
๐ทMaaf jika banyak typo dan
selamat membaca ๐ท
Satu bulan sejak kehadiran Rion di restoran Z, Zaza tidak pernah lagi melihat pria itu mendatangi restoran.
Keinginan nya untuk menjebak Rion agar bisa masuk perangkap nya terpaksa dia tahan.
Begitu juga rencananya untuk memanfaatkan Tati tidak terwujud, sebab Jacob yang mendengar bahwa Tati takut padanya mengurungkan niatnya untuk menghubungi wanita itu.
Hari ini Zaza pulang lebih cepat dari biasanya. bekerja untuk mengumpulkan pundi-pundi uang bukan lagi tujuannya.
Gaji ataupun uang yang sering Idan berikan tidak bisa ia nikmati, semua terasa hampa.
Begitu memasukinya rumah Pamannya, dia mendengar ribut-ribut dari lantai dua. Mungkin suami istri itu bertengkar lagi. Mengingat akhir-akhir ini mereka sering bertengkar. Entah apa penyebabnya.
Tidak begitu jelas apa yang mereka ucapkan, tapi beberapa kalimat sempat Zaza dengar. Karena tidak ingin ambil pusing, dia langsung memasuki kamarnya.
ย
Sedang sibuk dengan pekerjaan, Rion dikejutkan dengan bunyi ponselnya.
ย Melihat panggilan itu dari Ibunya. Dia cepat-cepat menjawab telponnya.
"Halo Ma." ucap Rion.
yang melakukan panggilan bukanlah ibunya, melainkan Lina. Mendengar kabar dari seberang yang terdengar begitu panik, membuat dia mematikan panggilan dengan cepat. Mengenakan kembali jas yang sempat dia buka. Idan dan Leo yang melihat bosnya buru buru langsung berdiri menunggu perintah.
"Handle semua pekerjaan di sini." tunjuk Rion pada Idan.
"Baik Tuan." jawab Idan.
Leo yang sudah mengerti tugasnya, berlari mengikuti Rion. Bergegas menuju mobil dan membukakan pintu untuk bosnya tersebut.
"Kita ke rumah, cari jalan yang tidak macet."
"Baik Tuan."
Sesuai yang diharapkan, jalanan saat itu terlihat lancar. sehingga Leo bisa menembus jalanan dengan cepat.
Begitu tiba, seorang satpam yang berjaga di depan rumah terburu-buru membukakan pintu gerbang untuk sang majikan.
Rion dengan wajah paniknya keluar dari mobil dan berlari menuju kamar ibunya.
Kreeeetttt..Rion mendorong pintu dengan pelan.
Didalam dia melihat Ibunya sedang diperiksa seorang dokter dan didampingi oleh Lina.
"Apa yang terjadi?"
"Tuan tadi Nyonya..."
"Biar aku yang menjelaskannya." sahut dokter Andi. dokter Andi adalah dokter yang selama ini menangani Mira.
"Bisa kita bicarakan diluar tuan." lanjut dokter Andi.
Keduanya keluar meninggalkan kamar Mira.
"Jelaskan."
"Nyonya mengidap penyakit arteri koroner Tuan."
"Penyakit apa itu? bukankah selama ini kau memeriksa kesehatannya? dan kau tidak mengatakan apa-apa soal itu." bentak Rion.
"Tu, tu, tuan penyakit itu tidak menimbulkan gejala dan saya rasa Nyonya sedang dalam keadaan tertekan." jawab Andi terbata-bata.
"Tertekan?"
"Ya tuan, jika tertekan itu bisa membuat emosi seseorang tidak stabil.
Emosi yang meluap-luap dan stress dapat memicu penyakit ini kambuh."
"Berikan obatnya!"
"Saya sudah memberikan obatnya pada pelayan, tapi ada yang lebih penting Tuan."
"Apa lagi?"
"Pola makan nyonya harus dijaga, terus hindari apapun yang membuat Nyonya stress atau tertekan tuan." lanjut Andi.
Swtelah menjelaskan semua panjang lebar. dokter Andi pamit pulang.
Rion kembali ke kamar dan menyuruh Lina meninggal kan dia dan Ibunya didalam. Mira yang melihat anaknya datang pun menyunggingkan senyum.
"Kemarilah." panggil Mira.
Rion segera mendekat. Duduk disamping ibunya dan menggenggam tangan wanita itu.
"Ma."
"Mama tidak apa-apa?"
"Mama ingin pelayan baru." mendengar permintaan Mira, Rion menatap mata Ibunya.
"Apa dia yang membuat ibu begini." tanya Rion sedikit membentak.
"Kamu bicara apa, ya bukan lah."
"Terus kenapa Mama ingin menggantinya?"
"Dia pendiam dan juga sudah tua, Mama butuh teman yang bisa diajak bercerita. Mama juga bosan diam didalam terus."
"Mama tinggal menyuruhnya untuk membawa mama Ketaman. Disana juga ada kolam, kenapa hanya diam didalam?"
"Apa gunanya diluar jika tetap diam. Tidak ada yang bisa diajak ngobrol, Lina selalu diam. Mama tidak menyukainya."
ucap Mira dengan nada kesal.
"Baiklah, Mama jangan memikirkannya lagi. Sekarang istirahat lah, aku akan menyuruh Idan untuk mencarinya pelayan baru buat mama."
"Jangan cari yang tua."
"Mama menyukainya." goda Rion
"Kalau begitu biarkan saja Lina, untuk apa menggantinya?"
Rion yang melihat reaksi Ibunya langsung tertawa.
"Hahaha mama istirahatlah, aku akan menyuruh Idan mencari pelayan sesuai dengan yang Mama mau." balasnya.
Tanpa berlama-lama, Rion mengambil ponselnya dan menghubungi Idan.
*******
Idan yang mendapat kan perintah mencarikan pelayan secepatnya pun bingung. "Dimana aku akan mencarinya? apa aku harus membuka lowongan, tapi akan sangat lama kalau harus seleksi dulu." Batin Idan
Selesai dengan pekerjaan nya Idan langsung pulang. Dia meminta bantuan istrinya agar mencarikan pelayan untuk bosnya. Secara Eva yang sering gonta-ganti pelayan pasti tau dimana mendapatkan nya.
"Mama bisa Carikan kan?" tanya Idan
"Bisa, nggak usah nyari juga sudah ada kok."
"Maksudnya?"
"Ya, kita kan bisa nyuruh Ryza pa, lagian akhir akhir ini dia kelihatan malas berangkat kerja."
"Ma, kita tidak bisa menyuruhnya kesana.
Mama sudah tau seperti apa sifat bos Rion." bantah Idan. Dan kalimat inilah yang didengar oleh Zaza saat dia masuk kedalam rumah.
"Kalau begitu Papa cari aja sendiri, kenapa malah minta bantuan mama." Jawab Eva.
"Tidak ada gunanya bicara dengan mu."
"Terserah,aku hanya memberi saran. Jangan menyulitkan dirimu sendiri. Lihat saja bosmu akan memarahimu habis-habisan."
Perkataan Eva membuat Idan terdiam. Dia membenarkan ucapan istrinya. Bagaimana dia akan mengahadapi Bosnya jika belum bisa membawa apa yang diinginkan Rion.
Sementara waktu yang diberikan juga tidak banyak. Mungkin tidak apa-apa jika Zaza yang kesana. Yang jadi masalahnya, apakah Zaza mau. Bagaimana kalau nanti mamanya Rion memperlakukan Zaza dengan buruk?
anak dan Ibu itu mempunyai sifat yang tidak jauh beda.
Idan sangat kenal dan bahkan tau banyak tentang bosnya termasuk apa yang terjadi pada keluarga Zaza .
Dia tidak ingin Zaza mengetahuinya.
*********
"Rion bangunlah." ucap Mira sambil menepuk-nepuk punggung anaknya.
Rion membuka matanya, badannya terasa pegal tidur dengan posisi duduk sungguh membuat badannya tidak nyaman.
"Bangunlah, kau harus bekerja."
"Mama sudah sehat? bagaimana, apa masih ada yang sakit?"
"Tidak, ini sudah baikan, sekarang mandilah!. Bukan kah kau harus ke kantor?"
"Tidak, aku sudah menyuruh Leo mengurus semuanya."
"Bagaimana dengan Lina? dan kapan pengganti nya datang?"
"Lina hari ini berhenti, Idan akan membawakan pengganti nya besok."
"Apa kau sudah melihatnya, jangan membawa sembarang orang."
"Belum, besok kita lihat sama sama. Jika tidak sesuai kita akan menggantinya, Rion mau mandi dulu. Sementara biar pelayan lain yang mengurus Mama." ucap Rion dan di iyakan oleh Mira.
Mira sangat sedih dengan kondisinya. Sudah berapa pelayan yang mengurus nya, tidak pernah sesuai dengan keinginan hatinya. Dia berharap mendapat seorang pelayan yang bisa mengurus dan bisa dia jadikan teman.
*Ja**ngan lupa tinggalkan jejak ๐๐๐๐๐*