
π·π· Selamat membaca π· π·
*Si**ap dibaca dilike yaaaaaa*!!!!!!!!!.
Menunggu hingga pagi hari terasa sangat lama bagi Rion. Saat Zaza dalam perjalanan pulang, beberapa kali ia menghubungi Idan hanya untuk melihat wajah Zaza yang tertidur pulas. Dan dia berhenti ketika ponsel Idan mati karna kehabisan daya.
Malam itu, Zaza pulang kerumah Idan dan berencana akan menjenguk Mira keesokan harinya. Dia memikirkkan akan seperti apa reaksi Mira saat mengetahui hubungannya Dengan Rion.
Dalam keadaan mengantuk ia masuk kekamar yang pernah ia tempati saat tinggal dirumah Idan. Dan berniat akan melanjutkan tidurnya.
Berbeda dengan Idan, dia langsung menuju meja makan. Perut kosong nya sudah minta diisi sejak ia berangkat ke pulau. Disana sudah ada Eva yang sedang menyajikan makanan.
Eva dengan berbagai pertanyaan dibenaknya. Sedari tadi sudah tidak sabar menunggu suaminya. Walau sudah tengah malam dia tetap menyiapkan berbagai makanan. Begitu melihat kedatangan Idan, Eva Tersenyum lebar.
"Pa, dimana Zaza?" tanya Eva.
"Dia sudah masuk kekamarnya, ada apa Ma?"
"Papa tidak mengajaknya makan? Mama sudah siapkan untuknya juga."
"Tidak, tumben kamu peduli pada Zaza."
"Dia keponakan kita Pa, sudah seharusnya kita peduli. Ya sudah Papa makan saja dulu, Mama akan memanggilnya."
"Tidak perlu memanggilnya, dia sudah makan. Katakan padaku apa yang kamu rencanakan."
"Mama tidak merencanakan apapun, hanya bersikap layaknya seorang Bibi, apa itu salah? kita yang jadi orangtuanya sekarang pa, sudah sewajarnya kita mengurusnya sampai menikah nanti." jawab Eva.
Idan memandangi Eva penuh selidik. Dengan Eva menyebut pernikahan, dia dapat menerka apa yang ada dipikiran istrinya itu.
"Apa Mama berpikir Tuan Rion menyukai Zaza dan akan menikahinya?" tanya Idan
Eva tidak langsung menjawab, dia tersenyum senyum sendiri sembari mengisi piringnya. Ia mulai menyuapkan makanan kemulutnya.
Idan tetap tidak menggalihkan pandangan dari Eva. Sampai istrinya merasa jengah.
"Baiklah, baiklah. Menurut dari apa yang Papa ceritakan. Mama yakin bos Papa sangat mencintai Zaza. Coba Papa pikirkan, jika dia menikahi gadis itu, kita bisa memanfaatkannya untuk mendapatkan uang banyak dari bos Papa itu kan. Rion juga tidak akan berani semena-mena lagi sama Papa. Secara tidak langsung kita akan menjadi Orang tuanya juga. Karena hanya kita keluarganya Zaza sekarang."
"Mama tidak mengenal Rion, dia tidak akan membiarkan siapapun menyentuh hartanya. Dia mengumpulkan semua itu hanya untuk Ibunya, aku yakin dia ingin mempermainkan Zaza saja."
"Papa sendiri yang bilang, dia sangat kuatir pada Zaza. Padahal Ibunya juga lagi sakit. Itu artinya dia mencintai Zaza Pa. Tidak penting bagi kita dia hanya ingin mempermainkannya atau apa lah, yang jelas sekarang Rion jatuh cinta padanya. Kita bisa memanfaatkan Zaza selama mereka ada hubungan."
"Rion tidak semudah itu, dia pintar. Dia bisa memasang wajah malaikat untuk menjebak orang, dan akan berubah jadi iblis saat niatnya tidak tercapai. Ingat jangan coba coba menemui Rion, Mama tidak tidak tau seperti apa dia."
"Tapi terkecuali pada Zaza, dia sudah buta, sampai sampai lebih mementingkan Zaza dari pada ibunya. Mama tidak akan menemuinya, Zaza yang akan jadi perantara untuk semua keinginan Mama." jawab Eva.
"Papa tidak yakin Zaza mau melakukannya."
"Makanya kita harus memperlakukannya dengan baik pa, dari pada mencari cara untuk melenyapkan bos Papa. Sangat berbahaya belum tentu juga akan berhasil. Jika dia menikahi Zaza, setidaknya ia akan memberikan sebagian Hartanya untuk zaza. Bisa saja dia memberikan setengah sahamnya. Jika sudah begitu kan kita akan lebih mudah mengambilnya dari Zaza."
"Mama berpikir terlalui jauh. Sudah lah, cepat makannya lalu siapkan air hangat. Papa mau mandi!" ucap Idan.
Jam sudah menunjukkan jam 04.00 pagi. Idan baru akan membaringkan tubuhnya.
Dia hanya akan tidur selama tiga jam, karena paginya harus mengantar Zaza kerumah sakit untuk menjenguk Mira.
Matanya belum tertutup sempurna.Tapi ketukan di pintu kamarnya kembali mengganggunya.
Mencoba membangunkan Eva, namun tidak digubris oleh Istrinya.
Mau tidak mau, Idan membuka pintu.
Disana Rosi pelayan mereka telah berdiri sembari membungkuk kan badannya.
"Ada apa?"
"Tuan, ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuan."
"Katakan padanya aku sedang istirahat, ini bukan waktunya untuk bertamu. Apa kau tidak punya mulut untuk mengatakannya?"
"Saya sudah mengatakannya tuan, tapi dia memaksa masuk dan dia bilang kalau namanya Abrion."
"Tuan Rion???"
"Iya Tuan."
Tanpa mengatakan apa-apa, Idan langsung masuk kembali, dan mengganti pakaiannya.
"Dia benar-benar sudah gila." batin Idan.
Tidak lama setelahnya dia turun.
Diruang tamu sudah ada Rion yang sedang mondar mandir. langkahnya berhenti saat Idan menyapanya.
"Tuan." sapa Idan.
"Apa yang terjadi, kenapa kau mematikan ponselmu?"
"Ponsel saya mati karena kehabisan daya Tuan."
"Kau bisa mengisi dayanya saat tiba disini kan, kenapa tidak melakukannya. Dimana Zaza? apa dia baik baik saja?"
"Ada dikamarnya Tuan, saya akan memanggilnya."
"Biar aku saja, tunjukkan dimana kamarnya" ucap Rion. Idan segera membawanya ke kamar Zaza.
"Ini Tuan."
"Pergilah!"
"Tapi Tuan."
"Aku tidak akan berbuat apa-apa dirumah mu, pergilah."
Rion langsung masuk, meninggalkan Idan yang tidak sempat menyelesaikan kata-katanya.
****
*****
*****
Mengira itu adalah mimpi, Zaza membalikkan tubuhnya membelakangi Rion.
Mengucek matanya beberapa kali dan kembali berbalik.
"Aaaaaaaa ammmpppppp." zaza berteriak dan langsung di bekap oleh Rion.
"Sssstttttt,,, jangan berisik, aku tidak akan menyakitimu." ucap Rion.
Bugh.,,, tubuh Rion jatuh dari tempat tidur.
Zaza menendang perut serta mendorongnya kuat kuat.
"Aaaaawww,,,." ucap Rion kesakitan, dia tidak menyangka Zaza akan menendangnya.
"Apa yang kau lakukan? kenapa kau ada disini, ba,, bagaimana kau bisa masuk?" tanya Zaza. Pikirannya sudah kemana mana, dia mengira Rion telah melakukan sesuatu dengannya. Zaza menarik selimut, menyelimuti seluruh tubuhnya dan hanya mengeluarkan kepalanya.
"Aku hanya ingin melihatmu, dan aku masuk dari pintu." jawab Rion kembali menaiki ranjang milik Zaza. Kali ini dia duduk dekat kaki Zaza.
"Jangan naik, tetap disana, siapa yang menyuruhmu naik?"
Bukannya menjawab Rion malah menjahili dan menarik narik selimut yang dipakai oleh Zaza.
"Apa yang kamu sembunyikan hm?? boleh aku melihatnya?"
"Tidak ada, keluar sana, keluaaaarrr!"
"Jangan berteriak, Idan akan salah paham jika mendengar Suaramu."
"Kalau begitu berhentilah menariknya dan keluar dari sini!"
"Setauku, kamu masih memakai baju. Kenapa menutupinya?"
"Pakai baju? kau tidak membukanya?"
"Kamu ingin aku membukanya? ah,,, kenapa tidak memberitahunya dari tadi, sini biar aku buka." ucap Rion menarik selimut Zaza hingga lepas.
"Tidak, tidak, jangan. Aku bau, aku mau mandi dulu." jawab Zaza, mengangkat kedua tangannya ke arah Rion dan perlahan-lahan mundur.
"Jadi habis mandi boleh dibuka?"
"Tidak akan. Kau buka saja bajumu sendiri, untuk apa repot-repot membuka pakaian orang lain?"
"Baiklah,, aku akan membuka bajuku."
"Jangaaaaan,, jangan buka disini. Buka saja ditempat lain, dimana saja terserah kamu asal jangan disini!"
"Hahahaha,,, kamu takut?"
"Tidak, hanya saja tidak sopan jika membukanya didepanku?"
"Waktu itu, kamu juga menciumku dan berlari begitu saja. Apa itu sopan?"
"Kapan? aku tidak pernah menciummu."
"Kamu melupakannya?? jadi apa yang kamu ingat, apa ciuman kita dipulau juga kamu lupakan. Begini saja, bagaimana kalau kita mengulangnya?"
"Tidak,,,,iya. Eh, maksudku aku sudah lupa segalanya, bisa kau keluar sekarang? aku harus bersiap siap, kita akan kerumah sakit bukan?"
"Hmmm,, Aku akan keluar, tapi sebelumnya beri aku pelukan" ucap Rion, berdiri sembari membentang kan kedua tangannya pada Zaza.
Zaza diam tidak bergerak dari tempatnya. Memperhatikan wajah tampan Rion yang bisa memikat semua wanita Selain Zaza. Saat ini hati gadis Itu masih membatu. Tidak tau kedepannya. Apakah dia akan jatuh cinta pada Rion?. ( hanya saya yang tauπ).
"Ayo kemari, jika aku yang kesana aku akan melakukan lebih."
"Baiklah." ucap Zaza, berangsur mendekat menerima pelukan Rion.
Rion memeluk dan mengelus elus rambut Zaza, sesekali ia mencium puncak kepala gadis yang ia sayangi itu.
"Aku hampir gila karena merindukanmu."
"Setelah menyakitiku?"
"Aku tidak berniat menyakitimu, aku cemburu saat kamu menyebut nama pria lain. Jadi jangan mengulanginya lagi!"
"Aku tidak akan berjanji untuk itu." ucap Zaza mengangkat kepalanya membalas tatapan Rion.
"Kamu ingin aku membunuh setiap pria yang kamu sebut namanya."
"Bagaimana jika Leo, paman Idan, Ver-------."
"Cup,,,,." Rion mengecup bibir Zaza.
"Kau----."
"Ingin melakukan yang lain?"
"Tidak. Sekarang keluarlah, aku akan mandi."
"Aku bisa membantu mu mandi."
Zaza mengambil bantal, memukulkannya berkali kali kepala Rion.
Bugh,,,,,bughh,,,bugh.
"Keluar, keluar, keluarrr." teriak Zaza.
Rion tertawa dan berlari meninggalkan kamar Zaza.
*Si**ap dibaca dilike,,like,,,likeπ’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’π’ππππππππππππππ*.