I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 28. putuskan dia



*S**elamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 selamat membaca 🌷 selamat membaca🌷*


*. *. *. *.


"Verdi?" ucap Zaza, dia langsung memukul mulutnya sendiri dan melihat ke arah Rion.


Takut pria itu akan bertindak gila di depan Verdi.


Bukan hanya mereka berdua yang terkejut Verdi bahkan jauh lebih terkejut dari mereka. Rion yang menggenggam tangan Zaza. menimbulkan berbagai pertanyaan dikepalanya. Tapi dia dapat menguasai dirinya sendiri sehingga tetap kelihatan tenang.


Niatnya untuk meminta maaf pada Rion ia lupakan. Yang tadinya dia merasa bersalah karena penyerangan yang dilakukan anak buahnya. Sekarang dia merasa sedang dipermainkan oleh keduanya, terutama oleh Zaza.


"Halo tuan Rion, Nona Ryza, saya tidak menyangka kita akan bertemu disini." sapa Verdi. Matanya hanya tertuju pada Zaza yang kelihatan tidak nyaman.


Rion tidak bergeming, tatapannya tajam pada Verdi. Rahang dan kepalan tangannya yang mengeras seakan menahan diri untuk tidak menghajar pria didepannya.


Tapi Verdi tidak menghiraukan itu. Dia juga sedang menahan dirinya sendiri untuk tidak menyeret Ryza dari sana.


"Nona Ryza, bisa kita bicara sebentar?" tanya Verdi.


Belum sempat Zaza menjawab, Rion mendaratkan satu pukulan kewajah verdi. Sontak anak buah Verdi yang tadinya diam Langsung memukul Rion. Terjadilah duel antara mereka, tiga lawan satu.


Zaza teriak histeris mencoba melerai, tapi tenaganya hanya ibarat elusan bagi ke empat pria itu. Saat duel berlangsung, pintu lift terbuka. Verdi menarik tangan Zaza membawanya keluar dan kembali menaiki lift lain untuk turun.


"Verdi, lepaskan! aku mohon hentikan mereka." ucap Zaza.


Namun tidak ditanggapi oleh Verdi.


"Kau akan membawaku kemana? lepaskan, jika kau ingin bicara, ayo kita bicara. Tapi tolong hentikan mereka."


"Jangan kwatir, kekasihmu bukan pria lemah. Dia bisa menghadapi 10 lawannya sekaligus." ucap Verdi.


Genggamannya semakin erat dipergelangan tangan Zaza.


"Tapi temanmu sedang menghajarnya."


"Itu tadi, sekarang aku tidak yakin akan hal itu."


"Kalau begitu lepaskan tanganku!, kau menyakitiku."


"Dan kau mempermainkan ku."Jawab Verdi


dia melonggarkan pegangannya tapi tidak melepaskan tangan Zaza.


"Maksud-------" kalimat Zaza terputus mendengar Verdi yang berbicara dengan seseorang lewat ponselnya.


"Kirimkan beberapa anak buahmu kerumah sakit dan awasi Rion, sekarang." ucap Verdi.


Dia kembali memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Ayo, kita harus pergi."


Lift yang mereka naiki terbuka, Verdi kembali membawa Zaza menuju parkiran dan memaksa gadis itu masuk ke mobilnya.


"Aku tidak mau." tolak Zaza.


"Aku tidak minta persetujuan mu." ucap Verdi, mendorong Zaza hingga masuk ke mobil.


Perlahan mobil itu melaju meninggalkan rumah sakit. Keduanya diam hingga


perjalanan yang mereka tempuh sudah lumayan jauh dari rumah sakit, tapi Verdi tidak juga menghentikan mobilnya.


"Kau akan membawaku kemana?."


"Makan siang."


"Apa?"


"Aku lapar, temani aku makan."


"Hanya makan siang saja harus sejauh ini?"


"Diamlah, aku sedang menahan diriku untuk tidak berbuat kasar padamu."


"Apa salahku?" tanya Zaza.


"Kau akan tau nanti." jawab Verdi sembari menghentikan mobilnya disebuah restoran.


Dia membukakan pintu untuk Zaza.


"Turun, kita akan makan disini!."


Zaza hanya menurut dan mengikuti langkah Verdi.


**🌷🌷🌷*******************🌷🌷🌷🌷


Makanan yang sudah di hidangkan tidak disentuh sama sekali oleh Zaza. Rasa kesal nya lebih besar ketimbang keinginan nya untuk mencicipi makanan itu.


Sudah hampir setengah jam dia menunggu Verdi menghabiskan makanannya tapi laki laki itu tak kunjung siap.


"Bisakah kau mempercepat makanmu?"


"Tidak, aku bukan hanya makan, aku sedang berpikir harus memulai pertanyaannya dari mana."


"Baiklah, berapa jam aku harus menunggu mu memikirkan itu?"


"Aku sudah siap." jawab Verdi mengelap mulutnya dengan tisu.


"Cepat tanyakan." ucap Zaza.


"Hmmm, berapa umurmu?"


"19."


"Apa hubungan mu dengan Rion?"


"kami pacaran."


"Sejak kapan?"


"Putuskan dia!"


"Tanyakan apa yang ingin kau tanyakan, jangan mengatur hidupku, aku tidak mengenalmu."


"Aku Verdi vhabian, 27 tahun, pebisnis handal, pemilik perusahaan, kekayaanku-------."


"Yah, kau pemilik setengah dari bumi ini, lalu?"


"Aku jatuh cinta padamu, jadi putuskan Rion."


ucap Verdi. Pertanyaan di kepalanya tidak sesuai dengan apa yang keluar dari mulutnya.


"Apa sebenarnya yang kau inginkan?" tanya Zaza


"Saat ini aku menginginkan mu." jawab verdi


" Oh Tuhaaaaaan, seberapa banyak dosaku hingga berurusan dengan orang gila seperti ini" gumam Zaza menjambak rambutnya sendiri dan membentur benturkannya kemeja.


"Siapa kau sebenarnya?"


"Pertanyaan apa lagi ini?" tanya Zaza. keningnya mengkerut dengan perubahan wajah Verdi.


"Siapa yang mencoba membunuhku di pulau? aku yakin kau mengetahuinya."


"Bagaimana bisa aku t--------"


"Rion?"


"Aku tidak tau."


"Kau kepulau bersama Rion. Lalu kau melarikan diri darinya. Bertemu denganku dan kau meminta pertolongan agar membawamu keluar dari pulau X. Kau bilang kita sedang dalam bahaya. Saat penembakan itu terjadi kalian juga melarikan diri bersama.


Ditolong oleh seorang nelayan bernama Agus, dan kalian tinggal dirumahnya dipulau kecil.


Katakan! dari mana kau tau kalau aku dalam bahaya, apa sebelumnya Rion mengatakannya padamu akan membunuhku dan kau tidak setuju, lalu dia mengancam mu sehingga kau melarikan diri darinya?"


Mata Zaza membulat, mulutnya juga ikut terbuka. Dia berpikir dari mana Verdi mengetahui semua itu.


Beberapa menit Zaza diam mematung.


Hingga,


Takk,, bunyi sendok Verdi pukulkan kemeja.


Zaza gelagapan, Verdi sudah mengetahui semuanya. Sekarang dia bingung apa lagi yang harus ia jelaskan.


"Jawab!"


"Dari mana kau tau semua itu?"


"Tidak perlu kau tau dari mana, tapi semua itu benar bukan?"


"Aku tida------."


"Jawab saja, jangan bertele-tele."


"Jawab apa? memang benar aku kepulau dengannya dan aku melarikan diri, karena kami lagi bertengkar. Soal siapa yang mencoba membunuhmu, itu aku tidak tau, dia juga ikut diserang dan aku tertembak disini, kau lihat, aku tertembak karena kalian berdua, kau puas?" jawab Zaza.


"tidak"


"Yang penting aku sudah menjawabnya, sekarang bawa aku pulang!"


"Baiklah, tapi sebelumnya aku mau minta maaf."


"Soal apa?"


"Luka ditanganmu."


"Kenapa jadi kau yang minta maaf?"


"Anak buahku yang menembak mu, mereka tidak sengaja melakukannya "


"Ha??????,, Tuhaan,, aku benar-benar tidak mengerti dengan situasi ini, bisa tolong antarkan aku pulang?"


"Percayalah mereka tidak sengaja melakukannya, lagi pula aku sudah menghajarnya."


"Mereka mengejarku, mengarahkan senjatanya padaku, lalu menembakku. Kau bilang itu tidak sengaja. Aargh,,, kepalaku sakit, aku harus mencari taksi."


"Tidak, kau harus pulang denganku." ucap Verdi beranjak dari tempat duduknya, dia berjalan lebih cepat didepan Zaza.


Seperti sebelumnya ia juga


membukakan pintu mobil dan mempersilakan Zaza masuk.


Selama perjalanan, Verdi terus-menerus menyuruhnya untuk meninggalkan Rion. Tapi Zaza tidak mendengar apalagi menjawab apapun yang Verdi katakan padanya. Dia tidak lagi memikirkan soal penembakan itu, yang dia pikiran nya adalah Rion.


Apa yang akan dilakukan Rion padanya nanti. Bahkan saat Zaza menyebut nama Verdi saja Rion sudah sangat marah padanya.


"Bagaimana ini, aku malah pergi bersama Verdi, apa dia akan membunuhku? eh


tunggu, bukankah tadi aku diculik. Aku diseret oleh pria gila ini, berarti aku sedang diculik. Argh,, apa dia akan percaya jika aku mengatakan seperti itu. Ayo Zaza, pikirkan alasanmu. Pikirkan, pikirkaaaann. Jangan sampai dia menendangmu dari sampingnya" batin Zaza, dia sibuk dengan pikirannya, hingga tidak mendengar apapun yang Verdi ucapkan.


Brukk,,,


"Aaaaawww, kenapa berhenti tiba-tiba?" teriak Zaza, mengusap usap kepalanya yang kepentuk kaca mobil.


"Kau tidak lihat itu." tunjuk Verdi.


Zaza memusatkan perhatiannya pada arah yang ditunjuk oleh Verdi. Beberapa mobil berhenti tepat didepan mereka.


Belasan laki laki kekar keluar dari sana dan mengambil posisinya masing-masing.


Zaza mengenal salah satu dari orang itu.


"Leo??? kenapa mereka mengadakan baris berbaris disini??"


like like like like 😘 😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘😘