
Selamat membaca. Semoga suka.🤗🤗🤗🤗🤗🤗
"Jangan ambil hati ucapannya, bukankah sebelumnya dia lebih kejam dari ini?" ucap Zaza pada bayangannya sendiri di depan kaca, dia bertanya dan juga menjawabnya. "Apa aku harus menggodanya lagi dari awal?"
"Ya, kau harus melakukannya, dia pasti akan luluh."
"Arggg, melelahkan." ucap Zaza menghempaskan tubuhnya ke ranjang empuk di kamarnya.
Zaza terlelap memasuki alam mimpi. Entah karena terlalu lelah, malam itu Zaza tidak mengalami mimpi buruk.
Tidurnya tidak terganggu sama sekali.
Pagi ini Leo membelikan makanan untuk Rion. Cukup banyak, sehingga Leo berfikir tuannya akan mengajaknya makan bersama.
Selain itu Rion juga menyuruhnya membeli banyak kebutuhan dapur.
Leo menyusun satu persatu belanjaan nya ke kulkas.
"Apa tuan butuh pelayan." tanya Leo, karena menurut nya tidak mungkin Rion akan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Apalagi dengan belanjaan yang ia bawa, sayuran, ikan, daging, dll. "Siapa yang akan memasaknya?" batin Leo.
"Tidak perlu, bawakan pekerjaan ku kemari tiap tiga kali dalam seminggu."
"Baik Tuan."
"Suruh Idan mengurus kerja sama kita dengan Jacob. Dan juga jangan beritahukan pada siapapun aku ada disini, terutama Jacob. Aku tidak ingin di ganggu."
"Baik Tuan. Berapa lama tuan akan di sini?"
"Apa urusanmu?"
"Maaf, Kalau begitu saya permisi Tuan."
"Hum."
Matahari semakin meninggi, Zaza baru mengerjapkan matanya.
Sudah lama ia tidak merasakan tidur yang nyaman seperti ini. Sehingga membuatnya kebablasan tidur sampai siang hari.
Zaza menggeliat dan berguling guling di ranjang, guna mengumpulkan kesadarannya.
Kamar Rion memiliki balkon yang lebih kecil karena terdapat kolam renang di depannya.
Menatap keramaian dari ketinggian, sambil berenang, itulah yang Rion lakukan sekarang.
Panas matahari membuatnya ingin berlama lama di dalam air.
Sambil memejamkan mata Rion bersandar di dinding kolam renang dengan separuh badannya tenggelam.
Praaankkk,,,,,,suara pecahan benda nyaring terdengar di telinga Rion.
Sontak matanya terbuka lebar.
"Zaza" gumam Rion.
Dengan langkah seribu Rion keluar dari kolam dan menghambur masuk ke dalam.Tidak peduli lagi dengan boxer super ketat yang sedang ia kenakan. Ia hanya terus mencari sumber suara itu.
Langkahnya berhenti saat melihat Zaza membersihkan pecahan kaca di dapur.
"Ada apa ini?"
"Hon, aku tidak sengaja menjatuhkannya, maaf." ucap Zaza dan terus memunguti kaca tersebut.
Rion menatap lekat pada Zaza,
melihat apakah gadis itu terluka atau tidak.
"Aku ingin memasak sarapan untuk kita. tapi aku tidak tau dimana kompornya." tambah Zaza, padahal kompor yang ia cari ada di sampingnya. Kompor listrik yang rata dengan meja membuatnya tidak mengenali benda itu.
Rion masih berdiri tidak bergeming di tempatnya. Memperhatikan Zaza yang terus menunduk.
"Hon, bisakah kamu memakai pakaian mu dulu? ak,,,aku risih melihatnya." tunjuk Zaza ke arah harta berharga milik Rion. Meski dalam keadaan menunduk, ia menunjuk tepat pada sasaran.
Bukannya pergi Rion malah tersenyum tipis, mungkin jika saat ini ia tidak tau siapa Zaza. Rion pasti akan menggodanya terang terangan.
"Bersihkan semua, jangan ada yang tertinggal. Di meja makan ada sarapan, apa kamu tidak melihatnya?"
"Benarkah." ucap Zaza mengangkat kepalanya dengan mata terpejam."
"Hum, dan lihat jam dengan benar. Siapa yang sarapan di jam segini? ini sudah sore." ucap Rion.
Zaza membuka matanya, menatap ke semua arah mencari keberadaan jam dinding, namun ia tidak menemukannya.
Kepalanya kembali ia tundukkan.
"Kalau begitu, besok aku akan bangun lebih awal, menyiapkan sarapan untuk kita."
"Kamu bisa masak?"
"Tidak."
"Lalu apa yang akan kamu siapkan?"
"Aku akan belajar dari pon-------."
"Aku tidak akan memakannya."
Zaza mengikutinya dari belakang, sekarang ia menatap pundak lebar dan bokong padat di depannya.
"Hon, jangan mendiami ku, apa salahku sebenarnya?"
Braak,, Rion membanting pintu kamarnya.
Jika Zaza berjalan lebih cepat, dapat dipastikan dahinya akan benjol terkena pintu.
"Cihh, aku benar benar seperti penggoda Sekarang." gumam Zaza.
Tok,,,tok,,tok.."Hon, boleh aku meminjam uangmu? aku ingin beli makanan."
Tok,,,,tok,,tok.."Hon, makanannya sudah dingin, aku tidak menyukainya. Apa tidak ada kompor di sini?"
"Hon, keluarlah. Mari kita bicara."
"Makan saja apa yang ada." sahut Rion dari dalam.
"Kau semakin menginjak ********." gumam Zaza.
"Keluarlah sebentar, mari kita bicara"
Tidak ada jawaban.
"Rion, keluarrrr." panggil Zaza. Kesabaran nya habis.
Dia memang menyadari telah jatuh cinta pada Rion.Tapi dendamnya masih lebih besar dari pada perasaan itu. Dengan Rion bersikap seperti ini, tentu saja Zaza tidak terima. Kesabarannya tidak cukup banyak untuk mengahadapi itu.
Setelah berkali kali menggedor kamar Rion, Zaza merasa lelah.
"Kau pikir aku akan diam saja?"
Zaza mengangkat sebuah guci yang di letakkan di atas meja kecil dan melemparkannya ke pintu Rion.
Pyarrrrrrrrr,, guci hancur seketika, Zaza yang berdiri tidak jauh dari pintu, terkena pecahan guci yang memantul. Pipi bawah dekat dagunya tergores dan mengeluarkan darah. Tapi itu tertutupi oleh rambutnya yang di gerai bebas.
Braaak,, pintu terbuka.
Rion berdiri dengan wajah marahnya.
Tatapan tajamnya pada Zaza, tidak membuat gadis itu gentar. Zaza tau Rion akan sangat lemah jika dirinya terluka, jadi dia memilih menantang Rion.
"Kau ingin membunuhku? hmm?" tanya Zaza, dengan senyuman menantang.
Tangan Rion mengepal keras,urat uratnya bahkan terlihat menonjol. Tapi tidak selangkah pun ia mendekati Zaza, karena seperti yang Zaza pikirkan, Cinta Rion sangat besar padanya.
"Kenapa diam saja? Ha? ibumu menamparku tanpa sebab dan kau juga begitu, mengabaikan ku tanpa sebab. Apa kalian pikir aku ini batu, yang tidak punya rasa sakit?
jika ibumu tidak menyukaiku kau bisa mengusirku, kenapa membawaku kesini?" ucap Zaza, dengan napasnya yang tersengal-sengal.
"Kau bilang kau mencintaiku, apa begini caramu mencintai? jangankan untuk melindungi ku, kau bahkan ikut menyakiti ku.
Kau pengecut, kau benar benar pengecut. Harusnya kau bisa membelaku di depan ibumu, tapi kau tidak melakukan nya. Hiduplah berdua dengan ibumu selamanya, karena kau tidak tau cara mencintai seperti apa." lanjut Zaza.
Ia menendang pecahan guci di depannya dengan kaki telanjang.
"Sssss,,, " kakinya malah terluka.
"Jangan bergerak, luka ini tidak sebanding dengan luka yang kau dan ibumu berikan."
ucap Zaza, saat melihat Rion ingin mendekati nya.
Zaza berlalu pergi dengan darah yang menetes dari ujung kakinya.
Braakkk, Zaza membanting pintu kamarnya lebih keras dari yang Rion lakukan sebelumnya.
Di dalam kamar.
"Cih, otak dangkalnya pasti tidak bisa mencerna ucapan ku. Aku menghasutnya agar membalas ibunya, apa dia mengerti itu?
Dan luka sia*an ini, ahhhh,,ini sangat sakit. Kenapa aku harus menendangnya? apa karena aku terlalu totalitas ber acting di depannya?" gumam Zaza sembari melap darah yang keluar dari jempol kakinya.
Rion duduk di lantai dan menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.
Pikirannya melayang pada semua perkataan Zaza. Dan ia membenarkan itu semua.
"Mama" Gumam Rion.
Emosinya naik ketika mengingat Ibunya.
Rion segera berpakaian.
Sebelum meninggalkan apartemen, ia mengetikkan satu pesan untuk Zaza.
"Di rak atas yang ada di dapur ada susu dan banyak cemilan, makanlah itu dulu. Aku akan keluar membeli makanan untukmu"
send.
Rion menyambar kunci mobil dan pergi meninggalkan apartemen.
Like, vote and rate 5.
🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗🤗