
Selamat membaca ya para readers.
Tinggalkan jejak berupa like, vote and rate 5.
*****************
Zaza terbangun karena terganggu dengan suara di pintu kamarnya.
"Siapaaaa?" tanya Zaza,
ini masih jam 02. Tidak mungkin Idan atau Eva menggedor kamarnya di jam segini.
Pikiran Zaza langsung melayang pada Rion. Karena hanya Rion yang biasa datang tanpa melihat waktu.
"Apa mungkin dia?" Gumam Zaza. Ia langsung membalut pistol dan melemparkannya di bawah ranjang.
"Siapaaaa?" ulangnya.
Tidak ada jawaban dari luar, tapi seseorang itu terus saja mencoba untuk membuka pintu kamar Zaza. Sesekali pintu itu seperti di dorong.
Zaza bangkit dari ranjangnya dan langsung mendorong apa saja yang bisa di jadikan untuk pengganjal pintunya.
Meja, kursi semua ia letakkan di sana.
"Toloooooongg." Zaza berteriak sekuat mungkin.
Bukannya berhenti, dorongan di pintunya malah semakin kuat.
Zaza mengambil ponselnya dan berlari ke kamar mandi.
"Rion. ayo angkat! aku mohon angkat." ucap Zaza ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetaran. Kata kata tidak takut mati yang sering ia ucapkan ternyata hanya di mulut saja. Nyatanya dia ketakutan setengah mati saat berhadapan langsung dengan bahaya.
"Halo, say--------."
"Hon tolong aku! tolong aku! ada seseorang yang ingin membunuhku."
"Halo, Sayang katakan dengan jelas, aku tidak mendengarnya."
"Toloooooongg." teriak Zaza, dengan ponsel di tangannya.
"Ada yang ingin membunuhku, tolong aku."
Bruuuuukk. Pintu kamar Zaza terbuka. Namum meja, dan kursi masih mengganjal di sana.
Kriiitttt,,,, kriiiitt, Kriiiitt. Suara kaki meja yang yang didorong, terdengar jelas di telinga Zaza.
Me :"Hon, tolong aku."
Satu pesan ia kirimkan pada Rion.
Zaza terduduk di lantai dengan menyumpal mulutnya sendiri.
Hening, yang terdengar hanyalah suara jam dinding di kamarnya.
Beberapa menit, Zaza tidak mendengar apa-apa."Apa dia sudah pergi?" batin Zaza. Perlahan ia memberanikan diri menempelkan telinganya di pintu, untuk mendengar lebih jelas.
Seolah tau akan hal itu, orang itu mulai berbicara dengan pelan.
"Gadis bodoh. Kenapa kau bersembunyi? harusnya kau bersembunyi di tempat lain, bukan di rumah ini."
Zaza menutup mulutnya sendiri agar tidak mengeluarkan suara.
"Kau tau? Kau bersembunyi di tempat orang yang telah menghabisi keluargamu. Dan menempatkan dirimu diantara mereka berdua. Aku tau kau mendengarku, jadi sekarang keluar lah! aku akan membawamu jauh dari mereka."
"Mereka berdua?? siapa mereka? apa Rion dann--------."
Tak,, tak,, tak. Seseorang itu tiba tiba berlari meninggalkan kamar Zaza.
"Za,, Zaza. Ini Paman, kau baik baik saja?"
Za, buka pintunya!" ucap Idan menggedor gedor pintu kamar mandi Zaza.
"Apa kau salah satunya." batin Zaza.
Tanpa isakan air matanya mengalir deras.
Pikirannya melayang pada pria yang baru saja membobol pintu kamarnya.
"Bagaimana dia tau semuanya? apa dia ada di sana?"
Terlalu banyak yang menyita pikirannya, hingga ia mengabaikan suara suara dari luar."
"Za, ini paman. Buka pintunya!" Burr,,,burr,,bur.
"Zaza, apa kau baik baik saja?"
"Za, paman masuk ya. Pintunya akan Paman dobrak, menjauhlah dari pintu!"
"Aku baik baik saja, kalian pergi lah!" ucap Zaza.
Mereka saling pandang tapi tidak ada yang berani mendobrak pintu, karena Zaza duduk dibelakangnya.
*********
Rion menembus jalanan dengan kecepatan tinggi.
Tangannya tidak berhenti gemetar, membuatnya sedikit kesulitan untuk mengendalikan setir mobil.
Begitu tiba di rumah Idan, Rion langsung berlari menuju kamar Zaza.
Idan, Eva dan lima anak buahnya berdiri di depan pintu kamar mandi Zaza.
"Apa yang terjadi?" tanya Rion, antara emosi dan kebingungan ia menarik kerah salah satu anak buahnya.
"Tuan, Kami datang saat Non Zaza berteriak minta tolong. Kami tidak sempat melihat pelakunya."
"Kalian semua tidak berguna. Tunggu saja hukuman kalian."
"Idan. Dobrak pintunya!"
"Kita tidak bisa melakukannya tuan, Zaza ada di belakang pintu."
Rion menggaruk kasar kepalanya.
"Kau yakin, tidak tau siapa pelakunya?"
"Saya benar benar tidak tau tuan."
"Kalian semua pergilah " ucap Rion. Bukan saat yang tepat baginya untuk memberikan hukuman pada mereka.
"Baik tuan." ucap mereka serempak.
Kleeeekk,,, kleeeekk Rion mencoba membuka pintu.
"Sayang, keluarlah! aku datang. Maafkan aku karena datang terlambat."
Tok,,tok,,tok.
"Sayang, tolong bicara. Apa kamu baik baik saja? keluarlah! katakan padaku seperti apa orang yang melakukannya."
"Tolong bicara! jangan membuatku kuatir! apa dia menyakitimu?"
"Tolong bicara, aku ingin mendengar suaramu."
"Sayang!"
"Aku baik baik saja, tolong biarkan aku sendiri." sahut Zaza.
Rion memejamkan matanya beberapa menit.
"Keluarlah! aku akan membiarkan mu sendiri. Aku hanya ingin melihatmu dan memastikan bahwa kamu baik baik saja."
Hening, tidak ada jawaban.
Rion mengedarkan pandangannya ke kamar Zaza. Semua terlihat berantakan, melihat dari meja dan kursi yang ada di depan pintu. Meyakininya betapa keras usaha kekasihnya untuk menyelamatkan diri.
Rahang nya mengeras membayangkan ketakutan yang di rasakan oleh Zaza.
"Sayang, aku akan membersihkan semua ini, keluarlah setelah itu." ucap Rion.
Tanpa meminta bantuan siapa siapa, Rion mulai membereskan kamar Zaza. Meja dan kursi ia letakkan di tempat semula.
Zaza yang awalnya masih duduk meringkuk, tiba tiba mendongakkan kepalanya.
"Pistol." gumam Zaza.
Ia langsung membuka pintu kamar mandi, dan melihat Rion yang sedang berusaha meraih baju yang ada di bawah ranjangnya.
Rion menggunakan sapu, karena badannya tidak muat di sana.
"Hon."
Rion menoleh ke belakang.
"Sayang."
Rion berdiri dan langsung memeluk erat tubuh Zaza.
"Maafkan aku karena datang terlambat, maafkan aku yang tidak bisa melindungimu."
Tangannya mengusap lembut kepala Zaza.
"Seandainya aku tidak meninggalkan mu, ini semua tidak akan terjadi."
"Sayang, apa dia mengatakan sesuatu? mungkin kita bisa menjadikannya petunjuk, untuk mnyelidiki siapa pelakunya."
Zaza menggeleng sembari mengeratkan pelukannya, "Dia hanya bilang ingin membunuhku."
"********." umpat Rion
"Kamu melihat wajahnya?"
"Tidak."
Hembusan nafas berat dari Rion terasa di puncak kepalanya.
"Aku akan menemukannya, jangan kuatir."
"Hum."
"Berbaring lah, aku akan menemanimu."
"Iya. Tapi tolong ambilkan aku air, aku haus."
"Tunggu disini!"
"Hum."
Zaza tidak membuang kesempatan, dengan cepat ia meraih sesuatu yang sempat ia sembunyikan kemudian menyimpannya di tempat yang lebih aman.
TINGGALKAN JEJAK YA READERS TERSAYANG