I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 21. mengendalikan



🌷 *S**elamat membaca, siap dibaca dilike🌷*


"Bu jangan pergi, aku akan membawa Ibu dari sini. Bu,, ayok bu,,,,, Ibu,,,jangan pergi hiks,,,,hiks,,,ibu, jangan" Zaza meracau dalam tidurnya sambil menarik-narik tangan Bu Ati.


Bu ati mencoba membangunkannya namun bukannya bangun, Zaza semakin kuat menarik tangan Bu Ati.


Rion mendekat dan memeriksa suhu tubuh Zaza dengan tangannya,


"*Di*a tidak demam." batin Rion.


"Apa perlu bapak panggilkan bidan." tanya Pak Agus


"Tidak usah, badannya tidak panas. Sepertinya dia hanya mimpi buruk." jawab Rion. dia mengambil alih tangan Zaza.


"Za, Za bangun,bangun."


"Jangan bu, jangan pergi hiks, hiks."


Rion mengelap wajah Zaza dengan tangannya yang sudah diberi air oleh Bu Ati.


Perlahan Zaza mulai tenang, tidak ada lagi racauan hanya nafasnya yang masih terdengar ngos-ngosan.


"Sebaiknya bangunkan saja nak Ryza." ucap Bu Ati.


Rion menatap Bu Ati penuh tanya.


"Kenapa? ini masih terlalu pagi biarkan saja dia istirahat."


"Tidak, sebentar lagi matahari terbit, mungkin dia akan menyukainya dan juga itu bagus untuk kesehatannya."


Sebenarnya Rion setuju dengan usulan Bu Ati. Tapi melihat Zaza yang mulai tenang, dia tidak tega jika harus membangunkannya.


Zaza menggenggam tangan Rion seolah takut terlepas. Walaupun lesu.


"Mungkin benar cahaya matahari bagus untuknya pagi ini." gumam Rion


"Kemana aku harus membawanya?" tanya Rion


Pak Agus dan Bu Ati saling pandang. Suami istri itu tidak tau maksud dari pertanyaan Rion.


Mereka berpikir Rion akan membawa pulang gadis itu.


"Maksudku berjemur, dimana kami bisa berjemur tanpa ada orang lain?"


"Oooooo, disana, dibawah pohon itu ada bangku. Kebetulan tidak akan ada orang yang kesana, mari biar Bapak tunjukkan." jawab pak Agus.


"Ba,,,pak tunjukkan saja arahnya, biar kami yang kesana." ucap Rion mengubah cara bicaranya lebih sopan.


Rion merapikan selimut Zaza dan mengangkat tubuh gadis itu.


Embun yang masih betah direrumputan tersapu oleh jejak kakinya.


Beberapa tetesan embun dari dedaunan pohon jatuh mengenai wajah Zaza.


"Hujan???" ucap Zaza,


dahinya mengernyit saat membuka mata. Dia kaget melihat wajah Rion sangat dekat dengan wajahnya.


sadar akan posisinya, Zaza mencoba meronta.


"Kau mau membawaku kemana? kau ingin membunuhku lagi? turunkan aku, hei aku bilang turunkan!"


Rion tidak menggubris ucapan Zaza, dia hanya membalasnya dengan senyuman dan terus berjalan.


tiba ditempat yang dimaksud, Rion menurunkan tubuh Zaza dengan sangat pelan.


"Duduklah, jangan banyak bergerak."


"Kenapa membawaku kesini?" tanya Zaza dengan wajah kesalnya dan berusaha memeluk dirinya sendiri.


"Apa kau kedinginan?"


"Iya, Sekarang katakan kenapa kau membawaku kesini?"


"Matahari sebentar lagi terbit, Bu ati bilang itu bagus untuk kesehatanmu."


"Tapi ini terlalu pagi, aku kedinginan."


"Kau mau bajuku?"


"Bajumu tidak akan bisa menghalangi angin yang masuk ke tubuh ku, aku butuh selimut."


"Maaf, tapi aku tidak bisa meninggalkan kanmu disini. Hmmm, bagaimana kalaaaauu begini."


ucap Rion, merapikan selimut ketubuh Zaza , lalu memeluknya dari belakang.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku juga kedinginan." balas Rion mendekap erat dan menyandarkan dagunya dipundak Zaza.


Keduanya terdiam. Zaza tidak bisa mengartikan apa yang diinginkan oleh hatinya saat ini. Walau api dalam dirinya masih berkobar, tapi sesuatu yang lain hadir disana, seolah ingin memadamkannya.


Zaza tersenyum sinis dan segera menepis rasa yang tidak dia inginkan itu.


Matahari mulai naik memancarkan sinar terang yang mengganti kegelapan di pagi itu.


Tubuh yang semula kedinginan menjadi hangat. Pemandangan yang indah seketika terpampang di depan mata.


Membuat mata Zaza membulat takjub.


"Ini benar-benar indah, coba lihat disana!, apa itu batu?" tunjuk Zaza kesebuah batu besar hampir seperti gunung yang berada di laut dan ditumbuhi pohon pohon kecil diatasnya.


"Aku juga tidak tau, ingin melihatnya?"


"Emang bisa?"


"Bisa, setelah kamu sembuh kita akan kesana." jawab Rion.


"Kau mau membawaku?? wah mimpi apa aku semalam, sepertinya kau mulai menyukai ku. Apa aku benar?"


"Mungkin. Ooo iya, apa kau sering mengalami mimpi buruk?" tanya Rion mengingat Zaza yang mengingau memanggil manggil ibunya.


"Tidak."


"Tapi sepertinya tadi kau mengalaminya."


"Benarkah?? semua mimpi tidaklah nyata, kenapa harus memikirkannya." jawab Zaza.


"Menurutmu seperti itu??"


"Hmm."


Rion menggenggam kedua tangan Zaza dan meletakkannya di dadanya sembari


menatap senyuman yang menghiasi wajah gadis itu.


"Ya, masih berdetak, kau masih hidup." ucap Zaza tersenyum.


"Hanya itu?"


"Lalu?"


"Tapi aku merasa ada sesuatu yang lain disini."


"Itu normal, kau merasakannya karena ia ada dalam tubuhmu."


"Itu maksudku, ini ada dalam tubuhku tapi kenapa kau yang mengendalikannya?"


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan."


"Kau tau? saat kau menghilang dari villa disini terasa sesak, aku Sangat kwatir. Begitu melihatmu bersama Verdi, jantungku juga hampir meledak, darahku sampai ke ubun-ubun.


Dan apa kau tau? sudah lama aku tidak merasakan takut. Sekarang aku kembali merasakannya. Aku takut melihatmu terluka. Saat melihat matamu terpejam dan bibirmu tidak lagi menjawab perkataanku, aku merasa tidak ada lagi yang lebih menakutkan dari itu. Bukankah menurut mu ini aneh." ujar Rion terdengar polos.


Zaza tidak bisa menjawab. Untuk beberapa saat dia menatap mata Rion yang juga masih menatapnya.


"Itu artinya kau sangat menyukaiku, saaaaangat." ucap Zaza penuh penekanan.


"Ya, aku baru menyadarinya."


"Saat aku bilang menyukaimu, kau mencekik leherku. Boleh aku membalasnya sekarang?"


"Lakukan saja jika kau berani."


"Cih, dasar egois, awas aku mau pulang." ucap Zaza mendorong dada Rion.


"Kita akan pulang bersama, kau tidak boleh jauh dariku sekarang."


"Kau tidak berhak mengaturku."


"Aku berhak sayang." ujar Rion menggelitik pinggang Zaza. Suara tawa keduanya pecah


memecah keheningan pagi.


"Aaaa, sakit." ujar Zaza.


mendengar itu seketika tawa Rion berhenti, wajahnya berubah panik.


"Sakit? dimana?? maafkan aku. Aku lupa kalau kau belum sembuh. Ayo pulang, kita harus memeriksanya. Mau kugendong lagi?"


Zaza menggeleng dan menerima uluran tangan Rion. Walau tidak memakai alas kaki dia memilih berjalan sendiri.


"Rion."


"Ya?"


"Rion."


"Iya. Ada apa gadis kecilku." ujar Rion menoleh sekilas ke arah Zaza.


Zaza berhenti dan melepaskan genggamannya.


"Ada apa, kau capek? ingin kugen----."


"Aku juga merasakannya."


Kata kata itu lolos begitu saja dari mulut Zaza. Pandangannya kebawah menatap ujung kakinya sendiri.


"Aku menyukaimu." lanjutnya.


Senyuman Rion mengembang, dia mengangkat wajah Zaza. Perlahan Rion mendekatkan wajahnya dan mencium bibir gadis itu. Zaza tidak merespon tapi tidak juga menolak.


Setelah melepaskan ciumannya Rion menarik Zaza kedalam pelukannya.


"Kau dengar jantungku? sekarang kau pemiliknya."


"Iya, aku mendengarnya." jawab Zaza dengan wajah datarnya.


********


*************


********


Seminggu tak ada kabar dari Rion, membuat keadaan Mira semakin memburuk dan terpaksa dirawat dirumah sakit. Dia dijaga oleh kikan. Salah satu pelayan dirumahnya.


Selama seminggu juga leo terus mencari keberadaan bosnya. Dan hari ini dia mendapat kabar dari anak buahnya, bahwa seorang nelayan melihat Rion ada di pulau kecil.


Sebelum berangkat, Leo menyempatkan diri untuk mengunjungi Mira dirumah sakit.


Dia tau kabar ini lah yang ditunggu tunggu perempuan paruh baya itu.


Keberadaan Idan disana membuat leo sedikit heran, pasalnya Idan bukanlah orang yang peduli pada orang lain. Apapun yang dia lakukan semata-mata hanya mengejar uang.


Pekerjaannya memang selalu memuaskan tapi sebanding dengan apa yang dia dapatkan.


"Idan kau disini? dimana pelayan yang menjaga nyonya Mira?" tanya Leo


Idan tersentak dan langsung berdiri.


"Ah iya, aku juga baru sampai, sepertinya dia ada di kamar mandi." tunjuk Idan


Leo menyadari sikap aneh yang ditunjukkan oleh Idan, dia merasa ada sesuatu yang disembunyikan oleh rekannya itu darinya. Leo mendekati ranjang nyonya Mira sembari melihat jam tangannya.


Bersamaan dengan itu Kikan keluar dari kamar mandi.


Dia juga kaget Melihat keberadaan kedua pria itu.


"Nyonya Mira belum bangun?" tanya leo pada Kikan.


Kikan yang ditanya langsung melihat ke arah majikannya.


"Tadi sudah Tuan."


"Katakan pada Nyonya, tuan Rion sudah ditemukan, aku akan menjemputnya."


"Baik Tuan."


"kau menemukannya? maksudku kau menemukan tuan Rion? Apa Zaza bersama tuan Rion?" tanya Idan


"Mungkin iya."


"Syukurlah, aku mohon tolong selamatkan dia juga."


"Aku tidak bisa menjanjikannya, kalau begitu aku permisi." ujar Leo.


Idan menatap kepergian Leo dengan tatapan muak dan tangan yang mengepal kuat.


*Li**ke like like*