I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 17. membencimu sampai mati



🌷Selamat membaca 🌷


Beberapa pelayan mengantarkan berbagai jenis makanan dan menyajikannya diatas meja.


Cukup banyak untuk dimakan dua orang.


Zaza yang sudah lapar tidak tahan lagi. Dia menghampiri salah satu kamar yang didalamnya ada Rion. Pintu kamar sedikit terbuka, sekilas Zaza melihat Leo juga ada didalam.


"Kebetulan ada leo, kami bisa makan siang bertiga." gumam Zaza.


Baru mau masuk, dia mendengar suara Rion yang membentak bentak Leo.


"Maksudmu Verdi tidak jadi pulang malam ini?"


"Iya Tuan, dia akan menginap."


"Jadi bagaimana caramu menghabisinya? semua rencana yang kau susun berantakan. Kau memang tidak berguna. Periksa seluruh anak buah mu, aku yakin ada mata mata diantara kalian."


"Menurut informasi yang kita dapatkan. Keberangkatannya ke Rusia ditunda tuan, jadi dia memutuskan untuk menginap dan pulang besok pagi."


"Itu hanya alasan, aku yakin ada mata mata yang memberitahukannya. Selidiki siapa mata mata itu!."


"baik Tuan, aku akan-----"


"Tunggu, jika kau yakin tidak ada mata mata, gunakan saja gadis itu. Seorang Verdi tidak bisa menolak wanita." ucap Rion.


"Maksud Tuan?"


"Malam ini kau yang menghadiri pesta, bawa gadis itu dan perkenalkan pada Verdi.Jika dia tertarik dia akan mengejarnya. Jadikan gadis itu umpan agar Verdi meninggalkan pesta. Kau mengerti maksud ku. Selebihnya urus dengan tenang."


"Iya tuan, saya mengerti."


"Kerjakan Serapi mungkin, jangan ada apapun yang mengarah padaku. Jikapun ada tersangka dalam kasus ini, itu harus mengarah pada gadis itu."


"Baik Tuan." jawab Leo. Setelah mendapat perintah, Leo keluar. Sementara Rion menyusul keluar dari kamarnya menuju meja makan. Disana sudah ada Zaza yang baru saja akan duduk.


"Kau dari mana?" tanya Rion.


" Dari luar. Ada apa, kau merindukanku?"


Rion memutar matanya jengah,


"Aku ingin bicara denganmu."


"Sambil makan saja, aku sudah lapar." ucap Zaza mulai menaruh makanan dipiringnya.


Rion pun melakukannya hal yang sama.


"Sore ini akan ada yang datang kemari membantumu bersiap-siap."


"Iya."


"Jangan tinggalkan tempat ini sebelum Leo menjemputmu."


"baiklah."


"Leo akan menjemputmu nanti malam. Ikuti apapun yang dia katakan."


"Ya."


"Kita akan bertemu disana."


"Ya."


Sedikit aneh dengan sikap Zaza, Rion menghentikan makannya dan menatap wajah gadis itu. Tidak ada perubahan di wajah Zaza, ia tetap tenang dan semangat menghabiskan makanan nya.


"Kenapa menatapku seperti itu. Kau jatuh cinta padaku?" ucap Zaza dengan mulut penuh.


"Kau sangat rakus, membuat selera makanku hilang." jawab Rion meletakkan sendoknya dan beranjak pergi.


"Aku harus menghabiskan ini semua. Aku butuh tenaga saat ini. Tidak tau kenapa, tapi aku merasa ini terakhir kalinya aku makan."


mendengar perkataan Zaza, Rion kembali mendekati gadis itu.


"Apa maksudmu?"


"Maksudku, bisa saja aku tidak akan datang kepulau ini lagi, atau kau berniat membawaku kesini lagi?"


"Ah sudah lah, aku akan pergi. Jangan lupa Leo akan menjemputmu malam ini."


Tidak ada jawaban dari Zaza. Gadis itu sibuk dengan makanan dan pikirannya. Begitu mendengar pintu tertutup, Zaza mengintip dari jendela. Diluar Rion sedang berbincang dengan seorang pria yang berbadan tinggi besar. Kemudian keduanya menaiki mobil dan meninggalkan tempat itu.


"Aku membencimu sampai mati baji*ngan laknat." gumam Zaza.


***********


"Aku harus pergi." ucap Zaza, dia keluar menuju hutan.


Berlari melewati pohon-pohon besar dan banyak rawa, Zaza mencoba mencari tempat persembunyian yang tidak bisa ditemukan Rion dan anak buahnya. Dia tidak mau dijual oleh para baji*gan itu. Dan berakhir menjadi mayat sebelum membalas kematian keluarganya.


Walau mencari jalan untuk keluar dari pulau itu bukan lah hal mudah baginya, tapi Zaza tidak putus asa. Sampai dia berakhir disebuah pantai. Dengan pasir putih membentang luas memanjakan setiap mata yang memandangnya.


Bukan hanya dia, beberapa orang terlihat sedang menikmati pantai itu. Dipastikan mereka adalah tamu tamu keluarga Baron.


"Hy cantik, sendirian?"


"Aaaaa." Zaza melompat sembari memegang letak jantungnya.


Seorang pria tampan tengah berdiri di belakangnya.


"Kau mengagetkan ku." lanjut Zaza


"Hahahha,,, maaf, maaf. Aku tidak bermaksud mengagetkan mu, kamu sendirian?"


"Iya, aku tersesat." ucap Zaza.


"Tersesat?, kamu tamu disini bukan, jika tidak keberatan biarkan aku mengantarmu. Aku bisa tau penginapan para tamu disini, tapi boleh aku tau namamu?" ucap pria itu mengulurkan tangannya.


Zaza bingung harus menjawab apa. Tapi mengingat tamu disana adalah orang orang kaya. Mungkin dia bisa meminta tolong pada pria itu untuk membawanya keluar dari pulau.


"Hei kenapa melamun? kenalkan aku Verdi."


Sontak Zaza terkejut mendengar nama pria didepannya. Dia tau nama itu, dia mendengar Rion dan Leo menyebutkan nama itu sebagai target mereka.


"Aku Ryza." balas Zaza.


Membalas uluran tangan Verdi. Pandangan Zaza tidak fokus, dia melihat kesembarang arah seperti sedang mengawasi.


Sampai matanya berhenti pada beberapa pria. Penampilan layaknya bodyguard. Ya mereka memang bodyguard Verdi. Tapi Zaza tidak mengetahuinya. Dan malah mengira itu adalah anak buah Rion.


"Ayo, ikut aku." ucap Zaza menarik tangan Verdi dan berlari masuk kedalam hutan.


Para bodyguard yang melihatnya langsung bergerak ingin mengejarnya. Tapi Verdi memberikan kode dengan tangan yang berada dibelakang punggungnya. Agar tidak perlu mengikuti mereka.


"Aku tidak menyangka kau begitu agresif." ucap Verdi.


"Apa maksudmu?"


"Kau tidak melepaskan tanganku dari tadi. Aku pikir kau Sangat menyukai ku."


"Ah, maaf. Aku tidak bermaksud------"


"Tidak apa-apa. Katakan kenapa kau membawaku kemari, disini hutan dan banyak hewan melata. Jika kau mau tempat ku akan Sangat nyaman untuk kita."


"Dasar otak mesum."


"Apaa?????"


"Ah tidak. Begini, bisakah kau menolongku keluar dari sini? maksudku ayo kita pergi dari sini. Keluar dari pulau ini, disini berbahaya untuk kita."


"Jelaskan lebih jelas, aku tidak mengerti. Terus kenapa kita dalam bahaya? dan kitaaa?? apa sebelumnya kau mengenalku atau mungkin punya hubungan denganku?


"Bukan begitu, maaf membuat mu bingung. Aku kesini bersama temanku, tapi mereka meninggalkan ku. Aku tersesat dan satu lagi, aku bukan tamu disini. Bisakah aku pulang denganmu. Soal bahaya, aku berbohong. Aku hanya ingin keluar dari sini."


Verdi tidak langsung menjawab pertanyaan Zaza, dia mengamati wajah gadis itu. Ini sangat janggal baginya. Bagai mana tidak, gadis yang baru ia kenal menariknya dan mengatakan dirinya dalam bahaya. Verdi menarik nafas dalam lalu membuang nya.


"Aku tidak sepenuhnya nya percaya padamu. Tapi baiklah, aku akan membawamu keluar dari sini, setelah kita menghadiri pesta itu."


"Benarkah, terima kas------"


Tunggu,, kita???? maksudnya aku ikut denganmu ke pesta?"


"Ya,,, dan tidak ada penolakan. Jika ingin keluar dari pulau ini maka kau harus ikut denganku. Tenang saja, aku akan menyiapkan semua keperluan mu."


Setelah menimbang nimbang perkataan Verdi, Zaza menyetujui nya.


"Ayo." ajak Verdi


"Tidak, kita lewat sana saja." tunjuk Zaza ke arah lain.


Verdi mengernyitkan dahi. Walau di benaknya penuh dengan tanda tanya, dia tersenyum mengikuti gadis itu.


"Apa kau selalu seperti ini? menarik narik tangan orang yang baru kau kenal?"


"Iya, ah, tidak. Sudah jangan banyak tanya, aku tau jalan ini. Jadi ikuti saja." ucap Zaza.


"Kau bilang tersesat, tapi kau mengetahui banyak jalan disini."


"Aku terjebak di pulau ini, dan tidak bisa keluar. Karena tidak ada kendaraan yang bisa aku tumpangi. Seperti pesawat, kapal, boat. ini pulau, puuuuuuuulau. Kau susah mengerti. Bagaimana kau bisa kaya dengan otak Lola seperti itu?"


"Bagaimana kau tau aku kaya? kau menyelidikiku. Wah, aku semakin curiga padamu."


"Kalau begitu pergilah, aku akan mencari pertolongan dari orang lain." ucap Zaza tetap melanjutkan langkahnya.


Verdi tertawa, dia menyukai sikap gadis itu, bukan hanya sikapnya, tapi juga wajah cantiknya.


*Y**ang baca jangan lupa di-like juga ya*,