuek. Dan memulai sarapannya sendiri.
Saat sarapan, Zaza pun mengutarakan niatnya.
"Paman, Zaza ingin mencari pekerjaan."
"Oh ya? dimana?"
"Aku akan mencoba ke restoran Z tempat yang dulu aku bekerja."
"Apa itu tidak terlalu jauh? gimana kalau Paman bantu mencari pekerjaan untukmu didaerah-daerah sini."
"Ah, tidak perlu Paman, biar Za sendiri yang mencarinya."
"Ya udah kalau begitu." jawab Idan.
"Baguslah kalau kau bekerja, setidaknya itu bisa meringankan beban dirumah ini." sahut Eva dengan ketus.
"Perhatikan cara bicaramu." bentak Idan pada Istrinya.
Merasa kesal dengan sikap Eva, Idan langsung menghentikan sarapannya dan beranjak meninggalkan meja makan.
"Paman berangkat Za." ucap Idan tanpa menoleh pada Eva.
"Paman tunggu."
"Ada apa Za?"
"Apa aku boleh meminjam uang Paman? aku akan mengembalikannya setelah dapat pekerjaan."
Idan langsung mengeluarkan uang 5 juta dari tasnya.
"Pakai ini, jika butuh apa- apa katakan pada paman."
"Ini terlalu banyak Paman, aku hanya membutuhkan ongkos."
"Simpan saja, nanti kau akan membutuhkan nya." ucap Idan sambil mengelus rambut ponakannya.
Dia pun keluar dari rumah dan melajukan mobilnya.
Mendengar suara mobil dari luar menandakan Idan sudah berangkat. Eva langsung menghampiri Zaza.
"Kembalikan uang itu, kau tidak berhak menerimanya." kesal Eva dengan mencoba merampas uang dari tangan Zaza.
Tanpa disangka Zaza malah menggenggam uang itu dengan sangat kuat.
"Maaf Bibi, aku tidak akan mengembalikannya, kecuali Paman yang meminta nya." ucap Zaza.
Eva terkejut melihat Zaza yang berani padanya. Bagaimana bisa anak yang terlihat bodoh seminggu ini bisa membantahnya.
Dengan muka marah Eva menghempaskan piringnya dan pergi meninggalkan Zaza.
Zaza sudah memikirkan semuanya, dia tidak boleh takut pada siapapun, hidup hanya sekali, tidak ada yang perlu ditakuti. Tanpa disadari hatinya mengeras begitu saja.
Setelah sampai ditempat yang dituju, Zaza melihat restoran itu masih sepi. Hanya ada beberapa pelayan yang memulai kesibukannya masing-masing.
"Hei, Ryza, kamu kemana saja." sapa Tati salah satu pelayan disana.
"Ah, tidak kemana-mana kok, oh iya, apa Nisa sudah datang?" balas zaza sambil tersenyum.
"Tadi sih udah, coba liat didalam."
Zaza yang mencoba masuk, tiba-tiba dikagetkan oleh suara cempreng yang memanggil namanya, dan itu bisa ditebak oleh Zaza. Orang itulah yang dicarinya.
"Zazaaaaaaaaaaa." ucap Nisa sambil menangis sambil memeluk sahabatnya itu. Dia tau apa yang terjadi, saat dua hari Zaza tidak bekerja, dia mendatangi tempat tinggal Zaza. Dan disana sudah tidak ada siapa-siapa. Mencari tau kemana mereka semua pindah dan akhirnya Nisa mendapatkan informasi. Tentang kejadian yang menimpa sahabatnya.
Zaza yang merasa sesak mencoba melepaskan pelukan Nisa.
"Hei, lepaskan, aku tidak bisa bernafas." ucap Zaza
Nisa yang melihat Zaza sedikit bingung. pasalnya tidak ada kesedihan dimatanya. Tapi dia juga bersyukur sahabatnya yang dia kenal manja itu ternyata orang yang tabah, itulah yang Nisa pikirkan.
"Kamu kemana saja, aku mengkwatirkan mu." Isak Nisa.
"Ceritanya sangat panjang, nanti aku ceritakan, sekarang temani aku menemui bos, aku ingin melamar bekerja disini lagi."
"Tidak perlu menemuinya, aku sudah menceritakan padanya tentang musibah yang menimpamu dan dia akan menerimamu jika datang dalam bulan ini."
"Aku datang ke tempatmu saat dua hari kau tidak masuk, tapi kamu tidak ada? aku menanyakan mu pada semua orang yang kutemui. Eh,, kemana kamu malam itu? bukankah kita pulang bareng. Orang-orang itu bilang, kau bahkan tidak pulang saat kejadian itu."
"Nis, ceritanya panjang, beri aku waktu. Aku belum siap menceritakan nya."
"Baiklah, sekarang ganti pakaianmu. Oh iya, aku menemukan tas dan ponsel dibelakang rumah mu, aku tau itu punyamu, dan sudah ku taruh diloker mu." ucap Nisa
Zaza yang mendengar cerita sahabatnya itu langsung menariknya ke sudut restoran.
"Apa ada yang tau kau menemukan tasku?"
"Tidak, emangnya ada apa? kenapa kau terkejut begitu?"
"Ah, Tidak, tolong jangan ceritakan pada siapapun soal kau menemukan tasku. Aku akan menceritakan saat aku sudah siap."
Sekali lagi Nisa menatap wajah sahabatnya itu dengan penuh tanda tanya.
"Kenapa kau ketakutan? apa ka, kau yang membakar rumahmu?" tanya Nisa terbata bata.
peltek, bunyi sentilan di dahi Nisa.
"Aaaaawww, sakit, sakit, ini sangat sakit b*go." jawab Nisa mengusap-usap dahinya yang memerah.
"Kau yang b*go, apa kau pikir aku psikopat yang membunuh keluarganya sendiri? aku sudah bilang akan menceritakan nya kenapa kau tidak sabar? turuti saja apa yang aku katakan.'
"Ok,,ok."
*******
"Bacakan jadwalku hari ini." perintah Rion pada Idan.
"09.30 ada meeting bersama klien, dan undangan makan siang dari Tuan Jacob, Tuan."
"Hanya itu?"
"Jam 14.00 meeting dengan perusahaan Z."
"Leo pagi ini kau yang meeting dengan klien kita, dan untuk sore nanti Idan yang pergi, aku hanya akan memenuhi undangan makan siang itu." ucap Rion membagikan tugas pada kedua asistennya.
"Baik Tuan." keduanya menjawab bersamaan.
Sembari menunggu waktu makan siang Rion menghabiskan waktunya baring-baring di kamar yang ada didalam ruangan kantornya.
Baru terlelep sebentar, tiba tiba ponselnya berbunyi.
"Halo, ada apa?"
"..........."
"Ya , aku akan segera turun." ucap Rion dengan malas.
Sampai diparkiran Leo sudah menunggu dan membukakan pintu mobil.
"Dimana makan siang nya?"
"Direstoran Z Tuan." begitu Rion naik, Leo pun melajukan mobilnya.
"Bagaimana meeting tadi?"
"Semuanya lancar Tuan, mereka sudah menandatangani kontrak kerja samanya."
"Bagus."
Tepat di depan restoran yang dituju. kelihatan jacob sudah menunggu Rion.
"Halo bro, apa kabar." sapa Jacob
Rion hanya membalasnya dengan senyuman, keduanya berpelukan dan melakukan tos.
"Sudah lama menunggu?"
"Baru saja, makin tua kau semakin tampan saja."
"Dan kau semakin jelek, pergilah ke salon cat rambutmu, uban sudah menguasai kepalamu"
balas Rion.
Keduanya tertawa, mereka tampak sangat dekat. Jacob adalah teman Rion, dia yang mengajari Rion semua cara-cara kotor untuk bangkit dan sukses.
Dan nyatanya sekarang kesuksesan Rion melebihi Jacob sendiri.
"Kau sudah memesan makanan." tanya Rion
"Belum, aku menunggumu." jawab Jacob.
"Baiklah Leo panggilkan pelayannya!"
Tinggalkan jejak ya para readers 😘😘😘😘