I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
Eps. 31 bertengkar



*S**elamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷*


Gadis itu menatap iri pada Zaza. Dari awal dia menjadi pelayan disana, Mira sudah menceritakan padanya tentang Zaza.Tapi dia tidak menyangka bahwa orang yang dimaksud oleh Mira adalah orang yang sama dengan yang ia kenal.


"Dimana Mama?" tanya Rion pada Bu Minah.


"Ditaman Tuan." jawab Minah.


"Ayo kita menemuinya, Mama pasti senang melihatmu kembali." ucap Rion menggandeng tangan Zaza.


Zaza menurut dan mengikuti kemana Rion membawanya. Ia tau jelas bahwa Mira hanya pura-pura menyukainya.


"Ma." panggil Rion.


Mira menoleh kebelakang melihat kedatangan keduanya.


"Kalian sudah datang?" tanya Mira dengan wajah sumringah. Ia menerima pelukan dari Rion. Tidak lupa, ia juga membentangkan tangannya ke arah Zaza berniat memeluk Zaza.


"Nyonya." ucap Zaza mendekati Mira.


"Bagaimana keadaanmu? aku dengar kau dirawat dirumah sakit."


"Baik baik saja Nyonya. Hanya luka kecil, sekarang sudah baikan." jawab Zaza.


"Syukurlah, aku pusing melihat seseorang yang sangat menghawatirkan mu." ucap Mira mengedikkan sebelah matanya ke arah Rion. mereka tertawa bersama.


"Kemana pelayan Mama? kenapa Mama sendirian?" tanya Rion, mencari cari disekitar Mira.


"Dia sedang mengambilkan minum."


"Oh, ayo kita masuk." Ajak Rion sembari mendorong kursi roda Mira.


"Tidak, kamu duluan saja. Mama masih ingin disini dengan Zaza. Kamu mau kan Za?"


tanya Mira.


"Iya Nyonya."


"Baiklah, tapi kalian jangan terlalu lama diluar."


"Iya." jawab Mira dan Zaza serentak.


Sepeninggal Rion. Mira tetap pada sandiwara nya. Ia masih Mira yang pernah Zaza layani. Penuh tawa dan masih menyukai obrolan obrolan seputar uang.


"Nyonya. Apa tidak apa-apa jika aku menikah dengan Rion?"


"Tentu saja tidak apa apa. Rion sangat mencintaimu, dia akan gila jika aku melarangnya. O iya, ceritakan padaku bagaimana ia bisa takluk padamu."


"hmmm, aku hanya sedikit menggodanya Nyonya." Ucap Zaza malu malu.


"Dan kau berhasil. Hahahaha, kalian berdua benar benar cocok. Rion melakukan apa saja untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dan kau juga begitu. Berapa banyak yang sudah ia berikan padamu?"


"Dia belum memberiku apa apa. Apa sebaiknya aku memintanya Nyonya? Kami saling mencintai, bukankah tidak masalah jika aku memintanya?" Ucap Zaza, yang mana membuat Mira langsung terdiam. Dia menatap mata Zaza. Mata itu terlihat polos, tidak ada mata licik seperti yang biasa dimiliki oleh aktris pemeran antagonis di tv.


"Jadilah menantu yang baik, Rion akan memberimu lebih banyak dari yang kau harapkan."


"Benarkah? Kalau begitu aku akan menjadi menantu yang baik untukmu Nyonya."


"Hahahhah. Aku yakin itu, kau pasti akan menjadi menantu terbaik sepanjang sejarah." Ucap Mira tertawa


"Nyonya, ini air minumnya." ucap pelayan Mira.


Zaza yang merasa mengenal suara itu, langsung berdiri dan,


"Tati?"


"Ryza?"


"Hei, kalian saling mengenal?" Tanya Mira


Zaza terdiam, sementara Tati tersenyum lebar.


"Iya Nyonya. Kami pernah bekerja di salah satu restoran yang sama." Jawab Tati.


Tati sangat senang setelah mengingat Mira membenci Zaza.


"Benarkah?"


"Iya Nyonya." Jawab Zaza. Ia merasa tidak nyaman akan kehadiran Tati dirumah itu. Sifat pecicilan dan ambisius yang ia tunjukkan dirumah itu bukanlah sifat yang sebenarnya. Dan Tati tau seperti apa sifatnya.


"Za, kamu tidak apa-apa?" tanya Mira.


"Eh, tidak apa-apa Nyonya, hanya sedikit haus."


"Kalau begitu ayo masuk." ucap Mira.


Tati mendorong kursi roda Mira. Ia terus tersenyum dan pikirannya penuh khayalan. Dia membayangkan Rion menjadi kekasihnya. Menurutnya, Zaza yang pendiam akan kalah dengannya yang agresif.


Zaza berjalan menuju kamarnya. Meski Rion sudah memaksanya untuk pindah ke kamar yang lebih besar, tapi Zaza menolaknya.


Saat masuk, Zaza terperangah melihat kamarnya yang berubah. Semua perlengkapan didalamnya sudah diganti.


Tempat tidur minimalis, lemari pakaian dan meja rias, semuanya baru.


"Kau menyukainya?" Ucap Rion tepat ditelinga Zaza. Entah sejak kapan pria itu berdiri disana. Dia melingkarkan tangannya di perut rata Zaza.


"Iss,,kau mengagetkan ku saja. Jangan seperti ini!, nanti dilihat orang." Balas Zaza. Mencoba melepaskan pelukan Rion.


"Hon."


"Hmmm."


"Lepas ih. Aku tidak nyaman seperti ini."


"Baiklah. Lihat saja nanti jika kita sudah menikah, aku tidak akan melepaskan mu." Ucap Rion.


Zaza memutar matanya malas, banyak yang harus ia pikirkan sekarang. Menanggapi Rion yang selalu mengganggunya tidak akan ada habisnya.


"Hon, ini---"


"Ini kamarmu sayang, aku tidak mau kau tidur ditempat yang tidak layak."


"Tidak layak? Bagaimana dengan pelayan lainnya, apa kau juga menggantinya? Mereka juga tidur di kasur yang sama dengan kasur ku sebelumnya."


"Kau calon istriku, mereka bukan. Jangan menyamakan diri dengan mereka."


"Hmmm. Bisa aku masuk sekarang? aku ingin istirahat." Ucap Zaza.


Beberapa detik Rion menatap Zaza.


Ia tau Gadis itu sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Bukannya pergi, Rion membawa Zaza masuk dan menutup pintu kamarnya.


"He----"


"Aku tidak akan berbuat apa-apa." Jawab Rion mendudukkan Zaza di tempat tidur. Rion bersimpuh memegang kedua tangan Zaza.


"Katakan padaku semua yang kau rasakan! Ucap Rion.


Zaza mengernyitkan dahinya. Menatap kedua bola mata Rion.


"Bukankah aku sudah pernah mengatakannya?" balas Zaza.


"Maksudku yang kau rasakan sekarang."


"Masih sama, aku menyukaimu Dan sampai sekarang masih menyukaimu."


Rion tertawa mendengar jawaban polos Zaza. Ia bangkit dan duduk di samping kekasihnya itu, sembari membawa Zaza kepelukannya.


"Aku tau itu. Maksudku kenapa kau terlihat murung?"


"Hon, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Tanyakan!"


"Siapa yang membawa pelayan Baru Nyonya itu kemari?"


"Jadi kau murung karena itu?" Tanya Rion, ia mengangkat wajah Zaza dekat dengan wajahnya. Senyuman nya mengembang seketika.


Zaza diam dan hanya mengerucutkan bibirnya.


"Sayang, jawab!"


"Iyaaa. Apa kau tidak melihatnya? dia sangat cantik, tinggi, seksi. Dan aku takut kau akan hmmmmppp."


Kata katanya berhenti karena Rion tiba tiba mencium bibir Zaza. Seperti biasa, Zaza tidak meresponnya sama sekali. Setelah beberapa detik Rion melepaskan ciumannya dan kembali memeluk Zaza.


"Apa aku harus mengusirnya?"


"Dan Nyonya akan memarahimu habis habisan."


"Ah, kau benar juga. Kalau begitu aku akan menyuruh Leo untuk menyingkirkannya." Ucap Rion.


Zaza panas mendengar kata-kata itu, ia melepas kasar pelukannya dan berdiri dihadapan Rion. Matanya memerah menahan kemarahan sekaligus air mata. Nafasnya ikut memburu. Dia tidak berpikir lagi bahwa apa yang dia lakukan sekarang ini akan membuatnya menyesal.


"Saya-----"


"Kenapa kau selalu ingin membunuh? apa salahnya padamu? Berapa banyak yang sudah kau bunuh, ha? Apa hanya hidupmu yang berharga, sedangkan hidup orang lain hanya debu di matamu. Dan kau bisa meniupnya kapan saja, begitu?"


"Sayang, hei--"


"Menjauh dariku. Jangan sentuh aku dengan tangan kotormu. Apa kau sering melenyapkan nyawa orang lain? apa kau tidak berpikir seperti apa keluarganya saat kehilangan mereka. Bagaimana bisa kau tidak punya hati?"


Ucap Zaza terus mundur menjauh dari Rion. Air matanya terus mengalir. Dia lepas kendali karna mendengar kata kata "menyingkirkan" dari mulut Rion.


"Za dengarkan aku. Aku memang pembunuh, tapi aku hanya menyingkirkan mereka yang mencoba menghalangiku dan mengganggu ketenangan ku"


"Jadi semua yang kau bunuh mengganggu ketenangan mu? dan apa dia juga mengganggu ketenangan mu. Apa yang dia lakukan ha?"


"Aku mencintaimu. Dan aku tidak tenang melihatmu murung, dia---"


"Kalau begitu bunuh aku. Bukankah aku yang membuatmu tidak tenang? Bunuh aku, pembunuh" Ucap Zaza ber api api.


Buggh,,,,Rion memukul dinding kamar Zaza.


Zaza terdiam seketika, ia menutup mulutnya melihat jemari Rion yang mengeluarkan darah. Zaza menghentikan ocehannya. Setelah dirasa agak tenang, Perlahan Rion mendekati Zaza yang masih mematung ditempatnya.


"Istirahat lah, Aku akan menyuruh pelayan mengantarkanmu makan malam." ucap Rion.


Ia mencium kening Zaza dan berlalu meninggalkan kamar itu.


*Li**ke like biar semangat*,