I KILL MY LOVE

I KILL MY LOVE
eps 40. Boleh aku membunuhnya?



*S**elamat membaca 🌷 selamat membaca*


"Dia menjualku" Kata kata ini terus terngiang di kepala Rion.


Rion melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.


Sesampainya dirumah, Rion mengangkat tubuh Zaza dan membawanya ke lantai dua.


Zaza sama sekali tidak terganggu, tidurnya benar benar nyenyak, bahkan sesekali ia bergumam tidak jelas.


Sepatu yang Zaza kenakan di lepas oleh Rion. Begitu juga dengan riasan tipis di wajahnya,


Rion melapnya dengan kapas yang sudah di beri air pembersih wajah


Setelah melakukan semua itu, Rion berbaring disamping Zaza sambil menggenggam tangan kekasihnya itu.


🌷🌷🌷🌷🌷


"Ibuuuuuuu" teriak Zaza, duduk dengan keringat yang membasahi seluruh wajahnya.


Nafasnya memburu tidak beraturan.


Rion yang tidur di sampingnya ikut terbangun, tidak jelas mendengar kata apa yang diteriakkan oleh Zaza. Namun ia terasa saat Zaza menarik tangannya dari genggaman Rion.


"Sayang."


"Haus."


"Tunggu sebentar."


Rion mengambil segelas air putih dan menyerahkannya pada Zaza.


"Kamu mimpi buruk lagi?"


"humm."


"Tidak usah takut, itu hanya mimpi. Tidurlah lagi, aku akan menjagamu?" ucap Rion. Zaza mengikuti ucapan Rion.


Tapi saat Rion ikut berbaring, Zaza kembali duduk.


"Ada apa sa--------."


"Kenapa tidur disini?" tanya Zaza.


Rion menunjuk dirinya.


"Aku?"


"Iya, kenapa kamu tidur disini."


"Jadi aku harus tidur dimana." tanya Rion. Untuk sesaat Zaza terdiam dan mulai mengedarkan pandangan ke sekeliling nya.


Kamar yang luas, fasilitas yang mewah, membuatnya Sadar bahwa ini bukanlah kamarnya.


"Kamu tidak akan melakukan apapun bukan?"


"Ya, aku akan menahannya."


Zaza berbaring, kali ini mereka saling berhadapan.


Rion mengelus elus pipi Zaza.


"Kamu belanja apa saja tadi?"


"Hanya barang yang tidak penting."


"Wanita itu yang membelinya?"


Zaza mengangguk.


"Katakan padaku, apa yang membuat mu ingin pulang."


"Tidak ada alasan."


"Merindukanku?"


"Hum." ucap Zaza.


Rion ingin bertanya lagi tentang kata kata Zaza yang membuatnya tidak tenang.


Namun ia urungkan. Rion yakin tidak terjadi apa-apa pada Zaza, karena dimatanya Zaza adalah sosok yang kuat dan tidak gampang untuk ditindas, meski begitu Rion tetap berniat memberi Eva pelajaran.


Rion mencium kening Zaza.


"Ayo, tidur lagi."


"Hon, aku ingin mengatakan sesuatu, tapi kamu harus janji dulu."


"janji?"


"Ya, kamu harus janji tidak akan marah, tidak akan memukulku, dan tidak mengusirku."


"Aku akan tetap melakukannya, Aku akan membunuh Idan dan istrinya."


"Kam--------."


"Jangan berteriak padaku, Karena aku tidak akan berubah pikiran. Lihat pelayan itu, saat aku membiarkannya bebas, ia malah berusaha mencelakaimu."


"Aku sudah menamparnya dua kali."


"Itu tidak cukup."


"Apa yang akan kamu lakukan dengan Paman? dia tidak bersalah, Bibi lah yang---."


"Idan itu licik sayang, aku mengenalnya dengan baik."


"Tapi dia sayang padaku, hanya dia yang menyayangiku sekarang."


"Dan aku tidak menyayangimu begitu? apa kamu tidak bisa melihat ap--------."


"Aku melihatnya Hon. Maksudku, dia sudah seperti orang tuaku, Paman membelaku saat tau Bibi menjual ku pada Verdi."


Sontak Rion menarik tangannya dari wajah Zaza. Dadanya seakan terbakar mendengar nya. "Jadi wanita gila itu menjualnya pada Verdi, dan bajin*an itu menyentuh mu?" batin Rion. Tatapannya yang lembut berubah menjadi tajam. Dia sudah menahan kemarahannya sejak tadi, tapi mendengar nama Verdi kesabaran itu langsung habis begitu saja. Rion tau bahwa Verdi menyukai Zaza, jadi tidak mungkin Verdi melepaskan wanita yang ia sukai begitu saja tanpa menyentuhnya. Ini lah yang ada di pikiran Rion.


"Hon."


Tanpa menjawab Rion bangun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku menahan diriku untuk tidak menyentuh nya, tapi baji*an itu----." Bughh,,bughh,,bughh. Rion meninju tembok berkali kali. Badannya yang kekar merosot kelantai. Ia mengusap kasar rambutnya.


Tok,,tok,,tok, "Hon, kamu kenapa?"


"Hon, maafkan aku. Aku tidak tau Bibi melakukan nya."


"Hon, keluarlah, maafkan aku."


"Tolong buka pint---."


Pintu kamar mandi terbuka perlahan, menampakkan penampilan Rion yang kusut.


"Da,, darah apa ini?" tanya Zaza, menyentuh rambut Rion.


Rion melewati Zaza begitu saja, darah dari tangannya terus menetes di lantai.


Melihat Rion yang mengenakan jaket serta mengambil senjata nya, Zaza berlari dan memeluk Rion dari belakang.


"Hon. Jangan bunuh paman ku, dia tidak bersalah. Dia tidak tau apa yang dilakukan istrinya."


"Lepaskan sebelum aku berbuat kasar padamu."


"Tidak, pukul saja aku. Yang penting jangan bunuh pamanku."


"Kamu masih membelanya? dia sudah menjualmu pad------"


"Bukan Paman, bukan Paman. Istrinya yang melakukannya. Paman tidak tau apa apa. Tolong percaya padaku. Jangan bunuh Paman."


Rion berbalik menghadap Zaza yang menangis. Dia berpikir Zaza lah yang lebih tertekan di sini.


"Apa ******** itu menyakitimu? dia menyentuh mu?"


Zaza menggeleng.


"Jangan berbohong, aku akan tetap menerimamu apa adanya."


Zaza tetap menggeleng sambil menatap wajah Rion.


"Verdi tidak menyentuhmu?"


"Tidak, dia tidak menyentuhku."


"Lalu apa yang kalian lakukan."


"Dia hanya menanyakan kabarku, itu saja. Kami tidak melakukan apapun. Bibi meminta imbalan padanya, karena sudah membawaku pada Ver, pada dia."


"Boleh aku membunuh wanita itu?"


"Boleh, tapi aku mohon jangan sekarang."


"Kapan?"


"Tunggu lukamu sembuh."


"Maaf sayang, kamu tidak bisa menghentikan ku." ucap Rion melepaskan tangan Zaza.


Zaza mencoba meraih kembali tangan Rion. Namun ia kalah cepat. Rion berhasil keluar dari kamar dan menguncinya dari luar.


Suara Zaza yang berteriak-teriak memanggilnya tidak ia gubris.


Lama berteriak dan menggedor gedor pintu, akhirnya Zaza menyerah.


Satu pesan ia kirimkan pada Rion.


"Aku mohon, jangan lukai Paman."


Tidak ada jawaban. Zaza pasrah, tidak ada yang bisa ia lakukan sekarang kecuali menunggu Rion pulang.


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


"Aku menuju ke rumahmu." ucap Rion.


Idan yang dapat panggilan singkat dari Rion, langsung menyuruh satpamnya membuka gerbang.


Rion memasuki rumah Idan.


Suami istri itu sudah menunggu di depan pintu. Kesalahan Eva kali ini memang benar benar sangat fatal. Idan sudah memperingati nya agar jangan terburu buru. Tapi tanpa sepengetahuan idan, Eva malah menghubungi Verdi malam itu.


"Aku tidak bisa menyelamatkan mu." bisik Idan.


Eva meringis gemetaran.


"Tu,------."


Buuugh,,,,,plaaaak,,,,,,Satu tendangan untuk Idan dan satu tamparan Eva.


"Aaaaaaaa. Ampun Tuan, ampun." ucap Eva, saat Rion menarik rambutnya dan menyeretnya masuk kedalam rumah.


"Tuan, maafkan kam-------."


Bughh,,bughhh,,,.dua tendangan mengenai perut Idan.


"Berdiri!"


Rion duduk di depan Suami istri itu.


"Tampar wanita gila ini!"


"Tu,,tuan."


"Kau ingin aku yang melakukannya?"


Eva menggeleng cepat.


"Kau, tampar wanita gila ini!" suruh Rion pada Idan.


Idan mencium tumit sepatu Rion.


"Tuan, maafkan kami."


"Baiklah, aku akan melaporkan istrimu atas kasu----."


"Tuan, Aku mohon jangan." ucap Eva yang ikut berlutut di kaki Rion.


"Idan."


"Ya Tuan."


"Lakukan!"


"Tap---."


Kreeeeek..


"Aaaaaaaaaa." bugg,,,, Eva pingsan seketika ketika tangan kanan nya dipatahkan oleh Rion.


"Idan."


"I,,i,iya Tuan."


"Kembalikan semua uang yang sudah di pakai nya. Aku memberinya agar ia menjaga Zaza, bukan menjualnya. Istri mu ini sangat serakah. Kalian berdua merencanakan nya sama sama bukan?. Kenapa kalian tega? apa Zaza benar benar keponakan mu?.


"Tuan, saya tidak tau masalah ini, saya pikir Zaza benar benar sedang berada di toilet. Itulah yang dikatakan istriku."


Bughh, satu tendangan ke punggung Eva.


Tidak ada pergerakan dari perempuan paruh baya itu.


"Zaza melarang ku untuk membunuhmu. Bukankah menurutmu kekasihku itu Sangat baik? dia polos, sampai dia tidak bisa melihat iblis yang ada padamu."


Idan tidak menjawab, ia terus bersujud di depan Rion.


"Tapi aku tidak bisa mengampuni kal----."


Ponsel Rion berbunyi, wajah Zaza muncul disana.


"Halo sayang."


"Hon, pulang sekarang. Aku merindukanmu."


"Tunggulah sebentar, pekerjaan ku belum selesai!"


"Di mana Paman?, berikan padanya, aku ingin bicara."


"Pamanmu baik baik saja, jangan kwatir. Aku tidak membunuhnya."


"Berikan padanya, aku akan memastikannya sendiri."


Rion menempelkan ponselnya di telinga Idan.


"Bicaralah!"


"Paman, Paman baik baik saja?"


"Iya Za, Paman baik baik saja. Jangan kwatir kan Pa------."


"Sayang kamu dengarkan? dia baik baik saja." ucap Rion.


"Ya, pulanglah sekarang, aku tidak bisa tidur karena merindukanmu."


"Baiklah, berikan aku sesuatu jika aku sudah sampai."


"Ya."


Rion mematikan ponselnya, dan berlalu pergi begitu saja.


ak


Aku kehabisan ide karena yang baca banyak, yang like dikitπŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯πŸ˜₯