I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps. 30 ayo menikah



Selama Zaza dirumah sakit, Eva tidak pernah absen menjenguk nya. Dia menghabiskan waktunya seharian untuk mengurus Zaza.


Begitu juga dengan Rion, ditengah kesibukannya dia selalu menyempatkan diri Ke rumah sakit.


Rion mendapat kabar dari Idan bahwa Zaza sudah boleh pulang. Jadi ia berencana untuk membawa Zaza kerumahnya.


Sesuai rencananya, pagi pagi sekali Rion sudah sampai dirumah sakit.


Dengan membawa sebuket bunga, Rion memasuki ruangan Zaza.


Senyuman nya yang mengembang langsung memudar ketika melihat Zaza tidak ada di tempat tidurnya. Hanya ada Eva disana yang sedang membereskan barang-barang Zaza.


"Selamat pagi Tuan. Anda datang pagi sekali."


ucap Eva.


"Dimana Zaza?"


"Dikamar mandi Tuan. Ah, apa Tuan sudah sarapan? saya membawa Sarapan untuk----"


" Rion?" ucap Zaza yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sayang." Ucap Rion sembari menghampiri Zaza dan mencium keningnya.


"Ini untukmu." lanjut Rion, ia memberikan bunga yang ia bawa kepada Zaza.


Zaza hanya tersenyum dan mencium bunga itu.


"Ini masih terlalu pagi, kamu tidak ke kantor?"


"Tidak, aku kesini menjemput mu."


"Jemput?"


"Hari ini kamu sudah boleh pulang bukan? jadi aku datang menjemputmu."


"Tapi Rion, aku belum bisa bekerja. Dokter bilang----"


"Siapa yang menyuruhmu bekerja?" Aku hanya ingin menjemputmu pulang."


"Tuan, sebaiknya Zaza pulang bersama saya saja. Saya akan merawatnya dengan baik."


Ucap Eva.


Ucapan Eva tidak ditanggapi sama sekali oleh Rion. Dia bersikap seolah tidak ada orang lain di ruangan itu.


"Aku akan membawamu kerumah. Idan sedang mencarikan pelayan untuk melayanimu, jadi kamu tidak perlu melakukan apapun lagi."


"Rion, ini berlebihan. Aku masih bisa melakukan apa apa sendiri." jawab Zaza. Dia malu jika harus tinggal bersama Rion.


Walaupun sebenarnya itu akan mempermudah jalannya.


"Apa yang Zaza katakan itu benar Tuan, lagian ada saya yang akan merawatnya, jadi----"


"Bisakah kau keluar sebentar, aku sedang bicara dengan kekasih ku." Ucap Rion memotong kata-kata Eva.


Eva tersenyum dan mengangguk. Segala makian ia ucapakan dalam hati. Tapi ia dapat menahan dirinya dengan sangat baik, hingga tidak ada makian yang lolos dari mulutnya.


"Sayang, aku tidak percaya pada perempuan itu, ayo kita pulang kerumah."


"Biarkan aku pulang bersama Bibi. Setelah sembuh, aku akan datang kesana, Gimana?"


"Tidak, pokoknya kamu harus ikut denganku. Kita pulang kerumah, kerumah kita."


"Tapi Rion,------"


"Tidak ada tapi tapian, dan berhentilah memanggil namaku. Kamu masih sangat kecil tapi sudah tidak sopan pada yang lebih tua."


"Hahahaha,, apa aku harus memanggilmu om? uncle atau opa?"


"Panggil aku sayang, atau honey."


"Baiklah aku akan manggilmu Hon."


"Hon?"


"Honey disingkat menjadi Hon."


"Hmmm, tidak buruk. Jadi sayang, Kita pulang sekarang?"


"Kita sarapan dulu, nanti dibahas lagi ya. Boleh aku menyuruh Bibi masuk?" tanya Zaza.


"Tidak. Biarkan dia diluar, aku tidak menyukainya."


"Oh, ayolah Hon jangan begitu. Gimanapun juga dia itu Bibiku." Rayu Zaza.


Melihat Zaza yang memasang wajah memelas nya, membuat Rion tak bisa menolak permintaan kekasihnya itu.


Dia mencebik dan terpaksa mengiyakan.


Selama sarapan, Eva tak henti hentinya memberi perhatiannya pada Zaza didepan Rion. Meskipun Rion selalu menatapnya dengan tatapan merendahkan.


Tidak banyak yang bisa diperbuat oleh Rion. Zaza selalu memelas agar Rion menuruti kemauannya.


Termasuk pulang kerumah Eva. Setelah berdebat cukup lama, akhirnya Rion menyetujui permintaan Zaza untuk pulang ke rumah Eva.


🌷


🌷


🌷


Setelah semua urusan selesai, Zaza pulang bersama Rion ke rumah Eva.


Beberapa kali ia membujuk Zaza agar berubah pikiran untuk pulang kerumahnya, namun Zaza tetap kekeuh pada pendiriannya.


"Sayang, apa sebaiknya aku tinggal disini juga?" tanya Rion. Yang mana membuat Zaza memukul kakinya.


"Tidak boleh. Kamu harus pulang, Nyonya Mira akan kesepian jika kamu tinggal disini."


"Mama sudah punya pelayan baru. Semangat nya hampir sama dengan kamu. Mereka sering menghabiskan waktu bersama. Jadi ia tidak akan kesepian."


"Oh ya? Pelayannya pasti cantik. Apa dia juga masih muda?"


"Sepertinya kalian seumuran, dia cantik, tinggi-------"


"Mulus, seksi, yang pasti dia sempurna kan?


kamu pasti sangat senang setiap hari melihatnya." sambung Zaza.


"Hahahaha, aku hanya bercada sayang. Tidak ada yang lebih cantik darimu, lagian kenapa menanyakan dia sih. Kamu cemburu ya?"


"Sangat cemburu, Jangan mendekatinya, aku akan memukulmu jika kamu melakukannya."


Jawab Zaza.


Dia benar-benar takut itu terjadi. Sehingga ia sedikit goyah untuk ikut kerumah Rion.


Posisi nya sekarang sudah membukakan jalan untuknya mencapai tujuannya.


Ia tidak akan membiarkan kesempatan itu hilang begitu saja.


"Aku tidak akan melakukannya sayang. Jadi ayo pulang kerumah. Aku ingin mlihatmu setiap hari disana."


"Tapi apa yang akan kulakukan disana? kamu tidak membiarkanku bekerja. Aku akan malu


pada orang orang dirumahmu. Kita belum menikah tapi sudah tinggal satu rumah. Mereka akan memandang ku rendah Hon."


Ucap Zaza, memikirkan pandangan orang-orang padanya.


"Kita hanya satu rumah sayang, bukan satu kamar. Bukankah selama ini kita juga serumah?. Tidak akan ada yang berani membicarakan mu. Aku akan memotong lidah mereka yang berani berbicara buruk tentangmu. Atau, bagaimana kalau kita menikah saja?"


Zaza terkejut bukan main mendengar ajakan Rion.


"Menikah? dengan pembunuh sepertimu. Cihh, menikahlah dalam mimpi mu baji*gan"


Batin Zaza.


"Sayang gimana?" ulang Rion.


"Me, menikah?" Tanya Zaza terbata bata.


Dia hanya ingin balas dendam, bagaimana bisa ia membunuh suaminya kelak?.


"Iya, kita menikah."Jawab Rion dengan tegas. Tidak ada keraguan di wajahnya.


"Hon, aku masih 19 tahun, gimana kalau kita menikah setahun lagi?"


"Itu kelamaan sayang, aku tidak akan sabar menunggu selama itu."


"Ayolah, setahun itu sebentar Hon."


"Aku tidak ingin kita berjauhan, aku ingin melihatmu setiap hari. Memberiku kecupan di pagi hari, dan menyambutku dengan senyuman saat aku pulang."


"Baiklah, aku akan ikut kerumahmu. Tapi biarkan aku membantu pekerjaan Bi Minah."


"Ti---------."


"Tidak ada penolakan." Ucap Zaza cepat memotong ucapan Rion yang akan menolak permintaannya.


"Ok."


🌷


🌷


🌷


🌷


Siang itu Rion terpaksa meninggalkan Zaza dirumah Idan dan akan menjemputnya sore hari. Pertemuan dengan klien tidak bisa ia perwakilkan pada Leo. Mengingat kondisi Pria itu yang patah tangan akibat hukuman yang diberikan Rion padanya.


Itu kesempatan bagi Eva untuk membujuk Zaza agar menerima ajakan Rion.


"Kenapa kamu menolak menikah dengannya?" Tanya Eva.


"Zaza belum berfikir kesana Bi. Umur Zaza masih muda."


"Umur itu bukan patokan, banyak orang diluar sana yang menikah di umur yang lebih muda darimu. Lagian apa lagi yang kamu tunggu? Dia punya segalanya Za, banyak wanita yang mengejarnya. Jangan sampai dia mencintai wanita lain. Kau pasti akan menyesal nantinya. Sebelum itu terjadi hubungi dia, katakan padanya kau sudah siap menikah." ucap Eva.


"Tidak, aku tidak ingin menikah sekarang."


"Za, Bibi mengatakan ini karena Bibi sayang padamu. Bibi ingin kamu hidup mewah. Hidupmu akan bahagia jika menikah dengan nya."


"Harta tidak menjamin kebahagiaan Bi. Untuk saat ini biarkan Za jalani dulu." Balas Zaza.


"Terserah kamu deh Za. Bibi hanya memberimu saran." Ucap Eva. Meski kecewa tapi Eva tidak menunjukkannya pada Zaza.


Dia merasa bahwa Zaza pun belum sepenuhnya percaya pada sikap baiknya selama ini.


Zaza menunggu Rion dikamarnya sambil membongkar barang yang ia bawa dari rumah sakit. Saat dirawat, Rion sempat membeli nya beberapa baju. Dan ternyata Rion juga sempat mengambil tas miliknya yang tertinggal di mobil Verdi saat itu.


Didalamnya juga terdapat ponsel yang Rion berikan padanya.


Sore itu Rion membawa Zaza kerumahnya. Semua pelayan menyambutnya dengan ramah kecuali satu orang.


Siapakah dia???.


like, like, like,