
π·π·π·π· *S**elamat membacaπ·π·π·π·
π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·π·*
Leo yang mendapat perintah untuk menyiapkan speed boat, tidak langsung mengiyakan. Dia menyusul ke apartemen Rion. Mencoba membicarakan keadaan nyonya Mira pada bosnya itu.
"Kau sudah menyiapkannya?" tanya Rion, dia sudah siap siap dengan pakaian tebalnya dan sebuah kantong yang berisi pakaian untuk Zaza.
"Tuan, sebaiknya kita berangkat besok saja. Nyonya Mira ingin tuan menemaninya malam ini." ucap Leo.
"Kau bisa menggantikan ku untuk itu."
"Nyonya bilang tidak akan makan jika tuan tidak disana."
"Bukannya kau sudah biasa mengurus hal semacam ini, katakan saja aku dalam perjalanan bisnis. Mama pasti akan senang mendengarnya."
"Nyonya sedang sakit tuan, Nyonya sangat membutuhkan tuan disampingnya. Bagaimana jika kami saja yang pergi?" tanya Leo.
Rion tampak berpikir, Ide itu tidak buruk. Tapi dia yakin gadis keras kepala itu belum tentu mau dijemput oleh orang lain. Dan Rion takut akan membuat Zaza semakin benci padanya.
dia menatap kedua asistennya secara bergantian.
"Biarkan Idan yang pergi."
"Sa,,saya Tuan?"
"Ya, jemput keponakanmu. Dia pasti mau jika kau yang menjemputnya."
"Zaza? tuan lebih mementingkan Zaza dari pada Nyonya Mira?" batin Idan
"Kenapa diam saja, ambil ini." ucap Rion sembari melemparkan paperbag yang ada ditangannya ke arah Idan.
Dengan sigap Idan menangkapnya.
"Baik Tuan, aku akan menjemput Zaza." jawab Idan penuh semangat.
Malam itu juga Idan berangkat ke pulau. sedangkan Rion dan Leo kembali menuju rumah sakit tempat Mira dirawat.
"Leo."
"Ya Tuan."
"Belikan aku ponsel dua, salah satunya masukkan hanya nomorku."
"Baik Tuan."
"Apa Idan melakukan sesuatu?"
"Maksud Tuan?"
"Caramu menatapnya seperti sedang menyelidikinya."
"Saya merasa akhir akhir ini dia sedikit aneh Tuan." jawab Leo jujur.
Dia tidak akan bisa menyembunyikan apapun dari bosnya. Rion yang sudah berpengalaman dalam hal kotor, akan sangat mudah mencurigai hal2 kecil. Karena dia berpikir semua orang licik seperti dia.
"Hm, apa yang Verdi katakan padamu saat dipulau?"
"Dia ingin bertemu dengan Tuan dan akan meminta maaf secara langsung."
"Minta maaf?"
"Iya, soal penyerangan yang anak buahnya lakukan dipulau waktu itu."
"Maksudmu Verdi menyerangku? kenapa tiba-tiba menyerangku? apa dia tau soal rencana kita?"
"Tidak Tuan, bukan begitu, Verdi memerintahkan anak buahnya untuk membawa gadis itu, tapi mereka salah paham. Mengira bahwa Verdi ingin melenyapkan gadis itu, jadi mereka menyerangnya."
"Jadi mereka yang membuat Zaza terluka? kurang ajar, katakan pada Verdi aku sudah kembali. Biarkan dia yang datang menemuiku dikantor, aku tidak akan membuang waktuku ketempat lain hanya untuk menemuinya."
"Baik Tuan"
"Dia menyuruh mu membawa Zaza padanya?"
"Iya Tuan, sepertinya dia jatuh cinta pada gadis itu, dia hampir melobangi kepala asistennya karena mengetahui gadis itu terluka."
"Hah,, jatuh cinta? coba saja kalau bisa. Zaza kekasihku sekarang, aku tidak akan membiarkan siapapun membawanya, termasuk Verdi."
Leo tidak percaya dengan apa yang barusan bosnya katakan. Yang dia tahu, Rion pernah mengatakan padanya bahwa ia tidak akan pernah menikah atau memiliki kekasih.
Dan itu terbukti selama leo bekerja dengan Rion. Dia tidak pernah membiarkan wanita bertahan selama satu hari disampingnya.
"Tuan,, Tuan sudah membaca berkas tentang gadis itu?"
"Dia kekasihku, panggil dia dengan sopan,
aku tidak membutuhkan berkas itu lagi."
"Tapi, Tuan harus memerik--------."
"Jangan mengaturku, suruh pelayan yang menjaga Mama pulang malam ini. Dan datang kembali besok pagi. Aku tidak ingin ada siapa siapa disana. Kau cari ruangan yang bisa kau tempati aku akan membutuhkan mu nanti."
"Baik Tuan."
Tiba dirumah sakit, Rion bergegas masuk kekamar VVIP yang ditempati Mira.
Suara decitan pintu membuat mata Mira kembali terbuka.
"Kau datang?" tanya Mira cuek, menunjukkan rasa kesalnya pada putranya itu.
"Iya, Mama tidak merindukan ku?"
"harusnya Mama yang bertanya seperti itu. Tqdi kau pergi begitu saja, mama pikir kau tidak akan datang malam ini."
"Itu tidak mungkin Ma, tidak ada yang lebih penting dari mama." ucap Rion memegang tangan Mira.
Kata kata itu terdengar manis, tapi matanya tidak bisa menyembunyikan sesuatu yang lain sedang mengganggu pikirannya.
Selama ini Mira tidak pernah menanyakan ataupun ingin tahu soal masalah yang di hadapi putranya.
Tapi kali ini, melihat sikap Rion yang berubah membuatnya bertanya tanya.
"Kau lagi ada masalah?"
"Iya, sedikit masalah diperusahaan."
"Ada apa dengan Perusahaan?, kau tidak mungkin bangkrut kan?" tanya Mira.
Rion terkekeh pelan" Tidak Ma, jangan memikirkan itu."
Menyadari Mira yang tak lagi menyahut, menandakan bahwa wanita paruh baya itu sudah tertidur.
Perlahan Rion beranjak keluar untuk menemui Leo.
"Kau tidak tidur?"
"Sebentar lagi Tuan. Ini ponsel yang Tuan minta." ucap Leo, menyerahkan dua buah ponsel.
"Kau beli yang sama?"
"Maaf Tuan, aku akan menggantinya."
"Tidak perlu, mana yang menyimpan hanya nomorku?"
"Ini Tuan." jawab Leo menunjukkan salah satu ponsel ditangan Rion.
"Hmm..kau boleh pergi."
Rion membuka ponsel miliknya dan mencari nama Idan disana.
***
*****
*****
Kedatangan Idan dan beberapa anak buahnya membuat Zaza kaget. Dia tidak menyangka jika Rion akan menyuruh pamannya sendiri untuk menjemputnya.
Idan juga memberikan sejumlah uang kepada Bu Ati dan Pak Agus.
"Kami tidak bisa menerimanya lagi, nak Rion juga sudah memberikan kami uang." ucap Pak Agus.
"Itu dari Tuan Rion, pak. Dan ini dari saya pribadi sebagai tanda terimakasih karena sudah mau menolong keponakan saya."
"Tidak usah, kami ikhlas menolongnya." jawab pak Agus.
"Paman datang kesini atas perintah nya?" tanya Zaza.
"Iya, kita harus pulang sekarang."
"Paman pulang saja, aku masih ingin disini. Dan maaf aku tidak bisa bekerja dirumah nyonya Mira lagi. Tolong katakan padanya aku mengundurkan diri." ucap Zaza.
"Tidak bisa Za, kau harus ikut Paman pulang. Jika tidak ingin bekerja disana tidak apa-apa. Paman akan menyampaikannya pada Tuan Rion. Tapi ikutlah dengan paman, Bibimu juga mengkuatirkanmu."
"Zaza akan pulang Paman, tapi tidak sekarang. Dua hari lagi aku janji akan pulang."
Idan mengambil ponselnya mencoba menghubungi Leo. Belum sempat melakukannya, nomor tidak dikenali muncul dilayar.
" Halo."
" ,,,,,,,,,"
" Iya Tuan, tapi Zaza tidak mau pulang."
",,,,,,"
"Baik Tuan."
Rion mengalihkan panggilannya menjadi video.
"Berikan padanya." ucap Rion.
Idan memberikan ponselnya pada Zaza.
"Tuan Rion ingin bicara denganmu." ucap idan sembari meletakkannya ditangan Zaza. Mau tidak mau Zaza menerima dan keluar sedikit menjauh dari rumah Pak Agus.
"Ada apa." tanya Zaza tanpa menyoroti wajahnya. Sementara ia bisa melihat wajah tampan Rion memenuhi layar ponsel.
"Tunjukkan wajahmu, aku ingin melihatnya."
"Aku tidak ingin pulang." jawab Zaza.
Rion terdiam sejenak, dia menyadari kesalahannya.
Memaksa gadis itu bukanlah ide yang tepat saat ini. Biasa bisa sikap keras Zaza akan semakin menjadi. Dan anehnya kesabaran Rion selalu muncul saat berhadapan dengan Zaza.
"Aku menyuruh Idan membawa pakaian untukmu. Kamu sudah melihatnya?"
"Hm."
"Sudah makan?"
"Aku tidak ingin pulang dan aku tidak ingin bekerja dirumahmu lagi."
"Iya, sekarang tunjukkan wajahmu! aku ingin melihatnya."
Zaza menunjukkan wajahnya tanpa melihat layar. Ia melempar pandangan kelain arah menghindari tatapan Rion. Meski agak gelap, Rion masih bisa melihatnya.
"Kamu diluar?"
"Ya."
"Kenapa tidak masuk? angin malam tidak bagus untuk kesehatanmu."
"Apa pedulimu? bukankah kau yang meninggalkanku disini?"
"Aku minta maaf. Harusnya aku juga yang menjemputmu, tapi Mama sedang sakit. Aku tidak bisa meninggalkannya."
"Nyonya Mira sakit?"
"Iya, sekarang dirawat dirumah sakit. Keadaannya makin buruk, tangan kanannya tidak bisa digerakkan lagi."
"Aku turut prihatin dengan kondisi Nyonya Mira.Tapi bagaimanapun juga aku masih marah padamu."
"Ya aku tau itu. Pulanglah! marahi aku sepuasmu."
"Aku boleh memukulmu? mencekik lehermu?"
"Boleh, lakukan semaumu."
"Baiklah, aku akan pulang. Siapkan dirimu, aku akan membunuhmu." ucap Zaza.
"Hahahaha, aku menunggu mu sayang."
Setelah memutuskan panggilan, Zaza masuk kembali dan pamit pada Pak Agus dan istrinya.