
*S**elamat membaca* 🌷 selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷
Mira menatap tidak percaya pada apa yang dilihatnya diluar ruangan, Rion sedang berbicara dengan Zaza. Dari caranya memandang dan menoel noel hidung Zaza, sangat jelas terlihat bahwa Rion sedang jatuh cinta pada gadis itu.
Pertanyaan yang bersarang di benaknya kini mendapatkan jawaban. Saat Rion duduk disampingnya, dia melihat Rion hanya berusaha tenang. Raganya ada disamping Mira sementara hati dan pikirannya Dimana mana. Mira menyadari itu dan berpura pura tidur, untuk mengetahui yang sebenarnya.
Ternyata benar, saat dia pura pura tidur, Rion meninggalkannya dan baru kembali pagi ini.
"Hanya karena pelayan itu?" batin Mira menahan rasa marah.
Kikan yang sedang membawakan makanan untuk mira. Heran melihat majikannya yang menatap tajam ke luar ruangan. Ia pun mengikuti arah pandang majikannya. Dan dia tidak kalah terkejutnya dengan Mira.
"Zaza?" gumam Kikan.
"Kau melihatnya? akhirnya gadis jala*g itu berhasil menjerat putraku.
Aku tidak menyangka Rion akan terjebak olehnya. Apa menurutmu rion tulus padanya?"
Kikan yang sempat mengalihkan pandangannya pada Mira, kembali memperhatikan Rion.
Dia tersenyum Seraya menjawab pertanyaan Mira.
"Sepertinya iya Nyonya, Tuan Rion tulus-------
aaa,,, Nyonya sakit."
Kikan tidak melanjutkan kata-katanya karena Mira tiba tiba menjambak rambut nya. Makanan yang ia bawa jatuh berserakan. Walau hanya tangan kiri mira yang berfungsi tapi itu tidak mengurangi tenaganya.
"Aku mengenal putraku, dia tidak akan melibatkan hatinya untuk berhubungan dengan wanita, apalagi hanya karena pelayan seperti kalian." ucap Mira sembari melepaskan tangannya secara kasar dari rambut Kikan.
Padahal dia sendiri membenarkan ucapan pelayannya itu, tapi dia tidak terima saat Rion lebih mengutamakan Zaza dari pada dirinya. Sehingga mira melampiaskan kemarahannya pada Kikan.
Rion masuk terlebih dahulu. Wajah Mira yang tadinya penuh amarah berubah 50°, dia tersenyum melihat kedatangan Rion. Dia mengira keduanya akan masuk secara bersamaan, kenyataannya tidak.
"Selamat pagi ma." ucap Rion sembari mencium kening Mira.
"Pagi, kau darimana saja, mama mencarimu dari tadi."
"Tidak dari mana mana, Rion hanya tidur di ruangan sebelah. Ada apa dengan makanan ini?" tanya Rion.
"Dia menjatuhkannya, pelayan ini tidak becus dalam bekerja." tunjuk Mira pada Kikan.
Rion memperhatikan Kikan yang sedang membersihkan lantai dengan rambut berantakan.
Sudah pasti itu adalah ulah Mira.
"Mama ingin makan apa? biar Leo belikan."
"Tidak ada, Mama tidak ingin makan sekarang."
"Mama tidak boleh menunda nunda waktu makan, jika tidak makan bagaimana mau minum obat?"
"Ayo pulang, Mama mau makan dirumah." ajak Mira.
"Tapi Ma-------."
Kretttt,,,,,,, pintu kamar Mira terbuka, Zaza muncul dari sana.
"Zaza, itu kau? kau datang?" tanya Mira.
Zaza tersenyum dan mendekat.
"Maafkan saya Nyonya, saya baru bisa datang sekarang." ucap Zaza.
"Aku sangat marah padamu, katakan, apa yang membuat mu berhenti bekerja? Kau berhenti begitu saja tanpa mengabariku, bukankah Waktu itu kau hanya ijin dua hari? kau kepulau dan kau malah tidak ingat kembali."
"Saya sakit saat pulang dari sana. saya tidak sempat mengabari Nyonya, sekali lagi saya minta maaf Nyonya."
"Lihat keadaanku sekarang, semua kembali ke awal. Aku sakit karena terlalu mengkuatirkan Rion, dan kau malah ikut menghilang dengannya. Aku curiga, jangan jangan kalian bersama selama ini."
"Tidak Nyonya, itu tidak benar, saya pulang duluan bersama Leo" ucap zaza. Rion lah yang mengajarinya untuk mengatakan kebohongan itu.
"Kau yakin?" tanya Mira.
Zaza melirik sekilas ke arah Rion. Seolah minta bantuan.
"Yak-----."
"Ma, nanti dibahas lagi, biarkan dia membelikan makanan untuk mama." ucap Rion.
"cih,,, jika peduli, bawa mama pulang dari sini, jangan terus menerus menyuruhku makan."
"Baiklah kita pulang.Tapi ingat, mama harus tetap keluar negri, Leo menemukan pengobatan yang bagus untuk mama disana."
"Bersama Zaza?" tanya Mira, melebarkan senyumnya. Senyumannya menandakan bahwa dia tau sesuatu.
Rion tidaklah bodoh untuk menyadari hal semacam itu.
Dan dia bukan seorang pengecut yang akan terus menyembunyikan hubungan mereka.
Ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengatakannya pada Mira.
Tapi karena jengah dengan sikap Mira, Rion tidak punya pilihan lain.
"Kau keluar." ucap Rion pada kikan.
Kikan langsung beranjak keluar.
Rion mendekati Zaza dan menggenggam tangannya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Mira.
"Ma, aku menyukainya, aku ingin selalu melihatnya dan ingin selalu disampingnya." jawab Rion.
Zaza menatap tidak percaya pada Rion, mereka sudah sepakat untuk tidak mengatakannya sekarang." tapi kenapa Rion berubah pikiran secepatnya ini." pikir Zaza
"Hahahaha,,dan kau ingin memilikinya? mama rasa kau mulai terobsesi padanya."
"Aku tidak tau ini cinta atau obsesi, tapi benar apa yang Mama katakan, aku ingin memilikinya, apa kamu keberatan?" tanya Rion. Bukan pada Mira, tapi dia bertanya pada Zaza sembari mencium punggung tangan gadis itu. Dia mengabaikan Mira yang berada di depan mereka
Saling menatap satu sama lain. Zaza tersenyum malu-malu.
Inilah yang dia tunggu tunggu, pria ini takluk padanya. Dia memang berniat untuk memberi kebahagiaan untuk Rion, lalu menghancurkannya.
"Jawab, kamu keberatan jika aku ingin memilikimu?" ulang Rion mendekatkan wajah mereka.
Napas nya menyapu wajah Zaza.
"Tidak, aku tidak keberatan." jawab Zaza.
Matanya terpejam merasakan nafas Rion.
"Sudah, sudah, jangan berciuman di depanku. Kalian benar-benar tidak tau tempat. Jika ingin bermesraan jangan Disini, cari tempat lain saja." ucap Mira.
"Mama tidak keberatan?" tanya Rion. Dia berpikir Mira tidak akan merestui hubungannya dengan Zaza.
"Untuk apa Mama melarangnya, jika Mama keberatan, kalian akan tetap menjalin hubungan. Pergilah cari tempat lain dan suruh pelayan tadi masuk."
"Terimakasih ma, aku mencintaimu, sangat mencintai mu." ucap Rion memeluk Mira.
Elusan dikepalanya jadi jawaban dari Mira.
Entah perempuan itu benar-benar merestuinya atau tidak, hanya dia yang tau.
"Hei gadis nakal kemari kau." panggil Mira.
Zaza makin mendekat, sikap polosnya yang sering ia tunjukkan pada Mira dulu, ia keluarkan kembali.
"Iya Nyonya."
"Bawa kekasih mu ini keluar, bujuk dia agar tidak mengirimku keluar negri."
"Hehehehe,, baik Nyonya."
"Mama ak------."
"Sayang ayo keluar" ucap Zaza malu malu.
Kepalanya seakan membesar sangking malunya dengan panggilan itu.
"Cih,,, aku tidak percaya dengan umurmu yang masih kecil itu. Sayang, sayang, huek." ucap Mira.
Tidak dengan reaksi Rion yang langsung berdiri. Wajahnya di hiasi senyuman yang palng cerah.
"Ayo." ajak Rion, menarik tangan Zaza.
"Nyonya, kami permisi."
"Ma, kita akan pulang hari ini, tenang saja." ucap Rion mengedipkan sebelah matanya dan berlalu meninggalkan ruangan Mira.
Â
*
*
*
Â
"Sebenarnya kita mau kemana." tanya Zaza
"Harusnya aku yang bertanya sayang, kan kamu yang mengajak aku keluar."
"Isss,, aku serius Rion, kita sudah mengelilingi rumah sakit ini dua kali. Orang orang pada perhatikan kita."
"Sayang, sayang, sayang." ucap Rion ditelinga Zaza.
"Hentikan itu, kau tidak malu diliatin orang?"
"tidak sayang."
" Rion."
"Dulu kamu ingin memanggil ku sayang, kenapa Sekarang tidak lagi?"
"Rion."
"Saa, yang, s a y a n g, sayang, ucapkan!."
" Baiklah, sayang kita mau kemana?" tanya Zaza.
"Haha..ayo ke mobil, aku ada sesuatu untuk mu." jawab Rion.
Zaza mengikuti Rion yang membawanya ke mobil. Keningnya berkerut saat Rion meletakkan satu buah ponsel ditangannya.
"Ini untuk ku?"
"Iya, kamu menyukainya?"
Zaza menggelengkan kepalanya.
"Sayang, ini keluaran terbaru, belum ada ----."
"Aku tidak mengerti cara memakainya, ini terlalu bagus."
"Aku akan mengajarimu nanti, untuk sekarang kamu harus belajar ini." ucap Rion. Dia menunjukkan pada Zaza daftar kontak di ponsel itu. Hanya ada satu nomor dengan nama kontak " Sayang."
"Sayang?? nomor siapa ini?"
"Ini nomorku, kamu hanya boleh menghubungiku. Dan jangan coba coba menyimpan nomor orang lain disini!, mengerti?"
"Bagaimana dengan Paman Idan, apa aku boleh menyimpan nomornya?"
"Nanti aku pikirkan."
"Dia itu Pamanku, tidak mungkin dia -----."
"Tidak ada yang tidak mungkin sayang."
"Tapi itu penting, bagaimana kalau aku diculik dan kamu tidak bisa dihubungi, siapa yang akan menolongku?"
"Ya sudah simpan saja nomornya, tapi jangan pernah menghubunginya."
"Terus untuk apa aku menyimpannya?" tanya Zaza.
Rion tersenyum dan mengedikkan bahunya.
Sementara Zaza hanya bisa membuang nafasnya kasar.
"Ayo kembali keruangan nyonya Mira" ajak Zaza.
Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa pria yang sudah tua itu bersikap seolah baru pertama kali jatuh cinta. Bahkan dirinya saja yang masih muda dan tidak pernah pacaran tidak selebay dan senorak itu.
"Argghhh, benar benar ABG tua." pikir Zaza
Saat memasuki lift pun keduanya tetap asik mengobrol. Hingga tidak menyadari ada orang lain didalam lift selain mereka.
"Tuan Abrion?" sapa salah satu dari orang itu.
Rion dan Zaza sama sama menoleh kebelakang.
"Verdi?"
*A**bis dibaca mohon di-like,🌷🌷😘😘😘😘😘😘😘*