I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 22. emosi



*S**elamat membaca*


Pulang dari rumah sakit, Idan tidak langsung berangkat ke kantor. Dia bertemu dengan seseorang di sebuah kafe.


Tanpa basa basi, orang itu langsung menyemprotnya.


"Kau memberiku informasi yang salah."


"Maaf tuan, mereka mengubah rencana tanpa melibatkanku." jawab Idan mendarat kan tubuhnya dikursi.


"Juga rencana kepulangan Rion? bukankah kau yang akan menjemputnya di bandara malam itu, bagaimana bisa mereka membatalkannya tanpa memberitahumu. Kuperingatkan jangan bermain main denganku!."


"Aku tidak tau apa yang membuatnya berubah pikiran. Leo bilang saat itu Rion sudah berangkat dari penginapan menuju bandara, setelah itu tidak ada informasi apa2 lagi."


"Sepertinya kau tidak begitu dipercaya oleh mereka. Percuma bekerjasama denganmu, pergilah!"


"Tapi Tuan."


"Pergi! Kau bisa menghubungi ku jika punya informasi menarik."


Idan meninggalkan kafe dengan kesal dan berangkat ke perusahaan. Hari ini dia masih tetap sendiri karena Leo akan menjemput Rion.


Kerja keras dan kelihaian idan memang pantas diakui. Sehingga semua urusan berjalan mulus. Walaupun beberapa klien sempat meminta ingin bertemu langsung dengan pemilik perusahaannya, tapi bisa diurus dengan baik olehnya.


Iapi siapa yang mengira, dibalik semua itu ternyata Idan mempunyai niat tersembunyi.


Jika selama ini Rion tidak pernah membutuhkan sekretaris. Saat ini Idan sangat memerlukannya. Dua hari sejak Rion menghilang, Idan langsung mengangkat salah satu karyawannya menjadi sekretaris. Yola, 24 tahun, menjadi sekretaris yang mengurus semua jadwal idan.


Yola memasuki ruangan Idan, setelah beberapa kali mengetuk pintu.


"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda." ucap Yola.


"Suruh masuk." jawab Idan.


Begitu melihat siapa yang datang, Idan langsung menyuruh Yola keluar.


"Mama ngapain kesini?"


"Emang kenapa, bos papa juga lagi gak ada kan. Gimana? papa berhasil gak?" jawab Eva


"Jangan bahas itu disini!."


"Pasti gagal. Bukannya papa bilang akan bekerjasama dengan---------"


"Kuatkan suaramu, agar semuanya tau,


kau ingin menggahabisiku? ha??? Membicarakannya disini sama saja kau ingin membunuhku. Jika kau tidak ingin itu terjadi


pulanglah dan tunggu dirumah." ucap Idan pelan namun menekankan semua kata katanya penuh emosi.


Melumpuhkan Rion bukanlah hal yang mudah bagi banyak orang. Apalagi menghabisinya. pasti akan sangat sulit. Walau banyak memegang rahasia Rion dan perusahaannya, Idan tetap tidak ingin gegabah dalam melancarkan aksinya.


Merasa kesal dengan suaminya


Eva keluar dan membanting pintu dengan kuat. Beberapa mata melihat kearahnya.


Tanpa mempedulikannya, Eva terus menggerutu sembari menghentak hentakkan kakinya meninggalkan ruangan Idan.


Dia tidak sabar menunggu suaminya dapat menguasai perusahaan Rion.


Agar bisa dipamerkan pada teman-temannya.


***********


**************


***********


Dipulau.


Pagi ini Zaza kelihatan lebih segar setelah mandi. Seminggu badannya hanya dilap membuatnya benar-benar tidak tahan dengan rasa gerah dan lengket.


Sebenarnya hanya lukanya yang tidak boleh terkena air, tapi karena Zaza beberapa kali demam, Bu Ati melarangnya untuk mandi.


Hubungan Rion dan Zaza berjalan dengan baik.


Perasaannya juga semakin hari semakin dalam terhadap Zaza. Yang mana malah membuat sifat posesifnya tumbuh tanpa disadari. Contohnya seperti sekarang ini, saat zaza sedang memperhatikan beberapa orang nelayan yang sedang mengikat sampannya.


"Ayo pulang, disini panas." ajak Rion menggenggam tangan Zaza.


"Panas?? Disini teduh tidak ada panas." ucap Zaza merasa heran. Tempat yang mereka duduki saat ini sangat teduh. Pohon rindang itu benar-benar menghalangi sinar matahari menyentuh apapun yang ada dibawahnya.


"Mataku panas. Ayo, kita duduk di belakang rumah pak Agus saja."


"Panas kenapa?, ada sesuatu yang masuk? coba sini aku liat!"


"Mataku panas karena kamu terus memperhatikan mereka, kenapa kamu tidak mengerti?"


"Hah?"


"Ayo pulang!" lanjut Rion.


"Tidak mau. Aku bosan dirumah terus" jawab Zaza seolah ingin menangis, dia kesal dengan Rion yang mengajaknya pulang.


"Huuuuuuuuufffff, baiklah, tapi jangan melihat mereka seperti itu."


"Seperti apa?"


"Sudah lah, kamu ingin jalan jalan?"


"Tidak, aku masih mau disini."


"Kamu ini gadis kecil keras kepala."


"Terserah." ucap Zaza.


Rion tersenyum mengelus elus rambut Zaza, walaupun dia bukanlah orang yang bisa mengendalikan emosinya dengan baik, tapi saat ini dia tidak terpancing sedikitpun akan sikap gadis yang baru menjadi kekasihnya itu.


"Rion."


"Jangan terus memanggil namaku, aku jauh lebih tua darimu."


"Jika kita pulang, apa kau akan tetap seperti ini? bagaimana jika Nyonya tidak menerimaku??"


Apa yang dia ucapkan memang tidak sepenuhnya bohong. Mira menyukai semangat Zaza dalam mengurusnya.


Zaza tersenyum simpul, dia tau Rion berbohong padanya. Zaza tidak akan semudah itu mempercayai ucapan Rion. Mengingat apa yang pernah dia dengar sebelumnya.


"Aku sangat yakin dengan apa yang kurasakan saat ini. Aku memang tidak bisa menjanjikan apapun padamu, tapi biarkan ini mengalir dan aku akan berusaha melakukan yang terbaik untukmu.


Sekarang lihat aku.


Kau yakin bisa bertahan di sampingku???"


"Yakin tidaknya aku semua tergantung usahamu. Jika kau mempertahankanku, aku pasti bertahan."


"Sebenarnya berada disampingku akan sangat membahayakanmu. Banyak musuh diluar sana yang sedang mencari kelemahanku, dan aku tidak ingin kamu terluka oleh mereka. Jadi sekarang kamu harus lebih menurut padaku! apapun yang kulakukan nanti, jangan membantah, jangan pergi dari ku. Oercaya saja semua itu demi kebaikanmu ok?"


"Bagaimana jika kau pergi bersama wanita lain?"


"Hmmmmmm." Rion pura pura berpikir, mencoba menggoda Zaza, entah kenapa dia senang Zaza menanyakan hal itu. Apalagi melihat ekspresi Zaza yang tidak sabar menunggu jawabannya.


Beberapa menit tidak dapat Jawaban, Zaza kesal.


"Pulang yok, dingin." ucap Zaza, dia berjalan lebih cepat meninggalkan Rion.


"Heii mau kemana, tunggu. Aku belum menjawabnya."


Rion dengan cepat mengejar dan meraih tangan Zaza.


Tidak ada penolakan, tapi Zaza enggan melirik padanya. Keduanya berjalan sembari mengayun ayunkan tangan mereka.


"Sayang, mau jalan-jalan?"


"Tidak."


"Pulang?"


"Tidak."


"Mau dipeluk?" tanya Rion dengan senyuman lebar yang menunjukkan deretan giginya.


Zaza berhenti dan menatap jengah pada Rion. Walaupun umurnya jauh lebih muda, soal menggoda dia tidak pernah mau kalah.


Zaza membuang nafasnya sembari melanjutkan jalannya. Dia akan membalasnya nanti.


"Cih, dasar gadis kecil." gumam Rion.


"Berarti kamu pedofil, menjadikan gadis kecil sebagai kekasih mu."


"Kamu tidak sekecil itu sayang."


"Jangan panggil aku seperti itu, aku tidak terbiasa mendengarnya."


"Kalau begitu kamu harus membiasakannya dari sekarang."


"Apa kamu dan Verdi sudah lama saling mengenal?" tanya Zaza.


"Ya, jangan membahasnya lagi aku tidak------"


"Dia bilang, dia jatuh cinta padaku." ucap Zaza tanpa melihat kearah Rion. Bukan ingin pamer tapi Zaza mengatakan itu hanya ingin membalas Rion yang tadi menggodanya. Meski Verdi memang benar mengungkapkan perasaannya pada Zaza.


"Dan kamu menyukainya?" tanya Rion, dengan suara datar penuh intimidasi. Wajahnya juga seketika berubah garang, tangan Zaza yang sedari tadi ia genggam, dilepas begitu saja.


Masih dengan santai Zaza tersenyum menanggapi perkataan Rion yang menurutnya sudah terpancing emosi. Hatinya menggelitik ingin tertawa, tapi dia menahannya.


"pertanyaan macam apa itu?"


"Katakan!! kamu menyukainya?" ulang Rion, nadanya makin meninggi. Rahangnya mengeras.


"Sayang, kamu membentakku?" tanya Zaza. Mengucapkan kata sayang sungguh membuatnya sangat malu pada dirinya sendiri. Dia menatap Rion dengan wajah sedih dan sok manja.


"Cih, aku tidak bercanda. Jadi aku tanya sekali lagi. Ryza permata, kau menyukai Verdi?"


"Hmmmmm-----------."


"Katakan! jangan mempermainkanku." ucap Rion mencengkeram lengan Zaza, dia tidak terima jika gadis itu ternyata menyukai orang orang lain selain dirinya.


Dia juga lupa bahwa lengan itu belum sepenuhnya sembuh. Yang kini kembali mengeluarkan darah.


Zaza yang awalnya hanya ingin bercanda malah ikut terpancing dengan sikap Rion yang menyakitinya.


"Kau--------." ucapan Zaza terhenti.


"Tuan."


Mendengar suara itu, keduanya berhenti.


Rion melepaskan tangan Zaza dengan kasar.


Leo dan beberapa anak buahnya telah berdiri tidak jauh dari mereka.


"Leo."


"Tuan, maaf kami terlambat mengetahui keberadaan Tuhan."


"Dimana pesawatnya?"


"Kami membawa speed boat Tuan, tidak ada bandara disini."


Rion berjalan meninggalkan Zaza.


Sementara leo masih menatap Zaza yang mematung ditempatnya.


"Ikutlah dengan kami, Verdi meminta kami untuk membawamu." ucap Leo.


Rion mendengar dengan jelas ucapan asistennya itu. Hatinya benar-benar terbakar.


"Tinggalkan dia." bentak Rion.


Leo tidak bisa berbuat banyak, Rion tidak membunuhnya saja dia sudah sangat bersyukur. Mengingat keterlambatannya menemukan sang bos. Leo segera meninggalkan tempat itu dan membawa Rion menuju speed.


*U**dah dibaca dilike , like, like ,like


😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘*