I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 12. rayu aku



🌷 Selamat membaca πŸŒ·πŸ˜„πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’πŸ˜’


Hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan bagi Zaza. Setelah Nisa mengantarkan nya pulang, Zaza langsung memasuki kamar dan menghempaskan diri ke kasur kecil miliknya. Sejenak dia memikirkan ucapan rafi.


"Senjata apa yang Rafi maksud? apa tadi Paman membawa pistol nya?" gumam Zaza.


Dia tau pamannya punya senjata itu drumah dan Zaza pernah melihatnya. Yang dia tau Idan menggunakannya untuk melindungi bosnya dari serangan musuh.


Ngantuk yang menyerang nya sudah tidak bisa ditahan lagi. Akhirnya Zaza terlelap tanpa mandi terlebih dahulu.


Malam itu tetap seperti biasanya tidur zaza hanya sebentar karna mimpi buruk itu terus hadir.


Membujuk matanya agak kembali tertidur pasti tidak akan berhasil. Zaza keluar dari kamarnya menuju taman. Disini lah dia menghabiskan waktu sampai terbit fajar


sambil menatap bintang Zaza bersenandung,


"Bukannya diri ini tak


menerima kenyataan,


hati ini hanya rindu.


Aku rindu padamu ibu." lirih Zaza.


Setelah menyanyikan lagu itu dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berusaha tegar dan kuat.


Zaza tidak menyadari adanya orang lain disekitarnya, bahkan pria itu lebih dulu disana banding dirinya.


Pria itu tidak lain adalah Rion.


Rion yang sedang berbicara dengan temannya yang berada diluar negeri melalui ponsel tiba-tiba mendengar pintu terbuka.


Ia segera mematikan panggilan nya. Dan mulai memperhatikan gadis yang berjalan menuju ayunan yang ada ditaman itu.


Saat Zaza menutup wajahnya, Rion berjalan sangat pelan ke arahnya dan berdiri tepat didepan Zaza. Beberapa menit gadis itu tidak juga menurunkan tangannya.


"Pasti ketiduran." gumam Rion.


dia menendang kaki Zaza tapi gadis itu tidak merespon dan itu malah membuat Rion berniat menendang nya dengan kuat.


Saat pria itu melayangkan tendangan, Zaza mengangkat kedua kakinya dengan memeluk lututnya. Sehingga tendangan Pria itu tidak mengenai kakinya.


Sontak Rion yang mengayunkan kakinya kuat-kuat malah kehilangan keseimbangan hingga jatuh dengan kedua tangan yang seolah mengurung Zaza.


"Sekarang mau apa lagi, kau ingin menciumku?" tanya Zaza. Dia menampilkan satu perpaduan yang sempurna antara bibirnya yang terangkat sebelah, tatapannya yang sinis dan nada mengejek.


Saat pria itu menatapnya dia pun tidak mau kalah dan malah mendekatkan wajahnya ke wajah Rion.


"Apa? ha, apa? atau kau masih ingin bilang mau membunuhku?" lanjut Zaza lebih dekat hingga hidung mereka bersentuhan.


Memang kata-kata itu yang tadinya akan keluar dari mulut Rion tapi dia takut jika gadis itu tidak mau membantu penyembuhan Ibunya.


Mempertahankan harga dirinya dia berdiri seperti semula serta membersihkankan kedua tangannya seola baru saja memegang debu.


"Sampai waktunya tiba saat itu kau akan minta pengampunan dari ku." ucap Rion.


"Ya, dan sebelum waktu yang kau tunggu tiba, besok aku akan mengundurkan diri jadi pelayan nyonya Mira, bagaimana menurutmu?"


"Haha, cobalah jika berani."


"Berani? emang apa yang perlu aku takutkan? kehilangan nyawa, semua orang akan mati hanya menunggu waktu saja. Jika ingin melakukannya sekarang lakukan saja." tantang Zaza.


Sifat Zaza yang menunjukkan tidak takut dengan Rion membuat pria itu berfikir panjang. Dia tidak lagi membalas perkataan yang keluar dari mulut lemes gadis itu.


jika suka bilang saja. Kau menyembunyikan rasa sukamu dengan pura-pura membenciku."


"Sabar, sabar, demi mama." batin Rion


"Aku tidak melakukan sesuatu yang salah, tapi kau bersikap seolah aku ini musuhmu.


Aku menyukaimu juga bukan salah ku. Salah mu sendiri kenapa memiliki wajah tampan seperti itu." lajut Zaza.


Dan saat zaza mengeluarkan kata-kata itu muncul senyum kecil di bibir Rion.


"Sepertinya benar yang mama katakan, gadis ini benar-benar bodoh." Rion tidak berhenti menatap Zaza. Dia sibuk dengan pikirannya sendiri. Sampai kemudian dia membuka mulutnya kembali.


"Buktikan kalau ucapan mu itu benar!"


"Ucapan yang mana?"


"Kau bilang kau menyukaiku, buktikan."


"Dengan apa aku membuktikannya?"


"Terserah."


"HmmmmπŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”."


"Cepat."


"Aku tidak tau apa yang harus aku buktikan, dan kenapa kau meminta bukti, memangnya menyukaimu termasuk kriminal, pake minta bukti segala." jawab


Zaza.


"Kalau begitu rayu aku."


"Hah rayu?"


"Ya."


"Jika aku merayumu kau juga akan menyukaiku?"


"Tergantung."


"Ok,,,,hmm. Tuan tampan aku menyukaimu walaupun kau seorang bajing*an, breng*ek, kejam, tidak punya hati, DannnnnπŸ€”πŸ€”πŸ€”--------."


"Aku menyuruhmu merayu kenapa kau malah mengataiku. Jangan karna aku membiarkan mu bicara kau jadi besar kepala. Isssssssssss,, aku ingin sekali melenyapkan mu." geram Rion,


dengan gigi bawah dan atasnya disatukan. Juga tangannya yang menggantung diudara seolah ingin mencekik leher Zaza tapi tidak sampai menyentuh.


"Ehehhe, kau menggemaskan jika seperti ini, wajahmu mirip singa kecil yang lucu." Ucap Zaza sambil mencubit pipi Rion.


Rion tidak bergerak. Gadis itu mencubit pipinya. Bagaimana bisa dirinya yang sedang marah kelihatan menggemaskan bagi Zaza? sedangkan orang lain saja sangat takut padanya.


"Baiklah, selamat malam menjelang pagi. Aku masuk duluan ya, kencan kita malam ini sampai disini dulu. Ingat, kau boleh merindukan ku." ucap Zaza sengaja menjeda ucapannya untuk menggoda Rion. Dia mengucapkan itu bersamaan dengan kedipan matanya,


Yang disertai senyuman lebar ia sunggingkan dibibirnya.


*J**ejaaaaaaaak


jejaaaaaaaaak


jangan lupa tinggalkan jejak😘😘😘😘😘😘😘*