
🌷 *S**elamat membaca, jika ada typo mohon dimaklumi🌷*
Seperti biasanya, pagi ini Leo sudah ada dirumah Rion. Tapi tidak hanya menunggu, dia membawa sebuah map ditangannya.
Menaiki anak tangga menuju kamar Rion.
Tok,,,tok,,,, tok.."Tuan ini saya." ucap Leo.
Rion yang sudah mengenal suaranya langsung menyuruhnya masuk.
"Kamu membawanya?" tanya Rion.
Malam setelah mengusir Zaza, dia langsung menghubungi Leo dan menyuruhnya membawa informasi apapun mengenai Zaza dan Idan.
"Iya Tuan."
"Bawa kemari."
Belum sempat membukanya, Bu Minah sudah berdiri di pintu kamar. Rion mengurungkan niatnya untuk membuka map tersebut. Dan memasukkannya kedalam laci meja di kamarnya
"Tuan, Nyonya marah dan tidak mau makan."
"Kenapa?"
"Anu Tuan,, mmmmm, anu."
"Minggir."
Rion melewati Bi Minah. Walaupun bi Minah sudah berumur tapi perlakuan Rion tidak pandang bulu. Berbuat semena-mena pada semua orang.
Mira yang berada dimeja makan menatap tajam kedatangan putranya. Melihat piring serta makanan yang berserakan dilantai, Rion yakin kemarahan Mira tidak main-main.
"Ma, ada apa ini?"
"Kau mengusir Zaza?"
"Iya, aku bisa mencarikan ma-----"
"Panggikan dia kembali."
"Ma, gadis itu tidak baik."
"Apa kau pernah berhubungan dengan gadis baik-baik? bukankah selama ini kau selalu menghabiskan malam mu dengan gadis yang tidak baik, kenapa sekarang kau mempermasalahkan nya?"
"Mama tidak tau apa yang dia lakukan padaku."
"Kalau begitu katakan, biar aku tau. Dia mencoba membunuhmu? dia mencuri perusahaan mu? uangmu? atau apa, katakan!"
Rion terdiam, tidak mungkin dia mengatakan kalau gadis itu menciumnya. Pasti itu bukan suatu masalah bagi Mira, seharusnya juga bagi Rion tidak masalah. Apalah arti sebuah kecupan, mengingat sudah berapa banyak wanita yang bermain dengan nya diranjang.
Tapi kenapa tiba-tiba jadi masalah?. ( Hanya Rion yang tau)😂.
"Aku akan membawanya kembali." Rion terpaksa mengalah.
"Hari ini dia harus disini." balas Mira membawa kursi rodanya berlalu meninggalkan putranya
Rion mengacak-acak rambutnya frustasi, Memang benar keberadaan gadis itu membuat sedikit perubahan pada kesehatan Mira.
"Leo kita berangkat."
"Baik Tuan."
Dalam perjalanan Rion menghubungi Idan, menanyakan keberadaan Zaza.
tapi Idan mengaku jika Zaza tidak kembali kerumahnya. Itu membuat kepalanya semakin pusing.
Sampai dikantor dia melemparkan tasnya sembarangan dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
"Cancel semua jadwal hari ini. Kau dan Idan cari gadis itu. Minta bantuan anak buah kalian."
"Baik Tuan."
"Waktu mu sampai jam 4 sore."
"Baik Tuan" jawab Leo, tidak ada daya baginya untuk membantah atau meminta waktu banyak. Walau hatinya memaki sang bos, tapi hanya kata, iya." yang akan meluncur mulus dari mulutnya.
**********
Sampai siang belum ada kabar dari kedua asistennya, yang mana membuat Rion kalang kabut. Dia juga tidak akan berani pulang jika gadis itu tidak ikut dengannya. Sudah pasti Mira akan mencecar nya habis-habisan.
"Apa aku tidur di apartemen saja, atau di villa, atau dihotel. Argghhh, tidak-tidak, mama akan semakin marah. Bagaimana kalau sakitnya kambuh?"
Membayangkan itu membuat Rion tidak tenang. Kembali mencoba menghubungi asisten nya, Jawabannya tetap sama. Gadis itu belum ditemukan.
Karena bosan menunggu, Rion mengajak Jacob bertemu sambil makan siang. Tujuan mereka adalah restoran Z tempat favorit Jacob.
Jacob yang melihat wajah temannya, tertawa mengejek.
"Aku akan pulang, bertemu denganmu hanya akan menambah pikiran ku saja."
"Hei tidak,,tidak. Aku hanya bercanda. Kau seperti perempuan yang sedang datang bulan saja." ucap Jacob menahan tangan Rion.
"Berhenti bicara, jika tidak kau akan kehilangan semua gigimu!" ancam Rio
"Ok, ok. Kalau begitu makan makananmu, itu tidak akan habis jika hanya diliatin." ujar Jacob
Rion yang sedang menyuapkan makanan ke mulutnya tiba-tiba berhenti. Pandangannya jatuh pada seorang gadis yang sedang mengobrol dengan seseorang.
"Ternyata kau disini jal*ang kecil, awas kau." Batin Rion sambil tersenyum.
Melihat temannya senyum-senyum Jacob mengikuti arah pandangan Rion.
"Kau menyukainya?"
"Siapa?"
"Gadis yang sedang kau perhatikan."
"Cih, aku ingin membunuhnya."
"Apa dia salah satu saingan bisnis mu?"
"Tidak."
"Lalu."
"Aku pergi dulu, aku ada urusan."
Rion cepat-cepat mengejar gadis yang dia lihat barusan dan benar saja itu adalah Zaza.
sambil berjalan dia menarik tangan Zaza.
"Hei, siapa kau, lepaskan!" Zaza memukul tangan pria yang menariknya.
"Diamlah."
"Kau?"
"Ayo masuk." Rion mendorong Zaza masuk ke mobilnya.
"Kau mau menculikku? dasar baji*gan, tidak punya hati, setelah mencekik leherku kau mengusir ku dan sekarang kau menculikku? apa maumu?" ucap Zaza lancar jaya.
Rion tidak menanggapi omongan Zaza, dia harus membawa gadis itu kehadapan Ibunya.
Sebelum berhasil melajukan mobilnya, Zaza dengan sigap merampas kunci mobil dari tangan Rion.
Dan terjadilah perebutan kunci. Saling memukul, menendang dan menjambak satu sama lain. Mobil itu bergoyang-goyang seolah ada orang yang sedang dangdutan didalamnya.
Dan pemenang nya adalah Rion. Dengan penampilan yang acak Adul, rambut yang tidak karuan. Rion memperbaiki duduknya dan memasukkan kunci ketempatnya.
"Apa ini? Kenapa orang-orang mengelilingi mobilku?" ucapnya kebingungan.
Zaza yang mendengar perkataan Rion, bangkit dan Merapikan baju serta rambutnya.
"Aaaaaaaaaa, ya ampun, ada apa ini? siapa mereka? kenapa mereka mengelilingi kita?"
"Pakai sabuk pengaman mu " ujar Rion sambil menghidupkan mobilnya. Perlahan-mobil itu berjalan, tidak lupa rion membunyikan klakson berkali-kali. Satu per satu orang-orang itu pada berhamburan. Mereka berteriak-teriak mengatakan sesuatu, tapi tidak dipedulikan oleh Rion. Hingga akhirnya mobil itu melaju dengan Sangat cepat.
Mulut Zaza tidak berhenti mengoceh, sampai akhirnya mereka tiba dirumah Rion.
Saat gerbang dibuka baru Zaza sadar kemana dia dibawa.
"Kau membawaku kembali kesini, untuk apa? apa kau mulai menyukaiku? hayo Lo,,,ngaku!" ucap Zaza kata-katanya penuh ledekan.
"Turun." perintah Rion.
"Tidak perlu menyeret ku, aku akan mengikuti mu kemana pun kau pergi."
"Aku bahkan tidak menyentuhmu."
"Oh,, iya hehehehe. Tapi kenapa masih terasa ya, apa mungkin karna kau selalu memegang tanganku?"
"Panggil aku Tuan, kau pelayan disini."
"Kata siapa, kau sudah mengusirku. Aku bukan lagi seorang pelayan dirumah ini. Aku mau pergi." Balas Zaza sambil berbalik menuju keluar.
"Selangkah lagi kau pergi, aku akan membunuhmu."
"Bilang saja kau takut kehilanganku." ucap Zaza sembari berbalik.
Dia malah masuk mendahului Rion yang terdiam menahan emosi yang sudah diubun-ubun.
*D**ibaca, di like di vote*