
π·Selamat membaca,π·
Kedua mata Zaza melotot pada Leo. Setelah Leo mengatakan tujuan mereka ke butik itu.
Dia tidak melakukan apa yang leo perintahkan padanya. Malah sekarang dia kembali ke mobil. Leo yang sudah putus asa mencoba menghubungi bosnya. Tapi tidak ada jawaban.
mencoba menarik nafas dan membuang nya dengan kasar. Beberapa kali Leo melakukan itu untuk menurunkan emosinya.
"Ayolah, kau hanya disuruh memilih gaun untukmu, bos yang akan membayar nya." ucap Leo frustasi.
"Setelah aku mengenakan nya kalian akan membunuhku kan?"
"Tidak, Tuan Rion hanya ingin membawamu ke pesta."
"Pesta kematian ku? kalian akan berpesta setelah aku mati?"
"Sudah berapa kali aku katakan, itu pesta pernikahan bukan-------"
Drrttttt,, drrttttt panggilan di ponsel Leo Menghentikan perdebatan mereka berdua.
Antara senang dan takut Leo mengangkat telponnya.
"Halo Tuan."
". ............"
"Aku sudah mencobanya Tuan, tapi dia tidak menuruti ku."
"..........."
"Maafkan saya Tuan." Panggilan terputus. Sekali lagi Leo membuang nafasnya.
Walau dimaki oleh Rion, setidaknya tugas yang diberikan padanya akan berakhir. Rion akan menyusul mereka ke butik.
Melihat mobil Rion, Leo segera turun menyambut kedatangan bosnya tersebut.
"Tuan maafkan aku."
"Kau tidak berguna." ucap Rion menendang tulang kering Leo.
Leo hanya bisa menunduk menahan kesakitan.
Rion menghampiri mobil yang Leo gunakan, membuka pintu dan menatap datar mata Zaza.
"Ayo turun." ucap Rion dengan sangat lembut.
Dan tentu saja itu membuat Zaza kaget.
Seperti terhipnotis Zaza mengikuti langkah pria itu memasuki butik tersebut.
"Pilihlah apa yang kau suka." lanjutnya.
"Ada apa dengan mu? kau membuatku merinding." jawab Zaza
"Aku ingin membawamu ke pesta pernikahan anak dari rekan Bisnisku dan aku tidak punya pasangan, aku meminta bantuanmu untuk menemaniku."
"Kau meminta bantuan ku? wah ini seperti mimpi. Tapi baiklah, gaun seperti apa yang harus kupakai? aku belum pernah menghadiri pesta pernikahan. Bisa kau pilihkan?"
"Baiklah." jawab Rion.
Mereka memilih beberapa gaun untuk dicoba.
Setelah mencobanya pilihan Rion jatuh pada gaun warna biru muda tanpa lengan. Hanya setinggi lutut Zaza. Sangat cantik saat dikenakan olehnya.
Setelah membayarnya Rion berniat mengantarkan Zaza pulang, tapi sesuatu terpikir dikepalanya. Rion melirik ke arah Zaza yang duduk disampingnya. Dia tiba tiba menghentikan mobilnya dipinggir jalan.
"Ada apa, kenapa berhenti?" tanya Zaza
"Aku berterima kasih padamu, karna kau sudah mau membantuku." ucap Rion. Nada suaranya masih sama, lembut.
Zaza menyadari ada yang aneh dari sifat Rion yang tiba-tiba lembut padanya. Tapi mengingat apa yang di bicarakan Rion dan Mira membuatnya sadar mungkin Rion sedang memainkan perannya.
Zaza pun tersenyum lebar.
"Hanya terimakasih?"
"Kau menginginkan yang lain? uang, rumah, mobil?"
"Hahahaha, tidak. Saat ini aku tidak menginginkan semua itu. Bagaimana kalau hari ini kau mengikuti kemauan ku?" ucap Zaza.
Rion terdiam sejenak menatap wajah Zaza. Dia berfikir gadis ini akan menghilang sebentar lagi, jadi tidak masalah baginya untuk mengikuti apa yang Zaza mau. Rion senyum sembari mengangguk kan kepalanya.
"Ok, hari ini aku mengikuti kemauan mu."
****************
Dan disinilah mereka. Duduk dipantai tanpa menggunakan alas, membiarkan ombak menyapu ujung kakinya.
"Kau menyukai pantai." tanya Zaza
"Tidak, tapi mama menyukainya."
"Apa yang kau sukai?"
Keduanya terdiam. Suasana terasa canggung.
terutama Rion. Ada sesuatu yang menggangu pikiran nya. Melihat Zaza yang banyak diam tidak seperti biasanya membuatnya ingin tau apa yang gadis itu pikirkan.
"Apa yang kau pikirkan?"
"Banyak." jawab Zaza tetap memandang jauh kedepan.
"Salah satunya?"
"kamu."
"Aku???" tanya Rion. Mendengar jawaban Zaza, dia yakin sifat asli gadis itu sudah kembali.
"Ya kamu, kenapa kau tidak menyukaiku?" ucap Zaza melihat ke arah Rion dan mendekatkan wajah mereka.
"Kenapa aku harus menyukaimu?"
"Huh,, Percuma bicara dengan mu. Eh tunggu, kau sudah janji mengikuti kemauan ku bukan?"
"Tidak untuk menyukaimu, kau tidak bisa memaksaku."
"Aku tidak menyuruh mu menyukaiku."
"Lalu??"
"Ayo pacaran hari ini. Jika kau menolak, aku akan membuang gaun itu Sekarang."
Rion tidak bisa menolak lagi. Jika tetap menolak, rencana untuk menghabisi gadis itu akan gagal.
"Baiklah, apa yang harus kita lakukan?"
"Begini." ucap Zaza. menempelkan telapak tangan dan menyatukan jemari mereka.
Rion tidak menolak, dia mengikuti dengan baik instruksi dari Zaza.
"Aku melihat di tv sepasang kekasih harus memanggil sayang. Sekarang panggil aku sayang!"
"Apa??" suara Rion meninggi.
"Bukan apa, tapi sayang, s a y a n g, sayang. Ayo ucapkan." Zaza sengaja mengeja dan menekankan kata sayang.
"Sa, yang." ucap Rion. Entah apa yang membuatnya begitu bodoh saat ini.
Zaza tertawa sambil menarik tangan Rion agar berdiri. Mereka berjalan sambil berpegangan tangan seperti sepasang kekasih pada umumnya.
Seperti terbawa suasana, Rion mengangkat Zaza dan membawanya masuk ke air.
"Aaaa, jangaaaan. Aku tidak bisa berenang." ucap Zaza berusaha untuk kabur.
Rion yang tidak kalah cepat, ia memeluk pinggang Zaza dari belakang membawanya kembali kedalam air. Menghempas-hempaskan tubuh Zaza, namun tidak melepaskan pelukannya. Tawa yang keluar dari mulut keduanya tampak tulus.
Asik bergurau sampai mereka tidak menyadari matahari mulai terbenam. Zaza yang menyadari terlebih dahulu. Ia mencoba melepaskan tangan Rion dari perutnya.
"Inii sudah sore, kita harus pulang." ucap Zaza.
Wajah Rion seolah tidak rela tapi Rion tetap melepaskan tangannya dan pergi mendahului Zaza.
Dalam keadaan basah keduanya menaiki mobil.
Zaza yang menggigil hingga bunyi giginya kedengaran.
"Kau kedinginan?" tanya Rion
"Sudah tau nanya." balas Zaza.
Rion melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Membuat Zaza ngeri sekaligus mual.
"Kau ingin bunuh diri?"
"Tidak, aku juga kedinginan. Aku ingin kita cepat sampai."
"Pelankan mobilnya atau aku akan muntah dibajumu!"
"Aku akan menurunkan kan mu dijalan jika itu terjadi." jawab Rion
Mendengar ancaman itu, Zaza langsung terdiam. Tidak ada obrolan lagi, sampai mereka memasuki gerbang. Begitu mobilnya berhenti, Zaza langsung turun dan masuk menuju ke kamarnya.
Rion yang masih didalam mobil, diam memperhatikan gadis itu sampai menghilang dari pandangannya.
Ada perasaan yang baru kali ini dia rasakan.
tapi karna sifat masa bodo nya, dia tidak begitu memikirkan nya. Baginya mengumpulkan kekayaan lebih penting dari apapun.
*D**i like, like , rate, vote
pokok e tinggalkan jejak ya para readers πππππππππ.
kasih saran juga boleh*.