I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 39. Dia menjualku



*S**elamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷*


Mira membeli banyak perhiasan. Inilah yang dia harapkan selama ini. Memiliki keponakan cantik seperti Zaza adalah suatu keberuntungan baginya. Yang pasti ia akan memanfaatkannya dengan Sangat baik.


Bahkan dia sudah mendengar dari suaminya, Zaza di sukai oleh seseorang yang lebih kaya dari Rion.


Pikiran Mira berputar cepat, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan bermodalkan alamat kantor Verdi, yang ia dapatkan dari suaminya. Eva datang secara diam diam menemui Verdi.


Rencananya adalah, setelah menguras Rion, ia akan beralih ke Verdi. Atau, jika gagal dengan Rion ia masih punya cadangan lain. Eva berpikir bahwa dirinya akan berhasil mengatur hidup Zaza semaunya.


Mobil penuh dengan belanjaan Eva.


"Pa, kita mampir ke kafe Nine ya." ucap Eva


"Ya." jawab Idan.


Sementara Zaza hanya mengikuti kemana Eva membawanya.


Mereka tiba disebuah kafe yang dimaksud Eva. Ia mengajak Zaza keluar sementara Idan menunggu mereka di mobil.


"Za, kita duduk di sini aja." tunjuk Eva, membawa Zaza masuk ke sebuah ruangan.


Ruangan seperti ini biasanya di pakai oleh tamu VIP.


"Kenapa harus duduk disini Bi?"


"Agar kamu nyaman, duduklah dulu. Bibi ke kamar mandi sebentar ya." ucap Eva


Zaza mengangguk mengiyakan.


Baru saja pintu tertutup, sekarang pintu itu terbuka lagi. Zaza yang bersandar sambil memejamkan matanya, mengira yang masuk itu adalah pelayan yang mengantarkan pesanan Eva.


hhuuuuuufff....wajah Zaza ditiup oleh seseorang. Sontak Zaza kaget dan membuka matanya,.


"Verdi?" gumam Zaza. Ia mengernyitkan dahinya.


"Ya, ini aku." jawab Verdi sembari duduk di samping Zaza.


"hahahahha." Zaza malah tertawa dengan kuat, ada kemarahan yang ia keluarkan lewat tawanya.


"Kamu baik baik saja? apa luka dikepalamu sudah sembuh?" tanya Verdi, ia heran melihat Zaza tertawa tanpa sesuatu yang lucu.


"Ya, aku baik baik saja. Berapa banyak yang kau berikan padanya?" tanya Zaza. Dia langsung bisa menebak, bahwa Eva si serakah lah yang mengatur semua ini.


"Sangat banyak, jangan pikirkan itu. Aku bisa memberinya lebih banyak dari itu, asalkan aku bisa bertemu denganmu."


"Katakan apa yang kau inginkan dariku." ucap Zaza.


"Tinggalkan Rion, aku akan melindungi mu. Aku merasa kau membutuhkan bantuan."


"Aku tidak butuh bantuan siapapun, dan Rion sudah melindungi ku dengan baik."


"Ini nomorku, hubungi aku jika kau butuh. Aku akan selalu siap membantu mu kapanpun itu.


Percaya padaku!" ucap Verdi, ia menulis kan nomornya di secarik kertas.


Dan memberikannya pada Zaza.


Zaza hanya menatap datar wajah Verdi.


"Simpan ini dengan baik, suatu saat kau pasti membutuhkannya, dan aku yakin kau tidak akan berani menyimpan nya di ponselmu bukan?Jadi sembunyikan dengan baik." Ucap Verdi mengacak rambut Zaza.


"Baiklah, aku harap kau memegang kata katamu."


"Yang mana."


"Semuanya."


"Pasti. Aku lega melihatmu baik baik saja, tetap lah seperti itu."


"Bisa kau pergi sekarang, aku capek."


"Baiklah. Aku akan menemuimu lagi." ujar Verdi. Sebelum ia benar-benar keluar Zaza menjawab ucapannya,


"Jangan mencoba menemuiku, jika kau benar-benar ingin melindungi ku. Tunggu saja saat aku butuh, aku akan menghubungi mu seperti yang kau minta." jawab Zaza.


Setelah mendengar itu, Verdi melanjutkan langkahnya meninggalkan kafe tersebut.


Tanpa menunggu Eva lagi, Zaza pun kembali ke mobil.


Idan berlari membukakan pintu mobil untuk Zaza.


Begitu pintu mobil terbuka, Zaza tersenyum sinis.


"Bibi?" panggil Zaza. Ia marah saat melihat wanita itu sudah ada di mobil.


"Hehehehe, Zaza. Maaf, tadi kaki bibi sakit, jadi Bibi minta di urut sama Paman mu." ucap Eva.


"Sepertinya kaki Bibi sakit karena membawa uang yang terlalu banyak, berapa banyak yang Bibi dapatkan dari hasil menjual ku?" tanya Zaza.


Dia tidak habis pikir dengan kelakuan Eva. Bagaimana jika Verdi orang jahat, yang bisa saja memperkosanya atau membunuhnya? Apa itu juga tidak akan jadi masalah bagi Eva?


Yang lebih herannya lagi, apa benar Idan tidak tau kelakuan Eva, kenapa dia diam saja?


Pertanyaan pertanyaan itu membuat Zaza makin panas.


"Zaza, maafkan Bibi. Bibi-------."


"Aku akan mengadukan semuanya pada Rion." ucap Zaza.


"Zaza, apa yang kau katakan?"


"Bibi menjualku Paman, Paman tidak tau atau pura pura tidak tau." sinis Zaza. Sekarang ia tau, kenapa Ibunya mengatakan untuk tidak mempercayai siapapun.


"Ma, apa itu benar?" tanya Idan pada istrinya.


"Mama tidak menjualnya Pa, tidak mungkin Mama melakukan itu. Verdi bilang dia hanya ingin bicara sebentar, apa masalahnya?"


"Kau menukarku dengan uang, apa namanya jika tidak menjual?"


"Kau??? kau menyebut "Kau" padaku?" tanya Eva, tidak terima saat Zaza menyebut kata "kau" padanya.


"Ya, kau yang serakah telah menjual ku." jelas Zaza.


Eva hampir menarik rambut Zaza, namun tangannya di hempaskan oleh Idan.


"Pa."


"Zaza, Paman minta maaf atas perbuatan Bibimu. Paman tidak tau kalau dia akan mempertemukan mu dengan Verdi. Paman mohon jangan adukan ini pada Tuan Rion." ucap Idan, mengabaikan Eva.


"Tolong jalankan mobilnya Paman. Aku ingin cepat cepat pulang."


"Paman akan menghukumnya atas apa yang dia lakukan padamu, tapi jangan adukan ini, Jika tidak Tuan Rion akan membunuh Paman."


Zaza tidak menanggapi ucapan Idan, ia mengambil ponselnya dan menghubungi Rion.


Idan panik, apalagi Eva. Tanpa sepengetahuan Zaza, Eva melepas sepatunya dan akan memukulkannya ke kepala Zaza.


Idan cepat cepat menahan tangan istrinya sembari menggelengkan kepala.


"Hon, jemput aku dirumah paman." ucap Zaza.


"-------."


"Ya, baiklah." Zaza mematikan ponselnya.


"Jalankan mobilnya Paman." ucap Zaza. Idan pun melakukannya, Dia yakin Zaza tidak akan melaporkan mereka pada Rion.


"Zaza, Paman tau kamu sedang marah. Tenangkanlah hatimu dulu. Jangan terburu-buru melakukan sesuatu, Paman benar benar minta maaf untuk kesalahan yang Bibi mu perbuat. Dan masih banyak yang harus paman bicarakan dengan mu, jika kamu tetap mengadukannya, Paman akan berakhir di tangan Rion sebelum mengatakannya padamu" ucap Idan panjang lebar, ia berharap Zaza merubah pikirannya untuk tidak melaporkan mereka pada Rion.


Tapi Sayang, Zaza tidak ingin mendengar apapun dari Idan dan Eva. Hatinya sepanas itu karena yang menjualnya adalah Bibinya sendiri, yang sudah ia anggap sebagai orang tua. Mungkin Eva juga akan menjualnya lagi jika ada laki laki lain yang lebih kaya menginginkan dirinya.


memikirkan itu membuat Hati Zaza makin berapi-api dan kini ia membutuhkan air untuk memadamkan api tersebut.


Entah kenapa Zaza merasa Rion lah air itu,


pikirannya akan terasa tenang jika Rion disampingnya. Dia lupa dengan dendamnya atau sesuatu tumbuh dihatinya, entah lah. Yang jelas dia membutuhkan Rion sekarang.


Sebuah mobil mewah terparkir dihalaman rumah Idan. Siapa lagi pemilik nya jika bukan Rion.


Zaza yang baru saja turun dari mobil Idan langsung berlari dan menghambur ke pelukan Rion.


Rion senang atas sikap Zaza, namun ia menatap tajam penuh curiga pada Eva dan Idan


Idan tetap tegak menatap Rion dengan wajah biasa, seolah memberi jawaban atas tatapan Rion, bahwa semua baik baik saja.


"Sayang."


"Hon, Ayo pulang."


"Sayang, Kamu tidak apa-apa? apa terjadi sesuatu." tanya Rion. ia merasakan gelengan kepala Zaza di pundaknya.


"Jadi kita pulang sekarang?"


"Iya." jawab Zaza.


"Baiklah, masuk lebih dulu aku akan menyusul." ucap Rion sembari membukakan pintu mobil. Setelah memastikan Zaza duduk.


Rion berjalan menghampiri Idan dan Eva.


"Ceritakan padaku besok, sebelum Leo mencari tau." ucap Rion menampar nampar pipi Idan dengan pelan.


Idan menunduk kan kepalanya.


Setelah masuk ke mobil, Rion melajukan mobilnya meninggalkan rumah Idan.


Sesekali ia menatap Zaza yang juga menatapnya.


"Ngantuk?" tanya Rion mengusap kepala Zaza dengan tangan kirinya.


Zaza mengangguk, Wajahnya kelihatan lelah dan mengantuk.


Ia mulai bersandar dan memejamkan matanya.


"Wanita sia*an itu membuat mu lelah, aku akan memberinya pelajaran." ucap Rion.


"Ya, beri dia pelajaran, dia menjualku------."


Gumam Zaza pelan. Ucapannya terputus saat ia terlelap.


Meski Zaza bergumam pelan Rion mendengarnya dengan sangat jelas.


Jantung Rion seakan meledak mendengarnya. "Di jual?" batin Rion.


Ia memukul setirnya dengan kuat.


"Dia menjual ku" kata kata ini terus berputar di kepalanya.