
selamat membaca 😍🌷
🌷
🌷
🌷
"Dasar laki laki gila, sudah tua masih saja seperti anak kecil labil." gumam Zaza.
Rion beberapa kali melihat ke belakang. langkah kakinya makin cepat. Berbeda dengan Zaza yang sama sekali tidak melihat kearahnya. Ia tidak peduli apa yang dilakukan pria itu. Zaza melanjutkan jalan jalannya ke arah yang berlawanan dengan Rion dan duduk di tepi pantai.
Saat ini Zaza sedang tidak ingin memikirkan balas dendam. Dia lebih mengutamakan kesehatannya. Jika sudah sembuh total baru akan mencari cara lagi.
Bunyi perutnya menandakan jika ini sudah waktunya makan siang. Tapi ia masih betah dengan angin yang berhembus dan ombak kecil yang menyapu kakinya, sesekali ia tersenyum melihat beberapa anak kecil yang bermain disana.
Zaza merasa suasana ini persis seperti didaerahnya dulu. Saat rumah dan keluarganya masih utuh.
Menjelang sore Zaza kembali kerumah Bu Ati.
Bu ati sudah menunggunya didepan pintu.
"Nak Ryza dari mana saja?" tanya Bu Ati.
"Hanya berkeliling Bu, ada apa?"
"Nak Rion sudah------"
"Oooo itu, dia sudah pulang bukan? ijinkan saya untuk tinggal disini beberapa hari lagi. Saya akan pulang saat ada kapal yang menyandar. Boleh kan Bu?"
"Bukan begitu tapi--"Bu Ati tidak melanjutkan kata-katanya karena melihat darah yang sudah mengering di lengan baju yang dipakai oleh Zaza.
"Ada apa dengan lukamu, kau terluka lagi?" tanya Bu Ati sembari memeriksa lengan Zaza.
Zaza tersenyum." Hanya sedikit Bu, ini sama sekali tidak sakit."
"Masuklah, hari ini kau melewatkan makan siang mu." ucap Bu Ati menuntun Zaza masuk. Makanan sederhana sudah tersaji di dapur.
"Pak Agus kemana Bu?"
"Sudah berangkat kelaut. Makanlah, Ibu kedepan dulu."
"Terimakasih Bu." balas Zaza.
**********
**********
*********
Sejak masuk ke speed Rion berjalan mondar mandir. Pikirannya kemana mana, walaupun sudah mendengar keadaan ibunya, tapi pikirannya lebih besar ke gadis yang ia tinggalkan itu.Ia sedang kwatir tapi kecemburuan masih membuat hatinya panas. Apalagi mengingat Leo yang menyebut nama Verdi. Emosinya makin menjadi-jadi. Beberapa barang dia lemparkan hingga hancur.
Idan yang mendapat info bahwa Rion akan sampai hari itu, bergerak cepat. Sebelum menuju pelabuhan, ia membeli pakaian untuk bosnya terlebih dahulu. Sesuai dengan pakaian yang selama ini Rion kenakan.
Melihat Rion yang sudah turun dari speed, Idan langsung membukakan pintu mobil. Mempersilahkan Rion masuk.
Iean, Leo juga Rion duduk di satu mobil.
Idan yang sudah tau tujuannya langsung melajukan mobil.
"Kalian sudah menyelidiki siapa yang mencoba membunuhku dipulau?"
"Kami sedang menyelidikinya Tuan." jawab Leo.
"Kalian Sangat lambat, sudah seminggu sejak kejadian itu tapi kalian tidak menemukan petunjuk apa apa?"
"Kami mencurigai seseorang Tuan, tapi belum Dapat bukti." jawab Leo.
Sementara Idan tidak berani berkutik. mendengar pertanyaan Rion membuat napasnya tercegat. Bahkan untuk menanyakan keberadaan ponakannya pun ia tidak berani.
Dia berpikir akan menanyakan itu pada Leo saja.
Tiba dirumah sakit Rion langsung menuju ruangan VVIP tempat ibunya dirawat.
Disana ada Kikan dan dokter Andi yang sedang berbicara dengan Mira. Rion masuk begitu saja dan langsung memeluk Ibunya. Sementara dokter Andi juga Kikan memutuskan untuk keluar.
"Mama." ucap Rion.
"Rion? Rion ini benar kamu bukan?"
"Iya ini aku Ma, ini Rion."
"Kamu kemana saja. Mereka bilang kau menghilang, kau tertembak, kau----"
"Tidak, tidak terjadi apapun padaku, aku baik baik saja ma. Maafkan aku
jangan memikirkan yang tidak-tidak lagi. Mama harus cepat sembuh."
Mira menangis tersedu-sedu sembari memeluk Rion. Selama ini dia tidak peduli dengan putranya itu. Saat Rion tidak pulang ke rumahnya pun dia tidak pernah menanyakannya. Dia hanya peduli dengan kemewahan yang Rion berikan.
Tapi saat mendengar Rion tertembak, Mira syok berat, pikirannya terganggu. Bagaimana tidak, dia tidak punya siapa siapa lagi kecuali putra semata wayangnya itu. Rasa kehilangan akan putranya membuatnya tertekan.
Kesehatannya yang mulai membaik, kini kembali ke awal dan malah makin memburuk.
"Tangan ku tidak bisa bergerak dan sekarang aku harus mulai semuanya dari awal." ucap Mira.
"Leo sudah mendapatkan tempat yang bagus untuk berobat, tempatnya juga tenang, kita akan keluar negri dan mama akan berobat disana."
"Benarkah?"
"Iya, sekarang mama istirahat.
Mira merasakan ada perubahan pada putranya. Perhatian Rion padanya tidak seperti dulu. Biasanya Rion akan sangat panik dan kwatir jika ia sakit, jangankan untuk mandi, bahkan makan pun akan ia lupakan jika ibunya sedang sakit dan akan terus berada disampingnya.
Sekarang ia belum menjawab ucapan Rion, tapi putranya itu sudah langsung keluar meninggalkannya.
"Leo, urus semuanya. Kita akan membawa mama keluar negeri."
"Baik Tuan."
"Idan, kita ke apartemen."
"Baik Tuan."
Begitu Rion berlalu dari sana, Leo memasuki ruangan Mira.
"Nyonya."
"Apa yang terjadi padanya?"
"Maksud Nyonya?"
"Dua tidak kwatir padaku, dia mengabaikanku. Bahkan dia tidak mencoba menenangkanku, dia berubah. Apa yang terjadi padanya, siapa yang mencoba mengalihkan pikirannya dariku?."
"Nyonya tenanglah,,siapa yang berubah?"
tanya Leo bingung, pasalnya dia tidak mendengar apa yang dibicarakan oleh tuannya dengan nyonya Mira.
"Rion, siapa lagi, dan sekarang dia ingin mengirimku keluar negri. Pasti bukan untuk kesembuhanku kan. Dia hanya ingin mengasingkan ku."
"Nyonya itu tidak benar. Tuan Rion berlari kesini hanya untuk Nyonya, Dia Sangat mengkuatirkan Nyonya, mungkin tuan sedang banyak pikiran. Saat dipulau ada orang yang ingin membunuh tuan Rion."
Mira kaget mendengar penjelasan Leo. Tapi dia sangat mengenal putranya. Hal semacam itu bukankah sudah biasa bagi Rion. Tapi tidak pernah membuatnya mengabaikan Mira. Dan ini apa?. Rion hanya menemuinya selama 10 menit setelah berapa lama tidak bertemu. Apalagi keadaannya sekarang lagi sakit. Mira Pura pura menerima alasan yang Leo katakan.Tapi dalam hatinya, pasti ada yang mengalihkan perhatian Rion darinya.
*******
*******
*******
Rion memilih pulang ke apartemennya daripada kerumah.
Berendam dalam bathtub yang sudah diisi dengan air hangat, membuat emosi yang dia tahan tahan kan sedikit mereda. Matanya terpejam, wajah Zaza terus saja melintas di pikirannya. Antara marah, kwatir, rindu bercampur menjadi satu. Hatinya terasa sesak. Dia ingin mendengar ocehan gadis itu, dia juga ingin melihat senyumnya.
"Idan, Idaaan." panggil Rion dari dalam kamar mandi.
Idan mendekati pintu tanpa membuka pintunya.
"Iya Tuan."
"Belikan ponsel untukku."
"Baik Tuan." jawab Idan.
Sembari menunggu Idan. Rion menyudahi kegiatannya dan duduk di balkon dengan alkohol serta rokok ditangannya. Menghisap beberapa kali lalu dibuang, begitulah seterusnya. Jatuh cinta benar benar membuatnya seperti orang gila. Cemburu membutakan hatinya sehingga meninggalkan gadis yang dia cintai di tempat asing. Ternyata tindakannya itu malah menyiksa dirinya sendiri. Sekarang kwatir dan rasa rindu menderanya.
Idan masuk ke dalam apartemen dan menemui bosnya dibalkon. Rion masih dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Tapi."
"Bawa kemari."
Rion menerima ponsel dari Idan yang sudah siap untuk digunakan. Awalnya dia semangat membukanya dan siap untuk mengetik sesuatu. Namum saat sudah terbuka, jarinya hanya diam. Dia baru ingat, bahwa tidak ada seorang pun yang bisa ia hubungi untuk mengetahui kabar dari gadis yang ia rindukan itu. Hingga beberapa menit berlalu dia masih memandangi ponsel ditangannya.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Idan.
"Ya, kau pamannya Zaza bukan?"
" I,,iya Tuan, a,,a,,apa terjadi sesuatu padanya" tanya Idan terbata bata. Akhirnya dia mendapat kesempatan untuk menanyakan perihal ponakannya itu.
Rion terdiam, dia tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan Idan padanya. Karena sesungguhnya pertanyaan itu juga sedang bersarang dibenaknya.
"Bagaimana keadaannya? apa yang sedang ia lakukan? apa dia sudah makan? bagaimana tidurnya malam ini? apa dia akan mimpi buruk lagi? apa dia merindukanku atau membenciku?"
Semua pertanyaan itu sukses membuat pikirannya kacau balau.
"Tuan."
Praaankkk, ponsel itu hancur seketika.
"Keluar!"
Idan keluar dari kamar Rion dan duduk diruang tamu.
Dia tidak berani jauh dari bosnya karena dia tau, pasti si bos akan memanggilnya lagi.
Setelah memakai pakaiannya, Rion kembali ke balkon. Beberapa kali ia mengusap kasar wajahnya. Harusnya malam ini dia menemani ibunya. Tapi dia melupakan semua itu.
Rion menghampiri Idan diruang tamu,
"Hubungi Leo sekarang." ucap Rion.
"Baik Tuan."
Begitu panggilan tersambung idan memberikan ponselnya pada Rion.
"Leo, siapkan speed boat sekarang!"
Setelah mengatakannya, Rion mengembalikan ponsel Idan dan berlalu kekamarnya.
*L**ike , like like 😘 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘*