
Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak nya ya readers. π€π€π€π€π€π€.
Rion memarkirkan mobilnya di depan sebuah toko yang penuh dengan boneka.
Zaza yang tertidur di sampingnya tidak menyadari hal itu.
Beberapa saat Rion kembali membawa sebuah box di tangannya.
"Hon, dari mana." tanya Zaza.
"Sudah bangun? aku membeli sesuatu untuk mu."
"Apa itu?"
"Nanti saja kalau sudah sampai."
"Boneka?" tanya Zaza penasaran.
"Bukan."
"Terus?"
"Nanti sayang, kamu nggak sabaran ih,,"
"Hmm."
Rion tersenyum, "jangan cemberut! nanti juga tau apa isinya."
Tiba di apartemen Zaza langsung membersihkan tubuhnya yang terasa gerah dan lengket.
Berlama-lama lama di kamar mandi, menikmati guyuran shower yang begitu menyegarkan.
Rion masuk ke kamar Zaza tanpa mengetuk pintu, niatnya hanya ingin memberikan boneka yang tadi ia beli di jalan.
Mendengar suara air, Rion yakin gadis itu sedang mandi. Jadi ia memutuskan menunggu di balkon kamar Zaza.
Zaza keluar dari kamar mandi menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya. Itu sudah kebiasaannya dari dulu. Meski Rion sudah membelikan bathrobe untuknya, ia lebih senang menggunakan handuk pink-nya.
Sedang sibuk mengenakan pakaian, satu pesan masuk ke ponselnya. Zaza memilih menyelesaikan kegiatannya lalu membuka pesan tersebut.
Nomor yang tertera adalah nomor yang sebelumnya mengirimkan pesan padanya, yaitu Kikan.
Zaza sudah menghapus pesan pesan Kikan padanya, dan ia juga tidak sempat menyimpan nomor ponsel temannya itu, sehingga yang muncul tetap nomor tanpa nama.
08.......: "Za, kamu di mana? aku dengar kamu pergi bersama tuan Rion. Kalian tinggal bersama?"
Me : "Kami memang pergi bersama, tapi dia hanya mengantar ku ke rumah teman. Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
08..... : Tidak, tidak ada yang terjadi. Dimana rumah temanmu? Jika dapat cuti, aku mau main ke sana."
Me : Ak----."
"Kamu menyimpan nomor orang lain di ponselmu?" tanya Rion yang sudah berdiri di belakang Zaza.
"Waammmpp------."
"Sssstttt,,, jangan berteriak." ucap Rion santai, sembari membekap mulut Zaza dengan pelan dan langsung melepaskan tangannya.
"Sejak kapan kamu di sini?" tanya Zaza panik.
"Sejaaaaak,,,,,,."
"Sejak kapan hon?" rengek Zaza.
"Kamu masih di kamar mandi."
"Ha? berarti kam,,kamu?"
"Iya, aku melihatnya."
"Huaaaaaaa,,,,,." Zaza melompat ke tempat tidurnya dan menenggelamkan wajahnya di bantal.
Rion tertawa melihatnya. "Hei sayang, ada apa?" ucap Rion. "Tidak perlu malu, aku hanya melihatnya sedikit." bujuknya.
Zaza tidak menghiraukan ucapan Rion, ia memukul mukul kiri kanannya.
"Sayang, ayo tunjukkan wajahmu. Jangan malu, suatu saat juga aku akan melihat semuanya bukan?"
Gumaman gumaman Zaza terdengar tidak jelas, entah apa yang di ucapkan gadis itu.
Rion cekikikan melihat tingkah Zaza. Kekasihnya itu ternyata punya banyak sisi dan kelebihan. Pandai meluluhkan hati seseorang, pemarah, keras kepala, manja dan menggemaskan. Semua itu ada padanya.
Anehnya, Rion malah menganggap semua itu adalah kelebihan.
Masalah pesan yang masuk ke ponsel Zaza ia lupakan sejenak.
"Sayang,, percayalah aku tidak melihat apa apa."
"Kamu melihatnya."
"Tidak, aku tidak melihatnya sayang. Ayo bangun."
Zaza menggeleng kepalanya.
"Baiklah, aku akan pergi. Nanti kalau sudah tidak malu lagi, temui aku di ruang tamu!"
ucap Rion menahan tawa.
Rion berjalan ke arah pintu.
Krreeeet,,,,,,, Zaza mendengar suara pintunya terbuka dan kemudian tertutup lagi.
Perlahan lahan Zaza memutar kepalanya menghadap pintu. Bantal penutup wajahnya ia turunkan sedikit demi sedikit, memberi sedikit celah untuk mengintip apakah Rion sudah pergi atau belum.
Zaza duduk dan membuang napas lega setelah memastikan Rion tidak ada di kamarnya.
Haaaaap,,,,,,, entah datang dari mana Rion melompat ke ranjang tepat di depan Zaza. Merampas bantal yang ada di tangan kekasihnya.
Zaza yang sempat ingin telungkup kembali, terhalang karena Rion sudah memegang kedua tangannya, dan menaikkan kedua kakinya di atas dengkul gadis itu.
"Hon lepassssss, aku malu."
"Kenapa harus malu, anggap saja aku tidak melihatnya."
"Tuh kan benar, kamu melihatnya kan? Tadi katanya tidak melihat apa apa."
"Hahahaha,,,, hanya sedikit."
"Lepass Hon."
"Tidak. Biarkan saja begini, aku suka."
"Tapi aku tidak suka, Kaki ku sakit." tunjuk Zaza pada kakinya yang di timpa oleh kaki Rion.
"Jangan menatap ku seperti itu!"
"Tidak perlu malu, aku hany----------."
"Kamu menatap ku, pasti membayangkan apa yang kamu lihat barusan kan?"
Rion tertawa sambil mengangguk, ucapan Zaza itu memang benar.
"Tertawa saja sampai puas." ucap Zaza dengan wajah di tekuk.
"Ehhemmm,,,ehhhem" Rion berdehem guna meredakan tawanya. Setelah dirasa tenang, ia kembali menatap Zaza.
"Sayang katakan padaku, siapa yang mengirimkan pesan padamu? apa kamu menyimpan nomor seseorang? pria atau wanita?"
"Itu nomor Kikan, dia wanita."
"Kikan?"
"Iya."
"Siapa dia?"
"Kikan pelayan di rumah mu, yang menjaga Nyonya Mira saat di rumah sakit."
Rion tampak memikirkan lalu mengangguk angguk. "Apa yang dia katakan?"
"Tidak ada yang penting. Dia hanya menanyakan keberadaan ku."
"Berikan ponselmu padaku."
"Untuk apa? kamu ingin menghancurkannya? Kamu tidak percaya padaku? Kikan itu pe-----------."
"Aku percaya sayang, boleh aku melihatnya?"
Zaza menatap ragu pada Rion.
"Aku hanya ingin melihatnya." ulang Rion dengan lembut, dan itu cukup untuk meyakinkan Zaza.
"Lepasin dulu!"
"Ok."
Rion mengernyikan dahinya saat melihat pesan di ponsel itu.
"Ada apa?" tanya Zaza.
"Dia sering mengirim pesan padamu?"
"Baru dua kali, ada apa?"
"Apa yang kalian bahas sebelumnya, apa kamu memberitahukan alamat ini padanya?"
"Tidak Hon, sebelum ini dia hanya menanyakan kabarku, itu saja."
"Kita ganti saja kartumu, aku yakin ini bukan pesan darinya."
Zaza menatap penuh tanya pada Rion.
"Sayang, ini bukan dia. Bisa jadi Mama yang menyuruhnya mengirimkan pesan ini."
"Nyonya Mira?"
"Hum, aku bertengkar dengannya."
Zaza menunggu penjelasan dari Rion, namun pria itu tidak lagi melanjutkan ceritanya.
"Berhati hati pada semua orang, jangan percaya pada siapapun dan jangan pergi kemanapun tanpaku!"
"Termasuk padamu? apa aku juga tidak boleh percaya padamu?" tanya Zaza. Perasaannya terganggu karena ucapan Rion sama dengan yang ibunya ucapkan waktu itu.
Keduanya bertatapan dengan penuh kata kata yang tidak bisa mereka ungkapkan.
Hati Zaza penuh makian sementara hati Rion penuh penyesalan.
"Mungkin." ucap Rion menundukkan kepalanya.
"Jadi kemana aku harus pergi agar tidak ada yang mencoba mencelakai ku?"
"Tetaplah di samping ku, aku berjanji akan melindungi mu."
"Leo tau tempat ini bukan?" tanya Zaza. Kecurigaan nya pada Leo semakin menjadi saat mendengar keterangan dari Nisa.
"Iya, tapi mereka tidak tau kamu di sini. Untuk sementara kita tinggal di sini, jika sudah mendapatkan tempat yang aman baru kita pindah."
"Kita akan tetap tinggal bersama?"
"Iya, tidak apa apa kan?"
"Selama kamu bisa menjagaku itu tidak masalah."
"Aku pasti menjagamu. Tidak akan kubiarkan siapapun melukaimu."
"Bukan hanya dari musuh, tapi darimu juga."
"Maksudnya?"
"Tahan dirimu sebelum kita menikah!"
Rion tidak menjawab, dia senyum senyum mesum membuat Zaza bergidik.
"Jangan coba coba." ucap Zaza menggerak gerakkan tangannya di depan wajah Rion.
"Sedikit?" tanya Rion, mendekatkan wajahnya.
"Tidak boleh."
"Banyak?"
"Aaaaaa, menjauh dariku." seru Zaza.
Rion tertawa terbahak bahak, nyatanya ia hanya ingin memeluk kekasihnya.
Like, vote and rate 5 ya.
Biar semangat.
Kasih saran juga bolehπ€π€π€π€π€π€π€
Semoga suka ya.