I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
Eps 60. Idan



Selamat membaca dan semoga suka.


jangan lupa tinggalkan jejak ya. Like ,vote and rate 5.


*****


Mira mengirimkan alamat rumah tuanya pada pria yang ia suruh untuk menculik Zaza.


Perasaan nya mulai tidak tenang karena pria tersebut tidak membalas dan mengangkat telponnya.


Mira tidak bisa menikmati sarapan yang sudah di sajikan oleh Tati untuknya, karena pikirannya yang sudah mulai menerka nerka sesuatu yang tidak baik.


"Ada apa nyonya, kenapa sarapannya tidak di makan?" Tanya Tati yang sedang menemaninya.


"Dia berjanji akan membawa ja*ang itu kemari, tapi dimana dia? Ini bahkan sudah hampir jam sembilan, dia belum datang juga." ucap Mira dengan wajah yang sangat kesal.


"Nyonya, aku rasa dia sudah gagal melaksanakan tugasnya. Bagaimana kalau dia tertangkap dan buka mulut? Tuan Rion pasti tidak akan memaafkan kita, eh maksudnya Nyonya." ucap Tati, "Karena aku tidak ikut ikutan dalam rencana penculikan itu."


"Jika aku tertangkap maka kau juga akan tertangkap. Siapa yang percaya padamu? dari dulu kau sudah mencoba mencelakai ja*ang itu, dan semua orang mengetahuinya, termasuk Rion." terang Mira.


"Tati yang awalnya ingin menakut nakuti Mira, malah merasa takut sendiri. Apa yang di ucapkan Mira itu memang benar. Siapapun akan mengira, bahwa dirinya ikut terlibat dalam penculikan itu, mengingat ia pernah mencoba untuk mencelakai Zaza.


"Nyonya, ayo kita kabur." ajak Tati.


"Kabur?"


"Ya, aku merasa ada yang tidak beres di sini. Bukankah tadi dia sempat menanyakan alamat rumah ini? tapi kenapa setelah itu, kita tidak bisa menghubunginya, dia juga tidak membalas pesan dari Nyonya." ucap Tati.


Mira mengangguk cepat, "Aku juga merasa seperti itu."


"Jadi Nyonya?"


"Ayo kita pergi, sebelum Rion menemukan kita!" ucap Mira. Ia berlari ke kamarnya, untuk mengambil harta benda yang sempat ia bawa dalam tasnya.


Tati memperhatikan uang yang ada dalam tas Mira, bukan hanya itu, ia juga melihat emas yang lumayan banyak.


"Berarti tas yang aku bawa kemarin adalah uang?? ya ampun bodohnya aku." batin Tati. Ia menyesal kenapa tidak memeriksa tas mira yang ia bawa.


"Ayo." ucapnya.


"Nyonya, apa kau butuh bantuan."


"Bawa ini." ucap Mira, memberikan salah satu tasnya yang berisi pakaian.


Tati memutar matanya malas. Apa yang dia harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan.


Keduanya berhasil keluar dari jendela belakang rumah.


"Nyonya, sepertinya itu dia." ucap Tati yang mendengar deru mobil berhenti di depan rumah.


Mira tidak menoleh, ia mempercepat langkahnya memasuki semak belukar.


Ia menyuruh pria itu agar datang ke sana tanpa menggunakan mobil.


Jadi dia bisa memastikan bahwa yang berhenti di depan rumahnya bukan lah suruhannya.


Tati menyusul Mira dengan cepat. Menyamakan langkah mereka.


"Nyonya, aku melihat Idan di sana."


"Pasti Rion yang menyuruhnya." jawab Mira. "Anak itu mengingat semua perlakuan burukku terhadapnya, gara gara Ja*ang sialan itu."


"Apa kita akan di laporkan Nyonya?"


"Menurut mu??"


"Tapi dia anakmu Nyonya."


"Rion tidak akan membiarkan siapapun menyentuh orang yang dia sayangi. Dan sekarang dia lebih menyayangi jala*gnya daripada aku. Jadi kau bisa menyimpulkan nya sendiri kan?"


Tati menghentikan langkahnya secara tiba tiba.


Seketika ia mengingat wajah sadis Rion.


"Hei, kenapa kau berhenti? ayo!" Ajak Mira.


Tati menggeleng. "Aku tidak ingin ikut campur urusan Nyonya lagi, keluargaku membutuhkanku." ucap Tati.


"Apa yang kau katakan? kau ingin menghianatiku?"


"Tidak, Nyonya pergilah. Aku juga akan pergi. Aku tidak ingin bersama Nyonya lagi."


Setelah mengucapkan itu, Tati berlari ke arah yang berbeda dengan Mira.


"Kurang ajar, apa yang di pikirkan pelayan sialan itu?" gumam Mira, sembari melanjutkan pelariannya.


******


Zaza yang masih molor tidak tau, jika dirinya di bawa oleh Rion kembali ke apartemen.


Bahkan saat Rion ke kantor dan kembali sore hari, Zaza masih terlelep dalam tidurnya


Rion masuk ke ruang kerjanya, dan menunggu kedatangan Leo.


Begitu banyak Kabar yang Rion dapatkan hari ini, selain dari kaburnya Mira dari rumah, tambang ilegal yang tidak bisa beroperasi, dan juga Idan yang membuat kerja sama dengan Jacob atas namanya sendiri


Rion tidak heran pada Idan yang sudah menipunya.


Apalagi Jacob, dia tau sahabatnya itu adalah seorang penipu handal.


Saham yang Rion tanam di perusahaan miliknya, ternyata di buat atas nama Idan.


Tapi untuk saat ini Rion masih belum bisa memberikan pelajaran pada Idan. Karena jika Idan menghilang tiba tiba, itu akan menjadi pertanyaan besar bagi Zaza. Selain itu, dia tidak ingin kekasihnya kehilangan keluarganya lagi.


Zaza mengerjapkan matanya berkali kali, memastikan bahwa ia tidak salah lihat. "Kapan dia membawaku kemari?" gumam Zaza.


Zaza bangun dan keluar dari kamarnya untuk mencari Rion.


Sekilas Zaza melihat seseorang masuk ke dalam ruang kerja Rion. Zaza mengikutinya, karena berpikir itulah adalah Rion.


Zaza memegang kenop pintu dan bersiap untuk memutarnya.


"Idan dan Jacob sudah pernah melakukan kerja sama sebelumnya."


"Kerja sama apa yang mereka lakukan."


"Kejadian di pulau, itu adalah ulah mereka berdua."


"Bukankah itu anak buah Verdi?"


"Bukan Tuan. Verdi hanya korban salah sasaran, incaran yang sebenarnya adalah tuan dan jacoblah yang melepaskan tembakan itu."


"Hmm." Rion hanya mengangguk anggukan kepalanya. Raut wajahnya bahkan tidak berubah, ia tetap terlihat santai. Hal hal kotor seperti itu sudah biasa Rion dengar, dan biasa ia lakukan.


"Dan benar yang tuan duga sebelumnya, uang tiga miliar yang harusnya di berikan pada keluarga Non Zaza--------."


"Dia yang mengambilnya?"


"Benar Tuan."


Rion mengurut urut keningnya yang tidak sakit. "Pantas saja ******** itu tidak membiarkan ibu Zaza berbicara." ucap Rion.


Kala itu dia tidak memikirkan Samapi kesan karena yang terpenting baginya adalah mendapatkan tanah itu secepatnya.


Zaza menarik tangannya perlahan dari kenop pintu yang sempat ia pegang. Tatapannya kosong, kepalanya sudah tidak sanggup lagi memikirkan hal yang sudah berlalu.


Zaza kembali membaringkan tubuhnya di ranjang, menatap kosong pada langit langit kamarnya.


Hanya satu kata yang keluar dari mulutnya.


"Idan."


*****


**Like, vote and rate 5.


Suka tidak suka, like aja ya! ya! ya**!