I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 38. Banyak larangan



*S**elamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷


udah baca kasih like, vote and rate biar semangat*.


Zaza baru saja makan malam bersama Kikan di dapur. Karena Mira masih meminta makanan nya di antar ke kamar.


Sementara Rion, belum turun dari sore tadi.


"Udah, kamu tidur di kamarku saja." ucap Kikan.


"Tidurmu akan terganggu jika ada aku."


"Kenapa?"


"Aku mendengkur saat tidur."


"Tidak apa-apa, aku juga mendengkur."


"Baiklah, jika pintunya tidak diperbaiki juga, aku akan tidur di kamarmu."


"Itu bagus, kita bisa mengobrol sampai pagi."


"Haha, Lalu besok kita bangun kesiangan."


"Tidak akan." jawab Kikan.


Zaza merasa tidak enak jika tidur dengan orang lain, karena sampai hari ini, mimpi buruknya masih selalu datang.


"Tunggu sebentar, Aku akan membereskan kamarku." ucap Kikan.


"Ok."


Begitu Kikan pergi, Zaza juga beranjak meninggalkan dapur dan berniat menemui Rion. Dia akan menanyakan, apakah Leo jadi memperbaiki pintunya atau tidak.


Saat berjalan melewati ruang tamu, ia melihat Idan dan Rion sedang berbicara di sana.


"Paman" Ucap Zaza.


Kedua orang itu sama sama menoleh padanya.


"Sayang, kemarilah!" Panggil Rion. Zaza mendekati Rion.


"Malam ini kamu tidur di rumah Idan dulu. Karena Leo akan memperbaiki pintu kamarmu besok, tidak apa-apa kan?"


"Iya tidak apa-apa. Jadi Paman datang untuk menjemput ku?" tanya Zaza.


"Iya. Kau keluarlah, tunggu di mobil." suruh Rion pada Idan.


"Baik Tuan."


Idan keluar dan masuk ke mobil lebih dulu, sesuai perintah Rion padanya.


"Sayang, pergilah belanja bersama Bibi mu malam ini."


"Belanja? belanja apa?"


"Apapun yang kamu sukai. Aku sudah memberikan kartu pada Idan, kamu bisa menggunakannya sepuasmu."


"Tapi untuk apa, Kamu sudah membeliku semua----------."


"Aku tidak ingin kamu terlalu merindukan ku, jadi alihkan pikiranmu dengan berbelanja."


"Ha?"


"Untuk malam ini saja, besok pagi aku akan menjemputmu."


Zaza diam mencerna kata-kata narsis Rion.


"Apa dia merasa kalau aku merindukannya setiap saat?" batin Zaza.


"Sayang."


"Ya?"


"Jangan diam saja, aku janji akan menjemputmu pagi pagi."


"Tidak, jangan datang terlalu pagi. Datang saja siang ataauu-----."


"Kamu tidak ingin cepat cepat bertemu denganku?"


"Bukan begitu, aku tidak ingin kamu datang saat aku lagi tidur. Kamu sendiri yang bilang, bekas ilerku menjijikkan."


"Hei, kapan aku mengatakan nya?"


"Saat dipulau, kamu tidak ingat?"


"Ayo ambil ponselmu, Idan sudah menunggu." ucap Rion mengalihkan pembicaraan. Ia mendorong pelan tubuh Zaza.


"Baiklah." ucap Zaza.


Rion menghampiri Idan yang sudah menunggu di mobil.


"Ingat, jaga Zaza baik baik. Jauhkan dia dari pandangan laki laki. Dan katakan pada istrimu, aku mengawasinya."


"Me,,mengawasi Tuan?"


"Suruh dia memperlakukan Zaza dengan benar, dan aku akan memuaskan keserakahannya." ucap Rion.


Idan terkejut mendengar ucapan Rion.


"Maafkan istri saya Tuan, saya akan----."


"Aku melakukan itu karena Zaza menganggap kalian orang tuanya, jadi perlakukan dia dengan baik." ucap Rion dengan cepat, agar Zaza yang sedang berjalan ke arah mereka tidak sempat mendengarnya.


"Baik Tuan." ucap Idan.


"Sayang sudah siap?" tanya Rion.


"Sudah."


"Kabari aku jika sudah sampai, angkat telponnya saat aku menghubungi mu. Jangan pulang larut malam, jangan melirik laki laki lain, fokus saja dengan apa yang akan kamu beli. Jangan lupa kunci pintu, hubungi aku jika terjadi sesuatu, jang---------."


"Biarkan aku tidur dikamar lain malam ini." ucap Zaza, memutar badannya hendak kembali kerumah Rion.


Rion dengan cepat menghalanginya dan membantu Zaza masuk ke dalam mobil.


Dengan telaten, ia memasangkan safety belt di badan Zaza.


Jarak yang cukup dekat membuat Zaza menahan nafas nya. Telinga Rion tepat di depan wajah Zaza.


"Sayang jangan lupa bernafas." ucap Rion.


"Ha?"


"Bernafas, bukan mengendus."


"Siapa yang mengen--------."


Mmpp,,,,Rion mengecup singkat bibir Zaza.


"Hati hati dijalan. Ingat, kabari aku jika sudah sampai." Ucap Rion, ia cepat cepat menutup pintu mobil.


Mulut Zaza yang ingin mendumal tertutup seiring dengan pintu mobilnya.


Rion berjalan mundur dan memberi kode pada Idan, agar segera pergi.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷. 🌷


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Tati sudah tidak sabar menunggu kedatangan Rion. Ia berada di sebuah kamar yang hanya terdapat sofa dan beberapa lukisan di dalamnya. Tidak tau dimana letak kamar ini. Yang Tati tau ini masih bagian dari rumah Rion. Karena dia dibawa oleh Leo, melewati beberapa ruangan yang ia kenal, namun sampai disebuah kamar yang ia tidak pernah lihat.


Suara pintu terbuka, Rion muncul dengan Leo yang menyusul dibelakangnya.


Tentu saja itu membuat Tati kecewa. Dia sudah membayangkan akan bermesraan dengan Rion.


Rion duduk di salah satu sofa yang terpisah.


"Tuan, kenapa ada orang lain? bukan kah kita-----."


"Kau mengangkat telpon tadi siang?" tanya Leo.


Deg,,,jantung Tati hampir copot mendengar pertanyaan Leo. Sementara Rion hanya diam memperhatikan Tati yang ketakutan.


"Telpon?" tanya Tati, ia mencari-cari alasan apa yang akan ia berikan.


Leo yang tidak suka berbelit-belit segera menunjukan rekaman CCTV pada Tati.


Disana terlihat Tati mengangkat telpon dan berbicara dengan seseorang.


Tiba tiba Tati berdiri dari duduknya dan bersimpuh di kaki Rion.


"Tuan, aku tidak tau jika itu adalah Tuan. Maaf kan aku." ucap Tati mengatupkan kedua tangannya.


"Kau tidak tau?"


"Aku tidak tau Tuan. Ak,,aku,,aku kira itu-----."


"Kau ingin aku menyakiti Zaza?"


"Tidak Tuan, aku mohon ampuni aku."


"Baiklah." ucap Rion. yang mana membuat Tati menatap wajah Rion.


Namun sebelah kakinya ia naikkan ke bahu Tati.


"Sekarang katakan, Mama menyuruh mu melakukan sesuatu?"


"Tidak Tuan."


"Berarti kau sendiri yang berniat mencelakainya."


"Tidak Tuan, Nyonya tidak menyur--------."


Mulut Tati terdiam saat Rion menaikkan sebelah kakinya lagi.


Kini kedua kaki Rion ada di bahu Tati, ia menggoyangkan ujung sepatunya sehingga memukul mukul kepala Tati.


"Apa yang Mama katakan padamu."


"Nyonya menyuruhku untuk mencelakai Zaza Tuan, Nyonya ingin Zaza pergi dari sini." terang Tati.


"Dan kau melakukannya."


"Aku tidak melakukannya Tuan. Aku bersumpah tidak melakukan apapun."


"Kau melakukannya, tapi tidak berhasil." ucap Rion santai.


Kaki Tati terasa makin lemas.


"Tuan, ampuni aku."


"Pasti, aku pasti mengampuni mu. Karena kau akan berguna bagiku. Tetap rawat Mamaku dengan baik, Laporkan pada leo, apapun yang direncanakan nya.


Dan kau, Jangan pernah mendekati Zaza. Sekali saja kau berusaha mencelakainya,,kau akan tidur selamanya."


"Terimakasih Tuan, aku berjanji akan melakukan semua yang Anda perintahkan."


Rion melapkan sepatunya ke baju Tati.


"Bawa dia keluar." ucap Rion.


"Baik tuan."


*L**ike, like like*