I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 26. bos setan



*S**elamat membaca*


*


*


*


Saat Rion masuk ke kamar Zaza, Idan langsung kembali ke kamarnya untuk memberitahu Eva tentang kedatangan Rion.


"Papa gak bohong kan?"


"Nggak, sekarang Mama harus bangun


bantu Rosi menyiapkan makanan. Mungkin Tuan Rion akan sarapan disini."


"Ini kesempatan buat kita Pa, kita harus menunjukkan pada Rion bahwa kita sangat menyayangi Zaza. Mama akan datang ke kamarnya sekarang. Akan lebih baik jika bisa menangkap basah mereka. Dengan itu kita bisa mendesak Rion agar menikahi Zaza secepatnya, hihihi " ucap Eva kegirangan.


"Apa Mama akan terus menerus menghayal."


"Ini bukan hayalan Pa."


"Kalau begitu bangun dan siap siap lah. Jangan hanya membicarakannya saja, tapi tidak melakukan apa-apa." ucap Idan


"Oh iya." jawab Eva. Dia segera beranjak dari ranjangnya menuju kamar mandi.


Eva begitu terburu-buru menyelesaikan kegiatannya. Senyum licik tidak luntur di bibirnya.


Setelah memberi perintah pada Rosi untuk menambah menu makanan pagi itu. Eva berniat menjalankan rencana. Dia


berdiri didepan kamar Zaza sembari menempelkan telinganya di pintu.


Eva mendengar suara tawa laki laki, yang bisa ia pastikan bahwa itu adalah suara Rion. Senyumnya makin mengembang.


Sebelum membuka pintu, Eva mengatur mimik wajahnya seolah olah sedang terkejut.


Dan bersiap membuka pintu.


Namun baru saja memegang gagang pintu, tiba-tiba pintunya ditarik dengan kuat dari dalam. Sehingga membuat Eva terseret dan tersungkur dikamar Zaza. Wajah yang sudah diatur sedemikian rupa, hilang digantikan dengan raut menahan malu.


Zaza terkejut dan sempat terdiam melihat Eva. Begitu juga dengan Rion.


Beberapa detik mereka diam, Rion mendekat sembari berjongkok dihadapan Eva.


"Kau menguping?" tanya Rion.


Eva memberanikan diri menatap Rion. Kemudian kembali menundukkan kepalanya. Sekarang ia percaya pada Idan. Ternyata selama ini apa yang diucapkan suaminya itu benar. Rion tidak pernah mengubah cara bicaranya pada siapapun. Dia selalu mengintimidasi setiap lawan bicaranya.


"Bibi tidak apa-apa?" sambung Zaza. Dia membantu Eva untuk berdiri.


"Eh,, tidak apa-apa. Bibi kemari ingin mengajakmu sarapan. Bibi tidak tau kalau kamu lagi bersama dengan Tuan Rion." ucap Eva.


"Bibi?? sayang, ini Bibi mu?"


"Iya, ini Bibi. Istrinya Paman Idan." jawab Zaza.


"Ooh. Kirain pelayan dirumah ini." ucap Rion tanpa merasa bersalah.


"Issss, bicara yang sopan bisa nggak?"


ucap Zaza mencubit pinggang Rion.


Rion hanya tertawa tapi matanya terus menatap pada Eva.


"Tidak apa-apa Tuan. Oh iya Za, kamu belum mandi?" tanya Eva.


"Belum Bi, ini baru mau mandi."


"Kalau begitu cepat mandinya, bibi akan menunggumu, kita sarapan bersama." ucap Eva.Tangannya mencoba merapikan rambut Zaza yang berantakan.


Zaza mengangguk lalu beranjak ke kamar mandi.


Suasana mencekam dirasakan oleh Eva. Rion yang menatapnya sejak tadi tetap tidak memutuskan pandangannya.


"Tuan, mari kita sarapan." ucap Eva mencoba mencairkan suasana.


"Apa kau benar benar tidak tau kalau aku ada disini?"


"Ti, ti, tidak tuan, saya benar benar tidak tau." jawab Eva terbata bata.


"Idan tidak memberitahu mu?"


Eva terdiam. Dia tidak tau harus menjawab apa. Dia merutuki dirinya sendiri yang berbicara tanpa memikirkannya terlebih dahulu.


"Cih, aku berharap kau benar benar memperlakukan Zaza dengan baik, bukan karena kau punya niat lain padanya." lanjut Rion


"Maksud tuan?"


"Kau menanyakan maksudku? aku sudah banyak bertemu dengan orang orang licik seperti mu." jawab Rion.


"Tuan boleh menilai saya seperti apa, tapi Zaza adalah keponakan kami satu satunya. Kami menyayanginya seperti anak sendiri dan saya harap tuan tidak punya niat untuk mempermainkannya."


Ucap Eva tidak mau kalah. Baginya ini adalah kesempatan bisa berbicara langsung dengan Rion. Dia juga berniat mengetahui perasaan Rion yang sebenarnya terhadap Zaza.


Mendengar perkataan Eva, Rion mencebik.


Senyuman dan tatapan merendahkan dia lemparkan pada Eva.


"Apa yang kau pikirkan tentangku, Bi,,,,,bi?"


tanya Rion menekan kan kata bibi.


"Tuan, saya hanya tidak ingin Zaza tersakiti, dia sudah sangat menderita saat----------."


"Saat dia tau kau pura pura menyayanginya." lanjut Rion menyambung kata kata Eva.


"Terserah tuan bilang apa, tapi kami akan menikahkan Zaza dengan laki laki yang benar benar mencintainya. Kami sudah punya calon untu-------."


Prankkkkk,,,,,Rion melemparkan vas bunga hampir mengenai kepala Eva.


Seketika suara Eva tercekat, jangankan teriak untuk mengeluarkan napas yang sempat ditariknya pun terasa susah.


"Argghhh,, aku sangat buruk dalam melempar, bagaimana bisa dengan jarak sedekat ini lemparanku meleset?" ucap Rion mengusap kasar wajahnya.


Eva tidak berani berkutik, keberaniannya hilang seketika, kakinya sulit digerakkan.


Ia memejamkan matanya berharap seseorang datang menolongnya.


Seakan Dewi Fortuna ada dipihak Eva, Zaza tiba-tiba keluar dari kamar mandi.


"Ada apa ini?" tanya Zaza.


Mendengar suara benda hancur, membuat Zaza buru buru keluar. Bahkan dia tidak sadar hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya.


"Bibi tidak apa-apa? " ulang Zaza.


Eva merasa sangat lega dengan kedatangan Zaza. Dia menunjukkan senyum terpaksa dan kemudian mengangguk.


"Bibi baik baik saja, Bibi tunggu di meja makan ya." ucap Eva beranjak keluar. Kakinya yang semula susah bergerak dapat melangkah cepat meninggalkan kamar Zaza.


Zaza mengernyitkan dahinya dan kemudian menatap Rion.


"Apa yang terjadi?"


"Tidak ada" jawab Rion, senyum tipis tersungging di bibirnya.


"Lalu apa ini?" tunjuk Zaza pada pecahan vas bunga yang berserak dilantai.


Rion hanya menggeleng gelengkan kepala. Dia senyum senyum menatap Zaza.


"Apa yang kau lihat? keluar sana! aku ingin berpakaian." ucap Zaza.


Setelah mengucapkannya, Zaza tiba-tiba terdiam. Saat ini dia sadar apa yang membuat Rion menatapnya.


Secepat kilat Zaza menyambar selimut dan menutupi tubuhnya.


"Dasar mesum, kenapa kau tidak bilang dari tadi?"


"Hahahaha, aku harus bilang apa sayang? aku pikir kamu sengaja menunjukkannya. Bisa turunkan selimutnya?"


"Keluar atau aku tidak akan menemuimu selamanya." ucap Zaza.


Rion menghentikan tawanya mendengar ucapan Zaza. Wajahnya berubah serius.


"Jangan coba coba melakukannya, kamu boleh pergi setelah ini tidak lagi menginginkan mu." jawab Rion menunjuk letak hatinya.


Dia keluar dan membanting pintu kuat kuat.


Zaza tidak menanggapi perkataan Rion.


dia santai mengenakan pakaiannya satu persatu. Setelah bersiap, dia menyusul ke meja makan.


*


*


*


Dimeja makan semua orang bersikap seolah tidak terjadi apa-apa. Idan tetap berbincang dengan Zaza. Dan Rion juga terus menerus menggoda Zaza. Hanya Eva yang diam, dia sibuk dengan pikirannya sendiri.


Tidak dipungkiri, tindakan Rion yang melemparkan vas bunga padanya malah membuat hatinya senang. Walaupun pada awalnya dia sangat ketakutan.


Tapi dengan begitu dia bisa melanjutkan Rencananya untuk memanfaatkan Zaza.


Pagi itu Eva mengantarkan Zaza sampai ke mobil Rion.


"Tuan tolong jaga Zaza, kami mempercayakan dia pada anda." ucap Eva.


"Sayang sudah siap? ayo berangkat." ucap Rion. Seolah Eva tidak ada disana. Zaza belum sempat berbicara apa-apa. Namun Rion sudah melajukan mobilnya.


Dia melihat Eva dari sipion. Perempuan paruh baya itu sedang memaki dan memukul mukulkan tangannya ke arah mobil Rion.


Tanpa bertanya, semua orang juga pasti tau apa yang dilakukan Eva saat ini.


"Hahahaha haha." tawa Rion pecah melihatnya. Dia yakin dengan tebakannya, bahwa Eva adalah perempuan licik.


"Kau kesurupan? " tanya Zaza.


Sebenarnya dia kesal melihat kelakuan Rion yang tidak punya sopan santun sama sekali terhadap Paman dan Bibinya.


"Sepertinya iya sayang, tolong bantu aku." jawab Rion.


"Eh, tapi Kau tidak mungkin kesurupan, setan mana yang berani merasuki bosnya sendiri."


"Hahahah. Jadi maksudmu aku bos setan? baiklah sayang, kalau begitu bos setan ini akan merasukimu, hihihi." ucap Rion menirukan suara Kunti.


"Hentikan itu, aku tidak sedang bercanda."


"Baik tuan putri, sekarang katakan apa yang membuatmu kesal."


"Aku tidak kesal."


"Lalu apa yang kamu rasakan, kenapa wajahmu cemberut seperti itu?"


"Bisa nggak bersikap lebih sopan pada orang yang lebih tua." ujar Zaza.


"Apa harus?"


"Harus."


"Tapi aku belajar darimu sayang."


"Ha??"


"Kamu selalu menyebut namaku dan berbicara tidak sopan padaku." jawab Rion.


Zaza kehabisan kata-kata. Jka biasanya Rion yang tidak bisa berbuat apa-apa, sekarang malah kebalikannya.


Berikan kritik dan saran


yang penting jangan bully


***like,, like, like.***