I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 46. ini untukmu



Selamat membaca, semoga suka.


Sebelum atau sesudah di baca di like ya, vote and rate 5 ya, biar semangat ngetiknya.🤗🤗🤗🤗🤗.


"Kenapa lama sekali?" tanya Zaza, ketika Rion menyudahi ciumannya.


"Dia tidak mau lepas." tunjuk Rion pada bibirnya.


Zaza tersenyum memukul dada Rion, sembari menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


"Kamu terluka?" tanya Rion, memegang bagian pipi Zaza yang tergores.


Zaza meraba dan merasakan luka itu.


"Ssss, dari mana luka ini?"


"Tunggulah di sini, aku ambilkan p3k." ucap Rion.


"Tapi aku sudah lapar, aku tidak tahan lagi."


"Kamu makan, biar aku mengobati lukamu."


"Baiklah."


"Bagaimana aku bisa makan jika seperti ini."


tanya Zaza, Rion menempelkan kain kasa yang cukup tebal hingga sampai ke bibir Zaza. "Cukup pakai plester saja, tidak perlu pakai ini."


"Bagaimana jika infeksi, Ayo kita ke dokter saja."


"Tidak usah. Ayo lepas, aku sudah lapar."


Rion terpaksa melepaskannya dan menempelkan plester kecil di wajah Zaza.


Makanan yang sudah tersaji mulai di jamah oleh Zaza. Dan melahap begitu banyak makanan, sehingga membuatnya kekenyangan.


"Boleh aku tidur?"


"Tidak boleh."


"Tapi aku mengantuk."


"Itu karena kamu kekenyangan sayang. Ayo berdiri, kita jalan jalan."


"Jalan jalan kemana?"


"Ke suatu tempat."


"Tunggu sebentar, aku tidak bisa bergerak."


ucap Zaza mengelus Elus perutnya.


Rion terpaksa mengikuti kemauan Zaza untuk istirahat sebentar.


Rencananya, dia akan membawa Zaza ke hotel barunya.


Rion akan mulai menyelidiki, apakah Zaza tau yang sebenarnya atau tidak.


Rencana rencana ia susun rapi. Salah satunya adalah menikahi Zaza secepatnya dan membawanya ke luar negri. Memulai hidup baru di sana, guna menjauhkan kekasihnya dari informasi apapun tentang kejadian itu.


"Sudah?" tanya Rion.


Zaza menggeleng, "Sebentar lagi."


"Buka matamu sayang, jangan tidur! kamu sudah bangun siang hari ini."


"Tapi aku tidak bisa tidur tadi malam."


"Kenapa?"


"Memikirkanmu, yang mengabaikan ku tanpa sebab. Lihat ini? ini bekas tamparan nyonya Mira. Bagaimana aku bisa tidur setelah mengalami semua itu?" ucap Zaza, menunjukkan pipi nya yang masih terdapat bekas jari di sana.


"Maafkan aku sayang, itu salah ku tidak bisa melindungi mu." ucap Rion mengecup bagian pipi yang Zaza tunjukkan.


"Itu bukan salahmu."


"Tapi aku sudah mengabaikan mu."


"Jangan ulangi lagi, jika tidak aku akan menghancurkan semua yang ada di sini."


"Huum. Bagaimana? kita bisa pergi sekarang?"


"Aku harus ganti baju du----------."


"Tidak perlu sayang, pakai ini saja. Kamu akan tetap cantik dengan pakaian apapun." ucap Rion. "Apalagi tanpa pakaian." gumamnya.


"Apa?"


"Tidak ada sayang, ayo!"


🌷🌷🌷


🌷🌷


🌷🌷


🌷🌷


🌷🌷🌷


Di perjalanan, Zaza mengamati jalan yang sudah tidak asing baginya. Jantung nya mulai berdegup kencang.


"Apa dia sedang menyelidiki ku?" batin Zaza.


Pikirannya langsung melayang pada Nisa sahabatnya, "Apa mereka juga sudah menemui Nisa, bagaimana ini?"


"Sayang, kamu kenapa?"


"Ha?"


"Kamu melamun sayang."


"Ah tidak, aku hanya bertanya tanya, kemana kita akan pergi? karena jalan ini tidak asing bagi ku."


Rion diam dan hanya mengelus rambut Zaza.


Apa yang ada di pikiran Zaza, memang benar.


Rion membawanya ke tempat di mana ia dilahirkan, tempat di mana ia di besarkan, dan tempat di mana keluarganya di habisi dengan kejam.


Rumah rumah sederhana yang dulu ada di sana sudah di gantikan dengan gedung mewah.


Air mata kemarahan hampir menetes di wajahnya.


Rion memperhatikan wajah Zaza.


Menunggu, seperti apa reaksi yang akan di keluarkan oleh gadis itu


"Sayang."


"Hon, ini?"


"Ini untukmu." ucap Rion, Wajahnya ia paksakan untuk tersenyum. Ketakutan kembali muncul di hatinya. Antara siap dan tidak mengahadapi apa yang akan terjadi setelah ini.


"Untukku?"Tanya Zaza.


Air matanya mulai merembes.


Tangan Rion gemetar melihat wajah kekasihnya yang mulai basah. Dia tidak tau harus berbuat apa, apakah harus menghapus air mata itu, atau membiarkan nya begitu saja.


Kemampuan nya menebak pikiran orang lewat mata tidak berlaku pada Zaza.


Tatapan gadis itu benar benar tidak bisa di baca olehnya.


Zaza tiba tiba memeluknya erat, menyembunyikan wajah nya di dada Rion.


Tidak ada suara kecuali isakan tangis yang ia keluarkan.


Setelah beberapa menit, Zaza mengangkat wajahnya menatap Rion.


"Hon."


"Ya?"


"Tanah ini, tanah ini milikmu?"


"Iya, aku membelinya dari seorang pengusaha." bohong Rion.


"Terimakasih, terimakasih sudah membelinya." ucap Zaza, menggenggam kedua tangan Rion. "Aku sangat senang."


"Sayang."


"Kamu tau?"


"Ha?"


"Dulu aku tinggal di sini, aku lahir di sini Hon. Ayo ikut aku." Zaza menarik tangan Rion, membawanya ke tempat di mana dulu rumahnya berdiri.


Sebuah air mancur yang di kelilingi taman bunga.


"Di sini, rumah ku di sini Hon, ini tempat aku di besarkan. Aku sangat merindukan tempat ini." Ucap Zaza berbinar-binar.


Rion menangkup pipi Zaza.


"Aku tau sayang. Karena itu aku memberikannya untuk mu. Jangan menangis lagi, hm!"


"Aku hanya sedang merindukan keluargaku,"


"Maafkan aku."


"Maaf?"


"Aku minta maaf karena sudah membuatmu menangis."


"Aku menangis karena terharu, justru aku harus berterima kasih karena sudah memberikan ini untuk ku. Orang tuaku juga pasti berterima kasih padamu, karena sudah membuat ku bahagia." jawab Zaza.


"Boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa yang terjadi pada mereka." tanya Rion.


Zaza menunduk.


"Maafkan aku, tidak perlu menj-----------."


"Malam itu rumah kami kebakaran, mereka terjebak di dalamnya." jawab Zaza, memotong ucapan Rion.


"Kebakaran?"


"Hum, aku juga tidak melihatnya. Aku pulang saat rumah kami sudah menjadi abu. Tetanggaku bilang, kebakaran itu terjadi saat semua orang sudah tidur."


"Sudah lupakan saja, semua sudah terjadi."


"Kamu tidak penasaran kemana aku malam itu?" tanya Zaza.


Rion menggeleng. "Tidak."


"Setelah pulang dari Restoran bersama Nisa, aku tidak langsung pulang. Aku menemui temanku yang sedang sakit."


"Teman? apa dia laki laki." tanya Rion menyeleneh. Mencoba mengalihkan pembicaraan, agar tidak terlalu kelihatan bahwa sebenarnya dia ingin Zaza melanjutkan ceritanya.


"Dia perempuan, sekarang dia sudah tenang di sana." tunjuk Zaza, ke langit yang sudah mulai gelap. "Mereka semua pergi meninggalkan ku."


"Jangan bersedih lagi, aku tidak suka melihatnya."


"Aku bahagia Hon, Sangat bahagia. Tapi boleh aku minta sesuatu?"


"Minta apapun, aku akan memberikannya!"


"Bisakah taman ini di bongkar? dan bangun rumah di sini, seperti rumah ku yang dulu!"


"Akan aku lakukan."


"Kamu tau bentuk rumahku?"


"Tidak sayang, tapi Idan pasti tau bukan? aku akan menyuruhnya membereskan semua ini."


"Ah iya, aku melupakannya." tawa Zaza.


"Ayo kita masuk ke dalam, kamu harus melihat lihat semua isi hotel ini." ajak Rion.


Rion menggenggam tangan Zaza, dan sesekali mencium punggung tangannya.


Kecurigaan yang sempat bersarang di pikirannya, kini sudah terhapus bersih.


Tinggal menjalankan rencana ke dua, yaitu mengajak Zaza menikah dan membawanya tinggal di luar negri dalam waktu yang panjang. Sampai semua saksi kejahatan nya pada keluarga Zaza ia tuntaskan. Baru dia akan membawa Zaza kembali ke sini.


Bantu Like, vote and rate 5 dong readers. Biar tambah semangat nulisnya.


🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗