I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 4. mimpi buruk



🌷 selamat membaca dan semoga suka🌷


🌷 maaf kalau typo dimana mana🌷


Kreeeetttt ,,,suara pintu terbuka, Rion dan Mira sama sama melihat siapa yang datang.


"Nah itu Lina, cantik kan." ucap Mira sambil mengerlingkan matanya ke arah Rion.


Rion yang melihatnya tersenyum simpul. Perempuan yang disebut cantik oleh Mira kelihatan lebih tua dari Mira.


Sementara Lina yang mendengar perkataan majikannya hanya menunduk malu sekaligus takut, tidak berani menatap Rion.


"Lina, kemarilah, ini putraku Rion."


"Selamat siang Tuan." ucap Lina tanpa mengangkat kepalanya.


"Hmm" bls Rion.


"Lina, apa kau ingin menikah lagi?" tanya Mira.


Pertanyaan itu sukses mbuat Lina mengangkat kepala, sambil menatap wajah majikannya. Dia tidak berani menjawab. Tapi kelihatan dengan jelas dia tidak mengerti maksud mira. Dan juga, dia tidak mau menikah lagi dengan umurnya yang sudah tua.


Dengan senyum penuh arti Mira melanjutkan perkataannya.


"Hehehe Rion sedang mencari Istri, apa kau------"


"Mah" bentak Rion dengan wajah ditekuk. Dia tau apa yang akan Mira katakan selanjutnya.


Tanpa pamit dia pergi meninggalkan kedua wanita itu.


Mira yang melihatnya tertawa terpingkal-pingkal, dia merasa lucu akan tingkah putranya yang masih saja bisa digoda.


"Lihat Lina, dia sudah tua tapi masih seperti anak kecil bukan?"


Lina hanya membalasnya dengan senyuman.


"Nyonya, waktunya minum obat."


"Bukankah tadi sudah?"


"Itu tadi pagi Nyonya."


"Baik lah, bawakan kemari. Apa menurutmu aku akan sembuh Lina?"


"Hanya jika kita berusaha Nyonya."


"Aku rindu jalan jalan, aku ingin bertemu teman teman ku. Ooh iya, Kamu harus siap-siap sore ini, Rion akan membawa kita kepantai." ucap Mira sumringah.


******


Sesuai janjinya yang akan membawa Mira jalan jalan, Rion mulai bersiap-siap.


Tidak lupa memberi tahukan Leo untuk menyiapkan mobilnya.


Leo lah yang paling sering menemaninya bepergian. Ketimbang Idan yang lebih banyak mengurus perusahaan.


Tak,,tak ,,tak suara sepatu Rion menuju kamar mira yang terletak di lantai bawah.


Ceklek,,,


"Mama, sudah siap?"


"Seperti yang kamu lihat." jawab Mira dengan penuh semangat. Melihat senyuman wanita itu. Hatinya begitu senang.


Dia merasa berhasil menjadi anak yang cukup baik jika melihat wanita itu bahagia.


Selama ini hatinya hanya dipenuhi oleh Mira.


Dia tidak membutuhkan kekasih, baginya itu sangat merepotkan. Selama ini dia selalu menyamakan cinta dengan nafsu. Jadi untuk menyalurkan nafsunya dia hanya perlu mencari wan*ita bayaran. Hidup se simple itu baginya.


"kalau begitu, ayo." ajak Rion


Selama perjalanan, Ibu dan anak itu saling melempar candaan satu sama lain.


Sedangkan Leo dan Lina hanya diam dan sesekali tersenyum jika mendengar kata-kata lucu dari majikannya.


"Kita sudah sampai tuan." ucap Leo


"Ok ma, ayo turun."


"Rumah orang ma, sudah kubeli."


"Disini sangat cantik, tapi bagimana mereka memberimu tanahnya begitu saja?"


"Uang yang kuberikan lebih menarik bagi mereka."


"Ya, kau benar, semua cinta uang."


"lihat, matahari akan terbenam." tunjuk Rion pada Ibunya.


"Wah, sangat indah."


"Apa kataku, Mama pasti menyukai nya."


"Jika hotelnya sudah jadi, berikan aku satu kamar menghadap kesana." ucap Mira


"Akan aku berikan 5 kamar."


"Tidak, itu terlalu banyak, sewakan yang lainnya, kau harus menghasilkan banyak uang!"


"Pasti." balas Rion


Ucapan-ucapan seperti ini sudah sangat sering Rion dengarkan. Ambisinya untuk menjadi yang terkaya semakin menjadi.


****


Malam hari dikediaman Idan.


Zaza yang terbangun karena merasakan lapar diperutnya terpaksa bangkit. Dia melihat piring berisi makanan ada diatas nakas disamping tempat tidurnya.


Dipastikan makanan itu sudah dingin karena pelayan mengantarkan nya tadi pagi.


Dengan badannya yang masih lemah Zaza keluar dari kamar nya menuju dapur.


Mendengar ada orang di meja makan,dia memutuskan untuk bergabung.


"Za, kau sudah bangun, mari duduk disini kita makan sama-sama." Ucap Idan sambil mempersilahkan Zaza duduk.


Eva sedikit kesal melihat idan yang begitu perhatian pada Zaza.


"Kenapa tidak mandi dulu, bajumu juga sudah kotor."


"Aku tidak punya baju Paman."


"Ah iya, maaf Paman lupa. Nanti pakai baju bibimu dulu, besok baru kita beli perlengkapan mu."


"Terimakasih Paman."


"Jangan berterimakasih, itu sudah kewajiban Paman." balas Idan.


"Bukankah itu makanan tadi pagi?" tanya Eva melihat nampan yang dibawa oleh Zaza


"Iya Bi."


"Kenapa tidak memakannya, sangat sayang jika dibuang-buang."


"Maaf." Balas Zaza.


Mendengar kata-kata Eva yg sedikit ketus,dia merasa aneh.


"Bukankah tadi bibi sangat lembut." Batin Zaza.


Melihat perubahan itu, membuat Zaza yang ingin bercerita mengurungkan niatnya. Dia akan menyimpannya sendiri, mencari tau siapa yang membunuh keluarganya tanpa bantuan siapapun.


Malam itu setelah membersihkan diri, Zaza memakai pakaian Bibinya dan kembali berbaring. Masih sangat jelas di ingatan, saat Ibunya menghembuskan nafas terakhir di depan matanya.


"Tuhan, ini sangat menyakitkan, tolong aku,


aku tidak sanggup lagi." ucap Zaza sambil memukul-mukul dadanya. Air mata yang sudah sempat mengering kembali membasahi wajahnya..


"Tolong pertemukan aku dengan bajing*n itu. aku akan membalasnya, dia harus merasakan apa yang kurasakan, tolong aku, tolong aku." Ucapnya lagi.


Kejadian itu terus terbayang dikepalanya. bahkan saat matanya baru saja hampir terlelap. Mimpi buruk langsung menghampirinya.


Bagimana dengan malam selanjutnya. Apa dia akan sanggup bertahan.


*Ja**ngan lupa tinggalkan jejak*