I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 36. menahan kesal



*Se**lamat membaca 🌷🌷 selamat membaca*


Tok,,,,tok,,,tok "sayang kamu di dalam." Tanya Rion dari luar kamar Zaza. Pintu kamar Zaza yang terkunci membuat Rion tidak bisa masuk.


Zaza sengaja tidak menjawab, agar Rion segera pergi.


"Sayang." Tok,,,tok tok.


"Buka aja Za, aku takut Tuan Rion marah." bisik Kikan.


"Ssssttttttt. Biarkan saja." jawab Zaza.


Setelah beberapa menit, tidak ada lagi ketukan di pintu.


"Dia sudah pergi, ayo kita kedapur." Ajak Zaza.


Kikan mengikuti dari Zaza dari belakang.


Pelan pelan Zaza membuka pintunya.


Sesuai dugaan, Rion sudah tidak ada di sana.


Kikan mengajari Zaza memasak berbagai jenis makanan.


Meski Zaza terlahir dari keluarga yang sederhana, tapi soal masak memasak, Zaza tidak pernah mempelajarinya. Ibunya lah yang selalu menyiapkan makanan untuk mereka.


"Hei." Ucap Tati yang baru saja masuk ke dapur.


Zaza hanya menoleh sekilas, dan kembali mengalihkan pandangannya.


Kikan bahkan tidak menoleh sedikitpun.


"Wah,wah. Calon Nyonya muda lagi belajar masak nih." lanjut Tati dengan nada mengejek.


"Iya, aku harus belajar dari sekarang, aku tidak ingin suami ku hanya memakan masakan orang lain. Oh, iya. Sampai kapan kau akan jadi pelayan? Kau selalu berkhayal menikah dengan orang kaya, tapi selalu berakhir jadi pelayan. Sebaiknya ubah saja khayalan mu itu, cobalah terima laki laki yang yang setara denganmu." jawab Zaza sinis.


"Sudah, tidak usah melayaninya." ujar Kikan.


"Kau sangat sombong Ryza. Kita lihat saja, sampai dimana kesombongan mu itu." ucap Tati.


Zaza mengedikkan bahunya sambil tersenyum meremehkan pada Tati.


"Apa kau butuh sesuatu? aku akan membantumu mengambilkan nya." ucap Kikan.


"Kau lihat saja Ryza Aku tidak akan tinggal diam." ucap Tati, ia menyiramkan segelas air pada Kikan, dan buru buru pergi dari dapur. Ia takut Rion akan mendengar suara Zaza yang meneriakinya.


Kikan diam, tidak membalas. Bagaimanapun juga Nyonya Mira ada dipihak Tati. Jadi Kikan tidak mau di pecat, jika membuat masalah dengan Tati.


"Sebaiknya kamu ganti pakaian dulu, biar aku yang akan melanjutkan ini."


"Tidak, ini tinggal sebentar lagi. Aku akan menyelesaikan nya." ucap Kikan, matanya berkaca-kaca.


Zaza tau apa yang dirasakan oleh Kikan.


Kikan yang harus menghidupi keluarganya, harus diam dan menerima perlakuan tidak baik agar tidak dipecat.


Zaza membuka apron yang ia kenakan dan berlalu pergi.


"Za, Zaza." panggil Kikan, namun diabaikan oleh Zaza.


Zaza membuka perlahan pintu kamar Mira, namun tidak ada siapa-siapa.


Ia memutar langkahnya menuju ruangan yang biasa digunakan oleh Mira untuk menenangkan diri. Tampak disana Mira sedang membaca, dan tidak ada Tati di ruangan itu.


"kamu mencariku?" ucap Tati dari belakang Zaza. Sontak Zaza melonjak kaget.


"Ya, aku mencarimu." bisik Zaza.


Ia menatap Mira yang masih asik membaca bukunya, dan menarik tangan Tati Ketaman belakang.


Tati tertawa kecil, ia membiarkan Zaza membawanya. Bahkan ia berharap Zaza membawanya lebih jauh, agar bisa menyakiti Zaza Disana.


"Hanya disini?" tanya Tati, saat Zaza menghentikan langkahnya.


Plaakk,,,Zaza menampar wajah Tati dengan kuat.


"Kau-----."


Plakkk,,,,untuk yang kedua kalinya Tati menerima tamparan dari Zaza.


Ia ingin membalas tamparan itu, Namun Zaza mendorongnya hingga terjatuh.


"Kenapa kau selalu seperti ini Tati? Kau selalu merendahkan orang lain. Apa kau tidak sadar diri, bahwa kau juga pelayan? Kau bekerja untuk menghidupi keluargamu bukan? begitu juga dengan orang lain. Dulu kau selalu merendahkan ku. jika aku mau, bukankah aku bisa membalasmu sekarang? bahkan lebih dari yang kau perbuat padaku.


Tapi aku masih memikirkan keluargamu yang hidup dari keringat mu. Apa------."


"Nye,nyenyenyenye." ucap Tati memotong kata kata Zaza sembari berdiri dan mengibas ibaskan roknya.


"Apa kau merasa sudah diatas awan sekarang, hingga berfikir bisa membalas ku. Hah, aku akan menunggu pembalasan mu calon Nyonya muda" lanjutnya terkekeh.


Zaza menatapnya geram. Ingin rasanya ia menyuruh Rion untuk mengusir wanita ini, tapi mengingat kembali keluarga Tati. Sebisa mungkin Zaza akan menahan diri untuk tidak mengadukannya.


"Jangan berbangga diri Ryza. Kau hanya calon, dan akan selalu begitu. Ha,,,nya Ca,,,,,lon."


ucap Tati menekankan kata-katanya. Ia beranjak pergi sambil terus terkekeh.


"Sialan" ucap Zaza.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Rasa tak nyaman ia rasakan ketika melihat Bi Minah yang berdiri tidak jauh dari mereka.


Bukan hanya tidak nyaman, ia juga sangat malu melihat tingkah Rion yang menyuapinya.


Tapi mengingat tingkah tidak tau malu yang pernah ia tunjukkan, Zaza mencoba membuang rasa malu itu.


"Kemana tanganmu Zaza?" tanya Mira.


"Disini Nyonya." jawab Zaza, sambil mengangkat tangannya yang di genggam oleh Rion.


"Huh,,, Lepaskan tangannya Rion. Tingkah mu membuatku muak." suruh Mira.


Rion diam saja, senyum yang sangat tipis ia sunggingkan dibibirnya. Aura kejamnya harus tetep terlihat dalam keadaan apapun. Kecuali jika hanya di depan Mira dan Zaza.


Meski kadang ia tertawa di depan para pelayan, namun tatapannya tetap lah tajam dan mengintimidasi.


"Tidak apa apa Nyonya." ucap Zaza malu malu.


"Yah, pasti kau menyukainya bukan?" tanya Mira yang dibalas anggukan oleh Zaza.


"Hon, aku kenyang."


"Makanlah sedikit lagi." ucap Rion, menyuapkan makanan ke mulut Zaza.


Tati makin panas melihat pemandangan yang ada didepannya. Tugasnya menyuapi Mira saat makan membuatnya menyaksikan semua itu. Perhatiannya teralihkan dengan sikap manis Rion pada Zaza.


Suapan yang harusnya dia arahkan ke mulut malah ia sodorkan ke pipi Mira.


"Apa yang kau lakukan." bentak Mira.


Tati yang kaget malah menumpahkan makanan yang ada di sendoknya ke baju Mira.


"Maaf Nyonya, maaf." ucap Tati, mengatupkan kedua tangannya sembari berlutut di depan Mira.


"Ada apa Ma." tanya Rion menghampiri Mira.


Mira tidak menggubris pertanyaan Rion.


Rasa marah menguasai pikirannya, jika saja ia tidak lumpuh, mungkin Tati akan babak belur ditangannya.


"Antarkan aku ke kamar." teriak Mira.


Rion mencoba mendorong kursi roda Mira.


Namun Mira menolaknya.


"Jangan pedulikan aku, urus saja kekasihmu itu."


"Ma."


"Berdiri pelayan bodoh, jangan sampai aku membunuhmu."


Tati cepat cepat berdiri dan membawa Mira masuk ke kamar.


"Hon." panggil Zaza. Rion yang masih mematung ditempatnya menoleh ke arah Zaza.


"Sayang, jangan masukkan dalam hati ucapan Mama. Mama sedang---."


"Ini salah kita, tidak seharusnya kita begitu didepan Nyonya Mira, pasti dia merasa di abaikan, apalagi oleh mu."


"Aku akan meminta maaf padanya besok. Kamu masuklah ke kamar mu, jangan tidur larut malam."


"Kenapa tidak sekarang."


"Mama masih marah, jadi lebih baik membiarkannya tenang dulu." ucap Rion.


"Hmm, Baiklah" jawab Zaza.


Rion mengantarkan Zaza sampai ke depan pintu kamar.


"Tidur yang nyenyak dan jangan keluar lagi!"


"Boleh aku-----."


"Tidak, itu pekerjaan mereka. Jadi jangan berpikir untuk membantunya" ucap Rion. ia tau maksud Zaza, yang ingin membantu para pelayan membersihkan semuanya.


"Hmm, baiklah." jawab Zaza cemberut.


Rion mencium kening Zaza berkali kali.


Cup,,,cup,,,,cup,,cup.


"Masuk lah. Tidur yang nyenyak, jangan pikirkan ucapan Mama."


"Bagaimana aku bisa masuk, kamu masih memegang tanganku."


"Oh,,hahaha."


"Selamat malam sayang." ucap Rion, melepaskan tangannya.


"malam." jawab Zaza, ia masuk dan mengunci pintu kamarnya.


*Li**ke...like,,like,,like*