
Selamat membaca, berikan dukungan kalian lewat like, vote anda Rate 5 ya para readers.
Silent readers tinggalkan like ya!
Biar author lebih Semangat.
********
Idan menyuruh sepuluh orang tukang, untuk merenovasi kamar Zaza. Waktu yang di berikan Rion sangat singkat, jadi Idan harus menyiapkannya secepat mungkin.
Setelah memberi gambaran pada tukangnya, Idan menemui Eva di lantai dua.
"Papa sudah pulang?"tanya Eva.
"Papa sebentar saja. Hanya ingin mengantarkan ini." ucap Idan sembari meletakkan tasnya di hadapan Eva.
Eva dengan tidak sabaran langsung membuka tas Idan.
"Pa, uang ini?"
"Itu Rion berikan untuk merenovasi kamar Zaza."
"Sebanyak ini?"
"Hum, tapi itu sisa banyak."
"Apa ini akan menjadi milik kita? maksud ku sisanya Pa?"
"Menurut mu? Kau lihat sendiri kan, kita bisa mendapatkan apa saja melalui Zaza. Jadi jangan ceroboh lagi, aku tidak akan segan menelantarkan mu di jalanan. Perlakukan Zaza dengan baik, sekarang ini dia lebih berharga dari mu."
"Baik Pa." ucap Eva. Meski kata kata Idan terdengar kasar, tapi Eva merasa biasa saja, uang di depan matanya telah mengalihkan pikirannya.
"Ini hanya untuk merenovasi kamar?" Gumam Eva, dia tidak habis fikir bagaimana bisa si kejam Rion memberikan uangnya semudah itu.
"Aku harus ke kantor lagi. Turun dan awasi tukang itu!"
Eva mengangguk. "Aku akan mengawasi mereka."
Eva menggandeng tangan Idan, dan menuruni anak tangga bersama-sama.
***
Rion mencoba membuka satu persatu rekaman CCTV yang mengarah ke kamar Mira. Berharap melihat sesuatu yang berhubungan dengan kesembuhan ibunya itu.
Tidak ada tanda tanda bahwa Mira bisa berjalan, bahkan perempuan paruh baya itu tetap duduk di kursi rodanya saat keluar dan masuk ke kamarnya.
"Apa sebenarnya yang ia rencanakan? kenapa harus berpura pura?" batin Rion.
Drrrrrtttt,,,Drrrrrtttt suara ponsel dari tas Rion.
Satu panggilan masuk ke ponsel Zaza.
"Kenapa banyak sekali orang yang mengetahui nomornya? Sangat menggangu." Gumam Rion, mematikan panggilan tersebut.
Tidak berhasil dengan panggilan, orang itu mengirimkan pesan.
08**** : "Za, ini nomor baru aku. Kikan."
08****: "Aku ingin bertemu denganmu, bisa kah kau sebutkan alamat mu?"
Rion yang masih berada di depan layar CCTV mencari keberadaan Kikan di semua sudut ruangan. Tampak Kikan sedang membersihkan kaca di sebelah Utara rumahnya.
"Ini jebakan." gumam Rion.
08*** : "Ada hal penting yang harus aku beritahu padamu Za, tolong kirimkan alamatnya sekarang!"
Semua pesan yang masuk ke ponsel Zaza, di abaikan oleh Rion.
Kecurigaan nya jatuh pada Mira.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya Lagi."
**
Zaza merasa bosan di apartemen sendirian. Setelah mengemasi barang barang yang akan dia bawa ke rumah Idan, Zaza membaringkan tubuhnya di atas sofa.
"Apa yang dilakukan Rion, kenapa dia lama sekali?" gumam Zaza.
Zaza berkali kali mondar mandir, sampai matanya tertuju pada pintu kamar Rion.
Hanya dengan sekali tarik pintu kamar Rion terbuka, pintu itu tidak terkunci.
Ruangan yang di dominasi warna grey, terlihat sangat cantik. Apalagi dengan beberapa lukisan besar yang menggantung di dindingnya, menambah kesan elegan pada kamar itu.
"Waahhhh, pantas saja dia betah di sini, ternyata di sini sangat menyenangkan."
Zaza menuju balkon, sekali lagi ia terperangah melihat kolam renang yang berada di hadapannya.
Setelah merasa cukup lama di sana, Zaza kembali menyusuri kamar Rion.
Termasuk walk in closet nya.
Seperti sedang menyelidiki sesuatu, tangan Zaza tidak berhenti membuka satu persatu benda yang ia temukan. Baik itu kotak maupun laci.
Zaza mengehentikan langkahnya saat kakinya menginjak lantai dengan bunyi yang berbeda.
Tuk,,tuk,,tuk,, ia mengetuk lantai yang lain dan membedakan suara nya.
"Sepertinya ada sesuatu di sini." batinnya."Tapi bagaimana cara membukanya?"
Zaza berusaha membukanya. Satu kali, dua kali, sampai berkali kali ia mencobanya namun lantai tersebut tidak terbuka.
Semua cara sudah ia coba untuk
membukanya, namun tidak satupun yang membuahkan kan hasil. Karna kesal Zaza menghentakkan kakinya di satu lantai yang berbeda.
Takk,,,, lantai kosong itu tiba tiba terbuka.
Zaza menutup mulutnya kaget, dengan perlahan ia mendekati sebuah kotak berwarna hitam yang ada di dalam.
"Bagaimana jika ini Bom?" gumamnya.
Meski ragu ragu, Zaza membuka perlahan tutup kotaknya, hingga dapat melihat isi kotak tersebut.
Beberapa pistol dengan merek dan bentuk yang berbeda ada di dalamnya.
Zaza memperhatikan benda benda itu dengan tatapan tak terbaca.
Entah apa yang ada di dalam pikirannya, ia mengambil satu dan menyembunyikan di dalam bajunya.
Secepat mungkin Zaza menutup kembali kotak itu, dan berlalu meninggalkan kamar Rion.
"Sayang?"
"Aaaawwwww." Zaza terduduk lemas karena kaget.
"Sayang, ada apa? apa aku mengagetkanmu lagi? maafkan aku." ucap Rion ingin memeluk Zaza, tapi secepat mungkin Zaza mengangkat tangannya sebagi tanda agar Rion berhenti.
Zaza mengatur nafasnya lebih tenang sembari mencari alasan agar Rion tidak mencurigai nya.
"Sayang."
"Aku tidak apa apa Hon."
"Hmmm, sayang, apa yang kamu lakukan di kamarku?" tanya Rion mengusap keringat di dahi Zaza.
"Aku hanya ingin melihat lihat, tapi----."
"Tapi???"
"Aku melihat kolam renang mu, dan aku ingin berenang di sana."
"Kamu ingin berenang?"
"Hum."
"Ayo kita berenang." ajak Rion sembari membantu Zaza berdiri.
"Aku harus mengganti pakaianku dulu." jawab Zaza.
"Ah iya,, aku lupa. Gantilah! aku akan menunggumu di kamar."
"Iya."
***
Zaza membungkus rapi pistol yang baru ia dapatkan menggunakan koran, kemudian membalut nya dengan baju yang akan di bawanya ke rumah Idan.
Setelah siap dengan pakaiannya, Zaza keluar dan kembali masuk ke kamar Rion.
"Hon."
"Di siniiiiii." suara Rion berasal dari kolam renang.
Senyuman Rion mengembang ketika melihat Zaza memakai hotpant dan tank top berwarna hitam.
"Sayang, kamu mencoba menggoda ku?"
Zaza tertawa, "Kamu tergoda?"
"Tentu saja, kemarilah! aku akan mengajarimu berenang."
Zaza menunduk memegang pundak Rion, sementara tangan Rion memegang pinggang Zaza dengan kedua tangannya kemudian mengangkat nya ke dalam air.
Rion menatap Zaza dengan niat menggoda.
Tangannya yang tadi ada di pinggang, kini menelusuri punggung kekasihnya itu.
"Jangan coba coba mengambil kesempatan!" ucap Zaza, menyiramkan air ke wajah Rion.
Rion mendngus kesal " Cih,,, sayang."
"Tidak boleh."
"Sayangggg."
"Ajari aku berenang!"
"Tau kamu memakai ginian, aku juga lebih baik memakai CD saja tadi." ucap Rion, menarik tali tank top Zaza.
"Kenapa tidak memakainya?"
"Kamu ingin aku memakainya?"
"Hahahaha, aku bercanda hon." ucap Zaza, melirik pada boxer Rion yang setinggi lutut.
"Jangan mengejek, aku hanya tidak ingin kamu takut saat menatapku, seperti waktu itu."
"Tapi kamu sangat tampan saat mengenakannya."
"Benarkah?? tunggu di sini! aku akan menggantinya."
"Hahahaha, tidak tidak, aku hanya bercanda."
"Cih,, kamu ini."
"Hon, katanya mau mengajariku berenang. Ayo ajari."
Rion memonyongkan bibirnya, "Kiss dulu."
"Cih,,, selalu saja."
"Ayo lakukan!"
Zaza melakukan.
Satu kecupan ia daratkan di bibir Rion.
"Sudah."
"Bukan seperti itu sayang."
"Lalu." tanya Zaza polos.
Dalam hati Rion sangat senang, pertanyaan Zaza ada lah kesempatan baginya.
Rion menarik tengkuk Zaza, lalu mencium bibir kekasihnya itu. Satu menit, dua menit, tiga menit, Zaza mendorong dada Rion yang masih sibuk dengan bibirnya.
Zaza ngos ngosan setelah menahan nafasnya cukup lama.
"Begitu sayang." ucap Rion. "Sekarang waktunya mengajarimu berenang." lanjutnya dengan tawa yang tertahan di mulutnya.
******"
**Like ya readers.🤗🤗
Vote
Rate 5 juga**.