I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 33. Licik



Pagi ini Zaza bangun kesiangan. Sinar matahari yang masuk melalui celah celah kamarnya, membuat tidur nya terganggu.


Dengan malas Zaza mendudukkan dirinya, dan menatap sekilas ke arah jam.


Betapa kagetnya ia melihat jam sudah menunjukkan pukul 9. Sontak Zaza langsung berlari ke kamar mandi. Meskipun Rion melarangnya untuk mengerjakan apa apa, tapi ia sangat segan jika harus dilayani, apalagi oleh Bu Minah, yang sudah seperti Ibunya sendiri.


Begitu keluar kamarnya, Zaza langsung menuju dapur. Dapur sepi tidak ada siapa-siapa. Memang pada jam segitu, didapur sudah tidak ada kegiatan apa apa, kecuali salah seorang dari Mira dan Rion Meminta sesuatu.


Zaza berjalan menuju Ketaman. Dua orang pelayan sedang menyapu taman, yang salah satunya adalah Kikan.


"Kikan." panggil Zaza.


"Non Zaza, Ngapain kesini?"


"Non? Aku seorang pelayan Kikan, jangan memanggilku seperti itu!"


"Tapi Tuan Rion kekasihmu, dia pasti marah jika kami hanya memanggil namamu."


"Dia tidak akan marah, aku akan memarahinya jika berani memarahimu."


"Cieee, yang udah jadi calon. Enak banget ya jadi kamu Za, dapat calon suami yang ganteng, kaya." gurau Kikan.


"Apaan sih. Ya udah aku masuk dulu, aku harus bantu Bu Minah bersih bersih di dalam."


"Eh tunggu."


"Apa lagi?"


"Nanti malam aja deh aku ke kamarmu, ada yang ingin aku kasih tau."


"Ya udah, Aku masuk dulu ya." ucap Zaza.


Kikan mengangguk mengiyakan.


Saat melewati Salah satu kamar, Zaza mendengar tawa Mira dan Tati dari dalam. Ruangan itu biasanya di pakai oleh Mira untuk bersantai dan membaca buku.


"hahahhah. pendiam??"


"Iya Nyonya, dia itu pendiam. Hanya saja dia nggak akan diam sama orang yang membuat masalah dengannya."


"Pendiam dari mana?. Dia itu penggoda. Dia sendiri yang bilang padaku, akan melakukan apapun demi uang, termasuk menggoda Rion."


"Tapi Nyonya, dia sudah pernah di dekati pemilik---------"


"Goda saja Rion seperti yang aku katakan!, tubuhmu jauh lebih menggoda daripada gadis jala*g itu. Bagaimanapun juga Rion itu laki laki, dia akan bertekuk lutut jika kau melemparkan tubuhmu padanya!."


"Baik Nyonya, tapi Nyonya harus berjanji akan menjadikanku menantu Nyonya."


"Hmm, jika kau berhasil."


Zaza memperhatikan keduanya dari celah pintu yang sedikit terbuka.


Dia meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rion pasti tergoda pada Tati, jika Tati benar benar melemparkan tubuhnya pada Rion. Apalagi wanita itu paling lihai dalam menggoda pria.


Tidak akan ada cinta, tidak ada kepercayaan juga. Itulah prinsip Zaza saat berhubungan dengan Rion.


Zaza kembali ke kamarnya mengambil ponsel dan berniat mengirimkan pesan pada Rion. Pesan yang akan membuat Rion terus merindukan nya .


Sudah berkali kali mengetik, tapi ketika membacanya Zaza kembali menghapusnya.


Hingga Zaza memutuskan untuk mengirim emot saja.


me : 🖤.🖤.🖤


Zaza menggenggam ponselnya dan mengecek nya setiap menit. Sudah hampir lima menit ia mengirimkan pesan itu, dibaca tapi tidak dibalas.


Keraguan nya makin menjadi karena pesannya tak kunjung dibalas.


Zaza memutuskan untuk keluar kamarnya berjalan menuju taman belakang Rumah.


Disana lebih sejuk dibandingkan dengan taman di samping.


Zaza menghirup udara dalam dalam, dan membuangnya secara perlahan.


"Dia benar benar mengabaikan ku. Apa dia sesibuk itu? hingga tidak punya waktu untuk membalas pesan?." Gumam Zaza.


Zaza terkejut ketika melihat Tati menghampirinya.


"kau disini?" Tanya Tati.


"Hmm, dimana Nyonya Mira?"


"Sudah tidur. Sepertinya kau sangat bahagia menjadi calon Nyonya muda dirumah ini."


"Ya tentu, sangat bahagia. Rion mencintaiku, dan Nyonya juga menyukai ku."


"Kau yakin Tuan Rion mencintaimu?"


"Ya. Bukan kah sudah seharusnya aku yakin padanya, mengingat setahun lagi kami akan menikah."


"Sejak kapan kau menjadi wanita penggoda? Aku mengenalmu sudah cukup lama. Kau tidak akan berani mendekati laki laki, bahkan saat pak Joy mendekatimu, kau menjauh ketakutan. Dan aku juga tau kau tidak tertarik dengan uang. Apa kau punya tujuan lain masuk ke rumah ini?"


( pak Joy adalah pemilik restoran Z tempat Zaza bekerja).


"Tujuan?"


"Oh ayolah, Tidak usah pura pura. Kau bisa menceritakan apapun padaku, aku pasti akan menyimpan rahasia mu." ucap Tati penuh dengan percaya diri.


"Kau janji tidak akan memberi tau siapa siapa?" tanya Zaza.


"Percaya padaku!"


"Tujuanku adalah uang, aku ingin menguasai kekayaan suamiku kelak. Tapi aku juga jatuh cinta pada Rion. Jadi aku menggodanya." ucap Zaza tersenyum.


"Jadi jangan mencoba mendekatinya juga. jika kau tidak ingin terluka. Dia sudah jadi milikku, carilah incaran lain!" lanjutnya.


Tati mengernyitkan dahinya. Dia melihat orang lain dalam diri Zaza. Senyuman yang Zaza tunjukkan adalah senyuman devil.


"Kau pikir aku anak kecil, yang takut dengan ancaman?"


"Aku tidak mengancammu, aku hanya mengatakan yang sebenarnya."


"Lihat saja siapa yang akan berada di samping Tuan Rion nanti?"


"Tidak perlu nanti, sekarang saja."


"Maksudmu?"


"Hon,, kamu datang??"


ucap Zaza melihat Rion yang tiba-tiba muncul dari arah belakang Tati.


Rion berjalan mendekat Zaza dan langsung mengecup keningnya.


"Masih bertanya?, padahal kamu yang menyuruhku pulang."


"Aku??"


"Hmm, kamu."


"Kapan aku menyuruhmu pulang?"


"Kamu lupa?, tadi kamu mengirimiku pesan."


"Tapi aku hanya mengirimkan."


"Apa?, apa yang kamu kirimkan?"


"Itu, aku cuma mengirim----"


"Love. Dan itu artinya kamu sedang merindukan ku bukan?" ucap Rion, menggesek gesekkan hidung mereka.


"Hon, Apa kamu akan selalu datang jika aku merindukanmu?"


"Akan aku usahakan."


"Hon."


"Ya."


"Apa kamu akan meninggalkanku, jika ada wanita se seksi dia menawarkan tubuhnya padamu?" tanya Zaza sambil menunjuk Tati.


Bukannya menjawab, Rion langsung menatap Tati.


"Kenapa kau masih berdiri disana? pergi!" bentak Rion.


Tati membungkuk dan beranjak pergi meninggalkan Zaza dan Rion.


Dia sangat kesal, dia berniat akan membalas perbuatan Zaza padanya.


"Sayang, ayo kita keluar makan siang."


"Makan siang? Sekarang? ini baru jam berapa hon."


"Iya sekarang sayaaang."


"Tapi ini belum waktunya." ucap Zaza melihat jam tangan Rion.


"Kita kekantor sebentar, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan."


"Aku ikut ke kantormu?"


"Ya, aku tidak ingin kamu terus merindukanku. Ganti baju sana!, aku akan menunggumu di mobil." ucap Rion mengacak acak rambut Zaza.


Dengan senang hati Zaza ikut ke kantor Rion.


Ia berlari masuk kedalam rumah untuk mengganti pakaiannya, dan menyusul Rion yang sudah ada di mobil.


"Paman?" panggil Zaza, ia kaget melihat Idan yang jadi supirnya.


"Iya Za" jawab Idan seperlunya. Ia hanya menatap dari sipion, dan mulai melajukan mobilnya.


"kemana Leo, kenapa bukan dia?" bisik Zaza,


"Dia sedang sakit. kamu tidak menyukai Idan? kita bisa menyuruh yang la-----"


"Paman, bagaimana kabar Bibi?" tanya Zaza. Baru saja Idan mau membuka mulut untuk menjawab, tapi Rion langsung menyela pembicaraan itu.


"Sayang jangan bicara dengannya!" ucap Rion menarik pinggang Zaza agar lebih dekat dengannya.


"Hon."


"Bicara denganku saja!"


Zaza tau Rion tidak akan mengalah jika menyangkut dengan laki laki lain, siapapun dia. Jadi ia memilih diam, daripada membuat dirinya semakin malu.


Hon dibaca Han..


Like like like 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘***