I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 32.



*Se**lamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷*


Sudah waktunya makan malam tapi Rion belum juga turun dari kamarnya. Tidak biasanya dia terlambat seperti ini. Saat dirumah, dialah yang paling sering mengajak Mira makan.


Mira yang sudah menunggu, mulai bosan.


"Kau Antarkan makanan ke kamarku, aku akan makan disana!" Ucap Mira menunjuk Kikan. Tati langsung memutar kursi roda Mira untuk kembali ke kamar.


Tati


"Kau mengenal wanita jal*ng itu?" Tanya Mira


"Maksud Nyonya, Ryza?"


"Menurut mu siapa lagi?"


"Iya Nyonya, saya mengenalnya."


"Lakukan sesuatu untukku!"


"Apa yang bisa saya bantu Nyonya?"


"Kau menyukai anakku bukan? buat dia menyukai mu, agar Rion membuang si jal*Ng itu dari sini."


"Baik Nyonya." Jawab Tati, ia sangat senang dengan perkataan Mira itu. Dia berpikir bahwa Mira lebih menyukainya sebagi menantu dari pada Zaza.


"Sejak Rion menyukanya, dia selalu mengabaikanku."


"Tapi Nyonya, bagaimana Tuan Rion bisa berpacaran dengannya?"


"Ja*ang itu menggodanya, lakukan saja apa yang kuperintahkan, jangan banyak Tanya!"


"Baik Nyonya."


"Nyonya ini makanan nya." ucap Kikan yang baru saja muncul dari pintu.


Tati langsung mengambilnya, sorot matanya memandang rendah pada Kikan.


Dia bersikap seolah menjadi menantu yang diinginkan.


Malam itu Zaza benar-benar merutuki kebodohannya. sudah jam tiga dini hari ia belum juga tidur. Tidak seharusnya ia menanggapi perkataan Rion. Ia hanya perlu mengalihkan pembicaraan, tapi kenapa ia malah meledak.


"Bagaimana jika Rion mencurigai ku? Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku harus bicara padanya." Gumam Zaza.


Beberapa kali ia keluar dari kamarnya dan masuk kembali.


"Ponsel. Yah ponsel. Ah, Zaza bodoh kenapa kau lupa bahwa kau punya ponsel? sekarang mari kita menghubunginya." Ucap Zaza bicara seorang diri.


Ia membuka kontak satu satunya yang ada di ponselnya dan memanggilnya.


Panggilan pertama, Rion langsung mengangkatnya. Tidak ada suara, keduanya sama sama diam.


Hampir lima menit berlalu tetap tidak ada obrolan. Zaza membuang nafasnya perlahan dan berniat mematikan ponselnya. Tiba tiba dari seberang, suara Rion menyapanya.


"Kenapa belum tidur?"


" Ya?. Ah, aku belum ngantuk."


"Kamu sudah makan?"


" Sudah."


"kalau begitu Tidurlah, kamu tidak lupa minum obat* bukan*?"


"Tunggu! Hmm."


"Ada apa?"


"Aku, aku minta maaf. Maafkan aku!" ucap Zaza, menggigit kukunya. Wajahnya terlihat malu saat mengatakannya seolah olah sedang bicara di depan Rion.


"Hanya itu?"


"Iya. Aku hanya ingin minta maaf, sekali lagi maafkan aku."


"Kamu tidak merindukanku?"


"ha?"


"Entah kenapa, setelah kita bertengkar aku semakin merindukanmu. Boleh aku melihatmu? sebentar saja."


"Tapi sebentar lagi pagi. Tunggu pagi sa-------"


"Aku ada di pintu kamarmu"


Zaza tidak menjawab lagi, dia segera membukakan pintu. Rion berdiri disana dengan ponsel yang masih menempel ditelinganya.


"Aku akan pergi." Ucap Rion.


"Pergi? pergi kemana." bisik Zaza, ia takut akan ada yang mendengarnya.


"Kembali ke kamar. Aku hanya ingin melihatmu? terimakasih sudah membuka pintunya." ucap Rion berlalu meninggalkan Zaza.


Zaza mengernyitkan dahinya.


"Benarkah itu si pembunuh ke*i, kenapa sikapnya manis sekali." batin Zaza.


Tok,, Zaza memukul kepalanya sendiri.


Dikediaman Verdi.


Verdi menatap asisten nya. Terlalu banyak kejutan untuknya dari Ryza, gadis yang ia sukai.


Sekarang Gio datang kembali membawa laporan yang lebih mengejutkan lagi. Ternyata gadis itu tinggal bersama Rion.


Verdi mencoba mencerna kembali kejadian demi kejadian yang menimpanya. Dia tidak bisa menyimpulkan apa hubungan Rion dan Ryza. Jika memang mereka adalah sepasang kekasih, kenapa Ryza mengatakan bahwa mereka selalu mengancam akan membunuhnya?.


"Argghhh. Cari tau selengkapnya." Ucap Verdi mengusap rambut nya kasar.


"Baik Tuan."


Gio segera berlalu melaksanakan perintah bosnya.


"Aku harus menemuinya, harus." gumam Verdi.


Pagi ini Verdi mendatangi kantor Rion seorang diri.


Dengan menunjukkan kartu namanya, jalan untuk menemui Rion berjalan mulus. Verdi bahkan masuk tanpa mengetuk pintu ruangan Rion terlebih dahulu.


"Selamat pagi Tuan Rion yang terhormat." ucap Verdi.


Rion dan Idan yang ada di ruangan itu terlihat kaget dengan kedatangan Verdi.


Idan memasang badan, menghalangi Verdi yang semakin mendekati meja kerja Rion.


"Biarkan dia." ucap Rion.


Idan melihat kearah Rion, dan bosnya itu tetep menyuruh nya untuk diam.


Verdi menunjukkan wajahnya yang santai. Ia mengitari meja kerja Rion dan terus tersenyum. Tangannya menyentuh beberapa benda yang ada di sana.


"Apa tidak ada minuman disini?." tanya Verdi menatap Idan dan Rion.


"Tidak ada jika itu untukmu."


"Kau sangat pelit Tuan Rion."


"Jangan berbasa basi. Apa yang kau inginkan hingga datang kemari?" ucap Rion


"Hahahaha, kau sungguh terburu-buru Tuan Rion. Kalau begitu mari kita bicara, berdua saja." ucap Verdi menjeda kalimatnya dan melirik pada Idan


Rion menatap Idan.


Idan segera keluar. Walaupun tidak dengan kata kata, tapi dia tau apa yang dimaksud oleh Rion.


"Sekarang katakan!"


"Aku ingin mengajak Anda kerja sama."


"Dan aku sudah tidak berminat bekerja sama dengan Anda." Jawab Rion tersenyum meledek.


"Aku akan mempercayakan mu untuk mengerjakan sebuah proyek besar. Keuntungan yang kau dapatkan----"


"Berikan saja pada yang lain. Kami tidak kekurangan klien, dan Anda tau itu."


"Hahahaha, ya ya ya. Aku juga mendengar, bisnis ilegal yang kau geluti lebih banyak menghasilkan uang daripad--------"


"Bagus jika kau tau. Sekarang pergilah, aku tau maksudmu kesini bukan tentang bisnis."


"Kau benar. Aku kesini mau meminta tolong padamu."


"Tolong?, hahahahha, ini sangat lucu. Seorang Verdi pemilik perusahaan terbesar, minta tolong?. Apa aku tidak salah dengar?"


"Tidak."


"Pergilah ke kantor polisi, jika ingin minta tolong. Karena aku tidak Sudi menolongmu bahkan jika aku bisa."


"Aku ingin bertemu dengan Ryza." Ucap Verdi.


Menurut nya sudah tidak berguna lagi basa basi untuk mengatakan tujuannya.


Rion terdiam menatap nyalang pada Verdi.


Darahnya mendidih.


"Aku tidak akan mengijinkannya sampai kapanpun." geram Rion.


"Baiklah, terpaksa aku harus mencari cara lain untuk bertemu dengannya." ucap Verdi beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan ruangan Rion.


"Coba saja jika kau bisa." gumam Rion. Dia sangat yakin dengan cinta Zaza padanya. Emosinya yang masih diubun-ubun tiba tiba hilang, melihat satu pesan dari "Sayang" diponselnya.


Sayang :🖤.🖤.🖤


Rion tertawa sendiri melihat isi pesan Zaza padanya.


Ingin rasanya ia pulang pagi itu.


Rion berangkat lebih pagi, hari ini. Hingga ia tidak bertemu dengan gadis kecil pencuri hatinya.


di like ya abis baca, biar semangat