I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 2. hancur



🌷Selamat membaca🌷


"Bu, apa yang terjadi? kenapa Ibu terluka?"


Bu Lia yang berjalan tertatih kaget melihat keberadaan putrinya disana. Dengan buru-buru dia menarik tangan Zaza bersembunyi kesemak semak diantara pohon kelapa yang berada tidak jauh dari rumahnya.


"Za, jangan tanyakan apapun, cepat pergi dari sini, sebelum mereka menemukan kita."


"Tidak Bu, ayo kita pergi bersama- sama. Aku tidak akan meninggalkan ibu disini sendirian, aku akan-----"


"Diamlah, dengarkan Ibu. Sekarang pergi dari sini, pergi yang jauh. Jangan ceritakan apapun yang kau lihat, pura-pura lah tidak melihat semua ini.


Kalau tidak, dia juga akan membunuhmu."


"Membunuh kita?? dia siapa Bu?"


"Didalam ada--------"


Merasa tidak ada waktu untuk bercerita panjang lebar, Bu Lia memeluk tubuh anaknya.


"Pergilah, jalan dengan perlahan, jangan sampai mereka menemukanmu. Satu lagi, jangan percaya pada siapapun." Bisik Bu Lia.


Dengan penuh kasih sayang Bu Lia mencium kening putrinya. Air mata nya tumpah tanpa suara dari Mulutnya.


Zaza yang masih syok dan menyimpan banyak pertanyaan dibenaknya hanya bisa diam. Di saat yang sama mereka dikejutkan suara langkah kaki menuju kearah persembunyian mereka.


Bu Lia mendorong putrinya dengan sangat pelan. Dengan berat hati Zaza berjalan perlahan sambil berjongkok meninggalkan ibunya. kakinya sudah tidak kuat.


Tenaga nya hilang begitu saja. Dengan merangkak Zaza smpai di salah satu pohon kelapa, dia menyenderkan tubuhnya disana. Tidak jauh dari Bu Lia.


Pasrah, saat ini dia sudah pasrah jika memang dia ditemukan oleh para penjahat itu. Baginya akan lebih baik mati bersama orang orang yg dia sayangi, daripada hidup sebatang kara. Dengan sangat jelas Zaza masih bisa melihat wajah Ibunya yg menahan sakit dari persembunyiannya.


"Cik,,,cik,,,cik.. ternyata kamu disini. Apalagi yang bisa kau lakukan sekarang? masuk lah kedalam bergabung dengan suami dan anakmu. Setidaknya kalian tetap bersama- sama, kau juga tidak kesepian." ucap seorang laki-laki yang berdiri dihadapan Bu Lia.


Dengan cepat wanita paruh baya itu berdiri. Dia harus cepat pergi dari sana. Jangan sampai pria itu menyadari apa yang dia sembunyikan. Mengikuti langkah kaki panjang didepannya, membuat Bu Lia tertinggal dibelakang.


Abrion lah yang sekarang berjalan didepannya.


"Kau benar-benar membuang waktuku."


pria itu berbalik dan menarik lengan Bu Lia


"Seandainya kalian tidak serakah, ini tidak akan terjadi, kalian menerima uangnya dan tidak menandatangani surat jual beli, bukankah kalian sangat licik?"


"Kami tidak mene--------"


doorr... peluru menembus dada kiri nya,


bugh ...tubuh Bu Lia jatuh seketika.


melihat itu,


Abrion terlihat sangat kesal, bagaimana tidak malam yang sepi tiba-tiba ada suara tembakan, membuat telinga nya berdengung.


"Hei kau ingin membuatku tuli?"


ucap Rion pada seseorang yang berdiri di pintu belakang rumah Zaza, yang sengaja melesatkan peluru nya.


"Cepat bereskan ini, kau membuatku makin muak."


Rion berjalan dengan sombongnya meninggal kan rumah Zaza.


Zaza?? bagaimana dengan Zaza?.


Pada nyatanya dia melihat semua yang terjadi pada ibunya.


berteriak? menangis? tidak.


Tidak ada suara yg bisa dia keluarkan dari mulutnya. Lidahnya kelu, dia benar benar tidak kuat lagi.


Pandangannya mulai buram, semua terasa berputar-putar. Semakin gelap dan akhirnya Zaza tidak sadarkan diri.


*****


dahinya mengernyit menahan silau yang ikut mengganggu tidurnya, dan memegang kepalanya yg begitu sakit.Sambil


memperhatikan tempatnya Sekarang.


"ada apa denganku?" kenapa malah tidur disini? apa Ibu mengusirku?"


"Ibu,,ibu?"


Sadar akan apa yang terjadi, Zaza berdiri dan berlari menghampiri rumahnya.berharap semua hanya mimpi buruk. Tapi


disana orang-orang berkumpul, mengelilingi abu rumah Zaza. Ya, rumahnya terbakar hangus. lebih tepatnya dibakar.


Banyak dari mereka yang menangis.


Melihat Zaza datang, Istri pak Diman yang tidak lain adalah tetangganya langsung memeluknya.


Air mata yang ditahannya langsung keluar begitu saja.


"aaaaaaaaaaa.." Melihat keadaan rumahnya, membuat Zaza histeris, terduduk bertumpu pada kedua lutut sambil menjambak rambut nya sendiri. Menyesali dirinya yang tidak bisa berbuat apa apa saat keluarganya sekarat ditangan para bre**sek itu.


"Aaaaaaaaaaa,,,,, aaaaaaaaaaa." Dia terus berteriak. membenturkan kepalanya ketanah. Warga yang melihatnya seperti itu tidak tega.


Mereka mencoba menenangkannya, mencoba memeluknya.


"Za, ikhlas kan mereka, ini musibah Za."


"Nak tenangkan dirimu, jangan seperti ini."


"Kami akan jadi keluarga mu."


"Kami akan menjagamu."


"Sabar Za, mereka akan sedih melihat mu seperti ini."


Semua kata-kata itu seperti angin lalu bagi Zaza. Dia terpuruk, hancur, sangat hancur kehilangan orang-orang yang dia cintai secara bersamaan membuatnya seperti akan gila.


Bagaimana dia akan hidup, bahkan dia tidak pernah berpisah dengan keluarganya walau sehari. Dan sekarang dia sendirian menjadi sebatang kara.


Dari keramaian, seseorang berlari menghampiri Zaza. Memeluknya dengan sangat erat. Dia adalah Idan.


"Za, apa yang sebenarnya terjadi?


kenapa tidak menghubungi paman."


"Huuuh,,uuhuu,,uhuuu Paman,,Ibu ,,Ibu. Mereka Paman hiks ,,hiks mereka pergi hu uuhu hu.."


Isak Zaza.


Melihat keadaan keponakannya, Idan merasa sangat kasihan, dia terus memeluk dan mengusap usap punggung nya.


"Sekarang ayo berdiri, ikutlah dengan paman."


Idan membantu nya berdiri dan membawa nya ke mobil.


"Ikutlah kerumah paman, disana ada Bibi( istrinya Idan).


Kami yang akan menjagamu. Semua akan baik baik saja, sekarang tenanglah."


Sebelum melajukan mobilnya,


Idan memberikan air mineral yang ada di mobilnya untuk Zaza.


"minumlah dulu."


Zaza mengangguk sembari meraih botol dari Idan.


******