
Selamat membaca, siap dibaca kasih like, vote and rate ya.π€π€π€π€π€π€.
"Rion, kamu tidak jadi ke luar kota? Mama pikir kamu sudah berangkat, dari pagi Mama tidak melihatmu."
"Apa yang Mama lakukan pada Zaza?"
"Maksudmu? Mama tidak melakukan apapun padanya."
"Cih,,, jangan berbohong, aku muak."
"Mama hanya memberinya sedikit pelajaran, agar dia tau tempatnya di mana? dia mengadu padamu?"
"Tidak, dan Mama harus tau, tempatnya ada di hatiku juga di sisi ku."
"Dan kau juga harus tau, aku akan terus mengusiknya selama dia di sisimu. Apa yang kau lihat dari gadis ja--------."
"Aku sudah pernah bilang, aku mencintainya. Akulah yang memintanya untuk tetap bersamaku. Kenapa Mama harus mengusiknya? aku merasa bahagia dengannya, jangan ada lagi yang berani menyakitinya, tanpa terkecuali Mama."
"Kau marah padaku hanya karena jala*g itu?
aku ini----------."
"Yah, kau yang telah melahirkan ku.Tapi apa kau pernah memperlakukan aku seperti anakmu? dari dulu kau hanya peduli pada uang. Ketika aku pulang tanpa uang kau selalu mengabaikan ku, dan saat aku pulang bawa uang, baru kau akan menyentuhku. Dan sekarang kenapa kau harus peduli pada orang yang ku cintai? kau takut uangmu berkurang? aku akan tetap bekerja untuk mengejar semua keinginan mu. Tapi jangan usik hidupku. Aku sudah menjadi seperti ini karena ingin membahagiakanmu. Sekarang aku bahagia bersama Zaza, tolong jangan menyakitinya, Karana aku tidak akan tinggal diam."
"Kau menyesal karena sudah mengumpulkan semua ini untukku? jika iya, aku juga menyesal telah melahirkanmu. Kau bilang, kau sukses karena aku mengabaikan mu yang tanpa uang bukan? aku sangat bangga mendengar nya."
"Apa sebenarnya yang kau inginkan? aku sudah memberimu semuanya. Selama ini aku tidak pernah mencintai wanita manapun, karena aku sibuk mengejar kebahagiaan mu.
Uang, uang uang, bukankah ini yang selalu kau inginkan? apa ini masih kurang?"
"Sangat kurang, apalagi jika gadis itu
terus disamping mu. Dia mengatakan padaku bahwa ia menginginkan uang mu, dan akan mulai memintanya. Bagaimana jika kau yang bodoh ini memberikan seluruh kekayaan mu padanya?"
"Haha,, dari dulu hanya itu yang kau takutkan. Aku akan mengurus semuanya, semua kekayaan ku akan aku jadikan atas namamu.
Jadi uruslah sendiri. Aku bahagia dengan Zaza, meski tidak memiliki apapun, yang penting dia di sampingku, aku yakin akan tetap bahagia."
"Kau tidak mencintai nya Rion, buka matamu! Kau hanya merasa bersalah padanya bukan?"
"Apa maksudmu?"
"Aku tau, kaulah yang membuatnya kehilangan seluruh keluarganya."
Deg,,,,,Rion terdiam. Bagaimana ibunya bisa tau?.
"Apa dia sudah memberi tau pada Zaza?" batin Rion.
"Tidak perlu takut, gadis bodohmu itu tidak tau apapun soal ini. Tapi, menurut mu bagaimana reaksinya jika ia sampai tau itu?"
"Kau yang membuatku melakukan semua itu."
"Ya, tapi kau yang memilih jalannya. Aku hanya menyuruh mu mencari uang yang banyak. Pergilah temui gadis bodoh itu, simpan dia di sisi mu. Jangan lupa, tutup mata dan telinganya. Jangan sampai dia tau tentang sesuatu yang kau tutup-tutupi."
"Kau benar benar bukan seorang ibu. Dengar lah Nyonya Mira, aku masih sangat menyayangi mu, tapi jika kau tidak membiarkan ku bahagia atau kau berani mengusik Zaza. Aku tidak akan tinggal diam."
"Kau mengancam ku? aku Mama mu Rion."
"Aku tidak mengancam mu, tapi aku memperingati mu. Tidak usah mengingatkan ku tentang hubungan kita, karena aku sudah melakukan tugas ku sebagai seorang anak."
Ucap Rion. Untuk saat ini dia melupakan ikatannya dengan wanita paruh bays itu.
"Aku mohon, biarkan aku bahagia." lanjutnya sembari berbalik dan pergi meninggalkan Mira.
"Kau." teriak Mira, menunjuk Rion yang sudah berlalu dari kamarnya.
Namun sesuatu yang ia tidak sadari sedang terjadi padanya.
Melihat Rion yang sudah keluar, Tati memberanikan diri untuk masuk, karena ia juga mendengar teriakan Mira.
"Nyonya?" ucap Tati dengan wajah terkejut.
"Apa,,,,,,, pergi dari sini! jangan ikut campur urusan ku! pelayan sial*n, kau yang mengadukanku padanya bukan?"
"Nyonya, ka,,,kau berdiri?" tanya Tati terbata bata."
Sontak Mira kaget, matanya membulat sempurna. Secara perlahan ia menatap kakinya yang berdiri lurus, juga tangan kanannya yang masih menggantung di udara karena menunjuk Rion.
"Aku,,aku, aku bisa berjalan? aku sembuh?"
tanya Mira.
Mira melompat kegirangan, tawanya memenuhi semua ruangan.
"Sini kau! jangan katakan ini pada siapapun. kau mengerti?"
"I,,iya Nyonya."
"Hahahaha,,, hahahaha." (ala ala nenek lampir).
π·π·π·π·
π·π·
π·π·π·
π·
π·π·π·π·
Zaza berkali kali membaca pesan yang Rion kirimkan padanya.
"Dia benar benar bunglon, bisa berubah ubah. Baru saja dia ingin membunuhku, dan sekarang apa ini?" ucap Zaza.
Ting..... Satu pesan kembali masuk.
08------:" Zaza. ini aku Kikan, kamu dimana? apa yang terjadi? tuan Rion baru saja dari sini, sepertinya dia bertengkar dengan nyonya Mira."
Me : "Benarkah? aku sedang di rumah teman.
08----: "Aku mengambilnya sendiri. Heheh, maaf, aku tidak sopan."
me : "Tidak apa apa. Apa Rion masih di sana?"
08-----: "Tuan Rion baru saja pergi, Kapan kau pulang?"
Me : "Belum tau, nanti aku kabari lagi. Terimakasih sudah memberitahu ku. Aku lagi sibuk, Bye Kikanπ€."
Zaza tersenyum riang.
Keluar dari kamarnya, dan membersihkan semua pecahan guci yang ia hancurkan.
Wajahnya yang terkena pecahan, belum sempat ia bersihkan, bahkan ia tidak menyadari luka itu.
"Pasti Susana hatinya sedang buruk sekarang, aku harus bisa meredakan nya." gumam Zaza.
Setelah membersihkan semuanya, Zaza ke dapur, mencari kembali keberadaan kompor di dapur itu.
Rion yang sudah masuk dari tadi, berdiri di belakang Zaza yang terlihat kebingungan.
"Apa yang kamu cari?"
"Aaaa." teriak Zaza
"Apa kamu ingin aku mati mendadak, selalu saja mengagetkan ku."
Lanjutnya, meski suara Rion sangat lembut tapi kehadirannya yang tiba tiba tetap saja membuat Zaza kaget.
"Maaf sudah membentak mu. Aku sedang mencari kompor. Ak---------."
Rion berjalan mendekati Zaza.
"Ap,, apa yang kau---."
Pinggang ramping Zaza di tarik seketika oleh Rion, hingga tubuh mereka merapat tanpa jarak. Tangan Rion bermain di belakang.
"Hon."
"Lihatlah." ucap Rion sembari memutar badan Zaza, menghadap meja yang baru saja ia utak atik. Sebuah panci berisi sedikit air, ia letakkan di atasnya.
"Aku sudah melihatnya dari tadi, yang aku cari adalah kom---------."
Zaza menggantung kan ucapannya saat melihat air dalam panci mulai mendidih.
"Bagaimana bisa?"
"Ini namanya kompor listrik, begini caranya."
ucap Rion, menjelaskan panjang lebar pada Zaza.
"Mengerti?"
"Iya, aku mengerti. Boleh aku mencobanya?"
"Hum."
Zaza mencoba dan akhirnya ia berhasil.
"Aku ingin memasak. Makanan apa yang kamu sukai?" tanya Zaza sumringah.
"Tidak ada, besok saja kita masak sama sama."
"Tapi aku sudah lapar."
"Aku sudah membeli banyak makanan untukmu."
"Kamu tidak marah lagi?"
Rion menggeleng dan memeluk Zaza.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu. Apa kamu tidak marah lagi pada ku dan juga Mama, yang sudah menyakiti mu?"
"Sudah tidak lagi, aku sudah memecahkan guci mahalmu untuk melampiaskan nya. Tapi aku juga penasaran, apa yang membuatmu mengabaikan ku? kamu tiba tiba diam, aku--------."
"Tidak ada, jangan tanyakan itu lagi. Aku berjanji tidak akan pernah mengabaikan mu sampai kapanpun."
"Tapi kamu harus tetap minta maaf karena mengabaikan ku."
"Aku rasa permintaan maaf ku tidak akan pernah cukup meski aku mengucapkannya beribu ribu kali."
"Hmmm, kamu benar. Ayo makan, aku sudah lapar."
"Ayo."
"Lepaskan dulu, bagaimana aku bisa jalan, jika kamu terus memeluk ku?"
"Begini." jawab Rion. Ia menaikkan kedua kaki Zaza sehingga menginjak sepatu yang ia pakai.
Dalam keadaan berpelukan, Rion membawa Zaza ke meja makan.
"Sayang." ucap Rion sembari terus berjalan.
"Ya."
"Kamu masih punya hutang padaku."
"Apa itu?"
"Ini." Rion menarik tengkuk Zaza dan mencium bibirnya dalam dalam. Awalnya Zaza mencoba mendorong dada Rion, namun karena terbawa suasana ia mengikuti dan membuka bibirnya.
Mereka berdua seperti senior yang sedang mengajari Junior.
Rion yang sudah ahli menguasai Zaza yang masih amatiran.
Abis baca langsung like, vote. Biar semangat ππ. Terimakasih.